Eleven Minutes, fairytale for adult only.

When we meet someone and fall in love, we have a sense that the whole universe is on our side. And yet if something goes wrong, there is nothing left! How is it possible for the beauty that was there only minutes before to vanish so quickly? Life moves very fast. It rushes from heaven to hell in a matter of seconds.

Once upon a time, there was a prostitute called maria. Wait a minute. “Once upon a time” is how all the best children’s stories begin and “prostitute” is a word for adult. how can I start a book with tthis apparent contradiction? But since, at every moment of our lives, we all have one foot in a fairy tale and the other in the abbys, let’s keep the beginning.

Paragraf pembukaan yang membius, seakan Paulo Coelho sudah memperingati pembaca bahwa apa yang akan ia kisahkan di Eleven Minutes adalah cerita dewasa. Bagaimana tidak, tokoh utamanya Maria adalah seorang pelacur.

Eleven Minutes

Eleven Minutes

Maria awalnya sama seperti banyak wanita kebanyakan. Ia memimpikan memiliki suami ganteng plus kaya, menikah dengan gaun yang indah, memiliki dua anak dan tinggal di rumah sederhana di pinggir pantai. Cinta pertamanya ia rasakan ketika berusia 11 tahun, tidak jauh-jauh. Pria yang menarik hati Maria adalah teman sekolahnya yang juga tinggal di kompleks yang sama. Namun baik Maria dan si pria tidak pernah bertukar sapa, hanya sering berjalan beriringan ke sekolah, Maria tidak berani memulai pembicaraan. Diam.

Suatu kali sang pria tidak lagi muncul di sekolah dan akhirnya Maria mengetahui bahwa tetangganya telah pindah ke kota lain. Cinta pertama Maria kandas begitu saja.

3 tahun berlalu sejak putus cinta. Ia belajar banyak hal : geografi, matematika, ia mulai membaca majalah dewasa, menulis diary untuk memuaskan keinginannya tentang semua yang diajarkan. Laut, salju, pria-pria dan perhiasan. Mimpi maria terus berlanjut.

Di usianya yang kelima belas tahun, ia kembali dekat dengan laki-laki baru, bertekad tidak mengulangi kesalahannya yang dulu, mereka berteman, pergi ke pesta dan bioskop. Dan tak butuh waktu lama untuk Maria merasakan ciuman pertamanya. Malam itu, Maria bertekad menulis diary karena ia merasa ada suatu hal penting yang sedang terjadi pada dirinya malam ini.

When we meet someone and fall in love, we have a sense that the whole universe in on our side. I saw this happen today as the sun went down. And yet if something goes wrong, there is nothing left! No herons, no distant music, not even the taste of his lips. How is it possible for the beauty that was there only minutes before to vanish so quickly?

Life moves very fast. It rushes us from heaven to hell in a matter of seconds. (p.9)

Maria terus beranjak dewasa dan menjadi semakin cantik. Tak hanya ciuman, ia mengeksplorasi tubuhnya, masturbasi, orgasme, dan Maria sudah bercinta dengan banyak pria. Namun kenikmatan yang ia rasakan lebih diperoleh dengan masturbasi.

Menginjak 19 tahun, Maria mengambil keputusan penting dalam hidupnya. Ia meninggalkan Brazil, mengadu nasib seorang diri di Swiss.

Everything tells me that I am about to make a wrong decision, but make a wrong decision, but making mistakes is just a part of life. What does the world want of me? Does it want me to take no risks, to go back where I came because I didn’t have the courage to say”yes” to life? (p.25)

Dan di minggu keduanya di Swiss, di persepsi saya Maria menjadi semakin ‘mature’ dan she’s becoming my idol! \(^.^)/

I can choose either to be a victim of the world or an adventurer in the search of treasure. It’s all a question of how I view my life. (p.37)

Maria bekerja, bekerja dan bekerja. Ia mengambil kursus bahasa Perancis dan belajar mempraktekkan langsung dengan berjalan-jalan di sekitar kota.  Terpuruk dengan kesendiriannya ia pun berpikir untuk menjadi model yang sayangnya tak kunjung dipanggil agensi model. Dan tulisnya suatu malam :

At the moment, I’m far too lonely to think about love, but I have to believe that it will happen, that I will find a job and that I am here because this fate. The roller coaster is my life; life is a fast, dizzying game; life is a parachute jump; it’s taking chances, falling over and getting up again; it’s mountaineering; it’s wanting to get to the very top of yourself and to feel angry and dissatisfied when you don’t manage it.

It isn’t easy being far from my family and from the language in which I can express all my feelings and emotions, but, from now on, whenever I feel depressed, I will remember that unfair. If I had fallen asleep and suddenly woken up on a roller coaster what would I feel?

Well, I would feel trapped and sick, terrified of every bend, wanting to get off. However, if I believe that the track is my destiny and that God is in charge of the machine, then the nightmare becomes something thrilling. It become exactly what it is, a roller coaster, a safe, reliable toy, which will eventually stop, but, while the journey lasts, I must look at the surrounding landscape and whoop with excitement.  (p.48)

Juara!!

Nasib yang tak jelas, luntang lantung dan pertemuannya dengan seorang agensi model secara tiba-tiba mengarahkan Maria menjadi seorang pelacur.

I have discovered the reason why a man pays for a woman; he wants to be happy.

He wouldn’t pay a thousand fracs jut o have an orgasm. He wants to be happy. I do too, everyone does, and yet no one is. What have I got to lose it, for a while, I decide to become . . . . . it’s a ifficult word to think or even write . . . . but let’s be blunt . . . . what have I got to lose if I decide to become a prostitute for  a while?

Itulah awalnya, Maria terus belajar. Ia rutin mengunjungi perpustakaan untuk belajar tentang sex dan resmi menjadi pekerja seks di klub Copacabana. Setelah enam bulan ia bergelung dengan pekerjaan barunya, Maria belajar mengenai sebelas menit yang sekaligus dijadikan dasar judul buku Paulo Coelho. Sebelas menit adalah waktu rata-rata yang dipergunakan untuk berhubungan intim.

Eleven Minutes.

The world revolved around something that only took eleven minutes.

Kalau dilanjutkan bisa-bisa review ini habis dengan petikan buku, singkat cerita tak lama kemudian Maria bertemu dengan pria yang bisa memutarbalikkan hidupnya. Seorang pelukis yang ia temui di cafe, yang mengajarkan arti cinta sesungguhnya tak hanya berkisar di putaran waktu sebelas menit. Dan semakin ke belakang Paulo Coelho menyelipkan pesan bahwa keintiman adalah sesuatu yang sakral, yang lebih dari besar artinya dari sekedar sentuhan fisik.

Salah satu buku yang harus dibaca dari pengarang kaliber dunia Paulo Coelho, pesan saya satu : buka hati dan pikiran saat membaca, banyak konten dewasa😀

Eleven Minutes sudah pernah diterjemahkan ke Gramedia dengan cover yang cantik.

Eleven Minutes Gramedia

Eleven Minutes Gramedia

Eleven Minutes, cover baru

Eleven Minutes, cover baru

Detail buku :

Eleven Minutes – Paulo Coelho

Harper Collins Publishers, 2004

273 halaman

Sekilas cerita mengenai Eleven Minutes, Paulo Coelho terinspirasi dari buku The Seven Minutes karangan Irving Wallace yang juga mengupas soal berapa waktu rata-rata yang dihabiskan untuk berhubungan seksual.  Tahun 1997 di Italia, seseorang meninggalkan manuskrip kepada Paulo untuk dibaca yang ternyata berisikan penggalan kisah seorang pelacur Brazil. Tahun 2000 ketika melewati Zurich, Paulo bertemu langsung dengan wanita itu yang ternyata bernama Sonia.

18 thoughts on “Eleven Minutes, fairytale for adult only.

  1. helvry says:

    yah..saya suka dengan monolog maria dalam buku ini.
    saya kagum dengan paulo yang pintar sekali menuliskannya.
    ngomong2 jadi tambah wawasan yah #eh

  2. mademelani says:

    aku jg suka bgt novel ini. plg suka mmg bagian journal si maria itu.
    buku ini mmg byk memuat konten seksual, tp mnrtku tema eksistensi khas coelho masih jauh lbh bergema.

    • miamembaca says:

      Iya Mbak Mei, bahkan sebagai penggemar Paulo sepertinya Eleven Minutes menempati posisi paling favorit bahkan melebihi The Alchemist. Lagi baca yang Flowing River yang terbitan Gramedia, tetap pengen baca versi aslinya juga sih🙂

  3. astridfelicialim says:

    kenapa yaaa paulo coelho tuh jago banget nulis tentang perempuan, seolah2 dia bisa ngerasain apa yg perempuan rasain?? kadang jengah juga bacanya ya, kok dia bs tau banget gitu hahaha tapi anyway disitulah daya tariknya bapak ini =D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s