2012 · BBI · Gramedia · historical · thriller

[Review] Ledakan Dendam – Agatha Christie

“Courage is the resolution to face the unforeseen.” – Agatha Christie

Ketika BBI berencana untuk baca bareng Agatha Christie saya menyambut dengan suka cita! Sepertinya terakhir kali ketika saya SMP deh, ahay, sudah bertahun-tahun lewat. Sayang ketiga buku favorit (Tirai, Empat Besar, Sepuluh Anak Negro) tidak saya temukan di toko buku terdekat dan yang menarik perhatian ya buku ini, Ledakan Dendam. Sudah pernah dibaca juga sih tapi perpaduan antara Agatha Christie dan pembunuhan keluarga Mesir susah ditolak.

Ledakan Dendam - Gramedia
Ledakan Dendam - Gramedia

Ledakan Dendam berkisah tentang kehidupan keluarga Imam Ka bernama Imhotep. Ia memiliki 3 orang anak, Yahmose anak tertua yang cenderung lamban dan berhati-hati dalam bertindak. Sobek, anak kedua yang berbadan kekar, terkadang bersikap seenaknya dan banyak omong. Ipy, anak laki-laki ketiga dari istri kedua yang paling kecil dan menjadi anak kesayangan Imhotep. Dan satu lagi Renisenb, anak perempuan satu-satunya yang pulang ke rumah setelah 8 tahun karena suaminya meninggal, dari sudut pandangnyalah kita diajak untuk menyaksikan pengaruh dendam memorakporandakan Imhotep sekeluarga.

Semua berawal dari sepulangnya Imhotep berlayar yang membawa selir muda bernama Nofret. Cantik, muda dan berbahaya. Kedatangannya memicu apa yang sebelumnya terpendam; keserakahan, nafsu dan kebencian. Ketika akhirnya satu per satu jatuh korban yang diawali dengan Nofret kembali Agatha Christie menunjukkan kelasnya sebagai penulis thriller jempolan.

Pembunuhan yang terjadi empat ribu tahun yang silam dan penyebabnya tidak berubah sampai sekarang, kedengkian, kecemburuan ternyata tak lekang oleh waktu. Sama seperti yang tertulis di halaman  211 “Keserakahan adalah gabungan segala macam kejahatan dan kumpulan segala sesuatu yang tercela”.  Dan “mengucapkan kebohongan itu sama mudahnya dengan mengucapkan kebenaran”.

Novel misteri tanpa detektif bisa disebut seperti itu walau terdapat kemiripan karakter Esa, ibu Imhotep dengan Miss Marple yang lembut sekaligus tegas, ada lagi Hori anak buah Imhotep yang berpikiran tajam dan lugas mirip dengan Poirot. Ledakan Dendam adalah satu-satunya karangan Agatha Christie dengan latar belakang historis Mesir dan tokoh yang meninggal di buku ini lumayan banyak bahkan hampir disamakan dengan novel legendarisnya And There Were None.

Pujian yang dilontarkan oleh Maurice Richardson di harian The Observer tahun 1945 :  “One of the best weeks of the war for crime fiction. First, of course, the new Agatha Christie; Death Comes as the End. And it really is startlingly new, with its ancient Egyptian setting in the country household of a mortuary priest who overstrains his already tense family by bringing home an ultra-tough line in concubines from Memphis. Result: a series of murders. With her special archaeological equipment, Mrs. Christie makes you feel just as much at home on the Nile in 1945 B.C. as if she were bombarding you with false clues in a chintz-covered drawing room in Leamington Spa. 

3 bintang saya sematkan untuk Ledakan Dendam, walau ceritanya seru tetap kurang greget. Terlalu banyak tokoh dan Renisenb yang mana dari matanyalah kisah ini terjadi kurang heboh berperan serta. Renisenb adalah wanita yang biasa-biasa saja malah klemar klemer menurut saya, coba saja ia bersikap lebih tegas mungkin pembaca bisa lebih masuk ke dalam cerita.

Ingin mengenal Agatha Christie lebih jauh? Saya sarankan untuk membuka agathachristie.com. Salah satu situs pengarang paling lengkap dan paling memuaskan penggemarnya, mulai dari biografi Agatha Christie yang ternyata bersuamikan seorang arkelolog, anda akan bisa berinteraksi dengan fans AC di seluruh dunia bahkan ada gamesnya pula. Mulai dari hangman, puzzle sampai sudoku! Kita juga bisa mengetahui apa saja buku Agatha Christie yang paling banyak dibaca dan adaptasi filmnya. Keren! Masih belum puas juga, yuk kita follow twitter yang dibuat oleh situs tadi di @Queenofcrime.

Detail buku :

Ledakan Dendam – Death Comes at the End

Alih bahasa : Ny. Suwarni A. S.

Ilustrator : Satya Utama jadi

Cetakan kelima, Agustus, 2007, 324 halaman.

 

 

Advertisements
2012 · journal · karya anak negeri · touch of Asia

[Review] After Orchard – Margareta Astaman

After Orchard
After Orchard

Covernya unyu sekaliii ^.^

After Orchard berisikan curhatan hati seorang Margareta Astaman di Singapura selama 4 tahun menjadi mahasiswa Nanyang  Technological University. Betapa berbedanya surga belanja yang nyaman dan tertib di mata saya dengan mata Margareta. Siapa sangka di balik keteraturan dan kemegahan mall, Margareta harus berhadapan dengan teror tugas yang tak habis-habisnya, hilangnya sosialisasi yang seakan-akan membuang waktu sampai kutukan kutu tempat tidur!

Bab Membasmi Kutu Sesuai Prosedur menegaskan betapa Singapura adalah kota yang penuh dan taat aturan, sa’nglotok-nglotoknya kalau kata orang Jawa. Semua hal diatur dengan jelas dan tidak fleksibel, termasuk dalam pembasmian kutu. R, salah satu teman Margareta yang tempat tidurnya jelas-jelas berkutu  tidak bisa disteam dengan alasan steam hanya dilakukan setahun sekali pada saat penerimaan mahasiswa baru, jelas saja permintaan R untuk steam ditolak. R yang sudah tak tahan rela membayar berapa saja agar ranjangnya di-steam, namun sistem kebal suap yang mengakar langsung mematahkan indikasi sogokan R, dengan alasan jika setiap anak kampus minta ranjangnya dibersihkan setiap saat tentu akan menggangu kinerja tenaga kerja asrama. R tidak hilang akal, borok-borok yang ditimbulkan tidak menjadi bukti yang kuat karena bisa saja karena R jorok dan kemproh, padahal membuktikan kutu yang mikroskopik juga bukan hal yang mudah.

Setiap prosedur harus dilaksanakan tanpa kompromi, tanpa revisi, padahal urusan birokrasi terkadang berbenturan dengan faktor tak terduga wong manusia bukan robot, ada yang namanya human error dan kutu, tentu saja.

Menjadi mahasiswa di sebuah universitas terkemuka menjadi beban tersendiri ternyata, setiap orang dilihat bukan berdasar kepribadiannya melainkan nilai. Bahkan cenderung nilai adalah segalanya. Seram! Hal itulah yang memicu terjadinya bunuh diri di Singapura. Setiap individu sibuk berkompetisi dan yang tidak mampu bersaing dianggap gagal. Hampir setiap minggu margareta mendengar praktik percobaan bunuh diri. Kisah percobaan bunuh diri hampir tidak pernah diangkat ke publik, kebijakan pers melarang kasus bunuh diri untuk diberitakan alasannya bisa memicu orang untuk meniru.

Kejadian lain yang lucu terjadi ketika Margareta merasa mual, muntah selama beberapa hari sehingga ia memutuskan untuk berkonsultasi di klinik bersubsidi kampus. Ia malah disangka hamil, setelah menjalani serangkaian tes kehamilan, Margareta pulang dengan berbekal obat maag padahal ia sudah mewanti-wanti dokter bisa jadi ia terkena hepatitis. Seminggu tak sembuh ia mengunjungi rumah sakt umum Singapura dan kembali lagi didiagnosa hamil. Sesuai dengan prosedur pemeriksaan ia kembali diwajibkan untuk tes kehamilan. Menolak mati di negeri orang , Margareta pulang ke Jakarta dan berobat di sana, memang benar ia terkena hepatitis A.  Jiah!

Menarik, menggelitik, ringan dan menggigit. After Orchard menyikap sisi lain Singapura yang bisa jadi tidak terselami bagi saya yang hanya menginjakkan kaki seputaran Kinokuniya dan Orchard Road saja 😀 Memang bukan rahasia lagi kalau Singapura adalah kota yang keras, banyak teman saya yang tinggal di sana juga berbicara hal yang serupa. Tapi bukan berarti buku ini hanya mengupas keburukan Singapura, toh Singapura tetap menjadi kota yang penuh pesona buat saya. 🙂 Yah anggap saja buku ini bisa menjadi guide tidak resmi bagi yang ingin mengambil pendidikan di sana. Cheers!

Detail buku :

Penerbit Buku Kompas, Agustus 2010, 193 halaman.

 

2012 · drama · Gagas Media · karya anak negeri · love love love · young adult

Unforgettable. Cerita tentang aku, kamu dan wine di antara kita.

Unforgettable, buku terbaru karangan Winna Efendi ini sebetulnya sudah lama saya baca, bahkan Unforgettable adalah buku pertama yang saya pesan secara pre order dan langsung tuntas dibaca sesaat setelah diterima.

Sekilas yang saya tahu soal Unforgettable dari tweet @GagasMedia maupun melalui blog penulis adalah cerita yang berkisah tentang cinta yang menunggu dan terhubung oleh kesukaan mereka dengan wine. Tidak banyak penjelasan rinci yang bisa saya tangkap dari sinopsis Unforgettable. Konfliknya apa tidak terangkum jelas, walau demikian saya tetap ingin membacanya.

Satu lagi, berulang-ulang Winna menegaskan bahwa Unforgettable adalah novelnya yang lain dari biasanya dan termasuk dalam kategori novel dewasa. Terus terang sebagai fans dari Winna Efendi, saya agak ketar ketir juga. Novel dewasa? Apakah ada hal yang tidak pantas dibaca untuk remaja? Apakah bakal ada kisah cinta yang seronok seperti yang sering disisipkan di novel Metropop sekarang? Please don’t. Entah kenapa itu menjadi kekhawatiran tersendiri buat saya, tidak terbayang karakter dalam fiksi ciptaan Winna menjadi pribadi yang heboh dalam urusan percintaan. Bukan Winna bangetlah! *sok kenal*

Unforgettable
Unforgettable

Unforgettable berkisah tentang hubungan pria wanita yang hampir semua settingnya terletak di Muse, kedai wine yang dimiliki oleh sepasang kakak laki-laki dan adik perempuannya. Ini adalah kisah mengenai adik yang berusia twenty something, penyendiri dan menyembunyikan diri di halaman buku yang jatuh cinta dengan seorang eksekutif muda yang misterius.

Satu kesan yang didapat setelah selesai membaca lembar terakhir Unforgettable : personal. Seakan buku ini bukan rekaan semata, tokoh pria dan wanita nyata adanya, walau memang hampir semua tokoh Winna sangat riil, hanya saja entah kedua tokoh ini berbeda.

Pantas saja banyak review yang menyebutkan buku ini lain dari novel-novel karangan Winna terdahulu. Tidak terasa gejolak penasaran yang amat sangat dari saya untuk mengetahui bagaimanakah ending kisah kedua tokoh utama, kalau biasanya saya penasaran seperti pikiran saya saat membaca novel romance “please, please biar si A jadian sama si b dong, kan kasihan” atau pikiran saya saat membaca novel karangan Nicholas Sparks yang sering kali tidak happy ending “Aduuh jangan bilang sekarang si ini ketabrak mobil!!“. Sebagai pembaca Unforgettable saya menikmati saja ke mana Winna menuntun. Terkadang malah bau wine menguar dari buku, saya seakan ikut duduk  tak kasat di meja yang sama dengan si pria – wanita dan menguping pembicaraan mereka.

Endingnya manis, bittersweet tapi tetap manis.

Dan yang pasti terbersit keinginan saya untuk duduk di cafe temaram, menikmati segelas Cabernet Sauvignon di antara dentingan piano ditemani sang kekasih hati. Aaaah, gara-gara Winna jadi galau. 🙂

4 bintang!

Detail buku :

Unforgettable – Winna Efendi

Gagas Media, cetakan I, 173 halaman.

now reading

[Now Reading] Pompeii – Robert Harris

Akhirnya saya dapat juga buku ini, hasil swap pula dan berbahasa Inggris! Ahahay, senang. Terus terang walau hampir semua buku Robert Harris ini menarik perhatian saya, tidak ada satupun buku karangan beliau yang pernah saya baca. Terakhir Gramedia menerbitkan Cicero dan Imperium, sudah masuk wishlist tapi belum terbeli, walau demikian yang paling ingin saya baca ya Pompeii ini.

Pompeii - Robert Harris
Pompeii - Robert Harris

Awal ketertarikansaya adalah ketika beberapa waktu lalu BBC menayangkan liputan Pompeii kota yang hilang tertimbun letusan gunung Vesuvius, baru ditemukan setelah hilang dan terlupakan selama hampir 1700 tahun. Bahkan sekarang Unesco menetapkan Pompeii sebagai salah satu World Heritage yang dikunjungi lebih dari 2 juta orang setiap tahunnya.

Pompeii
Pompeii

Novel ini berkisah tentang Pompeii, 2 hari sebelum kota itu luluh lantak. Diambil dari 4 sudut pandang para tokoh utamanya Robert Harris seakan menghidupkan kembali Pompeii disertai dengan intrik yang kental. Belum bisa cerita lebih jauh lagi karena baru baca sedikit :p

Will let you know later, yang jelas untuk selanjutnya saya tahu buku apa yang akan dibeli Imperium dan Cicero! 🙂

Btw seharusnya buku ini akan difilmkan dengan pemeran utama Scarlett Johansson dan disutradarai oleh Roman Polanski. Aaaak, kenapa batal Om? >.<

now reading

[Now reading] The Sweetness at the Bottom of the Pie

Panjang dan aneh yak judulnya tapi jangan salah awardnya bejibun! Barry Award, Macavity Award, Agatha Award, Goodreads choice award nominee for fiction and mystery dan masih banyak lagi yang lain. Penasaran!

Sekilas sinopsis : In his wickedly brilliant first novel, Debut Dagger Award winner Alan Bradley introduces one of the most singular and engaging heroines in recent fiction: eleven-year-old Flavia de Luce, an aspiring chemist with a passion for poison. It is the summer of 1950—and a series of inexplicable events has struck Buckshaw, the decaying English mansion that Flavia’s family calls home. A dead bird is found on the doorstep, a postage stamp bizarrely pinned to its beak. Hours later, Flavia finds a man lying in the cucumber patch and watches him as he takes his dying breath. For Flavia, who is both appalled and delighted, life begins in earnest when murder comes to Buckshaw. “I wish I could say I was afraid, but I wasn’t. Quite the contrary. This was by far the most interesting thing that had ever happened to me in my entire life.”

Flavia #1
Flavia #1

Yuk mulai dibaca saja buku yang saya beli obralan di Periplus seharga Rp 30.000 saja ini.


2012 · love love love · movie

[Review] Chocolat – Joanne Harris

“Happiness. Simple as a glass of chocolate or tortuous as the heart. Bitter. Sweet. Alive.”

Pas dengan bulan cinta-cintaan, saya butuh bacaan yang menghangatkan hati tapi tidak berlebihan. Pas pula saya mendapatkan buku Chocolat hasil swap di Dijon minggu lalu. Pasnya lagi kisahnya sesuai dengan harapan saya, tidak pasnya hanya satu. Tidak ada coklat yang bisa saya makan sembari membaca buku ini. Beneran deh, Joanne Harris melukiskan coklat sedemikian enaknya apalagi filmnya senantiasa terbayang selama membaca, wah pas banget! Coklat dan Johnny Depp, perpaduan yang rasanya susah ditolak oleh setiap wanita, aw aw aw.

Chocolat
Chocolat

Chocolat dibuka dengan kedatangan janda cantik Vianne Rocher dengan anak tunggalnya di desa kecil Lansquenet-sous-Tannes. Berdua mereka membuka usaha cafe coklat kecil-kecilan bernama La Celeste Praline. Dan tersebutlah pendeta kolot bernama Francis Reynaud tidak menyukai kehadiran Vianne di desa tersebut, apalagi Vianne tidak pergi ke gereja terlebih lagi toko coklatnya juga buka di hari Minggu. Klop sudah, Vianne menjadi ancaman bagi Reynaud.

Vianne yang ceria dan blak-blakan sontak menjadi omongan di desa kecil itu, terlebih lagi gosip dengan mudah beredar di tengah komunitas yang satu sama lain saling mengenal. Banyak yang tidak suka, namun banyak juga yang menjadi teman dekatnya, di antaranya Armande seorang perempuan tua sinis, ada juga seorang istri yang akhirnya berani mengambil keputusan untuk meninggalkan suaminya yang galak.

Secara tidak langsung tindak tanduk Vianne mengubah seisi desa. Masyarakat lebih ceria dan berani dalam bertinak, tentu saja Reynaud tidak tinggal diam, apalagi saat mengetahui Vianne akan mengadakan coklat festival tepat di hari Paskah.

Chocolat tidak hanya berkisah tentang pertikaian Vianne dan Reynaud, lebih dalam lagi pengarang mengupas kemunafikan manusia. Nama Tuhan dijadikan tameng, tidak jauh beda dengan di Indonesia, setiap orang berlomba menghakimi orang lain. Selain menegur kita, Chocolat sekaligus menghangatkan hati kita dengan manisnya persahabatan tulus yang ditawarkan Vianne tanpa pandang bulu ke setiap orang yang ia jumpai.

Satu lagi coba bayangkan nama coklat yang tersedia La Praline : Bitter Orange Cracknell. Apricot Marzipan Roll. Cerisette Russe. White Rum Truffle. Manon Blanc. Nipples of Venus. Oh la la *lap iler*

nom nom nom
nom nom nom

4 bintang untuk Chocolat yang menggoda!

Detail buku :

Judul : Chocolat (Chocolat#1, Food Trilogy#1)

Pengarang : Joanne harris

Penguin Books, 2000, 306 halaman.

Sekilas tentang penulis Joanne Harris, berdarah Perancis dan Inggris yang dulunya adalah seorang guru. Saat menulis review ini saya baru mengetahui bahwa Chocolat adalah buku pertama dari seri Food Trilogy, berlanjut dengan Blackberry Wine dan Five Quarters of the Orange.

Buku ini difilmkan bahkan memperoleh berbagai nominasi termasuk nominasi Oscar best actress untuk Juliet Binoche sebagai Vianne dan best supporting actress untuk Judi Dench yang berperan sebagai Armande, jadi pengen nonton ulang 🙂