Why Men Want Sex and Women Need Love

*uhuk*

Heboh juga judul buku yang saya jadikan buku non fiksi untuk posting bareng #BBI bulan November. Sama seperti bicara soal cinta, berbicara hubungan pria dan wanita sepertinya memang tidak ada habisnya. Buku karangan sepasang suami istri Allan Pease dan Barbara Pease mengungkapkan akan apa sebenarnya yang diinginkan kaum pria dan wanita dalam suatu hubungan. Didasari dengan penelitian dan riset, mereka mencoba mencari jawaban dari apa itu cinta? Apakah benar pria lebih tertarik dengan seks dibanding wanita?

Sebagai pendahuluan kita akan diajak untuk mengenal ‘cinta’ lebih jauh. Bagaimana mekanisme kerja otak dan hormon apa saja yang bertanggung jawab ketika kita jatuh cinta. Perbedaan hormon yang cukup tinggi juga bisa menjadi pemicu keretakan suatu hubungan loh ternyata!

Bab Bagaimana Hollywood dan Media Massa Mewarnai Sudut Pandang Kita di halaman 66 lumayan menarik perhatian saya karena ada hubungannya dengan buku. *tetep ya*

Disebutkan bahwa film Hollywood adalah sejumlah citra buatan, asmara palsu, kemewahan artifisial, namun laki-laki dan perempuan seantero dunia diharapkan menyamai citra semacam itu di kehidupan nyata. Citra itulah yang dijejalkan kepada benak kita sehingga sekarang banyak perempuan melakukan tindakan drastis untuk menandingi sosok dewi sempurna di layar kaca, sementara para lelaki diharapkan untuk menjadi lebih menyenangkan, lebih menggairahkan dan romantis dibanding masa-masa sebelumnya dalam sejarah manusia.

Setiap hari perempuan terpapar citra ‘laki-laki macho’ yang bertubuh sempurna, mengenakan pakaian mahal, dada berbulu dan janggut tercukur rapi. *kategori dada berbulu boleh dihapus kok kalau saya jadi editornya* 😀 Sejumlah citra itu sesungguhnya membuat perempuan merasa bahwa dialah satu-satunya yang tidak menikah dengan laki-laki tampan, akibatnya berbagai penelitian mengungkapkan bahwa perempuan yang menghabiskan waktu dengan membaca novel romantis yang didasarkan atas fantasi, tidak pernah merasa bahagia dengan kehidupan mereka, meskipun sejumlah penelitian pun mendapati mereka biasanya mengalami orgasme lebih banyak bila dibandingkan dengan mereka yang tidak pernah membacanya.

Saya setuju sekaligus tidak setuju dengan pernyataan di atas, mungkin saja membaca novel romantis sekedar melepaskan diri dari rutinitas pekerjaan berat dan hanya ingin bersantai, terlebih lagi novel romance biasanya endingnya gampang ditebak happily ever after. Jadi kalau dibilang tidak pernah bahagia rasanya terlalu ekstrim. Siapa tahu ada yang ingin meneliti lebih lanjut fenomena ini di kalangan pembaca di Indonesia? :p

Balik ke pencitraan di atas, akibat yang terjadi sekarang adalah tantangan hidup pria menjadi lebih berat, menjadi ksatria di tempat kerja, pencinta ulung, memiliki perut six pack, ayah yang sempurna dan sensitif ketika menonton film komedi romantis. – hal 72. Wah wah wah, boleh juga nih kalau dapat satu paket pria seperti ini, tapi masih banyak hal mendasar yang lebih penting ketimbang perut six pack bukan? 🙂

Bab lain yang juga menarik adalah bab Cara Menemukan Pasangan yang Tepat – Kuis Nilai Pasangan. Boleh juga dicoba kepada anda dan pasangan anda. Intinya, kita akan cenderung untuk tertarik kepada lawan jenis yang memiliki kelebihan yang tidak kita miliki namun pada akhirnya setelah hormon stabil dan otak sudah mampu berpikir jernih, pilihan yang menentukan pasangan kita adalah orang yang setara dengan kita, karena kesetaraan itulah yang menyatukan.

Secara keseluruhan buku Why Men Want Sex and Women Need Love menarik untuk kita baca, membantu kita untuk menyelami pikiran lawan jenis. Di sela-sela artikel tak jarang juga penulis menyelipkan quote menarik ataupun lelucon  agar kita tidak bosan. Seperti yang tertera di halaman 335 :

Empat lelaki pergi memancing. Setelah satu jam duduk di tepi sungai, salah satu dari mereka berkata, “Kalian tidak akan percaya apa yang harus kulakukan supaya dapat izin pergi memancing akhir pekan ini. Aku harus berjanji kepada istriku untuk menata ulang setiap ruangan di rumah!”

Lelaki kedua berkata, “Ah, itu sih tidak ada apa-apanya! Aku harus berjanji kepada istriku untuk menanam rumput di seluruh halaman belakang dan membuatkan ayunan untuk anak-anak.”

Lelaki nomor tiga tersenyum, “Kalian semua tidak sadar kalau sebenarnya kalian itu beruntung. Aku harus berjanji kepada pacarku untuk merenovasi ruangan dapur dan membuatkan pergola di halaman.”

Mereka bertiga kemudia lanjut memancing. Kemudia mereka menyadari lelaki keempat belum berbicara. “Jerry!”, panggil lelaki pertama. “Apa yang harus kamu lakukan agar dapat pergi memancing?”

Jerry menggerakkan bahunya dengan santai, “Aku hanya perlu mengatur jam weker agar berbunyi pukul 05.30. Ketika jam berbunyi aku mematikannya, memeluk istriku dan bertanya, “Memancing atau seks?” Dia membalikkan badannya lalu berkata, “Jangan lupa bawa jaket.”

😀

Sepertinya bolak balik baca buku pengembangan diri seperti ini kalau kita tidak  ‘peka’ terhadap pasangan sama saja, yang penting bagaimana memupuk cinta setiap hari, bersyukur dan memandang hidup dengan persepsi yang lebih positif. #sokbijak #padahalbelumnikah #kokjadicurcol.

Udah ah, have a great day people dan jangan lupa sampaikan kepada keluarga betapa kita mencintai mereka. Kan tambah ga nyambung 😀 Sepertinya review ini harus disudahi saja ga bakat nulis serius, harap maklum ya jarang-jarang mereview buku non fiksi :p

Sekilas tentang pengarang :

Allan dan Barbara Peace adalah penulis dan motivator terkenal di Australia. Mereka telah menulis 15 buku best seller yang mengkhususkan diri di bidang hubungan antar manusia. Beberapa judulnya memang dibuat cukup menarik, di antaranya : Why Men Don’t Listen and Women Can’t read Maps, Why Men Don’t have a Clue and Women Always Need More Shoes, Why He’s So Last Minute and She Got It All Wrapped Up.

Allan - Barbara

Allan - Barbara

Detail buku :

Judul : Why Men Want Sex and Women Need Love

Pengarang : Allan Pease dan Barbara Pease

Gramedia, Jakarta -2010, 427 halaman.

 

 

 

Cocktails for Three – Madeleine Wickham

Tiga wanita cerdas dan sukses, bekerja di dunia majalah yang sibuk. Mereka bertemu untuk berbagi koktail dan gosip sebulan sekali.

Roxanne: glamor, percaya diri, memiliki kekasih gelap—dan berharap pria itu akan meninggalkan sang istri dan menikah dengannya.

Maggie: ambisius dan mumpuni dalam pekerjaan, hingga ia menemukan satu hal yang tak dapat diatasinya: menjadi ibu.

Candice: polos, baik hati, jujur—hingga suatu ketika hantu masa lalunya muncul dan mengacau-balaukan hidupnya.

Pertemuan tak disangka-sangka di bar koktail menggulirkan serangkaian peristiwa yang kemudian mengguncang kehidupan mereka dan mengancam akan menghancurkan persahabatan mereka yang unik.

Klub Koktail

Klub Koktail

Covernya cantik yaa 🙂

Klub Koktail adalah buku karangan alter ego dari Sophie Kinsella pertama yang saya baca. Walau Sophie Kinsella dan Madeleine Wickham adalah orang yang sama tapi gaya penceritaannya sangat berbeda. Sama-sama bergenre chicklit tapi Cocktails for Three terasa lebih gelap dan satir.

Cocktails for three berkisah tentang kehidupan 3 wanita yang sudah tidak muda lagi dengan masalahnya sendiri-sendiri walau benang merahnya sama. Rahasia.  Maggie yang bergulat dengan kekhawatirannya sebagai ibu, Roxanne yang disibukkan oleh hubungan gelap dengan suami orang dan Candice, tokoh yang paling ingin saya pentung kepalanya polos namun hampir kehilangan pekerjaan akibat teman SMAnya muncul dan mulai merongrong kehidupannya.

Secara sekilas memang tema persahabatan selalu menarik untuk diselami, sayangnya gaya penulisan Madeleine kurang greget dan berjiwa. Saya tidak merasakan kedekatan 3 wanita kosmopolitan sepanjang membaca Cocktail for Three. Karakternya mentah dan seakan berdiri sendiri.  Tidak tercermin hubungan pertemanan wanita yang hangat dan semarak. Untungnya konflik yang muncul lumayan ‘semarak’ dan membuat saya penasaran bagaimanakah kisah ini akan berakhir. Temanyapun cukup berat : isu motherhood, hubungan gelap dan kekacauan masa lalu yang muncul kembali.

Saya terkecoh dengan nama Sophie Kinsella yang kerap kali memunculkan tokoh wanita sedikit ‘bodor’ namun menarik. Kali ini tokohnya sih memang ada yang rada kacau tapi kurang menghibur namun untuk bacaan di kala senggang boleh juga buku Cocktails for Three ini dijadikan pilihan. Seusai membaca saya jadi kangen jaman kuliah dulu di mana bisa cerita ngalor ngidul dengan sahabat sambil menyesap kopi. Kebiasaan yang sudah langka karena kesibukan pekerjaan dan teman-teman yang sudah berpencar mulai dari di Bogor sampai Papua.

Oia, satu yang mengganggu entah apa yang ada di pikiran pengarang saat menuliskan kalimat pembukaan di saat Candice hendak bercinta dengan pasangannya. Saat Ed merengkuhnya dengan penuh tekad, berdiri dan membawanya ke dalam rumah, menaiki anak tangga, tungkai Candice segemetar anak sapi yang baru lahir. Heu… Kok ga ada romantis-romantisnya ya? Malah kebayang anak sapi 😀

Terima kasih mbak Ferina untuk pinjamannya 🙂

Detail buku : Coctail for Three / Klub Koktail

Pengarang : Madeleine Wickham

Gramedia, Cetakan I Juni 2011, 440 halaman.

Nineteen Minutes – Jodi Picoult

In nineteen minutes, you can mow the front lawn, color your hair, watch a third of a kockey game. In nineteen minutes, you can bake scones or get a tooth filled by a dentist, you can fold laundry for a family of five.

In nineteen minutes, you can order a pizza and get it delivered. You can read a story to a child or have your oil changed. You can walk a mile. You can sew a hem.

In nineteen minutes, you can stop the world, or you can just jump off it.

In nineteen minutes, you can get revenge.

-Nineteen minutes – page 1-

Nineteen Minutes

Nineteen Minutes

19 menit waktu yang dibutuhkan Peter Houghton menembak teman-temannya di Sterling High School. 10 meninggal, 9 murid dan 1 guru. 19 lainnya luka-luka. Kenapa? Seorang psikopatkah? Apa yang menyebabkan remaja laki-laki berusia 17 tahun berani melakukan hal itu? Jodi Picoult mengulas latar belakang seorang Peter, anak korban bullying temannya semenjak hari pertamanya masuk TK.

19 minutes ditulis dengan alur maju mundur, bagaikan mengupas bawang, selapis demi selapis kita menyelami Peter Houghton dan beberapa tokoh lain di antaranya Josie Cormier, teman Peter sejak kecil yang sekarang sudah menjadi gadis populer di ssekolah; Alex Cormier, seorang juri pengadilan dan ibu dari Josie; serta Lacy Houghton teman Alex sekaligus ibu dari Peter; Patrick Ducharme seorang detektif lokal dan Jordan McAfee, pengacara muda ambisius yang membela Peter di pengadilan.

Cerita dimulai per tanggal 6 Maret 2007 saat penembakan terjadi. Salah satu korban adalah Matt, pacar Josie yang juga adalah satu-satunya korban yang tertembak 2 kali, badan dan kepala.

Nobody wants to admit to this, but bad things will keep on happening. Maybe that’s because it’s all a chain and a long time ago someone did the first bad thing, and that led someone else to do another bad thing, and soon. You know, like that game where you whisper a sentence into someone’s ear, and that person whispers it to someone else,and it all comes out wrong in the end.

But then again, maybe bad things happen because it’s the only way we can keep remembering what good is supposed to look like. – 61-

Hinaan terhadap Peter terus berlanjut, suatu ketika saat Peter mulai tidak bisa membedakan angka 3 dan 8 dan akhirnya ia harus memakai kacamata. Kacamata ringan yang membuat matanya terlihat besar seperti burung hantu namun ia juga dibuat terpana. Tulisan yang dulunya kabur kini terlihat jelas, mirip dengan pelengkap superhero! Sabuk Batman, Gua Superman dan kalau Peter adalah kacamata, ia begitu bersemangat ingin segera masuk sekolah.

Dan yang didapat keesokan harinya yang saya ambil dari halaman 110, As the world came into focus, Peter realized how people looked when they glanced at him. As if he were the punch line to a joke. And Peter, with his 20/20 vision, cast his eyes downward, so that he wouldn’t see.

😦

Bagaimana hati saya tidak hancur saat membaca paragraf itu. Huks.

When you don’t fit in, you become superhuman. You can feel everyone else’s eyes on you, stuck like Velcro. You can hear a whisper about youfrom a mile away. You can dissapear, even when it looks like you’re still standing right there. You can scream, and nobody hears a sound.

You become the mutant who fell into the vat of acid, the joker who can’t remove his mask, the bionic man who’s missing his limbs and none of his heart.

You are the thing that used to be normal, but that was so long ago, you can’t even remember what it was like.

Josie adalah satu-satunya teman Peter, bahkan ia pernah berkelahi dengan teman lelakinya gara-gara anak itu menghina Peter. Sayangnya begitu masuk SMA, Josie berubah. Josie mulai bergabung dengan kalangan abg ala kumpulan remaja putri di serial Gossip Girls dan berpacaran dengan Matt Royston, seorang pemain hockey populer yang kebetulan juga salah satu dari teman yang sering membully Peter. Matt bahkan sering menyebut Peter sebagai homo atau queer.

Tidak seperti membaca buku drama lainnya, beberapa hari selama saya membaca nineteen minutes perasaan saya nyesek. Sedih, kalut dan yang jelas buku ini menghantui saya sampai sekarang. Saya tidak bisa membayangkan kalau saya ada di posisi Peter, bahkan sampai di suatu kejadian (tidak akan saya sebutkan karena bisa jadi itu sebuah spoiler yang akan mengganggu kenikmatan membaca) yang mempermalukan Peter, saya menjadi maklum kenapa ia sampai mengambil keputusan membawa pistol ke sekolah untuk membunuh teman-temannya.

Nineteen Minutes tidak hanya terfokus pada penembakan di sekolah dan juga bullying, tapi seberapa dalam kita mengenal seseorang?

If you spent you life concentrating on what everyone else thought of you, would you forget who you really were? What if the face you showed the world turned out to be a mask…with nothing beneath it?

Buku yang kaya dengan nilai psikologis, cerita yang kompleks. Bagi pembaca yang belum pernah menikmati karangan Jodi Picoult, sungguh, buku ini amat sayang dilewatkan. Cover versi Atria cukup mewakilkan isi buku, menggambarkan sepasang tangan yang bergenggaman. Ada lagi versi Australia yang lebih ‘Peter’, tapi Peternya manis banget di sini 😀

Nineteen minutes Australian ed.

Nineteen minutes Australian ed.

Nineteen minutes adalah buku Jodi Picoult pertama saya dan mulai sekarang bakal mengoleksi buku-buku lainnya :p

Beberapa penghargaan Nineteen Minutes : Pemenang 2010 Iowa HS book award, 2009 New Hampshire Flume Award dan finlis dari 2010 Abraham Lincoln Illinois HS Book Award.

“(Nineteen Minutes is) absorbing and expertly made. On one level, it’s a thriller, complete with dismaying carnage, urgent discoveries and 11th-hour revelations, but it also asks serious moral questions about the relationship between the weak and the strong, questions that provide what school people call ‘teachable moments.’ If compassion can be taught, Picoult may be just the one to teach it. ”

—Washington Post

Detail buku :

Judul : Nineteen Minutes

Atria Books, November 2007. 642 halaman.

5 bintang!

Beberapa bulan belakangan ini sudah beberapa buku saya baca bertema sama, bullying. Berdasarkan http://www.stopbullying.govBullying is a widespread and serious problem that can happen anywhere.  It is not a phase children have to go through, it is not “just messing around”, and it is not something to grow out of.  Bullying can cause serious and lasting harm. 

Lebih jelas lagi, dari yayasan SEJIWA adalah  lembaga non profit yang memusatkan perhatian pada usaha pengaktualisasian diri melalui nilai-nilai, seperti integritas, empati, respek, toleran, dan tanggung jawab: ”Bullying terjadi ketika seseorang merasa teraniaya oleh tindakan orang lain berupa verbal, fisik dan mental dan ia takut bila perilaku buruk tersebut akan terjadi lagi serta merasa tak berdaya mencegahnya”.

Bullying is an act using power or strenght to hurt  a person or a group of people verbally, physically or psychologically, making the victim feel oppressed, traumatized and powerless (Yayasan Sejiwa, 2005)

Suatu tindakan dengan menggunakan kekuatan atau kekuasaan untuk menyakiti seseorang atau sekelompok orang baik secara verbal, fisik maupun psikologis, sehingga membuat korban merasa tertekan, takut dan tak berdaya (Yayasan Sejiwa, 2005).

Bullying bisa verbal, sosial, fisik dan yang kini sering terjadi cyber bullying. Bullying memiliki efek serius dan berkepanjangan. Untuk anak yang biasa dibully biasanya memiliki resiko depresi dan ansietas yang tingi, murung, gampang sedih dan penyendiri. Kehilangan minat dalam beraktivitas bahkan bisa memiliki keinginan untuk bunuh diri. Sedangkan bagi pembully itu sendiri memiliki resiko lebih tinggi dalam berkelahi dan drop out dari sekolah.

Jangan sangka bullying hanya terjadi di luar, di Indonesiapun kasus bullying juga cukup banyak, bahkan korban bullying sampai melakukan bunuh diri. Jakarta Globe menyebutkan di artikelnya per tanggal 25 Juni 2011 beberapa korban. Riska, umur 14 tahun mencoba melalukan usaha bunuh diri dengan menutup kepalanya dengan bantal karena tidak tahan diejek gendut. Cerita Linda lain lagi, ia ditemukan tergantung di rumahnya karena tidak tahan diejek oleh teman-temannya karena ayahnya adalah seorang sales. Berita lengkap bisa dibaca di sini.

Bullying memang tidak bisa kita pungkiri akan selalu ada di lingkungan mana saja, terutama sekolah. Oleh karena itu sudah seharusnya kita mengenal bullying lebih jauh dan mencegah terjadinya bullying. Mari kita bersama-sama mencegah bullying, pihak guru dan sekolah juga hendaknya tidak mengabaikan keberadaan bullying.

Pas banget saat ini sedang diputar di beberapa kota film Langit Biru yang memaparkan problema nyata kehidupan anak SMP. Pencarian jati diri, tali komunikasi bersama orangtua yang tak lagi mudah, hingga kerasnya pergaulan di sekolah yang kerap diwarnai unsur bully atau kekerasan secara fisik atau mental. Nonton yuk!

kawan bukan lawan

kawan bukan lawan

Langit Biru poster

Langit Biru poster

“Film ini menampilkan semua nilai kehidupan, apa yang berharga bagi anak-anak, tentunya keluarga dan persahabatan kan. Dan karena ini musikal, film ini akan bisa ditonton oleh segala usia. Anak-anak akan lebih  bisa menikmati musik dan tarian,” terang Hanna Carol selaku executive producer Langit Biru, saat ditemui dalam Kick Off film Langit Biru, Jumat (15/7) sore di Gedung Anex, Jl.MH Thamrin, Jakarta Pusat.

Where She Went

Sinopsis dari Goodreads : 

Lanjutan Jika Aku Tetap Di Sini (If I Stay Here) 

Tiga tahun sudah berlalu sejak cinta Adam menyelamatkan Mia setelah kecelakaan yang memorakporandakan hidup gadis itu… 

…dan tiga tahun sejak Mia pergi dari kehidupan Adam untuk selamanya. 

Sekarang Mia bintang muda sekolah musik klasik Juilliard dan Adam bintang rock terkenal. Ketika Adam terjebak di New York sendirian, takdir mempertemukan mereka lagi, untuk satu malam terakhir. 

Sambil menjelajahi kota yang sekarang menjadi rumah Mia, Adam dan Mia kembali mengunjungi masa lalu dan membuka hati untuk masa depan—serta satu sama lain.

You know how the time flies

Only yesterday was the time of our lives

We were born and raised in a summer haze

Bound by the surprise of our glory days

Lirik Adelle – Someone Like You pas dengan kisah Adam 3 tahun setelah kecelakaan yang menimpa Mia.

Adam diputuskan Mia tanpa alasan yang jelas. Marah. Sedih. Terpuruk. Ia melampiaskan uneg-unegnya dalam lagu-lagu yang dalam sekejap menjadi hits. Adam dengan grup bandnya Shooting Star sontak digandrungi remaja dan lagunya bertengger di tangga lagu dunia, Billboard.

Diceritakan dalam sudut pandang Adam membuat buku ini lebih bernyawa dibanding If I Stay. Di sini kita bisa melihat bahkan merasakan perasaan terdalam seorang laki-laki yang hancur hatinya. Tegar namun dalamnya terpuruk. Coba kita lihat di bab 1 halaman 9, “Setiap hari aku bangun dan berkata pada diri sendiri : Hanya satu hari, satu periode dua puluh empat jam untuk kaulewati.”  Duh, pengen pukpuk Adam..

Bagaimana dengan Mia? Apa yang terjadi dengannya setelah kecelakaan?

Di halaman 36 kita segera mengetahuinya, saat Adam berjalan-jalan tak sengaja ia bersirobok dengan pengumuman di depan Carnegie Hall : Serial Konser Muda Mempersembahkan Mia Hall. Adampun masuk dan menikmati permainan cello seorang Mia Hall, perempuan pemilik hatinya.

Jreng jreng, di sinilah cerita mulai bergulir dan senantiasa membuat saya penasaran. Bagaimana pertemuan Adam dan Mia selanjutnya? Apa sih alasan Mia memutuskan Adam? Dan yang paling penting sepanjang buku setebal 240 halaman saya bertanya-tanya bagaimana ending Adam- Mia?

Jika If I Stay diibaratkan makanan pembuka, kalian harus membaca Where She Went untuk menikmati main course. Pembaca akan dibuai dengan penulisan Gayle Forman yang melankolis romantis. If I Stay yang heboh banget di luar malahan biasa saja kalau menurut saya, sebetulnya agak waswas juga sih baca Where She Went. Apakah penulis bisa menuliskan perasaan patah hati laki-laki? Ga kebayang juga kan kalau buku ini penuh dengan menye-menye? Dan ternyata Where She Went berhasil membuat saya berkaca-kaca dan meninggalkan sesak di dada saat akhir buku.

A must read book! Ah ya dan satu lagi, seandainya album Shooting Star dijadikan album beneran sudah pasti saya beli nih CDnya, liriknya doong juara 🙂 Di bawah ini saya cantumkan satu dari beberapa lirik Collateral Damage :

The clothes are packed off Goodwill

I said my good-byes up on that hill

The house is empty, the furniture sold

Soon you smells with decay to the mold

Don’t know why I bother calling, ain’t nobody answering

Don’t know why I bother singing, ain’t nobody listening

Disconnect – Collateral Damage, Lagu 10

(hal 85)

Terakhir mari kita membahas cover, menurut saya Where She Went versi Gramedia jauh lebih bagus dari versi luar, ilustrasi Marcel A. W berasa Adam banget! Maskulin sekaligus rapuh. Pas pula jika disandingkan dengan If I stay yang bernuansa biru. Ada beberapa typo dan pemenggalan kata yang kurang pas seperti yang tampak di halaman 31, kata mereka ditulis mere-ka tapi tenang saja tidak akan mengganggu kenikmatan membaca.

Setelah Dia Pergi - Gramedia

Setelah Dia Pergi - Gramedia

Where She Went versi luar

Where She Went versi luar

Mudah-mudahan buku remaja macam If I Stay, Where She Went makin banyak diterbitkan penerbit Indonesia. Gramedia terbitkan buku Laurie Halse Anderson yang lain dong atau Before I Fall juga keren 🙂 *kedip-kedip*

Berikut booktrailer yang saya comot dari whereshewent.com

Sekilas tentang penulis yang sebelumnya sempat saya sangka laki-laki ini  adalah penulis berkebangsaan Amerika yang sebelum menulis If I Stay dan Where She Went merupakan jurnalis lepas di majalah Seventeen, Glamour, dll. Dua novelnya yang kental dengan musik tak lepas dari peranan suaminya yang seorang gitaris. Ha! pantas saja 🙂

Detail buku :

Judul Asli: Where She Went

Pengarang: Gayle Forman

Alih bahasa: Poppy D. Chusfani

Editor: Dini Pandia

Cetakan I – Oktober 2011

240 halaman.

Madre

Sebagai seorang fans dari Dewi Lestari saya juga ikut menantikan dan menikmati hebohnya rilis buku Madre via twitter. Rata-rata reviewnya positif dan semakin membuat saya ingin cepat-cepat membaca Madre. Boleh juga nih dicari tahu seberapa besar pengaruh sosial media terhadap penjualan suatu buku.

Madre

Madre

Madre adalah satu dari 13 fiksi dan prosa yang ada terangkum dalam buku setebal 160 halaman. Mulai dari prosa berbahasa Inggris, jalinan cinta ibu dan janin, kisah cinta yang ‘hangat’ dan gong dari buku ini sampai dijadikan judul, Madre.

Entah karena pemberitaan yang berlebihan, akhirnya malah Madre yang saya baca adalah hasil pinjam dari mbak Ferina. 😀

Membaca Pesona Dee, kalimat pengantar dari Sitok Srengenge dan pengantar dari Dewi Lestari di bab Menjelajahi Hasil Fusi membawa kenangan lama betapa dulu saya menyukai sastra Indonesia. Mendadak saya kangen dengan semua hasil karya filosofis Dee.

Saya suka Rimba Amniotik, bagian yang ditulis saat Dewi Lestari mengandung Atisha, berasa banget sayangnya dengan sang bayi. Huu, pengen cepet-cepet punya bayi #eh 😀

Terima kasih untuk perjalanan ini. Untuk pilihanmu datang melalui aku.Untuk proses yang tak selalu mudah tapi selalu indah. – 75

Tulisan lain yang juga saya suka : 33. Indah dan dalam, sweet 🙂

Semangkok Acar untuk Cinta cukup menohok!

Menunggu Layang-layang kalau saya lihat-lihat juga menjadi favorit banyak pembaca selain Madre, bagus sih tapi kalau dibanding karya Dee yang lain kisah ini masih termasuk kategori biasa saja, imo loh :p

Dan terakhir, Madre. Memang bagus sih tapi kurang ‘greng’ seandainya saja Madre dibuat menjadi satu buku yang utuh, bukan sekedar 70 halaman atau hampir setengah dari buku kumpulan cerita ini.

Walau begitu secara keseluruhan Madre mengobati kekangenan saya dengan Dewi Lestari , itung-itung juga pemanasan menunggu buku selanjutnya, Partikel. Satu lagi saya merasakan perubahan seorang Dewi Lestari dari perjalanan bukunya bukan lagi berkutat dengan cinta, ia merambah filsafat, makna Tuhan dan hidup. Tak pelak lagi, Dewi Lestari telah menjadikan dirinya satu penulis wanita Indonesia yang patut diperhitungkan.

Detail buku : Madre – Dewi Lestari, Bentang, cetakan I – Juni 2011. 160 halaman.

The Jungle Book

Ahay, senang banget saat saya mengetahui Atria bakal menerbitkan buku anak klasik The Jungle Book yang sebelumnya hanya saya kenal lewat adaptasi  film Disney berjudul sama di tahun 1994. Cover Atriapun hampir mirip dengan poster filmnya, warna yang cerah membuat The Jungle Book layak dikoleksi oleh para pencinta buku klasik.

The Jungle Book

The Jungle Book

Sinopsis : Bukit Batuan gempar! Mama dan Papa Serigala mengajukan seorang anak manusia untuk diasuh oleh mereka. Meskipun dengan berbagai pertentangan, Akela sang Pemimpin Serigala mengizinkannya, dengan jaminan sebuah lembu dari Bagheera, sang Macan Kumbang Hitam, dan pembelaan si Beruang Hitam Baloo, guru dari semua anak-anak serigala. 

Namun Shere Khan, si Harimau Pincang tidak setuju karena anak manusia itu adalah buruannya. Itulah sebabnya, Mowgli, nama anak manusia itu, harus terus belajar agar ia berhasil bertahan hidup dan mengalahkan Shere Khan. 

Tetapi, saat sebagian besar kawanan serigala mengusirnya, dapatkah Mowgli bertahan sendirian?

Saya baru sadar The Jungle Book adalah kumpulan kisah hewan hasil karangan Rudyard Kipling. Awalnya saya pikir buku ini adalah kisah petualangan Mowgli bersama Baloo si beruang dan Bagheera si panther saja. Ada 11 kisah yang bisa berdiri sendiri, beberapa kisah Mowgli dan ada juga yang berupa puisi.

Inti ceritanyasih  sederhana, Rudyard Kipling banyak memasukkan pesan moral melalui binatang hutan yang kesemuanya bisa berbicara. Monyet digambarkan binatang yang nakal dan kerjanya hanya bermain-main saja. Sebelum saya mulai membaca The Jungle Book, saya sempat melihat beberapa review di Goodreads yang menyebutkan buku ini berbeda dengan film animasi Disney. Benar juga, ternyata karakter si ular piton Kaa di buku itu baik, padahal seingat saya dari kecil tokoh ular Kaa adalah tokoh antagonis 😀

Jungle Book - movie poster

Jungle Book - movie poster

Salut untuk penerjemah yang berhasil mengalihbahasakan bahasa puitis Rudyard Kipling! Terus terang, The Jungle Book bukan buku anak favorit saya namun begitu buku klasik tak lekang jaman ini sayang untuk dilewatkan. 🙂

Sekilas tentang penulis yang sebelumnya hanya saya ketahui berkat puisi “if”nya yang sangat indah ini adalah penyair dan penulis novel Inggris yang menghabiskan masa kecilnya di India. Pantas saja buku The Jungle Book dan Kim sangat kental dengan aroma eksotisme India. Bahkan penulis terkenal Inggris, Henry James menyebutkan Kipling sebagai manusia jenius.

Detail buku : The Jungle Book – Rudyard Kipling, Penerbit Atria, cetakan I – September 2011, 239 halaman. Penerjemah : Anggun Prameswari.