Sisters Red – Jackson Pearce

Wow keren! Dua kata yang terlontar dari mulut saya saat melihat cover buku Dua Saudari Bertudung Merah terbitan Atria. Salut untuk Atria yang tetap memakai cover asli Sisters Red. Unik, misterius, dan ‘gelap’ pas banget dengan isi bukunya yang menceritakan kakak beradik March memberantas manusia serigala. Ring a bell? Yap, me too. Novel ini terinspirasi dari kisah tudung merah yang pernah saya baca bertahun-tahun lalu. Terlebih lagi tahun ini film tentang Tudung Merah juga bakal tayang. Sudah cukup alasan saya untuk segera meluncur ke toko buku memburu buku ini.

Kisah dimulai dengan peristiwa 7 tahun yang lalu, ketika Scarlett masih berusia 11 tahun. Pria misterius mendatangi rumah Oma March, bermata gelap, senyum aneh dan gerakannya sangat mencurigakan. Pria yang tak lain adalah seorang fenris / manusia serigala memangsa habis Oma March. Scarlett dan sang adik Rosie berusaha membela diri sekuat tenaga, bahkan satu mata Scarlett rusak akibat serangan serigala itu.

Trauma dan kepahitan senantiasa menghantui kakak beradik March, terlebih lagi Scarlett. Ia menjalani hari dengan mengejar fenris. Berlatih sekuat tenaga, berburu, mengasah kapak menjadi makanannya tiap hari. Bagaimana dengan Rosie? Sebagai  adik yang nyawanya pernah diselamatkan sang Kakak tentunya membantu Scarlett walaupun jauh dalam lubuk hatinya ia terkadang lelah dengan perburuan yang tak henti-henti. Sekuat apapun mereka berusaha membasmi Fenris, sepertinya monster-monster itu tidak ada habisnya.

Scarlett dan Rosie tidak bekerja sendiri, terkadang mereka dibantu oleh Silas. Tetangga dan teman main mereka sedari kecil. Tukang kayu cekatan yang cukup tampan rupanya, sampai Rosie perlahan-lahan menyadari bahwa dirinya mencintai Silas. Apakah cinta Rosie bertepuk sebelah tangan? Seandainya Silas mencintai Rosie, bisakah hubungan mereka bertahan? Bagaimana dengan Scarlett? Dan apa yang menyebabkan Fenris semakin banyak berkeliaran di sekitar mereka? Silahkan baca sendiri untuk mencari tahu lanjutannya🙂

Sisters Red setebal 432 halaman berhasil saya selesaikan dalam waktu 2 hari. Selain seru membaca perjuangan Rosie-Scarlett-Silas membasmi fenris, saya juga penasaran dengan kisah cinta Rosie-Silas. Jackson Pearce menurut saya cukup sukses dalam membangun konflik cerita dan penokohan. Saya seakan mengenal Scarlett, terlebih lagi sifat-sifatnya yang pas dengan karakter seorang kakak. Ketegasannya, tanggung jawabnya untuk menjaga adik yang juga keluarga satu-satunya sangat menonjol. Sifat galaunya terkadang muncul saat melihat wajahnya yang hancur akibat serangan fenris juga gampang ditepis jika ia sudah mengingat tujuan utama hidupnya. Mengejar monster. Berbeda dengan Rosie, ia lebih kalem dan tidak meledak-ledak. Bahkan dengan sembunyi-sembunyi mengikuti kursus menari ataupun origami sekedar melepaskan diri dari rutinitas kejar mengejar fenris.

Klimaksnya dan endingnya berjalan cepat, menurut saya bahkan terkesan terlalu gampang. Namun bagi penggemar fantasi yang juga penikmat romansa ala young adult sangat sayang untuk melewatkan buku ini.

3 bintang untuk kisahnya, 1 bintang untuk covernya yang fenomenal.

PS : browsing pengarang saya malah menemukan buku karangannya dengan model serupa. Sweetly, kali ini Pearce mengadaptasi kisah Hansel dan Gretel. Mudah-mudahan juga diterbitkan oleh Atria.

 

4 thoughts on “Sisters Red – Jackson Pearce

  1. missbibliophile says:

    oh, kayaknya mirip ya alur ceritanya dengan si tudung merah, cuma diubah-ubah disana-sini…kayaknya jadi bacaan tambahan menjelang pemutaran film Red Ridding Hood di bioskop nih…hehehehehe

    • ana says:

      Miaa.. dirimu salah sebut😦
      btw baca kalimat terakhir2 mu, kok aku jadi mikir ya ni pengarang apa keabisan ide apa terlalu kreatif; ngolah ulang cerita2 lama buat jadi yang lebih baru. Not bad sih… tapi TBR ku udah buanyaaakkk jadi kayaknya buku ini belom masuk itungan *kecuali kalo dibuntelin Mia sih ngga nolak* hahahha

  2. miamembaca says:

    Wekekek, udah dirubah kok Ana, :p
    Iyah ngikutin tren Hollywood ya? Mengadaptasi ulang?🙂 Tapi lumayanlah ceritanya masih bisa diikutin kok. Weks buntelan? haha, eh iyaa jadi pengen rajin-rajin review, skrg banyak bgt ya yang bagi-bagi buntelan. Tapi ya itu ga bisa review yang serius-serius :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s