random

Bookmark

Salah satu kegiatan yang sukses mengalihkan perhatian saya dengan buku adalah kristik. Setelah 3 bulan berkutat dengan bunga poppy, ah akhirnya hampir kelar.

Poppies

Dan proyekan saya selanjutnya bookmark untuk temen di Goodreads yang sudah saya janjikan sejak tahun lalu :p Ini beberapa contoh bookmarknya 🙂

cute, aren't they?
Advertisements
listopia

Maret – 2011

Bulan ini saya pemalas sekali *cambuk diri sendiri* ngeblog jarang, ngereview apalagi. Hadeh:(

Mari kita lihat bacaan bulan ini, mudah-mudahan ga terlalu kelihatan malasnya :p

1. Ice – Sarah Beth Durst, fantasy-romance-young adult.

2. The Book of Lost Things – John Connoly, fantasi yang lain dari yang lain, patut dibaca bagi para penggemar kisah yang dark and twisted.

3. Sisters Red – Jackson Pearce, kisah tudung merah yang sudah pernah saya review *wink*

4. Jane Eyre – Charlotte Bronte, 5 bintang! haha, ternyata saya berhasil juga membaca buku ini yang ternyata menjadi bacaan favorit di bulan Maret.

5. Dongeng Semusim – Sefryana Khairil, terbitan gagas yang covernya sangat indah, sayang isinya tak seindah cover.

6. Empat Musim Cinta, keroyokan penulis Indo, beberapa ada yang bagus, ada yang lebay dan ada juga yang saya ga ngerti maksudnya :p

7. A dog Walker – Leslie Scnur, ga kelar baca @.@ tapi covernya cantik sangat.

8. The Penderwicks – Jeanne Birdsall, perpaduan antara Secret Garden dan Little Women, nice book.

9. Eon -Allison Goodman, 4 bintang. Bagus! Mulai dari karakter, alur cerita dan settingnya juga. Hadaw mau direview tapi dari kemarin berasa jelek banget reviewnya.

Wuh, cuma sembilan itupun satu ga kelar. Mau coba kelarin Lock and Keynya Sarah Dessen deh, hari ini bisa kelar ga ya? ;p

Bagaimana dengan kalian? Apa bacaan favorit di bulan Maret?

inspiring · must read · tears · touch of Asia

Sold – Patricia McCormick

Heartbreaking, yet uplifting.

Sold
Sold

Berkisah tentang Laksmi, gadis kecil dari Nepal berusia 13 tahun yang dijual oleh ayah tirinya sendiri ke rumah bordil. Keluguan, kenaifan seorang anak kecil terpampang dengan jelas di buku ini, karena kisah ini dikisahkan dari sudut pandang si Laksmi sendiri.

Buku setebal 310 halaman saya selesaikan dengan semalam karena ternyata isinya cukup ringan dan gaya penulisan yang beda dari novel biasanya.

Laksmi, diiming-imingi bekerja sebagai pembantu rumah tangga di kota cukup dengan permen manis ia sudah sangat senang. Kaki tangan sang pemilik rumah bordil memberitahukan Laksmi, “saat melewati perbatasan, engkau harus memanggilku suami!”
Laksmi yang polos, menurut saja apa kata si paman dan mereka berhasil melewati India dengan aman. Lucunya, di pikiran Laksmi, paman itu sekarang ia panggil dengan paman suami.

Ketika tiba di rumah bordil, tiba waktunya Laksmi berpisah dengan paman suami, nah bagian-bagian ini membuat saya merinding. Tidak terbayangkan bagaimana rasanya seorang Laksmi, 13 tahun dipaksa melayani lelaki berbibir ikan.

Pria berbibir ikan itu melepas gaunku.

Kutunggu diriku untuk melawan. Namun tak ada yang terjadi.

Lantas dia di atasku, dan sesuatu yang panas dan menuntut ada di antara kedua tungkaiku.

(hal 162)

Kira-kira seperti itulah cara penulisan Patricia di novel ini dari awal sampai akhir. Kalimatnya cukup singkat, tapi sudah berhasil membuat saya terentuh, berdebar-debar, bahkan hampir menitikkan air mata.

Rumah bordil, yang di sini disebut dengan rumah kebahagiaan berhasil merebut masa gadis Laksmi, masa di mana ia seharusnya bermain dengan teman-temannya, mengerjakan pr di sekolah. Laksmi mulai terbiasa membutakan segenap panca indranya, agar ia buta dengan wajah para lelaki yang membayarnya 30 rupee (seharga dengan 1 kaleng coca cola), agar hidungnya tidak mencium bau amis para lelaki berperut gendut.

Lakmi memiliki beberapa teman di rumah kebahagiaan, salah satunya bocah berbaju David Beckham, seringkali ia mengamatinya.

(hal 204)
Aku tahu, dari segala kegiatannya bahwa dia hanyalah laki-laki biasa.

Namun, sesekali kutemukan diriku membenci dirinya.

Aku benci dia karena memiliki segala buku sekolah dan teman bermain.

Karena memiliki seorang ibu yang menyisir rambutnya di pagi hari.

Dan, karena kemerdekaan untuk datang dan pergi sesukanya.

Namun, kadangkala aku membenci diriku sendiri karena membencinya.

Hanya karena dia seorang anak laki-laki biasa.

Dan si laki-laki biasa ini mengajarkan Laksmi menulis dan membaca, sampai suatu ketika ia memberikan Laksmi sebuah pensil.

(hal 244)
Sebulir air mata bergulir di pipiku.

Aku telah dipukuli di sini,

dikurung,

dianiaya ratusan kali,

dan ratusan kali lagi.

Aku telah dibiarkan kelaparan,

dan ditipu,

dijebak,

dan dipermalukan.

Betapa anehnya, aku telah luluh sepenuhnya oleh kebaikan hati seorang bocah lelaki dengan sebatang pensil kuning.

Baca buku ini kebetulan juga dengan maraknya perkosaan anak kecil yang terjadi di Bali. Betapa saya mengutuk pria ini, karena ia tidak sekedar merobek selaput dara si anak, tapi sekaligus menghempaskan masa depan anak kecil tak berdosa dalam waktu 5 menit saja!!

must read · touch of Asia

Madame Wu – Pearl S. Buck

Tidak seperti yang saya kira, novel sastra cina ternyata bisa membuat saya hampir tidak bisa berhenti membacanya, kesalib dikit ama death note sih, tapi secara keseluruhan buku ini sangat bagus, ditulis dengan manis dan indah oleh Pearl S Buck.
Madame Wu
Madame Wu
Bagian awal buku menceritakan tentang seorang nyonya rumah bijaksana bernama Madame Wu, pada ulang tahun ke 40 ia mengambil keputusan heboh. Mencarikan istri muda untuk suaminya.
Review itu sudah cukup membuat saya tertarik untuk membeli novel ini, dan saya tidak salah pilih, bukunya bagus banget. Saya pikir selanjutnya akan bercerita tentang intrik yang akan terjadi setelah istri baru menempati kediaman Mr Wu. Ternyata saya salah besar, buku ini mengajarkan akan kebebasan berpikir, proses pendewasaan seorang nyonya rumah yang membawa perubahan baik dalam mendidik anak maupun kebebasan jiwanya sendiri.

Pertama membaca, dengan mudah saya mengambil kesimpulan betapa tersiksanya wanita Cina jaman dulu, kerjaannya hanya melayani suami sampai puas tanpa memikirkan dirinya sendiri, memasak dan mengatur rumah tangga, tidak usah belajar karena wanita itu tidak butuh otak, hanya badan saja, dan tak lupa tugas mulianya yang lain, melahirkan anak laki-laki. Anak perempuan tak ada gunanya. Terlebih lagi jaman dulu belum mengenal kontrasepsi, Madame Wu mengambil keputusan untuk mencarikan istri muda untuk sang suami karena dia sudah tidak lagi menginginkan kehamilan dan ingin menikmati hari tuanya sebagai wanita. Walaupun badan masih kencang, karena ia tak pernah menyusui anaknya, ada ibu susu sendiri untuk tiap anak. Akhirnya terpilih gadis yatim sebagai istri muda Mr Wu, yang sintal dan agak bodoh. Tapi yang namanya manusia bukan binatang, hidup bukan hanya berkisar di bawah pusar, Mr Wu tidak mencintai istri mudanya, parahnya lagi istri mudanya malah jatuh cinta dengan anak ketiga mereka. Nah lho…

Pertengahan cerita ada lagi tokoh baru, brader Andre, seorang pendeta berbadan besar, berkaki besar dan berbulu lebat. Dari Andre, madame Wu belajar banyak hal dan ia mengalami perubahan yang luar biasa, bahkan ia menyadari bahwa selama ini ia sama sekali tidak mencintai suaminya. *jreng jreng*

Selanjutnya saya malah takut jadi spoiler, mending baca sendiri deh. Recommended! Saya jelas-jelas akan membaca buku karangan Pearl S. Buck selanjutnya, sudah ada 3 buku yang saya baca termasuk Madame Wu. Next on my to read book : Mandala, hasil belanja kalap obralan Gramedia seharga 10ribu saja. Dan kali ini latarnya di India, padahal biasanya selalu mengambil setting di Cina, mudah-mudahan saja bukunya sebagus Madame Wu 😉

inspiring · love love love · tears

Nights in Rodanthe – Nicholas Sparks

Sekali lagi saya terpesona oleh gaya penceritaan Nicholas Sparks. Mendayu-dayu tapi tidak menye-menye. Romantis namun tidak bombastis. Ceritanya mudah ditebak, walaupun begitu tetap saja saya dibawa ikut dalam irama drama yang naik turun.

Nights in Rodanthe
Nights in Rodanthe

Hebatnya lagi begitu jelas dan detilnya Nic Sparks menceritakan bagaimana kisah cinta dua manusia di usia yang tak lagi muda, namun tetap sangat menarik. Saya ikut merasakan getar dan gelora asmara yang dialami kedua tokoh utama Nights in Rodanthe. Plus saat mengetahui endingnya, saya tak tahan untuk tidak mengeluarkan air mata.

Dibilang happy ending nggak. Dibilang sad ending pun tidak. Yang jelas selesai membaca buku ini, saya sangat merasakan ketulusan sebuah cinta sejati, tak lekang oleh waktu. Mau tak mau teringat kisah mama dan papa saya sendiri. Mereka bertemu di saat usia papa yang tidak muda lagi, 37 tahun. Tahun 1979 mereka menikah dan tahun 1990 mama saya meninggal. Cukup singkat kebersamaan mereka, tapi sampai saat ini, detik ini, kapanpun papa menceritakan soal mama, beliau menceritakan mama dengan pancaran cinta yang tak pernah berubah. Terkadangpun saat kami duduk bareng, papa masih berbicara seakan-akan mama saya masih ada, “Min, anakmu sudah besar sekarang. Mia sudah bisa cari uang sendiri lho, lihat saja bukunya semakin numpuk tiap hari”
*kenapa jadi nyesek ya :p*

Yah seperti itulah. Dan perasaan ‘nyesek’ itu yang saya rasa saat membaca buku ini. Sesak sedih, sesak bahagia juga. Mengetahui bahwa orang yang dicinta sudah tenang di alam sana namun cinta dan semangat itu akan tetap ada.

Jadi teringat lagu To where you are, Josh Groban
Who can say for certain
Maybe you’re still here
I feel you all around me
Your memories so clear

Deep in the stillness
I can hear you speak
You’re still an inspiration
Can it be
That you are mine
Forever love
And you are watching over me from up above

Fly me up to where you are
Beyond the distant star
I wish upon tonight
To see you smile
If only for awhile to know you’re there
A breath away’s not far
To where you are

Are you gently sleeping
Here inside my dream
And isn’t faith believing
All power can’t be seen

As my heart holds you
Just one beat away
I cherish all you gave me everyday
’cause you are mine
Forever love
Watching me from up above

And I believe
That angels breathe
And that love will live on and never leave

inspiring · must read

The Help – Kathryn Stockett

Dikasih oleh sang penerjemah mbak Uci *peluk peluk mbak Uci*
Sepertinya saya memang berjodoh dengan buku ini *lebay dikit gpp ya* dari beberapa bulan yang lalu saat beberapa teman di goodreads membaca buku ini saya sudah tertarik dengan cover 3 burung ungunya itu. Saat beredar buku terjemahannya malah jadi lebih tertarik untuk baca, covernya lebih indah lagi. Gara-gara sudah jatuh cinta inilah, saya tidak berani banyak-banyak baca review, takut spoiler, hehe. Hanya saja dari gambar cover sudah tersirat buku ini bernafaskan isu rasial dan dari browsing sekilas di amazon, rata-rata buku ini dapat 4-5 bintang.

The Help
The Help

Buku setebal 537 halaman ini terbagi atas 3 kisah.
Aibileen
Sepertinya setiap orang akan menyukai karakter Aibileen. Bagaimana tidak, sebagai seorang pekerja dan pengasuh anak, ia mencintai Mae Mobley seperti anaknya sendiri. Plus ia mengajarkan nilai kehidupan yang dilewatkan begitu saja oleh ibu si anak itu sendiri, miss Leefolt.

Minny
Nah, kalau ini jagoan saya :p
Dari 3 sudut pandang (Aibileen, Minny, miss Skeeter) saya paling suka dari sisi Minny. Celetukannya menyegarkan dan terkadang membuat saya tertawa. Tempramennya meledak-ledak, terlebih lagi ia bekerja di rumah miss Celia yang dongok abis, saya bayanginnya mirip Pamela Anderson gitu (yak, semuanya mirip).

Miss Skeeter, wanita kulit putih yang semakin hari semakin menyadari perbedaan dirinya dengan teman-temannya. Pintar menulis dan bertekad menjadi jurnalis. Diawali dengan kolumnis kecil yang membahas tentang bagaimana cara merawat rumah, padahal ia sama sekali tidak pernah membersihkan rumah. Sehingga ia meminta bantuan Aibileen untuk menjawab pertanyaan di koran dan menjadi dekat dengan Aibileen. Terlebih lagi ternyata Aibileen kenal dengan Constantine, pengasuh kulit hitamnya sedari kecil yang tiba-tiba menghilang dari rumah.

Seiring dengan pertemuan Aibileen dan miss Skeeter yang mulai meningkat, tens cerita mulai tambah seru. Miss Skeeter yang melihat sendiri perbedaan antara kulit putih dan kulit hitam, berpikir untuk menerbitkan buku. Bagaimana rasanya wanita warga kelas bawah bekerja dengan kulit putih? Bagaimana suara hati seseorang yang senantiasa dianggap kotor, rendah dan berbeda? Dan apa sebenarnya yang terjadi dengan Constantine? Kenapa Aibileen selalu mengelak jika ditanya mengenai Constantine?

Yak, kira-kira seperti itulah garis besar buku ini.
Kenapa 5 bintang?
Buku ini seakan memiliki jiwa, saya merasakan setiap emosi di sini. Cinta. Benci. Marah. Sakit hati. Lepas. Bebas. Bahagia. Saya ikut merasakan kedongkolan Minny saat majikannya mabuk dan melontarkan pernyataan tolol. Saat membaca dari sudut pandang Aibileen, seakan mama saya hadir kembali, karena aura keibuannya yang sangat kuat. Aibileen menjadi tokoh favorit dalam novel yang saya baca nih sepanjang tahun 2010 ini. Dan saat miss Skeeter berhasil membukukan wawancaranya, saya ikutan girang.

Covernya, me likey so much. *mbak Anne Mariane, top banget dah* Oia, saya juga ngefans banget dengan hasil karya mbak Anne Mariane beberapa contohnya Biro Jodoh Kaum Elite, Blue Remembered Heels saya suka semuanya. #jadipengenbisagambar