Love, Aubrey

Love, Aubrey. Penerbit Matahati

Love, Aubrey. Penerbit Matahati

Daddy,

Tahukah kau kalau aku paling merindukanmu. 

.

.

.

Mungkin dad sudah tahu semua ini, atau mungkin dad sedang membaca surat ini juga dari belakangku. Berpikir seperti itu juga membuatku bahagia. Atau mungkin setelah kumasukkan surat ini ke amplop dan kubawa keluar, lalu kubiarkan terbawa angin, maka dad akan tahu isinya.

Itulah yang aku ingin dad tahu : bahwa aku mencintaimu. Aku merindukanmu. Kuharap meskipun aku tumbuh besar, Dad masih bisa mengenaliku kalau melihatku nanti. Aku akan terus menjadi Aubreymu. Dan, Dad akan selalu jadi ayah terbaik bagiku. Aku berharap Dad tak harus pergi.

Aku pamit dulu

Love, Aubrey.

Sekelumit surat Aubrey yang ditujukan kepada ayahnya yang telah meninggal sukses membuat saya menitikkan air mata. Aubrey, gadis berusia 11 tahun yang hidupnya berubah 180 derajat setelah kematian ayah dan adiknya. Tidak hanya itu, ibunya yang menyetir mobil saat kecelakaan terjadi malah menyalahkan dirinya sendiri dan pergi meninggalkan Aubrey entah ke mana.

Aubrey hidup sendirian, spaghetti dan keju menjadi santapan rutin seolah tidak terjadi apa-apa dalam kesehariannya. Aubrey dipaksa menjadi mandiri, berusaha terlihat tegar walau hatinya hancur.  Sampai akhirnya ia tinggal bersama sang nenek, hari lepas hari adalah perjuangan. Perjuangan menata hati, mengingkari pikirannya bahwa semua baik-baik saja. Lelah dengan kepura-puraan, satu-satunya hiburan selain ikan hias kesayangannya adalah menulis surat. Mungkin itu sebabnya dijadikan judul buku, karena setiap akhir suratnya pasti diakhiri dengan Love, Aubrey.

Perlahan-lahan Aubrey mulai menikmati hidup bersama nenek dan memiliki teman-teman baru di sekolahnya. Konflik cerita mulai meningkat saat ibu Aubrey kembali hadir dalam kehidupannya, akankah Aubrey kembali bersama ibunya atau tetap tinggal bersama nenek yang baru saja ia kenal dekat?

Beberapa kali mata saya berkaca-kaca saat membaca surat Aubrey, terlebih surat Aubrey untuk ayahnya yang saya tuliskan di awal review. Walaupun Love, Aubrey adalah kisah drama remaja, kisah ini ditulis dengan indah. Tragic, honest, brave and a real tear jerker. Patut dibaca bagi penggemar Young Adult yang suka dengan alur cerita yang kuat.

Saya yang kurang lebih memiliki pengalaman serupa dengan Aubrey, kehilangan mama di saat usia 10 tahun tahu persis perasaan Aubrey. Betapa bencinya saat mama-mama teman sekolah saya yang memeluk dan berkata, “aduh, kasihan”. Atau betapa frustasinya ketika teman sekelas bergantian datang untuk sekedar bertanya, “Kamu ga papa kan Mi?”. Cara mudah menghindari semua itu gampang, ya sudah bersikap saja seolah-olah kematian mama saya tidak terjadi.  Peristiwa masa lalu hadir bagaikan slideshow di otak saya tadi ketika membaca Love, Aubrey. Dan memang benar, keluarga, teman, cinta kasih dan waktu akan memulihkan segalanya.

Bagi penyuka  If I Stay, buku drama remaja yang berkisah tentang kematian dan harapan untuk bangkit kembali, Love, Aubrey is a must read. Malah menurut saya buku ini jauh lebih bagus. 5 bintang! Sayang cover bukunya kurang indah dipandang, padahal biasanya buku terbitan Matahati covernya bagus-bagus. Saya lebih suka cover luar yang lebih mencerminkan kesepian Aubrey.

Love, Aubrey

Love, Aubrey

PS : Pas browsing-browsing tentang pengarang kaget juga kalau umurnya baru 27 tahun, buku keduanya bakal terbit tahun ini dengan tema yang tak jauh beda. Kematian dan remaja, resmi bertengger di rak wishlist🙂

Detail buku : Love, Aubrey. Penerbit Matahati cetakan pertama, Desember 2010. 256 halaman.

6 thoughts on “Love, Aubrey

  1. Peri_hutan says:

    Ahh mia kayaknya bagus, mirip if i stay mungkin bedanya Aubrey ini bercerita setelah kehilangan keluarganya ya? Sedangkan if i stay lebih ke flash back. Baca reviewmu kepingin mewek😦

  2. Althesia says:

    waaahh….pasti susah menuliskan resensi buku yang mengena ke jiwa🙂
    aku juga mengalaminya beberapa kali…kesulitan penggunaan kata-kata.
    dan pastinya rasanya tidak ada kata yang tepat untuk mengungkapkan perasaan terhadap buku yang seperti ini.

    thanks miaa utk reviewmu🙂
    jadi wishlist deh

  3. Aleetha says:

    Aku suka banget buku ini. Walau nggak begitu suka ma ilustrasi Aubreynya di cover depan.

    Awalnya nggak nyangka ternyata ada insiden menyedihkan itu. Fiuhhh..surat-suratnya itu bikin nangis.

    Reviewku masih review. XDD
    Rencananya posting setelah Si kembar dan Monte Cristo

  4. miamembaca says:

    Sulis : Iya kalo if I Stay lebih ke flash back, aku nulis ya pengen mewek kok ini hehehe.

    Esi : iya, sama-sama, feelingku Esi suka deh buku ini🙂

    mb Uci : *peluk lagi*🙂

    Ally : hakhak, iya ditunggu reviewnya aku monte cristo dan prophecy juga belum review nih kacau hehe.

    Mery : penyegaran dulu dek, jangan baca yang depresi dan sedih mulu :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s