When God Was a Rabbit

When God Was a Rabbit memiliki magnet tersendiri buat saya, dari judulnya yang ‘nakal’, cover hangat ditambah dengan latar pasangan siluet laki-laki dan perempuan. Awalnya saya pikir WGWaR adalah buku drama yang manis. Salah besar ternyata :p

versi Bentang

versi Bentang

When God Was a Rabbit adalah buku drama komedi satir yang kompleks. Pahit sekaligus juga manis. Terbagi menjadi 2 bagian, yang pertama memoar Elly saat ia kecil dan bagian kedua ketika Elly menginjak usia yang ke 27. Tulisan Sarah Winman langsung terasa ‘megang’ sejak awal kisah.

 “Apakah Tuhan mengasihi semua orang”, tanya Elly kepada mamanya.

“Tentu saja”

“Apakah Elly mengasihi pembunuh?”, rupanya Elly belum puas bertanya.

“Ya”

“Perampok?”

“Ya”

“Tinja?”

“Tinja bukan mahluk hidup, Sayang”, kata Mum serius.

“Tapi, kalau iya, akankah Tuhan mengasihinya?”

“Ya, kurasa begitu.” – halaman 9 –

😀

Saya jatuh cinta dengan karakter Elly, gadis kecil yang kritis, bolak balik saya dibuat tersenyum dengan pertanyaan ataupun kalimat yang ia ucapkan. Seperti yang ada di pikirannya : Aku sudah menetapkan bahwa bila Tuhan ini tidak mengasihiku, sudah jelas aku harus mencari Tuhan lain yang bisa (hal12).

Kesatiran When God Was a Rabbit tampak jelas di halaman 18, ketika Elly mulai menjalin persahabatan dengan Mr. Golan, tetangganya yang ‘katanya’ orang Yahudi. Ia ingin menjadi orang Yahudi, pertanyaannya ke Mum, “Katamu aku boleh jadi apa saja yang kumau kalau sudah besar.”

“Memang, tapi menjadi Yahudi itu tidak mudah lho.”

“Aku tahu. Aku butuh nomor.”

*hening*

Tapi kegembiraan saya tidak berlangsung lama, halaman 20an ada kejadian yang tak terduga yang mau tak mau membuat saya mengambil kesimpulan buku ini bukan buku biasa.

Ayah Elly adalah seorang Atheis. Joe, kakak lelakinya yang lima tahun lebih tua sedari kecil suka memakai lipstik mamanya di saat malam tiba. Tantenya juga memiliki disorientasi seksual. Walaupun WHen God Was a Rabbit termasuk dalam kategori ‘light read’ tapi isinya berat. Pelecehan seksual, kanker, penculikan, mutilasi adalah sebagian dari permasalahan yang ada di sekeliling Elly.

Membaca When God Was a Rabbit seakan-akan saya menonton film Indie, original dan bukan pakem buku drama pada umumnya. Kaget juga saya ketika tahu ini buku adalah buku pertama Sarah Winman. Kalau yang berminat membaca buku yang lain dari yang lain, When God Was a Rabbit patut dicoba, jangan terkecoh dengan judul dan covernya. Buku ini berkisah tentang keluarga, cinta, tragedi, kehilangan.

This is a book about a brother and a sister. It’s a book about secrets and starting over, friendship and family, triumph and tragedy, and everything in between. More than anything, it’s a book about love in all its forms.

Indeed.

Salut untuk Penerbit Bentang yang jeli menerbitkan buku ini ke bahasa Indonesia di saat yang tepat, sedang hangat-hangatnya nih di bookdepository.com selain buku karangan Georde R. R. Martin – serial Game of Thrones. Masalah terjemahan? Masih perlu diragukan kualitas mbak Rinurbad?🙂

4 bintang.

cover versi USA

cover versi USA

versi UK

versi UK

Saya cantumkan 2 versi luarnya, IMO setelah membaca sepertinya cover Amerika yang lebih ‘pas’ dengan isi bukunya.

Detail buku : When God Was a Rabbit – Sarah Winman, 398 halaman, cetakan I – Agustus 2011. Penerbit Bentang. Penerjemah : Rini Nurul Badariah.

11 thoughts on “When God Was a Rabbit

  1. dela says:

    seneng rasanya liat blogger buku yang pada rajin2.. *lirikmalukedirisendiri*
    Tapi beneran deh, review2 yang kayak gini yang bikin buku yang awalnya gk kelirik jadi pingin dibeli. Thank you ya!🙂

  2. annisaanggiana says:

    Yaaaaa… Sabtu kemaren ke togamas lupa cari buku ini ;p pengeeeeeeennn.. Nice review mia.. Aku jadi makin penasaran !!

  3. miamembaca says:

    Annisa : Ayooo Nisa dibeli, mari menambah tumpukan hihi, atau mau pinjem dari aku?

    Ana :Sekarang kan sudah kelar UTS Naa, ayo kebuuut hehehe

    Dela : Hai Delaa, terima kasih dah mampir ya, aku juga sering mampir ke blogmu, ayooh diapdet lagi🙂

    mb Rini : Waah ada mbak penerjemah mampir ke sini, terima kasih ya mbak🙂 ELi dan Joe memang bikin haru.

    Sinta : Ayo ayo ayo beli Sin, oiaa, aku masih ngubek2 Good Omennya sepertinya ada tapi nyelip entah di mana, will contact u soon:)

    mb Riana : Sama-sama mbak🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s