[Review] Merphilia Dunsa

Mari masuk ke dunia fantasi ciptaan Vinca Callista, Prutopian. Dunia di mana sihir itu nyata dan di sana tersebutlah seorang gadis rupawan bernama Merphilia Dunsa yang tinggal di hutan terpencil Tirai Banir bersama bibinya Bruzila Bertin. Semenjak kecil Merphilia sudah fasih menggunakan pedang dan berbagai senjata tajam lainnya. Ternyata memang ada maksud tersendiri kenapa Bruzila mengajarkan keahlian pada Merphilia, tak lain karena asal usul Merphilia yang misterius.

Merphilia adalah anak dari ratu Veruna, sang Ratu Merah, pemberontak yang menghancurkan Naraniscala karena ia merasa dikhianati oleh Raja Claresta Ardelazam. Ratu yang memiliki nama asli Veruna adalah Mergogo Dunsa, adalah gadis yang sangat cantik, buktinya pangeran Claresta pun terpikat, sayang keluarganya tidak menyetujui hubungannya karea Mergogo adalah seorang gadis dari khalayak biasa.

Ada harga yang harus dibayar mahal, pemberontakan Ratu Veruna dibayar dengan nyawanya sendiri. Semenjak itu di masyarakat Naraniscala diharamkan menggunakan warna merah. Memang untuk beberapa saat negara itu aman tentram sampai suatu ketika ada yang menghidupkan kembali Veruna dalamtubuh gadis lain, dan mau tak mau Merphilia sebagai keturunan asli yang mampu membasmi Veruna.

Dan dimulailah petualangan seorang gadis desa yang hijrah ke keluarga kerajaan. Kerajaannya sama dengan dunia kita ternyata, ada iri-irian, cemburu dan tentu ada kisah cinta. Nah ini yang menjadi kekuatan utama novel ini di kalangan anak muda tapi tidak untuk saya pribadi. Di sini dikisahkan Dunsa jatuh cinta dengan pangeran Skandar yang tak lain adalah kakak tirinya. Nah ini yang agak mengganggu, walau ada rahasia yang terungkap di akhir kisah namun  sikap Merphilia yang senantiasa menempel-nempel bawaannya pengen saya pentung deh.

Dunsa

Dunsa

Untuk ukuran novel fantasi, Dunsa bisa dibilang mampu memuaskan pembaca. Mantra sihir yang terasa eksotis ketika dibaca, silsilah keluarga istana yang lengkap dengan bagan serta peta dunia Prutopian. Terasa sekali novel ini dibuat sungguh-sungguh oleh pengarang. Hanya saja perlu beberapa polesan, karakter yang ada masih terasa mentah. Yang baik, baiik banget dan tokoh jahat itu ditekankan berkali-kali kalau ia jahat. Padahal dengan tindakan saja pembaca sudah bisa menyimpulkan bagaimana karakter si tokoh. Nama tokoh di buku Dunsa hampir semua memiliki arti, saya suka dengan pilihan Vinca, walau terkadang susah dilafalkan 😀

Beberapa kritik saya di bagian awal Reinkarnasi, banyak pengulangan kata ‘nya’dan kata ‘ini’. Kemudian di halaman 2 saat pengarang melukiskan benda misterius yang dibungkus oleh kain beledu hitam. Paragraf selanjutnya kembali diulang : Sejak tadi benda tersebut tidak mau diam, seolah-olah ingin melepaskan diri dari kain beledu hitam yang selama ini membungkusnya. Sepertinya lebih bagus jika tidak usah dipertegas lagi, kalau menurut saya.

Bicara soal mantra, mau tak mau saya membandingkan dengan Harry Potter, nuansa magisnya dapat tapi bedanya mudah diingat. Sama seperti Accio! Atau Lumos! Sejalan dengan waktu saat membaca akan tahu kalau mantra Lumos dirapal ketika penyihir sedang berada di tempat yang gelap. Dan ya elaah baru tahu kalau mantra ala Vinca ini mantra pembalikan kata-kata, jiahahah. Pantesan mantranya aneh :p

Dunsa

Pengarang: Vinca Callista

Editor: Jia Effendie

Atria, cetakan I, November 2011, 441 halaman

The Girl with the Dragon Tattoo

*sigh*

Selalu susah mereview buku bintang 5, apalagi untuk buku thriller macam begini takut menyebar spoiler yang jelas-jelas mengganggu kenikmatan membaca, jadi review kali ini saya buat garis besarnya saja ya 🙂

3 tokoh utama yang membuat saya terjaga sampai tengah malam selama 3 hari berturut-turut.

1. The Industrialist.

Henrik Vanger, mantan CEO Vanger Corporation, yang selama puluhan tahun hidupnya tidak tenang karena setiap hari ulang tahunnya mendapat kiriman bunga yang hanya dilakukan oleh ponakan tercinta, Harriet Vanger. Anehnya saat Harriet berusia 16 tahun ia menghilang tanpa jejak namun kiriman bunga tetap berlanjut sampai sekarang. Harriet masih hidup? Atau pembunuh Harriet ingin menyiksa Henrik kiriman bunga misterius itu?

2. The Jornalist.

Adalah Mikael Blomkvist yang ditugaskan Henrik untuk membantu menyelidiki ambisinya tentang penyusutan kembali tragedi hilangnya Harriet. Mikael sendiri mau tak mau menerima tugas ajaib ini karena ia sendiri baru saja dituduh menulis artikel palsu tentang Wennerstrom, seorang pengusaha korup. Demi menyelamatkan perusahaan penerbitan Millenium, Mikael rela tinggal di Hedestad, pemukiman keluarga ‘kerajaan’ Vanger yang dingin dan mulai menyusuri latar belakang dan gerak gerik Vanger bersaudara yang salah satunya diyakini Henrik bertanggung jawab akan hilangnya Harriet. Ternyata memang ada yang aneh dengan kasus Harriet, perlahan namun pasti misteri mulai terkuak dan di sanalah nasib membawa Mikael bertemu dengan Lisbeth Salander.

3. The Girl with the dragon tattoo.

Lisbeth Salander, gadis unik yang menjadi tokoh favorit saya, bayangkan saja perilakunya ajaib, asosial, pengidap Asperger, hacker handal, badannya penuh dengan tindik dan tattoo. Kepiawaiannya dengan data-data mengantar nasibnya berkenalan dengan Mikael dan duet mereka dalam mengupas tragedi Harriet menjadi poros kisah pertama dari serial Millenium.

Oia satu lagi setelah membaca review dari amazon dan goodreads pembaca Millenium series terbagi menjadi 2 kelompok, yang menganggap Stieg Larsson jenius dan ada yang menyebutkan buku ini feminist yang penuh dengan kritik sosial serta adegan yang kasar. Adaptasi filmnya sendiri tidak boleh beredar di Indonesia karena R-Rated  (brutal violent content including rape and torture, strong sexuality, graphic nudity, and language).

Tidak untuk pembaca yang tidak tahan dengan kekerasan, saya aja sampai kaget-kaget plus merinding, tapi ya itu dia, if it bleads, it leads! Semakin brutal semakin penasaran saya dengan endingnya, setiap ada satu titik terang pasti berlanjut ke perkara lain yang tambah seru. Pantas saja buku ini menjadi Amazon best book of the month September 2008 : Once you start The Girl with the Dragon Tattoo, there’s no turning back. Ho oh betul banget! Buku yang kaya akan plot, page turner dan akan membius pembaca sampai di akhir buku. And in the end, i want more of Lisbeth Salander!

PS : Buku aslinya yang berbahasa Swedia memiliki judul Män som hatar kvinnor atau Men who hate women. Saya dulu ga ‘nyandak’ kenapa judulnya seperti itu dan saat membacanya baru manggut-manggut setuju. Untung saja judulnya diganti, kalau masih Men who Hate Women sepertinya tidak saya lirik deh :p

Terima kasih kepada secret santa, Melisa *peluk-peluk* Berkat doi saya berhasil membaca buku yang sudah menjadi incaran saya sejak beberapa tahun yang lalu tapi bolak balik gagal terbeli. Memang diniatkan untuk baca tahun ini secara adaptasi Hollywoodnya pemainnya keren-keren. Daniel Craig sebagai Mikael dan Rooney Mara berperan sebagai Salander.

DC and RM

DC and RM

Cantik yaa? Coba bandingkan saat Rooney Mara memerankan Lisbeth beda banget.

Rooney Mara as Lisbeth Salander

Rooney Mara as Lisbeth Salander

PR saya banyak nih setelah membaca The Girl with Dragon Tattoo, bakal beli lanjutannya dan menonton filmnya baik versi Swedia maupun Hollywoodnya. Saya pribadi sih lebih suka penampilan Lisbeth yang versi Amerika lebih terlihat kikuk dan fragile walau kuat di saat yang bersamaan, kalau versi Swedianya kelihatan lebih gahar dan mirip dengan Pink malah :p

Rooney Mara vs Noomi Rapace

Rooney Mara vs Noomi Rapace

Penasaran dengan filmnya? Yuk nonton bareng-bareng 🙂

American version

Swedish version

Sekilas tentang Stieg Larsson yang bernasib tragis, ia meninggal beberapa saat setelah menyerahkan 3 draft Millenium bahkan lanjutannya pun tidak selesai, ah sayang sekali 😦 Ketiga buku Stieg Larsson The Girl with Dragon Tattoo, The Girl who Played with Fire dan The Girl Kicked the Hornets’ Nest menjadi best seller di mana-mana.

Another fave quote :

“I’ve had many enemies over the years. If there’s one thing I’ve learned, it’s never engage in a fight you’re sure to lose. On the other hand, never let anyone who has insulted you get away with it. Bide your time and strike back when you’re in a position of strength—even if you no longer need to strike back.”

Detail buku :

Judul : The Girl with the Dragon Tattoo

Pengarang : Stieg Larsson

538 halaman, MacLehose Press, Quercus. 2010.

 

A Thousand Splendid Suns, A Must Read Book!

Bintang 5 dan seperti biasa tak tahu juga apa yang salah dengan diri saya yang selalu saja kesusahan jika hendak mereview buku yang sukses mencampuradukkan emosi. Bisa jadi karena saya sadar kualitas review saja jadi mau tak mau buku dengan predikat bintang 5 memberikan beban tersendiri buat saya. Lah, jadi curhat. Yuk ah, saya coba menceritakan isi buku yang sukses membuat mata saya bengep dan bengkak, tissue yang habis berlembar-lembar dan tatapan bengong sang pacar saat melihat saya meneteskan air mata, kebetulan bab akhir yang fenomenal ini dibaca saat saya mengantar doi bagian fisioterapi. Hihi, jangan-jangan pasien lain malah berpikir pacar tertimpa bencana besar kali sampai saya nangis sesenggukan. Oia, bicara soal moment, Astrid malah lebih heboh membaca buku ini saat honeymoon! Haduh 😀

Gold Edition

Gold Edition

Sinopsis :

Hati pria sangat berbeda dengan rahim ibu, Mariam. 

Rahim tak akan berdarah ataupun melar karena harus menampungmu. 

Hanya akulah yang kaumiliki di dunia ini, dan kalau aku mati, kau tak akan punya siapa-siapa lagi. 

Tak akan ada siapa pun yang peduli padamu. Karena kau tidak berarti! 

Kalimat itu sering kali diucapkan ibunya setiap kali Mariam bersikeras ingin berjumpa dengan Jalil, ayah yang tak pernah secara sah mengakuinya sebagai anak. Dan kenekatan Mariam harus dibayarnya dengan sangat mahal. Sepulang menemui Jalil secara diam-diam, Mariam menemukan ibunya tewas gantung diri. Sontak kehidupan Mariam pun berubah. Sendiri kini dia menapaki hidup. Mengais-ngais cinta di tengah kepahitan sebagai anak haram. Pasrah akan pernikahan yang dipaksakan, menanggung perihnya luka yang disayatkan sang suami. Namun dalam kehampaan dan pudarnya asa, seribu mentari surga muncul di hadapannya. 

Buku yang mengisahkan 2 wanita beda generasi yang bersatu karena takdir ini dimulai dengan kisah Mariam. Seorang gadis kecil, anak haram yang hidup terpencil bersama ibunya yang menderita epilepsi. Nana, sang ibu adalah sosok yang penuh dengan kepahitan, digosipkan sering dirasuki oleh jin sehingga batal menikah. Nana menjadi pembantu di rumah Jalil, pria kaya yang memiliki 3 istri. Nasib mulai mempermainkan hidup Nana ketika perut Nana yang membuncit. Istri-istri Jalil mengusirnya. Ayah Nana sendiri tidak mau mengakuinya sebagai anak. Dan Jalil ternyata tidak cukup memiliki keberanian untuk mempertanggungjawabkan tindakannya, alih-alih Jalil mengucilkan Nana di Desa Gul Daman, bukit terjal yang jauh dari mana-mana.

Proses kelahiran Mariam adalah ringisan pertama saya saat membaca buku setebal 507 halaman ini. Duh, seram! Mariam tumbuh tanpa kasih sayang yang lengkap dari kedua orang tua, walaupun ia rutin dikunjungi oleh Jalil, tetap saja ia merindukan kehangatan keluarga. Hal itulah yang membuatnya nekat mengunjungi ayahnya di kota. Tindakan yang mengubah seluruh hidup Miriam, ayah menolaknya, ibunya bunuh diri, belum cukup pengarang mengagetkan kita, Mariam bahkan dipaksa menikah dengan duda tua teman Jalil.

Ah, Mariam, sungguh malang nasibmu.

Pernikahan Mariam dengan bapak tua yang digambarkan ala om-om tambun adalah peristiwa kedua yang kembali membuat saya meringis dan tangan saya mulai dingin saat adegan malam pertama Mariam. Untungnya kisah bergulir cepat dan Mariam hamil. Nah, bagian ini sedikit membuat saya bernafas lega. Dan itu tidak berlangsung lama, ada kejadian yang sebaiknya tidak saya tulis karena takut akan memberikan spoiler yang jelas akan mengurangi kenikmatan membaca. Pokoknya mulai pertengahan buku Khaled Hosseini berhasil memutarbalikkan perasaan dan emosi saya seenak hatinya. Ngilu, tercabik-cabik, tidak tahu kata apa lagi yang pas untuk melukiskan bagaimana saya mengikuti jalan hidup Mariam. Jengkel, dongkol juga saya rasakan ketika Rasheed, suami Mariam marah karena masakan Mariam kurang berkenan ia menjejalkan batu untuk Mariam kunyah. Tsk, bahkan saat menulis review ini emosi saya kembali bergolak.

Bagian ketiga, di saat saya sudah mulai terikat dengan karakter Mariam yang bahkan hawa panasnyapun seakan bisa saya rasakan, pengarang seakan mempermainkan pembaca. Kita dibawa ke kehidupan Laila, remaja putri yang hidup di keluarga terpelajar walau ibunya sedikit mengalami gangguan jiwa. Khaled Hosseini seakan menunjukkan kekontrasan hidup wanita di Afganistan. Laila hidup bahagia, teman-temannya banyak, ayahnya pintar dan apalagi ada teman laki-lakinya yang menjadi favorit saya di buku ini, Tariq. Dan seperti biasa dalam sekejap nasib bisa berubah. Sampai di sini saya tidak akan bicara lebih jauh, yang jelas mulai bagian ketiga di pertengahan buku para pembaca akan diajak menaiki roller coaster Afganistan melalui bagaimana kehidupan Mariam dan Laila dipermainkan oleh takdir kehidupan yang muncul dalam bentuk perang, pelecehan seksual, kekerasan dalam rumah tangga dan bagaimana cinta dan harapanlah yang membuat mereka bisa bertahan hidup.

“Sebuah cerita tentang harapan akan kemenangan, juga kekuatan menepis ketakutan. Sungguh megah!”  – New York Daily News

“A Thousand Splendid Suns, tidak hanya menyuguhkan kepada pembaca tentang realitas Afghanistan, tetapi juga menunjukkan kemampuan dan bakat Hosseini; melodrama dari setiap plot; pelukisan yang tajam; penggambaran karakter hitam-putih; dan pengolahan emosi yang memukai.”  – New York Post

“… kisah yang sangat memilukan tentang perjuangan perempuan Afghan dalam mengarungi kerasnya hidup.” – Entertainment Weekly

“Prosa Hosseini begitu menghunjam. Ia tidak hanya mengungkap sisi politik, tetapi juga sisi paling personal ….”  – The Guardian

Penggalan review di atas tidak cukup mewakili apa perasaan saya mengenai isi buku ini, memang bagi penggemar happy ending yang menghindari novel sedih ada baiknya saya berikan peringatan lebih dahulu. Tidak, buku ini bukan untuk pembaca berhati lemah, tapi bagi anda yang ingin membaca bacaan berkualitas tentang cinta, harapan dan perjuangan luar biasa wanita-wanita yang memang nyata adanya A Thousand Splendid Suns wajib dibaca.

Ingat bawa tissue ketika mendekati bab akhir.

You’ve been warned.

Saya baca buku terbitan Mizan Gold Edition, terjemahannya enak dan mengalir, covernya paling bagus di antara edisi lainnya. Perempuan muda yang nampak di cover termenung tapi seakan langit cerah di belakangnya mengisyaratkan ada bahagia yang menanti, ada thousand splendid suns 🙂 Sedangkan cover di bawah ini yang terasa hanya sedihnya saja.

Versi lebih muram

Versi lebih muram

A Thousand Splendid Suns, dipilih pengarang untuk dijadikan judul berdasar puisi dari Saib Tabrizi :

 Every street of Kabul is enthralling to the eye

Through the bazaars, caravans of Egypt pass

One could not count the moons that shimmer on her roofs

And the thousand splendid suns that hide behind her walls

Quote favorit saya :

“Behind every trial and sorrow that He makes us shoulder, God has a reason.”

Dan ada satu paragraf yang diucapkan Nana kepada Mariam, tajam, dalam dan mengiris hati : “Camkan ini sekarang, dan ingatlah terus, anakku: Seperti jarum kompas yang selalu menunjuk ke Utara, telunjuk laki-laki juga selalu teracung untuk menuduh perempuan. Selalu. Ingatlah ini, Mariam.”

Detail buku : A Thousand Splendid Suns

Pengarang : Khaled Hosseini

507 halaman, Edisi Gold, cetakan I, Desember 2010.

Kenangan Cinta – Anton Chekhov

Kenangan Cinta adalah proyek baca bareng kumpulan cerpen BBI yang juga sekaligus ikut program mbak Fanda membaca buku klasik penulis yang berulang tahun di bulan Januari.

Kenangan Cinta

Kenangan Cinta

Anton Chekhov (29 Januari 1860 – 15 Juli 1904) sendiri adalah sastrawan Rusia yang terkenal, selain berkat karya cerita pendeknya, ia juga seorang dramawan dan dokter! Duh ga kebayang betapa jeniusnya beliau ini. Saking jeniusnya malah ada beberapa karyanya yang melegenda ga nyantol di otak saya*puk-puk kepala sendiri*.

“Wisdom…. comes not from age, but from education and learning.”  – Anton Chekhov

“Do you see that tree? It is dead but it still sways in the wind with the others. I think it would be like that with me. That if I died I would still be part of life in one way or another.” A.C. – The Three Sisters

Anton Chekhov adalah penulis kedua Rusia yang saya baca setelah Leo Tolstoy, ada satu kesamaan antara mereka berdua, cerita yang ditulis biasanya sederhana, tidak disertakan konflik yang ‘wah’ namun gaya berceritanya dramatis dan lebih mementingkan kedalaman karakter.

Anton Pavlovich Chekhov

Anton Pavlovich Chekhov

Penerbit Serambi mengemas 7 cerita terbaik karya beliau yang rata-rata berkisah tentang suka duka percintaan di Rusia abad ke 19.  Di antaranya : Yang Tersayang, Kemalangan, Ariadne, Agafya, Ciuman, Perempuan dan Anjing Peliharaannya dan Kenangan Cinta. Walaupun singkat, rata-rata ending yang dikemas untuk menutup cerita malah cenderung tak tertebak loh! Satir dan kesinisan bahkan sindiran banyak saya jumpai dalam buku ini. Sering kali tokoh  utama perempuan digambarkan senang berfoya-foya, berselingkuh dan materialistis.

Ariadne adalah cerita favorit saya, menceritakan tentang kegundahan dan perjalanan cinta seorang lelaki kepada perempuan cantik Ariadne, yang berakhir tragis, eh bukan sih, kurang pas. Ngenes kalau orang Jawa bilang. 🙂

Terus terang, saya pribadi lebih menyukai gaya penulisan Leo Tolstoy dibanding Anton Chekhov yang di beberapa cerita pendeknya lebih bernuansa gembira. Benar saja, sedikit mengintip kilas pengarang yang ada di bagian akhir buku, Anton Chekhov dikenal sebagai penulis yang salah satu ciri khasnya adalah mengangkat kehidupan jalanan Rusia dengan bumbu sindiran dan tidak bertele-tele.

Salut untuk penerbit Serambi yang menerbitkan kumpulan kisah maestro kelas dunia, kalau tidak begitu mungkin saya tidak akan pernah membaca buku sastra klasik macam begini, 2 buku selanjutnya menanti untuk dibaca. Cinta Sejati karya sastrawan Perancis Guy de Maupassant dan Cinta yang Hilang karya penulis yang juga mantan narapidana O. Henry. Sesuai dengan resolusi 2012 saya, bacaan harus semakin beragam, wish me luck ya 🙂

PS : berasa mirip dengan Edward Norton ga sih beliau?

Detail buku :

Judul : Kenangan Cinta

Penulis : Anton Chekhov

Penerbit : Serambi Ilmu Semesta

Cetakan I, April 2011, 229 halaman.

Kembalinya Kat si medium penakut.

Kat is back, setelah berurusan dengan hantu perpustakaan di buku pertama, kali ini tak jauh-jauh, arwah tetangga! Berawal dari Kat yang iseng menyelidiki rumah kosong di seberang tempat tinggalnya, ia malah bertemu dengan arwah anak kecil yang seakan-akan ‘tersesat’, arwah laki-laki tua yang galak dan terakhir yang paling membuat Kat penasaran adalah tulisan ‘tolong aku’ di kaca jendela.

Suddenly Supernatural 2

Suddenly Supernatural 2

Kat bersama sahabatnya Jac kembali berpetualang memecahkan misteri yang berkaitan dengan dunia gaib. Di buku kedua, makin banyak hal yang dipelajari Kat. Di antaranya bola arwah, transfer energi juga pembukaan saluran komunikasi agar Kat bisa berbicara dengan roh. Hadirnya Orin teman ibunya yang juga seorang penyembuh membantu Kat untuk lebih menguatkan bakat uniknya itu.

Buku yang tidak terlalu tebal ini mampu membuat saya penasaran dengan endingnya, siapakah arwah pria yang marah-marah? Dan bagaimana kelanjutan roh anak-anak di rumah depan? Endingnya berakhir pas dan manis walau mudah tertebak.

Satu yang mengganggu saya, untuk kategori buku remaja, hal-hal seperti transfer energi, aura dan alur komunikasi seakan terlalu gelap. Yah walau saya juga tahu itu bagian dari buku dan tidak mungkin tidak ikut dicantumkan memang esensi buku Suddenly Supernatural. Ah, namanya juga supernatural. Beginilah kalau mental penakut, fufufu. Untung saja selain menonjolkan hal-hal gaib, penulis juga masih menekankan hubungan orang tua dengan remaja yang sering kali meributkan masalah tak penting.

Detail buku : Suddenly Supernatural 2

Atria, 161 halaman, cetakan I, Juli 2011.

[Curhat] Perubahan selera, jenuh atau memang tambah tua?

Di kala buku yang saya baca sejak bulan Desember sampai sekarang berturut-turut dapat bintang 2 terus mau tak mau membuat saya introspeksi diri, yang salah bukunya atau kejenuhan membaca buku atau memang dengan bertambahnya umur selera bacaan mulai bergeser? Walau bintang 2 masih layak baca kalau menurut saya, wong rata-rata 4 buku terakhir ratingnya di atas 3,5 bahkan ada yang 4.

Mungkin memang saya yang perlu rehat membaca buku romansa anak muda yang akhir-akhir ini sering kali bersambung atau karena permasalahan yang muncul sering kali dangkal serta mudah tertebak juga. Ah entahlah seperti yang sudah pernah saya singgung sebelumnya dan akan saya jadikan resolusi 2012 adalah menghabiskan tumpukan buku yang sudah bertahun-tahun menumpuk di rak, berusaha lebih banyak membaca klasik dan non fiksi, magnet buku Young Adult plus fantasi memang masih kuat tapi mungkin saya akan berusaha lebih selektif dalam memilih. Mencoba juga untuk menahan godaan membeli buku baru yang sedang ‘hype’ karena belum tentu yang digembor-gemborkan itu segitu bagusnya.

Sekalian curhat lagi soal buku swap yang tadi saya posting di grup BBI, sebenarnya ada rasa sayang untuk diberikan ke orang tapi saya pikir lagi ketimbang rak buku tak jelas bentuk rimbanya, ada baiknya buku-buku itu dibarikan ke para pencinta buku yang belum membacanya sehingga saya bisa lebih fokus melihat buku mana saja yang belum dibaca. Dan alamak, banyaak T.T mudah-mudahan ini menjadi pemicu semangat untuk segera menggenapi resolusi 2012.

Night night!

-curcol ga penting-

kamar atas, 23.10wita

[Review] Graceling, petualangan Katsa di Seven kingdom

Sinopsis dari Goodreads :

Graceling - Gramedia

Graceling - Gramedia

Sejak berusia 8 tahun, Katsa sudah bisa membunuh dengan tangan kosong. Ia termasuk Graceling, kelompok langka dengan kemampuan––Bakat––luar biasa. Dan Bakat Katsa adalah membunuh. Bakat yang membuatnya menjadi algojo sang raja. 

Lalu ia bertemu Pangeran Po, yang memiliki Bakat bertempur. 

Ia tidak mengira akan berteman dengan Po. 

Ia tidak mengira ada fakta baru tentang Bakat membunuhnya––juga rahasia mengerikan yang tersembunyi jauh… rahasia yang dapat menghancurkan tujuh kerajaan hanya dengan kata-kata.

Review :

Woooh, covernya asyik ya! Berasa banget kegarangan si tokoh utama kita kali ini, Katsa. Gadis bermata biru dan hijau yang memiliki bakat khusus yang ga tanggung-tanggung, membunuh! Makanya doi menjadi algojo sang raja walaupun kadang hati kecilnya ingin berontak juga, Katsa sering kali merasa ia hanyalah anjing atau mesin pembunuh Raja Randa.

Di kala misi menyelamatkan kakek Lienid ia bertemu dengan laki-laki berbakat yang setara dengan kemampuan Katsa. Ternyata laki-laki itu adalah cucu sang kakek, Pangeran Po. Berdua mereka menyelidiki siapakah gerangan yang menculik kakek Po yang ternyata tidak semudah itu. Masih ada musuh lain yang juga memiliki bakat yang tak kalah gahar.

Kira-kira begitulah garis besar buku pertama serial The Seven Kingdom ini, premisnya lumayan seru. Mirip XMen walau beda jalur, bakatnya pun macam-macam yang sayangnya tidak dikupas lebih dalam oleh pengarang. 20 halaman pertama saya sangat menikmati Graceling, kita diajak untuk mengenal karakter Katsa. Independen, mandiri, tak kenal takut dan doyan berkelahi. Ah saya suka kick ass heroine macam begini.

Sayangnya saat Katsa mulai mengenal Po, getar-getar cinta yang timbul bisa dibilang merusak acara. Petualangan yang seharusnya bisa menjadi klimaks malah terasa dipanjang-panjangkan demi petualangan cinta Katsa dan Po. *tendang Katsa*

Nah, satu hal yang sangat mengganggu saya adalah pembicaraan mengenai pernikahan, kenapa Katsa tidak mau menikah, tidak ingin punya anak. Um cek umur Katsa, bukannya masih abegeh? Lah kok tiba-tiba berbicara soal feminisme seperti ini? Sepertinya ini pikiran pengarang yang dijejalkan masuk ke dalam karakter Katsa. Tidak pada tempatnya dan terlalu maksa. Review lain banyak yang menyayangkan adegan sex before married yang juga ada di buku ini, well masih masuk di akal yang itu ketimbang anak remaja menolak untuk menikah dengan alasan yang kurang masuk akal.

Karakter Po kurang membekas di benak saya, yang terbayang hanyalah sifatnya yang lemah lembut plus pendengar yang setia. Apa karena kemunculannya yang kurang banyak? Atau karena namanya Po? Duh mbok ya nama pangeran lain yang keren kan banyak walau hanya satu suku kata. Max? Patch? Hex? Rick? apalah asal jangan Po, duuuh yang kebayang kalau ga si panda gendut ya si teletubbies. Uh oh my bad, sorry *pentung diri sendiri*

Saya suka kisahnya, pemilihan nama Katsa yang kesannya kuat, mudah-mudahan perihal Graceling/bakat bakal lebih banyak muncul di buku 2nya, Fire.

Cover versi luarnya keren loh!

Graceling

Graceling

Graceling menjadi Publishers Weekly dan School Library Journal best book of the year tahun 2008 dan masih banyak lagi penghargaan yang lain. Bagi yang penasaran nantikan seri keduanya Fire yang covernya tak kalah unyyuuu!

Fire

Fire

Detail buku : Graceling

Penerjemah : Poppy D. Chusfani

Gramedia, cetakan I, Desember 2011, 496 halaman.