[Review] Silence of the Lambs – Thomas Harris

Silence of the Lambs. Apa yang terbayang saat anda mendengar kalimat di atas? Kalau saya pertama kali yang terlintas : Hannibal Lecter, diperjelas lagi : wajah Anthony Hopkins dengan masker mengerikan di daerah mulut dan tatapan dinginnya yang menusuk.

Hannibal

Hannibal

Tidak adil rasanya membaca buku Thomas Harris dengan terlebih dahulu sudah memiliki persepsi tentang bagaimana perwujudan karakter Hannibal, tapi sebagaimana sudah kita ketahui oleh sebab itulah Anthony Hopkins diganjar piala Oscar sebagai pemeran pria terbaik tahun 1992 padahal beliau hanya muncul selama kurang lebih 16 menit saja.

Gramedia baru saja menerbitkan serial Hannibal Lecter ciptaan Thomas Harris yang sangat layak dikoleksi. Bagi penggemar cover macam saya begini, saya cukup puas dengan cover barunya dan entah disengaja untuk menambah kesan misterius, sinopsis yang ada di halaman belakang bukanlah rangkuman singkat cerita, melainkan adegan pertama bertemunya tokoh utama kita, agen FBI Clarice Starling dengan Dr Hannibal Lecter. Creepy!

Silence of the Lambs

Silence of the Lambs

Seorang diri Starling menyusuri koridor remang-remang itu. Ia tidak menoleh ke sel-sel di kedua sisi. Suara langkahnya berkesan keras baginya. Kecuali itu hanya ada suara mendengkur dari satu atau dua sel, serta tawa terkekeh-kekeh dari sel lain…

Dr. Lecter mengenakan seragam putih rumah sakit jiwa di selnya yang berwarna sama. Kecuali rambut, mata, dan mulutnya yang merah, segala sesuatu di sel itu berwarna putih. Wajahnya sudah begitu lama tidak terkena sinar matahari, sehingga seakan-akan menyatu dengan warna putih yang mengelilinginya; sepintas lalu timbul kesan wajahnya melayang di atas kerah bajunya. Lecter duduk di meja di balik jaring nilon yang menghalanginya dari terali. Ia sedang membuat sketsa pada kertas roti dengan memakai tangannya sebagai model. Sementara Starling menonton, Lecter membalikkan tangan dan, sambil meregangkan jari-jemari, menggambar sisi dalam lengannya. Dengan jari kelingking ia menggosok-gosok salah satu garis yang dibuatnya dengan arang.

Starling mendekati terali, dan Lecter menoleh.
“Selamat malam, Dr. Lecter.”
Ujung lidah Lecter yang merah muncul di antara kedua bibir yang tak kalah merahnya. Sejenak lidahnya menyentuh bibir atas, tepat di tengah, lalu menghilang kembali.
“Clarice.”
Starling mendengar suaranya yang parau, dan dalam hati ia bertanya, sudah berapa lama sejak pria itu terakhir angkat bicara. Keheningan seakan berdenyut-denyut.

Tersebutlah seorang pembunuh psikopat disebut-sebut dengan Buffalo Bill yang telah membunuh 5 perempuan, tidak hanya menghabisi nyawa, ia juga menguliti tubuh korban yang kesemuanya wanita dan terakhir diketahui ia juga memasukkan kepompong ngengat ke tenggorokan korban. Kehabisan akal, Kepala Seksi FBI bagian Ilmu Perilaku Jack Crawford menugaskan bawahannya Starling yang cantik dan pintar untuk menggali informasi mengenai Buffalo Bill melalui seorang tahanan penjara pembunuh berantai yang dikenal memakan hidup-hidup korbannya yang juga berprofesi sebagai psikiater, Dr Hannibal Lecter the cannibal.

Entah Hannibal tertarik dengan masa lalu Clarice atau ia sedang ingin bermain-main, Hannibal akhirnya setuju membantu FBI menemukan siapa si Buffalo Bill ini sesungguhnya sebelum korban kembali berjatuhan, terlebih lagi korban terakhir yang ia sekap adalah Catherine Martin, putri seorang senator.

Good evening, Clarice

Good evening, Clarice

Kira-kira begitulah garis besar novel setebal 476 halaman yang sangat sayang dilewatkan. Hannibal Lecter secara resmi sudah masuk dalam daftar salah satu dari karakter paling memorable yang pernah saya baca, mengesampingkan tokoh ini diperankan oleh Anthony Hopkins loh ya, wong saat membaca saya bisa merinding disko gitu kok.

Percakapan yang intens antara Hannibal – Clarice yang diungkap sedikit demi sedikit menambah ketegangan cerita sampai di akhir kisah. Akhir kisah, halaman terakhir bahkan! Dan seakan belum cukup Thomas Harris berhasil memikat pembaca lewat karakter antagonis lainnya, si Buffalo Bill. Transeksual, masa lalu yang kompleks dan untuk apakah ia menguliti korbannya? Dan apa gunanya ngengat yang sengaja ditinggalkan di tenggorokan korban? Satu misteri lagi, apa yang dimaksud dengan domba-domba telah membisu?

Buku kedua Thomas Harris ini pantang untuk dilewatkan, mari mengenal lebih jauh seperti apa Hannibal, seorang psikopat jenius yang disebut-sebut sebagai salah satu Greatest Movie Character via Empire dan 100 Greatest Characters of the Last 20 Years menurut Entertainment Weekly. Tindakannya acap kali ‘mengejutkan’ dan kalau mau diperjelas lagi saya sebagai pembaca merasa dibodoh-bodohi olehnya saat Hannibal bolak balik mengelabui polisi, dan tindakannya saat kabur dari penjara, EPIC!

Silence of the Lambs adalah buku kedua sebelum Red Dragon dan dilanjutkan di seri terakhir, Hannibal Rising. Walau begitu novel ini tetap bisa dinikmati tanpa membaca seri pertamanya terlebih dahulu. Saya pribadi memutuskan untuk mengoleksi serial lengkapnya. Care to join me?

Postingan ini dibuat dalam rangka #bacabareng #BBI edisi Oscar. Silence of the Lambs sukses merebut 5 piala untuk kategori :

Best Picture

Best Director

Best Actor

Best Actress

Best Adapted Screenplay.

movie poster

movie poster

Need to say more? :)

Trailer :

Oia, sekilas info terbaru, sepertinya kita akan kembali menyaksikan aksi gila Hannibal melalui TV seri dengan judul yang sama. Akan tayang April mendatang dengan Mads Mikkelsen sebagai Hannibal. Info lebih jelas silahkan klik di sini.

Can't get enough?

Can’t get enough?

Good evening, Clarice – diambil dari ttcritic.wordpress.com