BBI · classic · love love love

Too Much Love Will Kill You, Heathcliff!

Woohoo, akhirnya tanggal yang ditunggu-tunggu tiba juga! 31 Mei 2011. Postingan serempak Blogger Buku Indonesia, proyek perdana kami adalah baca bareng Wuthering Heights. Dari sekian banyak pilihan buku yang masuk daftar polling, WH ternyata memiliki tempat tersendiri di hati para blogger, selain buku klasik yang pastinya sering disebut, WH menjadi lebih populer lagi sejak Bella Swan tokoh utama buku Twilight series juga menyukai buku ini. Plusnya lagi WH terbitan seri klasik Gramedia dengan lambang bunga mawar merah di kanan bawah sudah tentu jaminan mutu terjemahan bagus dan minim typo.

versi Gramedia
versi Gramedia

Wuthering Heights mengisahkan cinta yang tak sampai antara Heathcliff dan Catherine Earnshaw. Sayangnya status anak pungut dan tanpa gelar yang jelas menyurutkan niat Catherine untuk menikahinya, bahkan akhirnya Catherine menikah dengan Edgar Linton yang tak lain musuh bebuyutan Heathcliff sedari kecil. Putus asa, dengki, dendam mengakar dalam diri Heathcliff sehingga ia bertekad melarikan diri dan menyusun rencana besar dalam hidupnya. Suatu saat, ia akan kembali. Bukan sekedar untuk menunjukkan ia akan menjadi orang yang besar dan berhasil, Heathcliff datang untuk balas dendam dan menghancurkan hidup orang-orang yang sebelumnya telah menghancurkan hidupnya sendiri.

Kisah cinta Catherine – Heathcliff serta runutan cerita Wuthering Heights pastinya akan lebih jelas direview oleh teman-teman blogger yang lain, saya tidak bakat menulis sinopsis kisah panjang-panjang ;p namun ijinkan saya bercerita tentang kesan dan pesan saya selama membaca Wuthering Heights. Satu kata : capek! Terus terang saya lelah sekali membaca buku ini dan tergolong lambat dalam menyelesaikannya. Dari bab awal nuansa gelap dan kelam sangat terasa, terlebih lagi alur kisah yang flash back dan lumayan banyak tokoh yang diceritakan sejak awal sempat membuat saya bingung. Untungnya mulai sepertiga buku saya mulai bisa menghafal nama-nama tokoh plus lagi gambar family tree Earnshaw – Heathcliff lumayan membantu 🙂

Famiy Tree - WH
Famiy Tree - WH

Tokoh utama Heathcliff bukanlah pria dewasa gahar seperti yang ada di novel-novel romance ataupun pria pendiam menghanyutkan ala Edward Cullen. Heathcliff adalah tokoh pria kasar, dingin, bengis, gelap, cemberut senantiasa bahkan cenderung sakit mental (in my opinion).  Terus terang saya tidak habis pikir bagaimana ada orang bisa hidup dalam kebencian yang berakar dalam hatinya? Berkali-kali saat saya membaca buku ini, ingin sekali saya menendang Heathcliff dan berkata kepadanya, “hello mister! mbok ya senyum po’o sekali-sekali, masih banyak perempuan cantik yang mau dengan anda lho kalo anda berubah” . Meh.

Buku klasik yang terbit tahun 1847 adalah satu-satunya karangan Emily Bronte yang tak lain adalah saudara Charlotte Bronte penulis buku klasik Jane Eyre yang digadang-gadang sebagai cikal bakal novel Historical Romance. Wuthering Heights termasuk dalam list 1001 buku yang harus dibaca. Walaupun pikiran tokoh utamanya susah diselami, penokohan karakternya juara! Setiap tokoh yang ikut ambil bagian dalam cerita mendapat porsinya masing-masing dengan pas, hebatnya lagi karakternya seakan-akan berjiwa dan hidup, tak heran rating di amazon maupun goodreads cukup tinggi. Bahkan sampai selesai membaca WH, beberapa adegan masih terbayang-bayang di otak, hal yang jarang terjadi jika saya membaca novel.

Wuthering Heights berkali-kali diadaptasikan ke dalam film, list jelasnya bisa dibuka di imdb.com namun yang ingin saya tonton adalah adaptasi tahun 1992 yang dibintangi oleh Ralph Fiennes dan Juliet Binoche. Penasaran seperti apakah tokoh Heathcliff jika difilmkan :p

Wuthering Heights
Wuthering Heights

Cover Wuthering Heights rata-rata bernuansa abu gelap, terkadang ada gambar rumah, wanita termenung atau pria berdiri sendiri.

Penguin Classic version
Penguin Classic version
Klett version
Klett version
Ruben Toledo, Penguin Edition
Ruben Toledo, Penguin Edition

Bicara soal cover tak ada habisnya dan favorit saya adalah gambar paling bawah, karya seorang pelukis dan ilustrator terkenal Ruben Toledo. Seram tapi sarat dengan nilai artistik.

Ah, kembali ke Wuthering Heights, kalimat penutup untuk review saya copy dari blogcritics.org : In its own way, Wuthering Heights is a perfect read for a long weekend. It is a novel about what happens when the guy doesn’t get the girl and how the universe can be set right again. In between, there is melodrama, tragedy, madness and, possibly, ghosts. It’s a quick read, a fun one, and the kind of book that gives you a little bit of insight into the stew of popular culture. Plus, it’ll make you feel good about yourself, since you’re almost certainly wiser, more humble, and less shallow than any of Bronte’s classic characters.

Happy Tuesday, people! Selamat beraktivitas dan berikan peluk cium untuk saudara terkasih di sekeliling anda dan jangan biarkan cinta membunuhmu, yuk nyanyi bareng Queen 🙂

I’m just the pieces of the man I used to be
Too many bitter tears are raining down on me
I’m far away from home
And Ive been facing this alone
For much too long

I feel like no-one ever told the truth to me
About growing up and what a struggle it would be
In my tangled state of mind
I’ve been looking back to find
Where I went wrong

Too much love will kill you
If you can’t make up your mind
Torn between the lover
And the love you leave behind
You’re headed for disaster
Cos’ you never read the signs
Too much love will kill you
Every time

I’m just the shadow of the man I used to be
And it seems like there’s no way out of this for me
I used to bring you sunshine
Now all I ever do is bring you down
How would it be if you were standing in my shoes
Cant you see that it’s impossible to choose
No there’s no making sense of it
Every way I go I’m bound to lose

Too much love will kill you
Just as sure as none at all
It’ll drain the power that’s in you
Make you plead and scream and crawl
And the pain will make you crazy
You’re the victim of your crime
Too much love will kill you
Every time

Too much love will kill you
It’ll make your life a lie
Yes, too much love will kill you
And you wont understand why
You’d give your life, you’d sell your soul
But here it comes again
Too much love will kill you
In the end…
In the end.

Advertisements
cover · listopia

New Release. May. 2011

Hai hai, sudah lama juga saya tidak posting di sini, sibuk berkutat dengan ‘pr’ saya bersama buku pilihan BBI nih. Bagi yang belum tahu apa itu BBI, Blogger Buku Indonesia dibentuk berdasar passion dan kecintaan akan buku, setiap bulan rencananya membaca dan mempublish review buku di hari yang sama. Kewl isn’t it? Bulan Juni bacaan resmi kami adalah Wuthering Heights. Review lengkap tunggu tanggal mainnya dua hari lagi ya *sok misterius*.

Minggu pagi setelah mandi dan sarapan adalah saat yang pas banget untuk ngeblog, hasil browsing goodreads, timbul ide untuk sharing buku new release di luar sana yang menarik perhatian saya.

The Sweetest Thing  ~ Christina Mandelski

The Sweetest Thing
The Sweetest Thing

In the world of Sheridan Wells, life is perfect when she’s decorating a cake. Unfortunately everything else is a complete mess: her mom ran off years ago, her dad is more interested in his restaurant, and the idea of a boyfriend is laughable. 
But Sheridan is convinced finding her mom will solve all her problems – only her dad’s about to get a cooking show in New York, which means her dream of a perfect family will be dashed. 
Using just the right amount of romance, family drama, and cute boys, The Sweetest Thing will entice fans with its perfect mixture of girl-friendly ingredients. 

Covernya bikin lapar ya 🙂

The Girl who Circumnavigated Fairyland in a Ship of Her Own Making ~Catheryne M. Valente

Fairyland #1
Fairyland #1

Twelve-year-old September lives in Omaha, and used to have an ordinary life, until her father went to war and her mother went to work. One day, September is met at her kitchen window by a Green Wind (taking the form of a gentleman in a green jacket), who invites her on an adventure, implying that her help is needed in Fairyland. The new Marquess is unpredictable and fickle, and also not much older than September. Only September can retrieve a talisman the Marquess wants from the enchanted woods, and if she doesn’t . . . then the Marquess will make life impossible for the inhabitants of Fairyland. September is already making new friends, including a book-loving Wyvern and a mysterious boy named Saturday.  With exquisite illustrations by acclaimed artist Ana Juan, Fairyland lives up to the sensation it created when the author first posted it online. For readers of all ages who love the charm of Alice in Wonderland and the soul of The Golden Compass, here is a reading experience unto itself: unforgettable, and so very beautiful.

Perpaduan fantasi, dongeng dan petualangan masih menjadi resep mujarab rupanya, covernya sedikit mengingatkan saya dengan Fly by Night. Judulnya keren!

The Last Time I Saw Paris ~ Lynn Sheene

The Last Time I Saw Paris
The Last Time I Saw Paris

May 1940. Fleeing a glamorous Manhattan life built on lies, Claire Harris arrives in Paris with a romantic vision of starting anew. But she didn’t anticipate the sight of Nazi soldiers marching under the Arc de Triomphe. Her plans smashed by the German occupation, the once- privileged socialite’s only option is to take a job in a flower shop under the tutelage of a sophisticated Parisian florist.In exchange for false identity papers, Claire agrees to aid the French Resistance. Despite the ever-present danger, she comes to love the enduring beauty of the City of Light, exploring it in the company of Thomas Grey, a mysterious Englishman working with the Resistance. Claire’s bravery and intelligence make her a valuable operative, and slowly her values shift as she witnesses the courageous spirit of the Parisians.

But deception and betrayal force her to flee once again-this time to fight for the man she loves and what she knows is right-praying she has the heart and determination to survive long enough to one day see Paris again.

Rada setipe dengan Guernsey Literary dan sedikit nuansa film English Passion, plus rehat dari fantasi dan drama ABG sepertinya buku ini bisa menjadi pilihan yang pas. Suka font judul dan tone warna latarnya, yang mengganggu malah 2 tokoh pria dan wanita serta garis merah di bagian bawah cover, mirip dengan Harlequin malah.

Have a nice Sunday, bookworms!

 

 

 

 

 

 

 

buntelan · fantasy · love love love · young adult

Firelight, Kisah cinta gadis penyembur api

Pernahkah merasa kalau buku tertentu berjodoh dengan kita? Saya sering. Buku Firelight termasuk salah satunya. Sejak awal terbit versi luar saya sudah tergiur dengan covernya, gadis berambut emas dengan siluet sisik nada di sudut wajah. Belum sempat saya membeli, ternyata Penerbit Atria bakal menerbitkan versi terjemahan. Sudah jelas masuk wish list saya nih, senangnya lagi Senin kemarin paket buku Firelight mendarat di rumah. Memang kalau sudah jodoh tak lari ke mana.

Firelight
Firelight
Firelight versi Atria
Firelight versi Atria

Firelight berkisah tentang kehidupan gadis keturunan naga – draki bernama Jacinda. Setiap draki memiliki kemampuan tersendiri dan keahlian Jacinda adalah menyemburkan api. Kemampuannya membuat Jacinda menjadi pusat perhatian di kelompoknya karena sudah 400 tahun tidak ada draki penyembur api. Banyak draki lain ingin dekat menjadi teman dan pacarnya,bahkan perjodohannya dengan Cassian, anak pimpinan kelompok draki mulai didengungkan sedari Jacinda berubah draki api.

Jacinda bukannya senang melainkan tertekan dengan keadaannya, semua terkesan palsu malahan ia merasa menjadi piala yang diperebutkan berbagai pihak. Ibu Jacinda juga merasa gerah dengan perhatian lebih yang ditujukan ke anaknya. Ia tak ingin Jacinda menjadi ’ibu’ dari draki-draki baru yang dibiakkan demi kelangsungan hidup kelompoknya. Puncaknya pada suatu malam, ibunya melarikan Jacinda dan kembarannya Tamra yang sayangnya tidak mampu berubah menjadi draki meninggalkan kelompoknya. Mereka meninggalkan Chaparral yang sejuk dan berhutan rindang pindah ke daerah gurun yang gersang. Ibu Jacinda dan Tamra sengaja memilih tempat itu agar secara perlahan naluri draki di tubuh Jacinda mati perlahan-lahan dan ia dapat menjadi manusia seutuhnya sama seperti sang ibu yang juga pernah mengasingkan dirinya di gurun untuk membunuh naluri drakinya.

Sayang Jacinda bukanlah ibunya, ia menolak mengingkari jati dirinya. Hari lepas hari tubuhnya mulai kasar akibat udara gurun yang kering, kemampuannya untuk berubah mulai menurun, sampai suatu ketika ia bertemu Will, teman barunya di sekolah. Bersama Will ia merasa hidup lagi, bahkan hanya dengan berdekatan dengannya draki Jacinda seakan melesak hendak keluar dari tubuhnya. Tamra menyadari hal itu juga dan mewanti-wanti Jacinda untuk bersikap hati-hati, jangan sampai keanehannya membuat perkara besar di sekolah yang baru saja mereka masuki. Berbeda dengan Jacinda, Tamra menikmati kehidupan barunya di sekolah, karena di Chaparral tempat tinggal mereka dulu Tamra hanya menjadi bayang-bayang Jacinda, semua terpusat pada kembarannya. Apalagi sejak Jacinda berubah menjadi draki penyembur api dan Tamra yang sama sekali tidak pernah berubah. Teman-temannya menjauhinya karena takut ‘tertular’ Tamra, bahkan cinta sejatinya Cassian jelas-jelas menunjukkan ketertarikannya pada Jacinda dan memandang Tamra dengan sebelah mata.

Seperti kalimat yang tertulis di cover buku versi Atria, “Apa gunanya keselamatan bila bagian dari dirimu mati?”, Firelight berkisah tentang cinta terlarang yang terjadi antara Jacinda dan Will. Will bersama keluarganya ternyata adalah pemburu naga. Mereka menyusuri semua tempat untuk membunuh naga dan menggunakan kulitnya untuk sofa, darah yang berkhasiat untuk dijual. Di saat jati diri mereka terungkap, mampukah cinta menyatukan mereka? Ditambah lagi Cassian tentu saja tidak tinggal diam ketika gadis impiannya sedari dulu direbut oleh manusia.

Sasaran pembaca Firelight jelas pembaca muda atau yang biasa disebut Young Adult, walau begitu saya sebagai adult yang sudah tidak young lagi *apa sih* sangat menikmati buku karangan Sophie Jordan ini. Jujur saya bilang saat browsing goodreads waktu belum membaca Firelight, saya melihat buku-buku karangan beliau yang lain. Aih matek, historical romance semua yang mana saya tidak suka (mohon maaf bagi penyuka genre HR, no offense lho ya :p ) tapi begitu saya membaca Firelight, saya jadi malu sendiri. Ternyata actionnya ada, kisahnya bergulir lancar tanpa saya merasa bosan, dan secara perlahan misteri-misteri yang ada di seri Firelight mulai terkuak. Akhir buku pertama lumayan membuat saya penasaran dengan buku keduanya, dan di bawah ini saya tampilkan cover Vanish yang tak kalah indah dari Firelight.

Vanish
Vanish

3, 5 bintang untuk kisah cinta terlarang Will-Jacinda, mudah-mudahan buku selanjutnya lebih banyak adegan perang-perang antar naga kek atau perang antar kelompok pemburu dengan naga 🙂

Detail buku : Firelight, terbitan Atria April 2011. Alih bahasa : Ferry halim. 425 halaman.

inspiring · must read · tears

Have a Little Faith, people.

Books can be dangerous. The best ones should be labeled “This could change your life.” ~Helen Exley

Quote yang sudah pernah saya dengar sebelumnya, kemarin baca lagi dari status updatenya mbak Lita dan quote di atas sangat melukiskan perasaan saya semalam ketika begadang menyelesaikan buku Mitch Albom terbaru Have a Little Faith. Penulis bahkan menyatakan “It is… the most important thing I’ve ever written,” . Di bukunya kali ini Mitch Albom mengajak kita untuk menyelami iman, cinta, toleransi antar umat beragama dengan kalimatnya yang sederhana namun penuh dengan makna. Saya sendiri beberapa kali membaca ulang beberapa paragraf karena begitu indahnya makna yang disampaikan.

Have a Little Faith
Have a Little Faith

Have a Little Faith adalah buku non fiksi yang ditulis dalam kurun waktu 8 tahun, berkisah tentang perjalanan hidup 3 pria – seorang rabi tua, pendeta kulit hitam dengan masa lalu yang kelam serta Mitch Albom sendiri. Mirip dengan Tuesdays with Morrie, buku diawali dengan permintaan Rabi Mitch Albom sedari ia kecil dulu, “Maukah kau menyampaikan eulogi terakhir untukku bila aku mati?” Mitch Albom tentu saja kaget dan tak paham dengan pertanyaan sang Rabi dan balik bertanya mengapa ia yang dipilih? “Karena menurutku kaulah orang yang tepat. Dan kupikir bila tiba waktunya, kau tahu apa yang akan disampaikan.”

Paragraf terakhir dari prolog di halaman awal buku :

Ini kisah tentang keyakinan terhadap sesuatu dan dua orang yang sangat berbeda mengajariku tentang cara beriman. Dibutuhkan waktu yang panjang untuk menuliskannya. Penulisannya membuatku mendatangi gereja dan sinagoga, daerah pinggiran dan kota, dan membawaku ke konsep “kita” versus “mereka” yang memecah belah keyakinan di seluruh dunia.

Dan akhirnya kisah ini membawaku ke rumah, ke persemayaman yang dipenuhi orang, ke peti mati dari kayu pinus, ke lubang yang masih kosong. Awalnya adalah sebuah pertanyaan yang kemudian menjadi permintaan terakhir “Maukah kau menyampaikan eulogi untukku?”

Dan sebagaimana dengan keyakinan lainnya, aku merasa sedang dimintai pertolongan, padahal akulah yang sedang ditolong.

Selesai membaca buku ini, saya juga merasa telah ditolong. 🙂

Mitch Albom akhirnya menyanggupi permintaan Rabi untuk menyampaikan eulogi ketika Rabi meninggal nanti, namun untuk sebuah eulogi, Mitch Albom harus mengenal Rabi lebih jauh, bukan hanya sebatas orang pilihan Tuhan yang berkotbah setiap Minggu, melainkan ia harus mengenal Rabi sebagai manusia biasa. Dan dari sinilah kisah mulai bergulir, secara berkala Mitch mengunjungi Rabi untuk sekedar bertanya dan bercerita.

Suatu kali, saat Rabi di rumah sakit ada lengkingan bayi. “Nah, anak itu mengingatkanku akan sesuatu yang diajarkan tokoh besar kita. Ketika bayi lahir ke dunia, tangannya mengepal bukan?’, ujar Rabi sambil mengepalkan tangannya.

Lalu ketika seseorang yang tua meninggal, bagaimana ia mati? Dengan tangan terbuka. Mengapa? Karena ia telah mendapatkan pelajaran itu”. Kemudian ia merentangkan jemarinya lebar-lebar. “Kita tidak dapat membawa apapun.”

*ah indahnya, bahkan di saat saya mengetik ulang paragraf di atas dada saya terasa sesak*

Satu lagi paragraf favorit saya di halaman 109.

“Jadi, sudahkah kita menyimpulkan rahasia kebahagiaan?”

“Menurutku begitu.”

“Apakah anda akan memberitahu saya?”

“Ya. Siap?”

“Siap.”

“Merasa cukup.”

“Itu saja?”

“Penuh rasa syukur.”

“Itu saja?”

“Atas apa yang kita miliki. Atas cinta yang kita terima. Dan, atas segala yang Tuhan berikan kepada kita.”

“Hanya itu?”

Ia menatap mata Mitch Albom, menghela nafas panjang.

“Hanya itu.” 

Huft. Masih banyak paragraf dan kalimat yang ingin saya bagikan di sini, tapi sepertinya review ini sudah terlalu panjang. So, read it people 🙂 A. Must. Read. Book! Apapun agama anda, buku ini tidak bercerita mengenai agama, melainkan iman dan kecintaan kita terhadap sesama. Buku ini ditutup dengan eulogi Mitch Albom di saat penguburan Rabi, sukses membuat saya mrebes mili.

5 bintang dari saya, sepuluh kalau bisa!

Cover : Cover terbitan Gramedia sama dengan cover buku aslinya. Konsep covernya diilhami oleh kumpulan kliping Rabi yang diikat dengan karet gelang. Nice 🙂

Detail buku:

Judul : Have a Little Faith / Sadarlah

Alih bahasa : Rani. R. Moediarta (terjemahannya bagus!)

Gramedia, November 2009. 265 halaman

love love love

Sepenggal kisah hidup Mr. Rainwater

Rainwater, novel terbaru Sandra Brown yang baru bulan lalu diterbitkan Gramedia sudah menarik perhatian saya sejak pre-release. Cover bukunya yang tidak seperti cover Sandra Brown pada umumnya yang menampilkan wajah wanita, alih alih Rainwater malah menggambarkan ladang rumput keemasan dan rumah dari kejauhan. Terlebih lagi lebih dari dua kali saya baca kalau novel Rainwater adalah novel Sandra Brown yang lain dari biasanya.

Rainwater

Rainwater mengambil setting tahun 1934 di kota kecil Texas saat-saat era depresi melanda. Kemiskinan, kelaparan dan suasana panas kering kerontang dilukiskan dengan jelas oleh Sandra Brown. Ella Barron,wanita paruh baya menjadi tokoh sentral Rainwater. Ella adalah seorang wanita yang kuat, bagaimana tidak hidupnya penuh dengan kepahitan. Suaminya pergi meninggalkannya tanpa jejak karena tidak tahan hidup dengan anak mereka yang memiliki kelainan mental. Semakin ke belakang kita akan tahu bahwa Solly, anak Ella menderita autisme yang tentu saja tahun 30an belum dikenal dan malah dianggap sakit jiwa. Ella mencari nafkah dengan membuka penginapan dan saat Mr. Rainwater datang untuk menyewa kamar, tanpa mereka sadari, garis nasib Ella dan Mr. Rainwater berubah drastis.

Tokoh Mr. Rainwater dengan mudah menarik simpati pembaca, pria sopan dan penuh perhatian, dengan sikapnya yang sabar perlahan-lahan hati Ella yang sudah bekupun mulai luluh. Bahkan ia berhasil berkomunikasi dengan Solly yang terkadang Ella sendiri tidak bisa menangani perilaku Solly ketika mulai tantrum. Benih cinta mulai tumbuh di antara mereka, namun satu-satunya hal yang tidak bisa dibeli Ella dan Rainwater menghantui hubungan mereka, waktu. Waktu mereka terbatas, karena Rainwater yang sakit parah hanya memiliki beberapa bulan tersisa sebelum maut merenggutnya.

Selain tokoh sentral Ella dan Mr. Rainwater, karakter pendukung novel Rainwater juga pas mengisi novel setebal 330 halaman. Walaupun tergolong tipis, saya sebagai pembaca dengan cepat hanyut dalam jalinan cerita. Tokoh antagonis, Conrad Ellis sangat menyebalkan! Ellis adalah preman yang suka mabuk-mabukan dan bertindak semena-mena di kota, sampai pada akhirnya Rainwater tidak tinggal diam. Klimaks cerita meningkat mulai 3/4 buku dan diakhiri dengan indah oleh Sandra Brown. Bagi penggemar novel romance happily-ending-ever-after jelas saja Rainwater menawarkan ending yang sangat berbeda. Saya pribadi sangat puas dengan novel ini, 3.5 bintang untuk ceritanya, terlebih lagi desain covernya indah! Satya Utama Jadi memang juara 🙂

Satu hal yang dapat saya simpulkan setelah membaca 2 novel Sandra Brown, beliau piawai memainkan dan menghidupkan peran dalam setiap tokoh yang diciptakan. Kesan roman picisan yang otomatis ada di pikiran saya setiap akan membaca novel romance dipatahkan begitu saja oleh Sandra Brown. Malah sekarang terbersit untuk mengkoleksi novel Sandra Brown yang lain 🙂

Judul buku : Rainwater, April 2011 terbitan Gramedia, 330 halaman. Alih bahasa :Tanti Lesmana.

adventure · kids just wanna have some fun

Pintu Waktu, Ulysses Moore #1

Jason dan Julia, sepasang kembar anak dari pasangan Covenant pindah dari kota besar ke daerah pesisir pantai Kilmore Cove. Rumah Argo Manor yang mereka tinggali melengkapi keunikan dari kota Kilmore Cove. Rumah yang bertengger di tebing tinggi menghadap laut, deretan pepohonan diselingi bunga beraneka warna, terkesan sangat eksotis. Bagian dalamnya lain lagi, vas dari Mesir, meja dari Venesia, permadani Persia yang entah bagaimana terlihat serasi dan memberi karakter yang kuat di Argo Manor.

Pintu Waktu
Pintu Waktu

Jason dan Julia adalah sepasang anak kembar beda karakter yang senantiasa bertengkar namun senantiasa melengkapi satu dengan yang lain. Jason penuh dengan keingintahuan dan hidup dalam dunianya sendiri, sedangkan Julia blak-blakan dan sistematis. Ditambah dengan Rick teman baru mereka di Kilmore Cove, ketiga anak tersebut bertekad menggali misteri Argo Manor! Bunyi jejak langkah kaki yang didengar Jason semakin membenarkan pikirannya bahwa Ulysses Moore pemilik Argo Manor sebelumnya yang telah meninggal lama masih hidup dan meninggalkan jejak yang membantu mereka untuk mengetahui rahasia pintu waktu yang ada di sana.

Perkamen kertas kuno dengan huruf Mesir kuno, pintu kayu misterius yang penuh dengan tanda-tanda pernah dibuka dengan paksa, teka-teki pantun adalah pr Julia-Jason-Rick selanjutnya. Satu pemecahan teka-teki, mengarah ke teka-teki selanjutnya membuat saya menyelesaikan seri pertama Ulysses Moore hanya dalam waktu beberapa jam saja. Sang pengarang sukses membuat pembaca masuk dalam alur misteri yang sudah terasa sejak awal. Mau tak mau saya dibuat penasaran Ulysses Moore  yang fotonya tidak ada di mana-mana apakah benar-benar masih hidup dan menghantui keluarga Covenant? Ada rahasia apa di balik semua ini? Silahkan baca sendiri dan bisa dipastikan anda akan ikut berpetualang 🙂

Perpaduan anak kecil yang penuh rasa ingin tahu, rahasia pantun, Mesir kuno membuat saya penasaran mati-matian dengan buku ini, terlebih lagi dengan sampulnya yang Hard Cover dan ilustrasi yang ada di setiap bab membuat seri Ulysses Moore pantas untuk dikoleksi. Sayangnya buku ini cukup susah didapatkan di Bali. Untungnya dapat pinjeman dari Echa dan sang penerjemah favorit saya mbak Uci 🙂 Sampai hari ini sudah 4 buku yang diterbitkan penerbit Erlangga, masih ada 5 buku lagi sepertinya :p

Detail buku.

Judul : Pintu Waktu

Pengarang : Pierdomenico Baccalario

Halaman : 222

4 bintang dari saya 🙂

listopia

April – 2011

April, bulan yang kurang produktif nih 😦

Mata saya semakin lama semakin rewel kalo baca ebook, twitteran lama saja kadang bikin pedih mata kalau kelamaan mantengin timeline, blame it to age?*uhuk* Plus lagi 2 minggu saya terkapar sakit sehingga harus bed rest, awal minggu pertama masih bandel sih, ga nurut makan bubur, bahkan masih sempat kelarin 1 buku. Setelahnya tepar beneran, tiap mau baca kepala senut-senut.

Alhasil, buku yang dibaca bulan April :

1. Lock and Key -Sarah Dessen. 4 bintang! Buku kedua Sarah yang dibaca, saya berniat membaca semua buku karangan doi, mudah-mudahan tercapai niat mulianya :p

2. Fantasi Fiesta, kumpulan cerita fantasi ala penulis Indonesia, 3 bintang.

3. 86 – Okky Madasari, 3 bintang.

4. Scones and Sensibility – Lindsay Eland, hasil menang kuis di fb. 3 bintang.

5. Di mana ada cinta, di sana Tuhan ada – Leo Tolstoy. 4 bintang! Kumpulan cerita karya penulis Rusia jenius yang sayang untuk dilewatkan. Review menyusul 🙂

6. Diary of a  Wimpy Vampire – Tim Collins, 3 bintang. Hasil swap dengan Novi.

7. Paras Rana – Sandra Brown, 3 bintang untuk novel setipis ini, jadi penasaran karya SB yang lain.

8. Gadis Korek Api – H. C. Andersen, buntelan pertama saya dari Atria, yiay! 🙂

9. The Phantom of the Opera – Gaston Leroux, 3 bintang.

10. The Lady and the Unicorn – Tracy Chevalier, 4 bintang.

11. Little Women – L.M. Alcott, 3 bintang.

12. Pintu Waktu(Ulysses Moore #1) – Pierdomenico Baccalario, 4 bintang! Akhirnya jadi juga baca novel ini, sekarang lanjut buku 2 nih.

How’s yours?