86 – Okky Madasari

Kesan pertama yang ditangkap dari cover dan sinopsis di halaman belakang : korupsi. Coba kita cermati sejenak ringkasan cerita 86, apa yang bisa dibanggakan dari seorang pegawai rendahan di kantor pengadilan?

86

86

Arimbi gadis polos yang berprofesi sebagai juru ketik Pengadilan Negeri lambat laun menjadi bagian perputaran uang bawah tangan, terlebih lagi saat ibunya sakit keras. Apa yang terjadi? Uang berbicara tapi jangan salah kata hati juga berteriak. Hanya nurani yang bisa memutuskan, mau menerima godaan uang atau terhimpit dengan segala macam kebutuhan rumah tangga.

Arimbi terjerat. Nafsu dan ambisi melilit habis.

Dari buaian AC di kamar kosnya yang sempit, uang tempel 200-300 ribu agar bisa menikmati makan di restoran ala orang kaya, semuanya berlanjut. Arimbi terperosok dalam lubang yang digalinya sendiri. Punya suami kelak bukannya membantu tapi malah merongrongnya dengan pinjaman hutang. Atas dasar nama cinta Arimbi memenuhi semua tuntutan sang suami. Dan seperti kalimat yang saya sering dengar, apa yang kau tabur itu yang kau tuai. Arimbi menuai perbuatannya. Miris, sedih, ironis tapi bisa berbuat apakah ketika pada akhirnya uangpun sudah tak bisa berbicara?

Okky Madasari tak pelak lagi adalah penulis berbakat Indonesia tema berat diramu dengan lugas tanpa kesan menggurui. Tema tak biasa walau hal ini terjadi setiap hari di sekitar kita. 86, baru saya tahu apa artinya angka ini🙂 PR saya selanjutnya, mencari Entrok. Bosan dengan cerita cinta ala remaja ABG maupun cinta antara lady dan para viscount? 86 bisa menjadi penyegaran bagi anda. Bisa diilustrasikan dengan terbiasa minum es sirop manis bahkan terkadang terlalu manis, mengecap lemon squash kan berasa seger banget? *apaansih* :p

Ditunggu karya selanjutnya, mbak Okky.

PS. Covernya bagus, ilustrasi dari Restu Ratnaningtyas sangat mencerminkan isi novel 86.

Judul : 86

Pengarang : Okky Madasari

Penerbit : Gramedia, cetakan 1. Maret 2011

252 halaman

3 thoughts on “86 – Okky Madasari

  1. kamalatokobuku.com says:

    Buku yang sangat menarik. Kita jadi memahami kondisi pengadilan di negeri kita melalui kisah Arimbi, seorang pegawai kantor pengadilan, tokoh utama buku ini. Bahwa menjadi pegawai di kantor pengadilan ternyata tidak seenak bayangan kita. Bahwa korupsi terjadi bukan hanya karena niat saja tetapi karena sistem yang membuat demikian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s