The Boy in Stripped Pyjamas

Anak Lelaki Berpiama Garis-garis – John Boyne

Gramedia

240 halaman

Januari,2010

The Boy in Stripped Pyjamas

Hmmm, mulai dari mana ya saya? Buku ini luar biasa, walaupun tipis namun saya sangat menikmati proses membaca dari halaman satu ke halaman berikutnya. Cerita yang dituturkan sangat manis oleh John Boyne sampai saya pengen cari bukunya yang lain jadinya.

The Boy in Striped Pjamas, dari review belakangnya saja sudah bikin penasaran karena sama sekali tidak menceritakan isi buku. Tambah penasaran deh jadinya, cuma yang saya heran ini buku anak ya? Sepertinya cerita lebih mengena kalau dibaca orang dewasa, atau sengaja untuk anak agar anak-anak jaman sekarang tidak lagi membatasi dunianya dengan ‘pagar berduri’ ya? Mungkin anak-anak SD jaman sekarang harus lebih banyak membaca buku tipe begini ketimbang berblackberry ria?

Koq malah curcol :p review dikit aahh karena buku ini sangat berkesan.

Bruno, seorang anak komandan Jerman berusia 9 tahun yang amat sangat polos dan lugu (bolot kalo kata bubub :p). Memandang dunia ini dengan begitu apa adanya. Beda dengan sang kakak, Brunopun tak malu untuk bercurhat ria dengan Maria seorang pelayan yang ada di rumahnya. Dunianya berubah sejak keluarganya pindah rumah karena sang ayah diberi tugas oleh The Fury (nama lain Hitler). Ia tinggal di rumah terpencil, jauh dari tetangga dan tidak ada teman main. Di rumah barunya sudah ada pelayan bernama Pavel (tokoh favorit saya) yang kerjaannya hanya mengupas kentang di dapur dan menyajikan makanan bagi keluarga Bruno. Bruno karena suatu insiden terjatuh, ketakutan deh doi karena kakinya berdarah, dan Pavel yang ternyata dulunya berprofesi sebagai dokter membantu merawat lukanya.

Bruno bertindak sedikit lebay di sini, dengan terus mengaduh kesakitan. Pavel pun menanggapnya dengan berkata “Jangan membuat parah dengan berpikir bahwa lukanya lebih parah dari yang sebenarnya”. Aaaaaw Pavel ini bijaksana sekaliii, hukhuk sayang akhirnya dia……*sencored*

Dasarnya si anak polos ini ga bisa diem dan hobi bertualang, akhirnya Bruno menjelajah daerah sekitar rumahnya sampai di batas pagar berduri. Jreng jreng jreng, bertemulah dia dengan Schmuel, seorang anak kurus kering berpiyama garis-garis. Dan dari pagar itulah dimulai persahabatan tulus dua anak manusia beda ras yang sangat menggugah hati saya.

Terkadang saya iri dengan anak-anak ini, begitu polos memandangi hidup. Yang bikin terenyuh, percakapan mereka berdua mengenai tanda yang menandakan identitas mereka masing-masing. Schmuel yang tidak pernah meminta ban tangan malah harus mengenakan tanda bintang Yahudi ke manapun ia pergi. Bruno yang pengen punya ban tangan seperti sang ayah, dengan tanda merah menyala plus desain hitam putih di atasnya. Entah kenapa bagian ini saya dapat merasakan keangkuhan, kebesaran nama Nazi..

Akhir cerita ini bikin nyesek, walau saya sudah nonton pilemnya, kadang masih pengen juga aduuuh jangan begitu dong akhir cerita di buku, tapi ga mungkin ya? Hehehehe….

Oia, satu lagi si kakak Bruno Gretel yang menurutnya benar benar payah, yang suka ngeledekin Bruno koq mengingatkan akan diri saya sendiri?? Hihi kadang can’t help myself untuk ngerasa sama adek sendiri, uh anak kecil, tau apa sih *maap dek*😀

2 thoughts on “The Boy in Stripped Pyjamas

  1. Aleetha says:

    Aku blom nonton filmnya. Tapi beneran buku ini bikin aku sesegukan. Koq ada sih anak selugu Bruno. huhuhu.
    Sedih banget pas si Ayah nemu baju anaknya tergelatak di tanah. Hiks.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s