Dialog indah surga dan bumi

For now we see through a glass, darkly ; but then face to face ; now I know in part, but then shall I know even as also I am known.

“Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka.Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal” – I Korintus 13 :12

Through a glass, darkly

Through a glass, darkly

Prolog di akhir bab Cecilia dan Malaikat Ariel karya Jostein Gaarder yang berjudul asli Through a Glass, darkly. Buku yang diterjemahkan ke dalam 20 bahasa dan terjual lebih dari 2 juta eksemplar.  Penasaran? Di bawah ini saya cantumkan ringkasan kisah Cecilia yang saya ambil dari cover belakang buku terbitan Mizan.

Cecilia dan Malaikat Ariel

Cecilia dan Malaikat Ariel

Malam natal tahun ini sungguh menyedihkan bagi Cecilia. Ia sakit keras, hanya bisa terbaring di kamar dan mungkin tak akan pernah sembuh. Cecilia marah kepada Tuhan dan menganggapNya tak adil.

Namun terjadi keajaiban. Seorang malaikat bernama Ariel mengunjungi Cecilia. Mereka berdua membuat perjanjian. Cecilia harus memberitahukan seperti apa rasanya menjadi manusia dan Malaikat Ariel akan memberitahunya seperti apa surga itu.

Bagaimana akhir kisah persahabatan Cecilia dan Malaikat Ariel? Akankah terjadi keajaiban yang membuat Cecilia sembuh? Dan apakah Cecilia bisa berdamai dengan Tuham dan menerima takdirnya? Jostein Gaader membahas masalah pelik seperti Tuhan, surga, takdir,dalam kisah yang indah, lucu dan mengharukan.

Kali ini review saya bisa dibilang bukan review karena tidak menceritakan isi buku, melainkan apa yang saya rasa setelah membaca buku Cecilia dan Malaikat Ariel. Buku ini saya baca dan reviwnya saya posting di Goodreads bulan Februari tahun lalu, gara-gara membaca review mbak Nanni jadi teringat lagi belum saya share di blog WordPress.

Terima kasih kepada sang malaikat Ariel, karena dia saya belajar banyak hal.

1. Mensyukuri setiap pertumbuhan rambut, kuku, perubahan badan saya seiring usia. Karena malaikat tidak pernah tumbuh dan merasakan punya badan dari darah dan daging. Itu artinya malaikat tidak pernah merasakan deg deg ser saat menunggu sesuatu dan saat darah terasa menggelegak dari tubuh saat berita gembira akhirnya datang.

2. Menikmati segenap rasa makanan yang ada, kecutnya rujak mangga muda, manis kecutnya Sour Sally, pahitnya mulut saat tidak sengaja menggigit biji duku, pedasnya bakso jalanan mang Ali. Karena malaikat tidak tau rasanya makan. Itu artinya malaikat juga tidak tahu bagaimana menderitanya saat perut kembung dan keroncongan (ditambah bunyi2an para cacing di perut!!) dan juga bagaimana nikmatnya minum es teh manis saat cuaca panas menggigit.

3. Berusaha untuk selalu mengingat mimpi yang terjadi semalam, baik mimpi buruk ataupun mimpi berkencan semalam dengan mas Gerard Butler. Karena malaikat tidak pernah bermimpi.

4. Mlungker di dalam selimut dengan suhu AC 18 derajat terasa begitu nikmat, apalagi setelah seharian lelah bekerja, sayang para malaikat tidak tahu rasanya kedinginan. Itu berarti malaikat tidak pernah merasakan bulu kuduk berdiri saat angin dingin menerpanya.

5. Membaca buku ini membuat saya semakin menikmati saat menggendong anjing kecil kesayangan, lembut bulunya yang ngangenin. Malaikat tidak bisa merasakan apapun, bahkan saljupun ia tak tahu rasanya. Nah kalo salju sih saya juga belum pernah lho, Ariel.

Terlalu banyak kalau semuanya ditulis di sini, yang jelas saya sangat berterima kasih pada malaikat Ariel. Membuat saya menyadari kembali betapa bersyukurnya saya diberi kesempatan untuk hidup oleh Tuhan semesta alam sebagai manusia, lengkap dengan 2 tangan untuk bisa mengetik review ini, punya 2 mata untuk bisa membaca berbagai macam buku bagus, punya otak dan pikiran untuk bersosialisasi sehingga saya bisa ikut bergabung di Goodreads dan berbagi segala macam rasa yang saya dapat saat membaca buku. Cheers to life! Live long and prosper *tangan ala Star Trek*

15 thoughts on “Dialog indah surga dan bumi

  1. ana says:

    ahhhhhhhhhhh
    mana tombol jempol nyaa????

    aku suka banget reviewmu Mi.. >,<
    setelah kelas Bibbi Boken, mungkin ini buku kedua Jostein Gaarder yang ngantri..😀

    btw kok jadi pengen makan sour sally juga yaa.. *inget sensasi merem meleknya*

  2. miamembaca says:

    Review yang bukan review hihihi, frustasi ga bisa buka Gmail jadinya ngeblog deh. Buku perpustakaan Boken itu belum kebeli, takutnya belum kebaca juga. Alamak banyaknya buku yang harus dibaca naaa :p Aku kalo Dunia Sophie entah kenapa tidak tertarik baca.

    Haha, iya merem melek apalagi pas suapan pertama hehehe.

    • ana says:

      dunia sophie aku juga unfinished kok, dulu baca waktu SMP jadi rada2 belom ngeh sama filsafat. wkwkwk… jangan lirik tumpukan bacaan mi, sekarang yang penting jackal dulu.. *neror*

      btw, justru karena review-yang-bukan-review gini lho yang bikin aku selalu balik ke blogmu.. #eaaaaa

  3. Fanda says:

    Jadi bertambahlah wishlistku…
    Mia, kenapa gak diposting pas bulan depan aja, pas bulan kita ngerayain ultah Jostein Gaarder? Kan lebih asik tuh?

  4. miamembaca says:

    Tadi maunya gitu mbak, tapi mikir yg bulan depan pengen baca ulang buku ini atau baca perpustakaan itu makanya tetep saya posting, mbak Fanda dimention soalnya feelingku pasti suka buku begini🙂 Oia, lupa mention Melisa uh oh :p

  5. helvry sinaga says:

    aku juga baru dari tempatnya ceu nanny tentang buku ini.
    setelah aku baca Dunia Sophie, aku jadi terpengaruh untuk berpikir “apa hakikatnya?” tapi sepertinya bakalan susah ngereviewnya, ahaha

    kemarin baru beli buku Gaarder lagi, Maya: Misteri Dunia dan Cinta
    selanjutnya mungkin buku ini.

    yuuk baca bareng bukunya Gaarder yang lain🙂

  6. miamembaca says:

    Ana : Awww *peluk-peluk*

    Helvry : ayuk, bulan depan kan rencana baca bareng Jostein juga ya?

    Annisa : iya susah nyarinya tapi Nis, ini aja dapet pas mblusuk2 di Toga Mas

  7. justfrieza says:

    aaah how can one not loves this review ?🙂
    bukunya bagus ya nggak denger cerita dari bukunya aja bisa ngena dan langsung mensyukuri masih bisa ngerasa dingin, makan, kenyang, punya rambut yang panjang dan makan sour sally
    well done!

  8. ndarow says:

    Wah, jadi penasaran sama bukunya!
    Tapi bulan depan kelarin Dunia Sophie dulu lah. Waktu SMP kelas 1 pernah minjem, tapi baru baca setengah -,- ga ngertiii.

  9. Novita says:

    aku lagi nyari buku ini juga,sama gadis jeruk..
    kalo maya entah knp ga tetarik padahal kemarin di sale 30% off di gramed..

    karyanya jostein gaarder kayaknya emang bikin kita mikir ya,sepertinya pada penuh muatan filsafat gitu…daddy josty.. >.<

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s