Pembalasan dendam Count of Monte Cristo

There is no revenge so complete as forgiveness – Josh Billings

Perkenalkan tokoh utama buku maha karya maestro Alexander Dumas : Edmond Dantes, pria muda berusia 19 tahun yang akan menjadi kapten kapal dan akan segera menjadi suami dari gadis cantik, Mercedez Mondego. Akibat iri dengki teman dekatnya Danglars dan Fernand, saudara Mercedez, nasib Edmond terpuruk ke jurang paling dalam kehidupannya. Ia dituduh menjadi pemberontak berbahaya dan langsung dijebloskan ke dalam penjara bawah tanah seumur hidupnya.

Quote yang berbunyi “Sometimes what you want isn’t always what you get, but in the end what you get is so much better than what you wanted” pas dengan nasib Edmont. Mendekam dalam penjara sampai hampir gila, ia akhirnya memiliki seorang teman, pendeta bernama Abbe Faria. Pria yang berjasa mengubah kehidupan Edmund, ia mengajarkan Edmund banyak hal, bahasa Spanyol dan Italia. Abbe memiliki kekayaan berlimpah yang tertanam di pulau Monte Cristo, sampai akhirnya ia meninggal karena epilepsi di penjara,  Edmund berhasil melarikan diri dari penjara dan mengganti identitasnya menjadi Count of Monte Cristo. Hilang sudah Edmund yang ceria dan penyayang, seakan ada karakter lain dalam jiwanya, muncullah Count yang kaya raya, pintar, licik dan penuh dendam.

Seakan bangkit dari kubur, Count mulai menghantui kehidupan orang-orang yang dulu menjebaknya. Danglars, Fernand dan Villefort. Eye for an Eye, a Tooth for a Tooth. Tanpa ampun Count of Monte Cristo menjadi ‘hakim’ dalam perjalanan hidup para penjebaknya. Intrik, tipu muslihat Count yang membuat seru buku yang sudah diterjemahkan ke dalam lebih dari 100 bahasa.

Count of Monte Cristo

Count of Monte Cristo

Sampai pertengahan buku, saya mengerti kenapa buku ini begitu fenomenal. Alexander Dumas meramu balas dendam Edmond Dantes menjadi sangat menarik untuk diikuti. Walau sempat bingung di awal dengan banyaknya tokoh yang muncul out of nowhere eeeh di akhir bab membuat saya terpana, seakan menonton film action!

Beberapa kekurangan buku ini adalah fontnya yang kecil dan dempet-dempet lumayan mengganggu konsentrasi membaca. Seandainya saja dibuat lebih besar dengan kertas yang lebih putih bukan buram, pasti lebih terang untuk dibaca. Satu lagi, bisa tidak ya penerbit untuk membuatkan daftar tokoh yang rata-rata bernama Perancis yang susah untuk diingat.

Di atas saya cantumkan family tree yang saya ambil dari Wikipedia, sayangnya gambarnya terlalu kecil😦

Bintang 4 untuk The Count of Monte Cristo, sayang karena saya bacanya lumayan terburu-buru demi mengejar akhir bulan, sempat bingung dengan banyaknya tokoh plus lagi namanya mirip semua :p Ah ya, satu lagi terkadang saya lelah membaca buku ini, bukan karena font kecilnya, melainkan ‘lelah’ mendalami perasaan Edmond Dantes itu sendiri. Hidup hanya untuk pembalasan dendam dan nuansa kebencian terkadang terasa begitu kental. Mungkin saya jika ditempatkan dalam posisi itu saya juga akan bersikap seperti Edmond, tapi membaca buku bernuansa kebencian yah itu dia, capek bacanya. Untung saja endingnya lumayan membahagiakan. Edmond berhak untuk hidup bahagia atas apa yang telah dilaluinya.

Salut untuk Penerbit Bentang yang berhasil menerjemahkan karya ‘njelimet’ Alexander Dumas dengan mulus dan minim typo.

Detail buku : The Count of Monte Cristo, Penerbit Bentang, Cetakan Pertama Maret 2011, 563. Penerjemah : Nin Bakdi Soemanto.

10 thoughts on “Pembalasan dendam Count of Monte Cristo

  1. miamembaca says:

    Nisa : Iya, ada di wikipedia yang sayangnya baru ditemukan setelah buat review bukannya pas baca -.-

    Asrtid : iya, Alexander Dumas ini hebat banget!!

    Helvry : hihihi iya, ayuk ayuk grup BBI bikin perjalanan bareng ke Perancis *ngayal*

  2. Althesia says:

    hihihih…si mia juga pusing ya sama font dan kertas bukunya? sama ma aku..kadang-kadang berasa udah baca lama tpi kok ya baru maju beberapa halaman aja

    tapi emang cara Dumas meramu cerita bagus ya…terpesona dgn sweet revenge-nya

  3. Aleetha says:

    Aku suka ma Count of Cristo Monte. Cerdas banget yah. Nggak cuman dari rencana dia juga cerdas rasa. Eh aslinya Tunggulah dan Berharaplah tuh apa yah? Kenapa nggak diterjemahkan jadi Tunggu dan Berharaplah saja yah?
    hahaha. Kebanyakan kata “lah”nya. Padahal itu quote favoritku.

  4. Novita says:

    aku juga tau ada family tree itu di wiki,tp keciiil bgt plus ribet. akhirnya lebih memilih baca langsung tanpa intip family tree nya, dan gak kesulitan mengingat2 tokoh2nya😀😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s