Pembalasan dendam Count of Monte Cristo

There is no revenge so complete as forgiveness – Josh Billings

Perkenalkan tokoh utama buku maha karya maestro Alexander Dumas : Edmond Dantes, pria muda berusia 19 tahun yang akan menjadi kapten kapal dan akan segera menjadi suami dari gadis cantik, Mercedez Mondego. Akibat iri dengki teman dekatnya Danglars dan Fernand, saudara Mercedez, nasib Edmond terpuruk ke jurang paling dalam kehidupannya. Ia dituduh menjadi pemberontak berbahaya dan langsung dijebloskan ke dalam penjara bawah tanah seumur hidupnya.

Quote yang berbunyi “Sometimes what you want isn’t always what you get, but in the end what you get is so much better than what you wanted” pas dengan nasib Edmont. Mendekam dalam penjara sampai hampir gila, ia akhirnya memiliki seorang teman, pendeta bernama Abbe Faria. Pria yang berjasa mengubah kehidupan Edmund, ia mengajarkan Edmund banyak hal, bahasa Spanyol dan Italia. Abbe memiliki kekayaan berlimpah yang tertanam di pulau Monte Cristo, sampai akhirnya ia meninggal karena epilepsi di penjara,  Edmund berhasil melarikan diri dari penjara dan mengganti identitasnya menjadi Count of Monte Cristo. Hilang sudah Edmund yang ceria dan penyayang, seakan ada karakter lain dalam jiwanya, muncullah Count yang kaya raya, pintar, licik dan penuh dendam.

Seakan bangkit dari kubur, Count mulai menghantui kehidupan orang-orang yang dulu menjebaknya. Danglars, Fernand dan Villefort. Eye for an Eye, a Tooth for a Tooth. Tanpa ampun Count of Monte Cristo menjadi ‘hakim’ dalam perjalanan hidup para penjebaknya. Intrik, tipu muslihat Count yang membuat seru buku yang sudah diterjemahkan ke dalam lebih dari 100 bahasa.

Count of Monte Cristo

Count of Monte Cristo

Sampai pertengahan buku, saya mengerti kenapa buku ini begitu fenomenal. Alexander Dumas meramu balas dendam Edmond Dantes menjadi sangat menarik untuk diikuti. Walau sempat bingung di awal dengan banyaknya tokoh yang muncul out of nowhere eeeh di akhir bab membuat saya terpana, seakan menonton film action!

Beberapa kekurangan buku ini adalah fontnya yang kecil dan dempet-dempet lumayan mengganggu konsentrasi membaca. Seandainya saja dibuat lebih besar dengan kertas yang lebih putih bukan buram, pasti lebih terang untuk dibaca. Satu lagi, bisa tidak ya penerbit untuk membuatkan daftar tokoh yang rata-rata bernama Perancis yang susah untuk diingat.

Di atas saya cantumkan family tree yang saya ambil dari Wikipedia, sayangnya gambarnya terlalu kecil 😦

Bintang 4 untuk The Count of Monte Cristo, sayang karena saya bacanya lumayan terburu-buru demi mengejar akhir bulan, sempat bingung dengan banyaknya tokoh plus lagi namanya mirip semua :p Ah ya, satu lagi terkadang saya lelah membaca buku ini, bukan karena font kecilnya, melainkan ‘lelah’ mendalami perasaan Edmond Dantes itu sendiri. Hidup hanya untuk pembalasan dendam dan nuansa kebencian terkadang terasa begitu kental. Mungkin saya jika ditempatkan dalam posisi itu saya juga akan bersikap seperti Edmond, tapi membaca buku bernuansa kebencian yah itu dia, capek bacanya. Untung saja endingnya lumayan membahagiakan. Edmond berhak untuk hidup bahagia atas apa yang telah dilaluinya.

Salut untuk Penerbit Bentang yang berhasil menerjemahkan karya ‘njelimet’ Alexander Dumas dengan mulus dan minim typo.

Detail buku : The Count of Monte Cristo, Penerbit Bentang, Cetakan Pertama Maret 2011, 563. Penerjemah : Nin Bakdi Soemanto.

Prophecy of the Sisters, legenda saudari kembar.

Baca bareng grup #BBI bulan Juni. Dari beberapa nominasi,Prophecy of Sister jelas menjadi pilihan karena sudah cukup lama saya ingin membaca buku ini, namun urung karena cover ebook yang lumayan membuat bulu kuduk berdiri jika dibaca malam-malam, untungnya penerbit Matahati menerbitkan Prophecy of Sisters dengan cover yang lebih cantik, malah salah satu model covernya mirip Cinta Laura :p

Prophecy of the Sisters

Prophecy of the Sisters

Dari lembar pertama Michelle Zink berhasilmemberikan aroma misteri yang membuat saya sebagai pembaca penasaran bagaimana nasib Lia dan Alice setelah kematian tak wajar Thomas Milthorpe, ayah mereka. Terlebih lagi semakin ke belakang terlihat perilaku Alice yang misterius bahkan sering diam di kamar gelap. Kamar tempat ibu mereka mengurung diri sebelum meninggal.

Aura gelap mulai muncul saat secara tiba-tiba di hari pemakaman ayahnya, Lia memiliki tattoo misterius dan James, kekasih Lia menemukan buku kuno misterius berisi lamaran kuno tentang saudara kembar.

Melalui api dan harmoni umat manusia bertahan
Hingga dikirimnya para Garda
Yang mengambil istri dan kekasih dari seorang pria,
Menimbulkan kemurkaan-Nya.
Dua Saudari, terbentuk dari samudra bergelombang yang sama,
Yang satu sang Garda, yang lain sang Gerbang.
Yang satu penjaga kedamaian,
Yang lain bertukar sihir untuk pemujaan.
Dilempar dari surga, para Roh itu Tersesat
Tatkala para Saudari melanjutkan pertempuran
Hingga sang Gerbang memanggil mereka kembali,
Atau sang Malaikat membawa Kunci-Kunci menuju Neraka.
Tentara, berbaris melalui Gerbang.
Samael, sang Iblis, melalui sang Malaikat.
Sang Malaikat, hanya dijaga oleh perlindungan selubung halus
Empat Tanda, Empat Kunci, Lingkaran Api
Terlahir dalam napas pertama Samhain
Dalam bayangan Ular Batu Mistis dari Aubur.
Biarkan Gerbang Malaikat mengayun tanpa Kunci
Diikuti Tujuh Tulah dan Tak Kembali
Kematian
Kelaparan
Darah
Api
Kegelapan
Kekeringan
Kehancuran
Rantangkan lenganmu, Nona Kekacauan
malapetaka sang Iblis akan mengalir
seperti sungai
Karena semuanya musnah saat Tujuh Tulah dimulai.

Legenda Celtic yang menjadi inti cerita Prophecy of Sisters memisahkan jalan hidup sepasang saudari kembar Alice – Lia. Gerbang vs Garda. Good vs Evil. Akhirnya hanya akan ada satu saudari yang bertahan, akankah itu Lia atau Alice? Sepertinya pertanyaan itu belum bisa kita tahu sekarang karena buku PotS sudah diset menjadi trilogi. Dua buku lanjutannya adalah :

Guardian of the Gate

Guardian of the Gate

Circle of Fire

Circle of Fire

Pemotongan cerita menjadi 3 buku membuat banyak misteri yang tidak terungkap di buku pertama yang menurut saya menjadi kekurangan Prophecy of the Sisters. Asal muasal legenda, kenapa sang ibu senantiasa mengurung diri di kamar gelap, apa arti lambang jorgumand yang muncul di lengan Lia?

Penokohan karakter kurang kuat, PotS yang menggunakan Lia sebagai sudut pandang pertama juga tidak membantu. Saya tidak merasakan kedekatan dengan tokoh utama, malah Alice yang muncul lebih sedikit dibanding Lia malah lebih terasa ‘greng’. Saya bisa merasakan tatapan sinisnya ataupun wajah tanpa ekspresi saat ia menyiksa kucing keluarga Milthorpe. Merinding dibuatnya! Romansa Lia dan James juga kurang terasa, bisa jadi karena pengarang masih fokus mengenalkan mitos legenda dan perkenalan tokoh kepada pembaca. Melihat sinopsis buku keduanya, sepertinya karakter James akan semakin diungkap.

Walaupun ada beberapa kekurangan, PotS berhasil saya selesaikan dalam dua hari, mustinya bisa sehari sih tapi dasarnya saya yang penakut buku ini tidak saya sentuh di malam hari *nyengir*.  Alur yang cepat dan misteri yang senantiasa muncul di akhir bab membuat saya penasaran ingin segera mengetahui ending buku pertama. Ah, Matahati segera terjemahkan buku keduanya dong 🙂

Bagi penggemar young adult terlebih lagi genre fantasi, Prophecy of the Sisters layak untuk dikoleksi, bisa menjadi penyegaran selain vampire dan werewolves yang akhir-akhir ini semakin marak. Selain covernya bagus, terjemahan Matahati yang mulus dan minim typo juga menjadi nilai plus tersendiri.

Detail buku : Prophecy of the Sisters, Matahati. 359 halaman. Penerjemah : Ida Wajdi.

Love, Aubrey

Love, Aubrey. Penerbit Matahati

Love, Aubrey. Penerbit Matahati

Daddy,

Tahukah kau kalau aku paling merindukanmu. 

.

.

.

Mungkin dad sudah tahu semua ini, atau mungkin dad sedang membaca surat ini juga dari belakangku. Berpikir seperti itu juga membuatku bahagia. Atau mungkin setelah kumasukkan surat ini ke amplop dan kubawa keluar, lalu kubiarkan terbawa angin, maka dad akan tahu isinya.

Itulah yang aku ingin dad tahu : bahwa aku mencintaimu. Aku merindukanmu. Kuharap meskipun aku tumbuh besar, Dad masih bisa mengenaliku kalau melihatku nanti. Aku akan terus menjadi Aubreymu. Dan, Dad akan selalu jadi ayah terbaik bagiku. Aku berharap Dad tak harus pergi.

Aku pamit dulu

Love, Aubrey.

Sekelumit surat Aubrey yang ditujukan kepada ayahnya yang telah meninggal sukses membuat saya menitikkan air mata. Aubrey, gadis berusia 11 tahun yang hidupnya berubah 180 derajat setelah kematian ayah dan adiknya. Tidak hanya itu, ibunya yang menyetir mobil saat kecelakaan terjadi malah menyalahkan dirinya sendiri dan pergi meninggalkan Aubrey entah ke mana.

Aubrey hidup sendirian, spaghetti dan keju menjadi santapan rutin seolah tidak terjadi apa-apa dalam kesehariannya. Aubrey dipaksa menjadi mandiri, berusaha terlihat tegar walau hatinya hancur.  Sampai akhirnya ia tinggal bersama sang nenek, hari lepas hari adalah perjuangan. Perjuangan menata hati, mengingkari pikirannya bahwa semua baik-baik saja. Lelah dengan kepura-puraan, satu-satunya hiburan selain ikan hias kesayangannya adalah menulis surat. Mungkin itu sebabnya dijadikan judul buku, karena setiap akhir suratnya pasti diakhiri dengan Love, Aubrey.

Perlahan-lahan Aubrey mulai menikmati hidup bersama nenek dan memiliki teman-teman baru di sekolahnya. Konflik cerita mulai meningkat saat ibu Aubrey kembali hadir dalam kehidupannya, akankah Aubrey kembali bersama ibunya atau tetap tinggal bersama nenek yang baru saja ia kenal dekat?

Beberapa kali mata saya berkaca-kaca saat membaca surat Aubrey, terlebih surat Aubrey untuk ayahnya yang saya tuliskan di awal review. Walaupun Love, Aubrey adalah kisah drama remaja, kisah ini ditulis dengan indah. Tragic, honest, brave and a real tear jerker. Patut dibaca bagi penggemar Young Adult yang suka dengan alur cerita yang kuat.

Saya yang kurang lebih memiliki pengalaman serupa dengan Aubrey, kehilangan mama di saat usia 10 tahun tahu persis perasaan Aubrey. Betapa bencinya saat mama-mama teman sekolah saya yang memeluk dan berkata, “aduh, kasihan”. Atau betapa frustasinya ketika teman sekelas bergantian datang untuk sekedar bertanya, “Kamu ga papa kan Mi?”. Cara mudah menghindari semua itu gampang, ya sudah bersikap saja seolah-olah kematian mama saya tidak terjadi.  Peristiwa masa lalu hadir bagaikan slideshow di otak saya tadi ketika membaca Love, Aubrey. Dan memang benar, keluarga, teman, cinta kasih dan waktu akan memulihkan segalanya.

Bagi penyuka  If I Stay, buku drama remaja yang berkisah tentang kematian dan harapan untuk bangkit kembali, Love, Aubrey is a must read. Malah menurut saya buku ini jauh lebih bagus. 5 bintang! Sayang cover bukunya kurang indah dipandang, padahal biasanya buku terbitan Matahati covernya bagus-bagus. Saya lebih suka cover luar yang lebih mencerminkan kesepian Aubrey.

Love, Aubrey

Love, Aubrey

PS : Pas browsing-browsing tentang pengarang kaget juga kalau umurnya baru 27 tahun, buku keduanya bakal terbit tahun ini dengan tema yang tak jauh beda. Kematian dan remaja, resmi bertengger di rak wishlist 🙂

Detail buku : Love, Aubrey. Penerbit Matahati cetakan pertama, Desember 2010. 256 halaman.

The Journeys, kumpulan perjalanan penulis Indonesia

The road of life twists and turns and no two directions are never the same. Yet, our lessons come from the journey not the destination. – Don Williams Jr.

Sedari awal The Journeys terbitan Gagas Media menarik perhatian saya, tidak hanya dari segi cover yang vintage-modern tapi juga dari rangkaian nama penulis yang terpampang di bagian bawah cover. Beberapa nama sudah saya kenal sebelumnya dari buku-buku terbitan Gagas, tapi yang lebih membuat penasaran adalah tulisan pekicau twitter  yang karyanya belum pernah saya baca,di antaranya Alexander Thian, Ferdiriva Hamzah, Ve Handojo dan Valiant Budi.

The Journeys

The Journeys

The Journeys mengisahkan perjalanan para penulis keroyokan di dalam maupun luar negeri. Menariknya tidak hanya spot-spot travel yang ditonjolkan, melainkan kisah di balik perjalanannya.

Beberapa kisah yang saya suka : Alexander Thian menceritakan indahnya Karimunjawa yang menjadi tempat pelarian di kala putus cinta dan hasilnya? Sunset dan sunrise yang membuatnya berkaca-kaca. Winna Efendi, menceritakan perjalanannya ke Shuili – Taiwan dalam format email. Menarik! Ve Handojo yang berhasil menginjakkan kaki di Israel dengan honornya sebagai penulis script Kuntilanak! Percakapannya dengan pendeta sempat membuat saya tersenyum-senyum sendiri. Ferdiriva Hamzah yang tulisannya sama menariknya dengan celotehannya di twitter menceritakan perjalanan ke Amerika bersama mertuanya yang bergaya ‘aristokrat’ dan favorit saya perjalanan Valiant Budi ke Timur Tengah.

“Keyakinan bagi saya seperti wewangian. Kita benar-benar bisa merasakannya, mencium aromanya, tapi susah untuk mendefinisikannya terutama kepada orang yang belum pernah, belum bisa atau memang tidak mau mencium aroma wewangian tersebut”  – hal.104.

Gaya penulisannya yang cerdas dan segar membuat saya tak sabar membaca Kedai 1001 Mimpi.

IMO, Gagas Media pintar mengambil peluang dengan tampilan cover yang menarik dan kumpulan perjalanan penulis Indonesia yang sedang naik daun di saat buku mengenai wisata murah dan travel blog menjamur. Good job 🙂

3 bintang. The Journeys, Gagas Media, cetakan kedua 2011, 243 halaman.

Bicara soal travelling beberapa tempat yang ingin saya kunjungi Gili Trawangan untuk dalam negeri dan pulau Santorini yang pemandangannya luar biasa. Jadi, siapa yang ingin mejelajah Lombok dan Yunani bareng saya? :p

Santorini

Santorini

Remember When, kenangan cinta masa SMA

Remember When

Remember When

Buku ketiga Winna Efendi yang sukses membius setelah Ai dan Refrain, sekali lagi saya tenggelam dalam dunia melankolis yang Winna ciptakan. Saya seakan kembali ke masa SMA dan ikut bergaul dan kenal dengan Moses, Freya, Gia dan Adrian, 4 tokoh utama Remember When.

Apa yang paling teringat dari jaman saya masih imut, lucu dan memakai rok abu-abu? *gabolehprotes*

Ospek, Osis, persahabatan, basket, pr sekolah, kantin, perpustakan, ekstra kurikuler,  deg-deg ser kala laki-laki yang ditaksir lewat. Winna meramu semua kenangan saya dengan jelas. Kisah sederhana memang memiliki sentuhan yang beda kalau sudah dikisahkan oleh Winna Efendi. Adrian pemain basket, tokoh populer di SMA, Gia, gadis cantik, terkenal, favorit guru-guru dan banyak teman. Moses, lelaki tinggi, serius, pintar. Freya, a girl next door, sederhana dan pintar. Adrian berteman dekat dengan Moses. Gia yang berbeda seratus delapan puluh derajat dengan Freya bisa menjadi sahabat karib. Adrian berpacaran dengan Gia, dan Freya sang kutu buku berpacaran dengan Moses, siswa teladan sekolah. Perfect. Sempurna, sampai Adrian tersadar kalau hanya Freya yang bisa mengerti hatinya yang paling dalam. Dan akankah persahabatan mereka ternodai dengan cinta terlarang Adrian – Freya? Find out yourself 🙂

Sebelum mereview buku pertama Winna Efendi, ijinkan saya curhat sebelumnya. Sebagai wanita yang haus akan bacaan *halah*, terkadang saya lelah membaca buku klasik, bosan membaca fantasi, inginnya membaca buku ringan yang setelah kelar dibaca dapat memberikan rasa hangat di dada. Pilihan paling mudah untuk bacaan selingan : chicklit, teen lit, atau drama ringan yang tidak menguras emosi ala Nicholas Sparks. Dan bacaan drama favorit saya adalah buku karangan Winna. Kisah yang sederhana bisa menjadi memorable, tokohnya seakan-akan hidup. Adrian pemain basket SMA, Gia gadis populer, Freya yang pintar namun malu-malu, Moses laki-laki tenang menghanyutkan, mereka semua dengan mudah kita jumpai dalam kehidupan jaman SMA dulu.

Kesan yang saya dapat setelah membaca ketiga buku karangan Winna, kepintarannya menghidupkan tokoh adalah kelebihannya dari penulis drama lainnya. Tokoh yang ‘nyata’ membuat kita dengan cepat akrab dan ikut masuk dalam novel. Sering kali tokoh utama diceritakan sebagai tokoh yang terlalu banyak masalah, konflik terlalu dibuat-buat namun sampai akhir saya tidak mengerti karakter tokoh itu sendiri. Hal yang tidak mungkin terjadi dalam novelnya Winna, saya ikut sedih ketika Freya menahan rasa cinta demi persahabatannya dengan Gia, saya merasakan frustasinya Gia saat ia mengiba Adrian tidak memutuskannya. A must read romance book from Gagas Media, terlebih lagi covernya yang cantik sangat. 🙂

4 bintang untuk Remember When dan saya pribadi selalu menantikan karya Winna Efendi selanjutnya. Keep writing Winna!

Detail buku : Remember When, Gagas Media, Cetakan kedua 2011, 248 halaman

Sekilas penulisan Remember When bisa dilihat di http://winna-efendi.blogspot.com/2011/04/latar-belakang-penulisan-remember-when.html

Enough is never enough

“When do you get the point enough is enough?” Pertanyaan yang diajukan Brad Pitt pada Julia Roberts dalam film The Mexican jika ditanyakan kepada saya tentang kehausan akan buku sepertinya tidak pernah cukup. Lah, wong tumpukan buku yang belum dibaca masih bertumpuk, godaan buku baru yang terbit selalu menggoda iman. Sigh. Terkadang merasa bersalah juga dengan diri sendiri, belum lagi tumpukan DVD dan majalah kristik yang berteriak memanggil-manggil. *okeh, itu lebay, Mia*

Swap atau barter, yang lumayan sering dilakukan teman-teman di twitter atau blog mengilhami saya untuk melakukan hal serupa. Alhasil kemarin saya beres-beres lemari untuk merelakan beberapa dari penghuninya mencoba rak di tempat lain atau bahkan pulau lain. Awalnya berat juga, serasa berpisah dengan kawan lama, tapi ternyata setelah kemarin melakukan deal dengan beberapa blogger, well it was fun actually! 🙂

pict taken from prettybooks.tumblr.com

pict taken from prettybooks.tumblr.com

Beberapa bulan lalu untuk pertama kalinya saya mendapat buntelan dari penerbit secara cuma-cuma, itu girangnya sudah luar biasa. Sebelumnya tidak pernah terpikir untuk dapat buku gratis karena tujuan membuat blog buku murni untuk menyalurkan hobi cuap-cuap saya yang terkadang lebay dan sharing tokoh unik dari novel yang saya baca.  Jadi bisa dibayangkan girangnya saya saat ada paket tergeletak dengan manis di meja. Ahayy 🙂

Perihal lain soal buku, saya juga melakukan pinjam meminjam buku dengan teman-teman Goodreads Indonesia, mulai dari Depok, Bogor bahkan sampai Lampung. Lumayan menghemat pengeluaran kan? Terlebih lagi barter dengan sesama pecinta buku terasa lebih menyenangkan ketimbang saya meminjam di rental novel,ada nuansa kedekatan yang personal.

Bicara Goodreads yang hampir dua tahun telah menjadi ‘rumah’ saya di dunia maya, pertama buka internet yang dibuka goodreads, notifikasi goodreads boro-boro pengen dibuka. Pertama kali kopdar dengan salah satu teman GR yang kebetulan singgah di Bali, semangat 45! Malah komentar adik yang bikin saya terkejut, ” Mau ketemuan dengan teman tak dikenal? Ga pernah ketemuan sebelumnya? Lah, kutemenin aja ya?”. Mau tak mau saya berpikir, benar juga ya, kenapa kalau ketemuan dengan anak Goodreads tidak pernah ada kata was-was walau sebelumnya tidak pernah bertemu, mungkin karena kesukaan kami yang sama soal buku jadi bawaannya mau ketemu ‘saudara’ saja.

Tuh, benar kan? Tanpa terasa postingan ini sudah panjang, memang tak pernah cukup kalau bicara soal buku. Kapan-kapan saya sambung lagi deh! Sekarang saya mau baca Poison Study dulu. Cheers!

Swap/Sale, kloter 1

Non Terjemahan :

1. Diary of a Wimpy Kid – Jeff Kinney

Buku Terjemahan :

1. Courrier Sud. Pesawat Pos Selatan – Antoine De Saint – Exupery

2. A Garland for Girls – Louisa May Alcott (booked @melmarian)

3. Buddha – Deepak Chopra

4. Honeymoon with My Brother – Franz Wisner

5. Tuck Everlasting – Natalie Babbit (booked ana)

6. Botchan – Natsume Soseki (booked ana)

7. Diary of a Wimpy Vampire – Tim Collins (ally)

8. Tuesday Erotica Club – Lisa Beth Kovetz

9. Doggy Style (Chicklit) – Jane May

10. Daddy Long Legs – Jean Webster ( ana )

11. Breakfast at Tiffany’s- Truman Capote (astrid)

12. A Walk to Remember – Nicholas Sparks

13. Ing0 – Helen Dunmore

14. Alvin Ho – Lenore Look (ally)

15. The Golden Compass – Philip Pullman

16. Erec Rex, The Dragon Eye – Kaza Kingsley

17. City of Bones – Cassandra Clare (ana)

18. A Short History of Tractors in Ukraninian- Marina Lewycka

19. Greyfriars Bobby – Eleanor Atkinson (astrid)

20. Guardians of Ga Hoole, The Capture – Kathryn Lasky

21. Gurun Cinta – Francois Mauriac

22. The Highest Tide – Jim Lynch

23. The Girls Guide to Hunting and Fishing – Melissa Bank

24. Man and Wife – Tony Parsons

25. Diary of a Mad Mom to be – Laura Wolf

26. Good Omen – Neil Gaiman

Novel Indonesia  :

1. C’est La Vie – Fanny Hartanti

2. Kenanga – Oka Rusmini

3. When a Man Lost a Woman – Ita Sembiring

4. Libido Junkie – Nova Riyanti Yusuf

5. Perempuan Hujan – Fira Basuki

6. Kamar Cewek – Ninit Yunita & Okke

7. Miss Jinjing Rumpi Sampai Pagi – Amelia Masriari

8. Divortiare – Ika Natassa

9. Oksimoron – Isman H. Suryaman

10. Cikibawawaw – Adiputra

11. Simply Amazing, inspirasi menyentuh makna – J. Sumardiana

12. La Barka – Nh. Dini

13. The Death to Come – Tyas Palar

14. Kepada Cinta, kumpulan sayembara menulis surat cinta, Gagasmedia.

15. L.S.D.L.F (Lontong Sayur Dalam Lembaran Fashion) – Syahmedi Dean

16. Kekasih Marionette – Dewi Ria Utami

17. Catatan di Balik Dapur si Tukang Masak – Bara Pattiradjawane

18. Kemamang – Koen Setyawan

19. Mahadewa Mahadewi – Nova Riyanti Yusuf

20. Metamorfosa Oase – Retni SB.

21. Minum Teh Bersama Kartini – Suryatini N. Ganie

22. The Swan – Dewi Ria Utami

23. Sex and the Cookies – Inggrid Widjanarko

24. Dunia di Kepala Alice – Ucu Agustin

25. Beraja – Anjar

26. Tabula Rasa – Ratih Kumala

Swap berdasarkan kesepakatan dua belah pihak ya 🙂 Silahkan kontak di mia.ayustina@gmail.com atau mention di twitter ya, happy hunting :p