Scones and Sensibility – Lindsay Eland

Polly Madasa, gadis kecil berusia 12 tahun mungkin bisa kita anugrahkan predikat gadis paling romantis yang ada di muka bumi. Bagaimana tidak, buku favoritnya Pride and Predudice and Anne of Green Gables yang dibaca berulang kali. Ia lebih menyukai menulis dengan lilin dibanding mengetik di internet. Bahasa sehari-hariPollypun sama persis dengan kalimat jadul ala Anne ditambah Polly juga pengkhayal kelas berat, sering kali orang tua dan teman-temannya dibuat bingung oleh tingkah laku Polly yang seakan terjerat masa lalu.

Scones and Sensibility

Pesta minum teh dengan hidangan roti isi mentimun adalah kegiatan favoritku sejak usia lima tahun. Sebagian besar pakaianku sejak mulai menghirup napas pertama di dunia ini berhias renda dan kerutan (kecuali kamping sial ketika aku dipaksa memakai celana jins yang dipotong pendek dan tank top bertuliskan whassup?” Kalimat di paragraf awal, sudah kelihatan kan lebaynya, hehehe.

Di halaman selanjutnya “.. Saat aku berbaring di kamarku merenungkan semua hal ini, sekonyong-konyong aku dibanjiri kecemerlangan dan keagungan musim panas. Udara pekat dan manis bagai kembang bokor yang baru mekar, serta aroma air garam yang menyeruak dalam embusan angin, bagaikan baju yang dijepit apik pada tali jemuran, terasa memabukkan.” Wih, luar biasa berbunga bahasanya dan salut untuk mbak Uci yang bisa menerjemahkan kalimat Polly dengan pas!

Niat mulai Polly selama musim panas ingin menjodohkan orang-orang terdekatnya. Clementine, kakak tersayang yang menurut Polly pacarnya tidak sesuai dengan Clementine, tidak bertindak layaknya seorang laki-laki terhormat. Ada juga Mr. Nightquist yang kesepian setelah kematian istrinya. Miss Wiskerton, perawan tua kesepian yang hanya tinggal dengan anjingnya juga tak luput dari Polly. Terakhir, ayah sobat karib Polly, Mr. Fisk telah 3 tahun menduda dan tentunya Polly tak tinggal diam.

Berdasar dari kisah cinta ala Pride and Prejudice ataupun kisah cinta Anne – Gilbert di buku Anne of Green Gables, Polly mulai melancarkan aksinya menjodohkan pasangan yang menurutnya pasti menjadi pasangan serasi. Sayangnya Polly lupa, cinta tak dapat dipaksa dan benarkah cinta berbunga ala novel klasik beneran dapat terwujud di dunia jaman sekarang? Nah, Polly harus belajar dari tante Mia kalau gitu :p

Buku yang saya peroleh hasil menang kuis di facebook ini memiliki inti cerita yang menarik ditambah lagi covernya yang manis banget. Sayangnya kemanisan cerita sedikit terganggu dengan tingkah laku Polly yang terkadang sedikit di luar jalur plus kesan yang saya dapat ‘duh ni anak sok tua banget sih?’ Bagi pecinta romance remaja dan pengagum cover seperti saya, buku ini layak kok untuk dikoleksi🙂

Judul : Scones and Sensibility, terbitan Atria Cetakan I, Maret 2011. 298 halaman.

12 thoughts on “Scones and Sensibility – Lindsay Eland

  1. ana says:

    hahahha.. “pengagum cover..”
    emang ada ya mi yang ngoleksi buku cuma karena covernya doang?
    tapi emang nih buku covernya menggoda, meskipun dari reviewnya Mia kok kayanya radaa….. err.. -___-

    • miamembaca says:

      Haha, loooh ada lho yang koleksi doang tanpa dibuka plastinya Ana :p
      Covernya bagus, ceritanya lumayan kok saking Polly ini kadang lagaknya kaya orang tua, bikin gemes :p

  2. zenia says:

    Ok…tanpa bermaksud mencela sang penterjemah…tapi mungkin ada salah tulis kamu, Mi. Itu ‘kamping’ apa ya? Apa maksudnya camping? Kalo memang maksudnya camping…apa terjemahannya jadi kamping? Bukannya berkemah? Atau kamu yang salah ketik non?

    Trus…kembang bokor apa ya?

    Huahhhhh….merasa Bahasa Indonesia-nya jelek…😦

    Tapi kayaknya aku ada liat deh nih buku di Kinokuniya hehehe

    • Uci says:

      Hai Zenia, boleh saya menumpang jawab di sini ya Mi?🙂

      Kamping itu bahasa Indonesia, artinya perkemahan. Nggak salah tulis kok, memang sudah ada lema tersebut dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.

      Kalau kembang bokor, itu bahasa Indonesia untuk bunga hydrangea atau hortensia.

      Semoga jawabannya bisa diterima🙂

      Terima kasih

      PS: Oiya, yang benar penerjemah, bukan penterjemah hehehe

      • zenia says:

        Eh…serius tuh camping jadi kamping? OMG? Terus kalo milih pake berkemah aja boleh gak? Hehehe…soalnya lagi nerjemahin buku Pramuka nih…kan pasti ada camping tuh…masih agak aneh di kuping nih itu ‘kamping’ hahaha…

        Kembang bokor…buset dah…bener-bener baru tau! Ckckckckc…gawat!

        Huah…penerjemah tho hihihihi…ok ok ok…ma kasih ya untuk penjelasannya😀 seru euy!

        ….kamping…. hieh….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s