The Perks of Being a Wallflower

“So, this is my life. And I want you to know that I am both happy and sad and I’m still trying to figure out how that could be.”

Kutipan di atas adalah salah satu dari beberapa kalimat favorit saya di buku The Perks of Being a Wallflower karangan Stephen Chbosky. Definisi Wallflower dari Wikipedia :  a slang term used to describe shy or unpopular individuals who do not socialize or participate in activities at social events. It is most often used to describe someone who stays close to a wall and out of the main area of social activity.

The Perks of Being a Wallflower

The Perks of Being a Wallflower

TPoBaW bisa dibilang diary seorang remaja pemalu bernama Charlie, sinopsis dari GoodreadsCharlie is a freshman. And while’s he’s not the biggest geek in the school, he is by no means popular. He’s a wallflower–shy and introspective, and intelligent beyond his years, if not very savvy in the social arts. We learn about Charlie through the letters he writes to someone of undisclosed name, age and gender; a stylistic technique that adds to the heart-wrenching earnestness saturating this teen’s story. Charlie encounters the same struggles many face in high school–how to make friends, the intensity of a crush, family tensions, a first relationship, exploring sexuality, experimenting with drugs–but he must also deal with the devastating fact of his best friend’s recent suicide. Charlie’s letters take on the intimate feel of a journal as he shares his day-to-day thoughts and feelings.

Review :

Cara penceritaan yang unik dan karakter yang begitu manusiawi membuat saya pribadi merasa dekat dengan Charlie, terlebih lagi buku ini adalah kumpulan surat yang ditulis Charlie ke anonymous reader sehingga berasa Charlie sendirilah yang curhat dengan kita. Curhat tentang keluarganya, teman-temannya, permasalahan yang biasa kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Charlie bisa dibilang remaja yang lugu, polos dan jujur, ada di beberapa bagian saya ingin mem’puk-puk’ pundaknya.

“Things change. And friends leave. Life doesn’t stop for anybody.”

Salah satu curhatan Charlie, bijak juga ya🙂

“And I thought about how many people have loved those songs. And how many people got through a lot of bad times because of those songs. And how many people enjoyed good times with those songs. And how much those songs really mean. I think it would be great to have written one of those songs. I bet if I wrote one of them, I would be very proud. I hope the people who wrote those songs are happy. I hope they feel it’s enough. I really do because they’ve made me happy. And I’m only one person.”

Wonderfully writen! Ahhh, baca deh, you’ll gonna love Charlie so much.

Pengarang banyak terinspirasi dari The Catcher in Rye karangan J. D. Salinger. Buku lain yang disebut di buku ini mulai dari To Kill a Mockingbird, The Great Gasby, Hamlet dan masih banyak lagi. Semoga penerbit lokal ada yang melirik dan menerbitkan TPoBoW, buku yang pantas dibaca oleh remaja maupun orang dewasa. Charlie memang bukan tokoh remaja tahan banting, tapi ia mengajarkan kita berbeda dengan orang lain itu tidak masalah, jujur pada diri sendiri. Itu yang penting.

Aaah, gara-gara buat review jadi pengen baca ulang bukunya🙂 Terima kasih Ndari atas pinjamannya! Tahun 2012 filmnya bakal tayang, Logan Lerman bakal jadi Charlie, Emma Watson berperan sebagai cewek inceran Charlie, oh ya dan ada favorit saya Mae Whitman. Seru ya? Tahun depan banyak banget film adaptasi novel yang bakal rilis.

Detail buku : The Perks of Being a Wallflower – Stephen Chbosky, Simon & Schuster UK Ltd, 1999, 232 halaman. Bintang 5 untuk karakter dan covernya. Sukaaa🙂

37 thoughts on “The Perks of Being a Wallflower

  1. miamembaca says:

    Buset komen Zenia kilat! Haha, waduh happy end ga ya, lebih ke perjalanan hidupnya dia sih Ze, tapi happy endlah anggepannya🙂 Charlienya jadi lebih dewasa dan siap menghadapi dunia SMA🙂

    • miamembaca says:

      Ini kan tunggakan review yang sudah berbulan-bulan lalu Na, jadinya ya agak-agak lupa, sayang tapi buku bagus ga direview😀 Makanya biar singkat yang penting ada jejaknya #halah

  2. miamembaca says:

    Lisa : Makasih sudah mampir ya, ini bukunya saya juga pinjam kok, coba beli di FB kalo ga mungkin di Kino ada.

    Ndari : Suka dan sedikit tidaknya Charlie ini mengingatkanku pada dirimu🙂

    Nisa : Ah ini memang keren bukunya Nis, ayo ayo baca

  3. Chris Subhan says:

    Halo Mba Mia.. salam kenal..

    Saya jg udh baca The Perks of Being a Wallflower, senang sekali ya bisa mengenal karakter Charlie. Sayang dia unreal hehe..

    Anw kalo ada lagi buku2 jenis serupa mohon diinfo ya..

    Thanks🙂

    • miamembaca says:

      Hai mas Chris, salam kenal, makasih sudah mampir-mampir🙂 Memang buku ini keren banget, sederhana tapi Charlie ini polooos banget pengen pukpuk pundak jadinya hehe.
      Sip akan diinfokan, ijin follow di twitter yak :p

  4. Ayu Anisah says:

    baca reviewnya bikin penasaran sama buku asliinyaaaaaaaaa..
    mbak kalau boleh tahu novel ini sudah diterjemahkan & ditranslate ke Indonesia belum?
    soalnya aku dapet eboonya tp bahasa inggris semua

  5. Monica Prilly says:

    mau tanya beli novel ini kira-kira dimana ya? saya sudah cari cari di setiap toko buku online tapi tetep ngga nemu juga😦 penasaran banget sama buku ini

    • miamembaca says:

      Halo-halo, maaf baru balas komen di sini, buku ini bisa dibeli di Periplus atau Kinokuniya, sekarang terbit versi cover filmnya. Sekitar 100ribuan, Gramedia ga sedia sepertinya. Mudah-mudahan bisa membantu😉

  6. juu says:

    salah satu bagian yang saya suka adalah saat sam bilang: why do i and everyone i love pick people who treat us like were nothing, trus charlie jawab: we accept the love we think we deserve.

  7. Nugros C says:

    wah..jadi sekarang kira-kira udah ada versi Indonesia-nya belum ya?
    pengen baca jadinya…ga biasa baca e-book ^^

    Filmnya begitu menyenangkan, gtw knapa, ga ada sesuatu yg wow tapi setelah nonton tetap melekat di pikiran

  8. wordplaymaker says:

    gawd, saya ada di posisi dimana aku merasa benar-benar ketinggalan jaman. Seriously. Jangan melihat buku dari sampulnya, well, 80% orang di dunia melakukannya. Aku adalah bagian dari 80%-nya dan mbak Mia adalah salah satu dari 20% itu. Pertama kali lihat buku ini di periplus: sama sekali tidak tertarik. Kedua kali dan ketiga kalinya: mending liat buku lain deh. Begitu liat review mbak mia: geez, apa yang aku lakukan? ternyata di balik cover yang bukan aku banget ada cerita yang keren -.- *masukin judul kedalah read-list* Thanks a bunch for the good review :3

  9. Sarah Fauzia Agustina says:

    Baru banget nonton film nya barusan,dan ceritanya emang bener-bener keren..Charlie’s story is touching me :’)
    Jadi penasaran juga sama buku nya.hehehe (terbalik bgt ya?hrsnya baca novel dulu baru film nya..)

  10. Ika says:

    filmnya keren, udah nonton nih, jadi nyari2 ttg reviewnya, dan berusaha nyari bukunya… tengkyu kak Mia dah kasih info…

  11. Hendri Fahrezi says:

    Beberapa hari yg lalu saya baru aja nonton film ini. Perasaan saya setelah itu: ga tau mau ngapain. Speechless. Kehidupan Charlie dekat sekali dgn kita. Jadi ngerasa kalo di dunia ini kita ga sendiri. Kalo aja Charlie ada di dunia nyata, dgn senang hati saya menjadi teman baiknya. Sungguh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s