Enzo, kisah seekor filsuf yang menyentuh hati

Enzo, The Art of Racing in the Rain – Garth Stein

Serambi

412 halaman

Enzo

“Dengan kekuatan pikiranmu,
tekadmu,
nalurimu,
dan juga pengalamanmu,
kau bisa terbang sangat tinggi”
– Ayrton Senna

Terima kasih banyak saya ucapkan kepada teman saya, Su Fei karena berkat dirinya saya membaca buku yang sangat menarik, terlebih bagi para pencinta anjing. Judul panjang buku ini The Art of Racing in the Rain Enzo, Novel tentang Seekor Filsuf.
Enzo bukan anjing golden retriever biasa karena pikirannya yang sangat ‘manusia’. Ia gemar menonton F1 dan National Geographic, melalui Denny ia memperoleh pemahaman soal hidup.

Menurut Enzo juga, balapan adalah tentang disiplin dan kecerdasan, bukan hanya siapa yang bisa melaju lebih kencang. Dia yang membalap dengan pintar akan selalu menang pada akhirnya (hal.236).

Saat Denny mendapat cobaan berat dalam hidupnya, kembali lagi Enzo berfilosofis dengan kata kata yang menurut saya sangat indah.
“ Siapa Achilles tanpa urat ketingnya? Siapalah Samson tanpa Delilah? Siapakah Oedipus tanpa kaki pekuknya?”
Pahlawan sejati memiliki cela. Ujian sesungguhnya untuk seorang juara bukan apakah dia bisa berjaya, namun apakah dia mengatasi rintangan apalagi yang berasal dari dirinya sendiri agar bisa berjaya.
Inilah sebabnya mengapa Michael Schumaker, jelas-jelas salah satu pembalap F1 yang paling berbakat sepanjang masa, pemenang lebih banyak balapan sering dilupakan dalam daftar juara favorit penggemar balapan. Dia tak seperti Ayrton Senna, yang sering melancarkan taktik lihai dan bernyali seperti Schumaker, tapi melakukannya dengan kerlingan mata dan karenanya disebut berkarisma dan penuh perasaan, tak seperti sebutan mereka bagi Schumaker dingin dan tak bercela. Dia punya motor terbaik, tim berdana terbesar, ban terbaik, ketrampilan terbaik. Siapakah yang menikmati kemenangannya?

Dan, lanjutannya adalah kalimat favorit saya : Matahari toh terbit setiap hari. Apanya yang dapat dicintai? Kuncilah matahari di dalam kotak. Paksalah matahari untuk mengatasi rintangan agar bisa terbit. Baru kita akan bersorak! Aku akan kerap mengagumi matahari terbit yang indah, tapi aku tak akan pernah menganggap matahari sebagai sang juara karena berhasil terbit (hal.185).

Denny mengalami cobaan yang bertubi-tubi, istrinya meninggal, hak asuk putri tunggalnya direbut oleh kakek neneknya dengan paksa, tuduhan memperkosa anak di bawah umur. Saat ia dihadapkan dilema untuk bertanding kembali, Don yang juga sahabat Denny berkata.” Kalah balapan tidak memalukan. Yang memalukan adalah tidak membalap karena takut kalah”.

Yaak, itu semua adalah kalimat favorit saya di buku ini, sangat menyentuh untuk dibaca karena si pengarang membuat sosok Enzo ini so adorable and lovely. Sayangnya saya kurang menyukai ajang balap membalap sih :p Membaca buku ini membuat emosi saya naik turun dan banyak nilai hidup yang bisa didapat. Terlebih lagi buku ini ditulis dalam sudut pandang anjing, yang hangat dan bersahabat. Tak salah resensi yang ditulis di cover depan Enzo, “Cerita yang sejajar dengan The Alchemist dan Life of P…” -The Portland of Oregonian.

2 thoughts on “Enzo, kisah seekor filsuf yang menyentuh hati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s