[Review] The Hobbit – J. R. R. Tolkien

Yay! Akhirnya bisa ikutan lagi proyek baca bareng BBI yang mengambil tema 1001 Books You Have to Read Before You Die. Woh, seru pisan temanya. Buku yang saya pilih adalah The Hobbit dengan alasan : penganut aliran harus baca bukunya dulu sebelum nonton film adaptasi, belum pernah membaca pengarang yang sangat saya segani ini dan yang terakhir mengurangi timbunan karena buku The Hobbit sudah saya beli sekitar 4 tahun yang lalu :p

The Hobbit

The Hobbit

Sinopsis singkat dari Goodreads :

Gara-gara Gandalf, Bilbo jadi terlibat petualangan menegangkan. Tiga belas Kurcaci mendatangi rumahnya dengan mendadak, karena mengira ia seorang Pencuri berpengalaman, seperti kata Gandalf. Terpaksa ia bergabung dalam petualangan mereka : mengadakan perjalanan panjang dan berbahaya untuk mencari Smaug, naga jahat yang telah merampas harta kaum Kurcaci di masa lampau. Dalam perjalanan, rombongannya dihadang pasukan goblin. Saat melarikan diri dari kejaran mereka, Bilbo tersesat ke gua Gollum dan menemukan Cincin yang bisa membuatnya tidak kelihatan. Cincin ini sangat membantunya ketika menghadapi Smaug, juga dalam perang besar yang berkobar kemudian, antara kelompok Peri, Manusia, dan Kurcaci melawan pasukan goblin dan Warg.

Sepertinya semua sudah tidak asing lagi dengan penyihir tua bijaksana Gandalf, hobbit Frodo yang imut, si ganteng Aragorn, Legolas salah seorang personil boyband dari fellowship of the ring dan the one and only ‘my preciouusss’ Gollum. Bilbo yang hanya muncul di awal kisah LOTR memegang peranan kunci di buku prequelnya yaitu The Hobbit.

Berawal dari saat Tolkien memeriksa ujian dan menemukan halaman kosong. Dasarnya orang jenius kali ya, seketika itu beliau mendapat inspirasi dan menulis, “In a hole on the ground there lived a hobbit.” Kelanjutan dari The Hobbit selesai ditulis tahun 1932 dan meminjamkan manuskrip tersebut ke beberapa orang yang salah satu di antaranya adalah sahabat karib Tolkien, yang sama-sama orang hebat dan pengarang, tak lain tak bukan C. S. Lewis. Dan tak lama kemudian, tanggal 21 September 1937 terbitlah edisi perdana The Hobbit yang covernya juga dibuat oleh Tolkien himself.

1st ed

1st ed

Balik ke Bilbo Baggins. Berawal dari pertemuannya dengan Gandalf, ia harus keluar dari rumahnya yang hangat, memulai petualangan menegangkan bersama ketigabelas kurcaci. Perjalanan mereka mencari harta karun tidak mudah, Bilbo dan kawan-kawan harus melewati laba-laba raksasa, troll, goblin, bangsa peri, wargs, gollum dan terakhir Smaug si naga jahat.

The beginning

The beginning

Saya tidak akan bercerita panjang lebar mengenai seluk beluk rintangan demi rintangan yang Bilbo hadapi tapi saya ingin mengajak pembaca blog di sini mendalami lebih jauh kenapa sih The Hobbit masuk dalam list 1001 books you have to read before you die. Ini dari sudut pandang saya lho ya, kritikus tidak jelas*takut kalau ada yang protes* berdasar pengalaman pribadi saat membaca dan hasil browsing-browsing beberapa situs :

1. Seperti yang sudah pernah saya tulis di postingan sebelumnya (Character Thursday) Bilbo adalah sosok penolong yang from zero to hero. Pembaca memiliki kedekatan dengan tipe protagonis macam begini dibanding yang memang sudah kebal metekel terhadap bahaya ala superhero komik. Bilbo, sebagaimana kita adalah seorang hobbit biasa. Ia gemar membaca, duduk-duduk minum teh di sofanya yang empuk, giliran harus melakukan perjalanan panjang ia tak lepas dari yang namanya bersungut-sungut dan merindukan rumahnya yang hangat. Apalagi kelakukan kurcaci terkadang menyebalkan, kalau orang Surabaya bilang, “yo tambah wes kangen karo umah dhewek!”. Bilbo bisa saja menjelma di dalam diri kita dan di saat kepepet ia malah bisa menjadi penolong teman-temannya. Ringan tangan, cerdik dan setia kawan, itu kunci yang dibutuhkan dalam perjalanan menempuh maut dan Bilbo memiliki semuanya.

The journey

The journey

2. Tolkien merepresentasikan Smaug dan Gollum sebagai akar dari evil, ketamakan. Dikutip dari cliffnotes.com : Smaug and Gollum represent the perverted use of property. They are monsters because isolation and selfishness such as theirs is evil. They do not recognize community; there are no other creatures like them. Smaug makes his home in the Lonely Mountain, and Gollum is so self-centered he does not even know the word for “you.” They are vehemently opposed to sharing; indeed, they would rather kill than share what they possess, whether it be Gollum’s ring of invisibility or Smaug’s treasure trove. Smaug makes no use at all of the treasure trove; he only sits on top of it and sleeps. Ironically, Smaug is killed himself as he wages war in defense of his treasure. (Gollum, too, dies in The Lord of the Rings trilogy as he finally reclaims his prized possession, the ring of invisibility.)

Elves vs Gollum

Elves vs Gollum

3. Buku yang disebut  The Most Important 20th-Century Novel (for Older Readers)” in the Children’s Books of the Century poll in Books for Keeps, disebut C. S. Lewis sebagai “this book a number of good things, never before united, have come together: a fund of humour, an understanding of children, and a happy fusion of the scholar’s with the poet’s grasp of mythology… The professor has the air of inventing nothing. He has studied trolls and dragons at first hand and describes them with that fidelity that is worth oceans of glib “originality.”

4. Satu lagi yang membuat saya semakin kagum dengan J. R. R. Tolkien adalah kemampuannya meramu prosa yang tertuang dalam balasan teka-teki antara Bilbo dan Gollum. Ah sayang saya tidak membaca versi Inggrisnya, walau begitu yang terjemahan juga menarik untuk disimak.

Apa yang punya kaki tapi tidak kelihatan, lebih tinggi dari pepohonan. Menembus awan sangatlah tinggi, tapi tidak pernah tumbuh sama sekali?

Gunung!

Tiga puluh kuda putih di atas bukit merah, mula-mula mereka memamah, lalu kemudian mengunyah, kemudian berdiri diam tak berubah.

Gigi!

Keereeen yaaa!

5. Bicara tentang gollum, mau tak mau saya teringat akan cincin “The One Ring”, cincin keramat yang diciptakan Sauron, tentu semua masih ingat tulisan yang ada di cincin itu.

The One Ring

The One Ring

Ash nazg durbatulûk, ash nazg gimbatul,
Ash nazg thrakatulûk agh burzum-ishi krimpatul.

One ring to rule them all, one ring to find them,
One ring to bring them all and in the darkness bind them.

Memang ini tidak terlalu banyak berhubungan dengan Bilbo sih tapi sebagai pembaca awam dan mengetahui bahwa tulisan dan bahasa Tengwar yang dibuat oleh Tolkien yang contohnya bisa dilihat di cincin The One Ring membuat saya merinding. Saya membaca sebuah masterpiece dunia. Buku yang tidak main-main dan adalah kehormatan tersendiri saya bisa membaca buku beliau. Ingin mengetahui huruf Tengwar secara lengkap? Bisa dibuka di sini.

J. R. R.Tolkien

J. R. R.Tolkien

John Ronald Reuel Tolkien lahir di Afrika Selatan tahun 1892, beliau adalah profesor yang mengajar di Leeds dan Oxford. Sejak usia muda beliau tertarik mendalami bahasa terutama Greek, Anglo Saxon, and later at Oxford, Finnish. Sejak meledaknya The Hobbit dan Lord f The Rings, beliau menyepi di Poole, istrinya meninggal tahun 1971 disusul oleh Tolkien 2 tahun kemudian.

Detail buku :

The Hobbit – J. R. R. Tolkien

348 halaman

Gramedia, Januari 2002

*menggos-menggos*

Kayanya sekian dulu curhatan saya mengenai The Hobbit, saatnya blogwalking, navaer!

*sok ngomong Sindarin, and it means,”Goodbye” 🙂

Character Thursday #6

Character ThursdayTaraaaaa!! Kamis lagiii, waktunya Character Thursdaynya Mbak Fanda.

The Hobbit - Gramedia

The Hobbit – Gramedia

Karakter saya sekarang sesuai dengan buku yang baru saja kelar dibaca demi baca bareng BBI bulan Agustus yang mengambil tema 1001 books you have to read before you die. Tokoh ini menjadi tokoh utama The Hobbit yang filmnya bakal tayang Desember mendatang. Sudah tau siapa dia kaaan? Bukan si gollum loh tapinya, melainkan Bilbo Baggins!

Bagi penggemar Lord of the Rings tidak hanya terfokus pada Aragorn dan Legolas kan yak? Hihi, padahal saya adalah fans berat Aragorn, hauhau apalagi gondrongnyah itu *plaak*. Hayuk balik ke Bilbo, siapa sangka cincin bertuah yang menjadi inti fellowship of the ring ini berawal dari petualangan Bilbo, dijabarkan secara detil oleh J. R. R. Tolkien di The Hobbit yang sejatinya adalah buku anak-anak yang cukup kental aroma petualangan dan fantasi.

John oops Bilbo Baggins

John oops Bilbo Baggins

Bilbo, hobbit yang senang bersantai sambil duduk manis ngeteh di sofa seketika berubah hidupnya saat dikunjungi oleh penyihir bijak Gandalf. Malahan penghuni rumahnya bertambah 13 orang kurcaci yang mengajaknya berpetualang merebut harta karun. Untuk Bilbo yang sejatinya adalah penggemar ketenangan, petualangan yang mengasyikkan bagi kurcaci malah menjadi bencana baginya. Kerjaannya bersungut-sungut setiap hari sambil memimpikan rumahnya yang hangat. Namun siapa sangka halangan dan rintangan yang dihadapai gerombolan ini tiap harinya hampir selalu ditolong oleh Bilbo.

Pembaca dapat melihat perubahan karakter Bilbo Baggins, from zero to hero, begitu kalimat yang sering saya dengar di televisi. Pahlawan tidak selalu gagah dan bertopeng, Bilbo yang biasa-biasa saja bisa menjadi penyelamat. Kecerdasannya dapat kita lihat saat ia berbalas-balasan dengan gollum yang licik dan akhirnya seperti yang kita ketahui, cincin ajaib berhasil ia rebut.

Penasaran dengan Bilbo, yuk kita intip trailer The Hobbit yang bakal tayang beberapa bulan lagi. Dan bagi penggemar serial Sherlock tentu tidak asing lagi dengan Martin Freeman yang di sini berperan sebagai Bilbo muda, sedangkan Bilbo tua masih tetap diperankan oleh Ian Holm.

Sekian cerita singkat Bilbo yang menjadi Character Thursday saya, saatnya blogwalking sekarang, ciao! 🙂

[Review] The Not-so Amazing Life of @aMrazing

Sebelum bercerita tentang buku #TNSALOA, cerita soal awal mulanya saya ngefans berat sama doi dulu gpp yak 😀

Berawal dari follow akunnya di twitter, kicauan khas Alexander Thian mulai mewarnai hari saya, kalau lagi bete atau lagi bosan menunggu pas ga baca buku yang saya klik di ‘go to user’ ya pasti @aMrazing 😀 Tweet-tweetnya itu RTable, ceplas ceplosnya bikin ngakak, tweet mellownya pengen klik jadi favorite mulu atau lebih seru lagi kalau doi berantem dengan fans beratnya penyanyi Indonesia berkaliber internasional itu :p

Tulisannya sebelumnya sudah pernah saya baca di kumpulan kisah The Journeys dan siapa sangka review The Journeys di blog ini dikomentarin langsung oleh @aMrazing. Akkk, senang!

Makanya saya yang jarang banget beli buku pre order, langsung sigap memesan buku The Not-so Amazing Life of @aMrazing! Tak butuh waktu lama untuk membaca habis buku #TNSALOA, sampai pacar saya bengong, kadang ketawa ngikik, eh sebentarnya berkaca-kaca.

#TNSALOA

#TNSALOA

#TNSALOA terbagi menjadi 14 cerita unik tentang pelanggan-pelanggan ajaib Alex saat ia memiliki konter HP.

1.  Bapak Yu jam ai jam yang ngotot pengen lagu My Heart Will Go Onnya Maria Kere.

2. Mbak-mbak bohay yang nyimpen kondom bekas Ona Sutra *kalau ga salah dulu @aMrazing pernah ngetwit soal Mbak ini deh*

3. Bapak pemilik HP yang punya nama Pelangi *perhatian baca bagian ini diharapkan di tempat sepi biar ga kliatan gila ngakak-ngakak ga jelas*

4. Dummy seharga 2 juta yang sukses membuat saya menitikkan air mata. Duh, apa kabar Rama sekarang ya?

5. Anak kecil kembaran Pretty Asmara yang bawaannya pengen nampol dan sedihnya sering kali saya jumpai anak macam begini sekarang.

6. Bab yang berjudul Amnesia Mendadak selain lucu juga berjasa menambah kosakata permisuhan saya. ‘sapi’ ‘sapi berkoreng’ ‘sapi budukan’ dan ‘sapi bersusu jumbo’ 😀

7. Kali ini kita melihat Alex yang apes kuadrat kena nafas bau neraka plus ‘digajahi’.

8. That awkward moment antara ibu berkonde tinggi dan ibu polos yang kebingungan softwarenya yang harus di’flash‘.

9. Takjub-takjub dengan kisah loper koran yang punya Nokia N70 plus selera musiknya juara. Tak hanya itu, saya juga belajar untuk tidak menilai dari luarnya saja, di jaman everybody judges everbody kita diingatkan kembali untuk mendalami arti ‘beauty is only skin deep‘. Touching!

10. Bapak dangdut terorejing, Alex kembali mengalami hari dengan pelanggan bernafas naga :p

11.Manajer masturbasi, kisahnya mirip-mirip pengalaman @vabyo di Kedai 1001 Mimpi hanya saja nama bapak ‘Kokcoli’ ini fenomenal! Dan beneran deh, bolak balik saya bingung kok bisa ya kejadian aneh-aneh selalu menyertai hidup Alex? Sudah ditakdirkan untuk buat buku selanjutnyakah? #kodebuatkohAlex

12. Pelanggan selanjutnya adalah khas tipe pejabat Indonesia bedanya yang ini pake Virtu bukan Vertu.

13. Preman jadi-jadian, another tragic day buat Alex dan menjadi hiburan buat pembaca 😀

14. Terakhir. Jujur itu Mahal yang saya tangkap sangat personal, terbukti quotenya yang dalem banget.

Sometimes, acceptance is the hardest thing to do. Not because we can’t, but because we just don’t want to. We hold on to things that are no longer there, because we’re not ready to go.

Ditutup dengan kalimat ‘Dan pada akhirnya, orang yang berbesar hati akan menertawakan kesalahannya sendiri tanpa beban’, 4 bintang untuk pelanggan-pelanggan fenomenal dan tulisan khas @aMrazing!

Kalau bisa diumpamakan sebagai penonton di penutup konser-konser artees, kali ini saya akan joget-joget sambil berkata, “We want more, we want more!” 🙂

Ditunggu buku selanjutnya ya Mas Alex or should i say Mas Gordon Levitt? :p

Bagi penggemar buku macam Kicau Kacaunya Indra Herlambang dan Kedai 1001 Mimpinya @vabyo, buku ini wajib baca, apalagi bagi follower-followernya. Belum pernah dengar tentang penulis, silahkan follow twitternya di @aMrazing dan tumblrnya  di amrazing007.tumblr.com.

Detail buku :

Pre order di @bukabuku

Judul : The Not – so Amazing Life of @aMrazing

Cetakan pertama, 2012, 218 halaman.

Gagas Media

[Review] Icy Sparks, the frog eyes girl

Icy Sparks, cukup sedemikian judul buku yang saya dapat secara kebetulan di book swap, covernya yang hanya memperlihatkan seorang gadis kecil dari belakang dan embel-embel Oprah’s Book Club sudah cukup membuat saya memilih buku ini, kesan dramanya terasa hanya dari covernya terlebih lagi saya sedang bosan dengan fantasi.

Icy Sparks

Icy Sparks

Icy Sparks sudah sempat saya bahas sedikit lewat Character Thursday beberapa waktu lalu namun di bawah tetap saya tampilkan sinopsis singkat via Goodreads.

Icy Sparks is the sad, funny and transcendent tale of a young girl growing up in the mountains of Eastern Kentucky during the 1950’s. Gwyn Hyman Rubio’s beautifully written first novel revolves around Icy Sparks, an unforgettable heroine in the tradition of Scout in To Kill a Mockingbird or Will Treed in Cold Sassy Tree. At the age of ten, Icy, a bright, curious child orphaned as a baby but raised by adoring grandparents, begins to have strange experiences. Try as she might, her “secrets”—verbal croaks, groans, and physical spasms—keep afflicting her. As an adult, she will find out she has Tourette’s Syndrome, a rare neurological disorder, but for years her behavior is the source of mystery, confusion, and deep humiliation.

Narrated by a grown up Icy, the book chronicles a difficult, but ultimately hilarious and heartwarming journey, from her first spasms to her self-acceptance as a young woman. Curious about life beyond the hills, talented, and energetic, Icy learns to cut through all barriers—physical, mental, and spiritual—in order to find community and acceptance.

Terbagi menjadi 3 bagian sesuai perjalanan hidup Icy. Bagian pertama saat Icy kecil, di mana ia belum mengerti ada apa dengan dirinya. Bagian kedua saat ia berada di institut dan bagian ketiga ketika Icy Sparks telah menjadi wanita dewasa. Terus terang bagian pertama adalah bagian yang paling miris karena menceritakan bagaimana teman-teman sekolahnya mengejek Icy dengan panggilan ‘frog eyes’ apalagi guru yang seharusnya membimbing murid malah sering kali memarahi Icy.

Banyak ciri-ciri dari Tourette’s syndrome dan yang dialami Icy saya cantumkan di bawah ini, saat ia berterus terang kepada Emily teman baik Icy mengenai sakitnya.

Sometimes my eyes pop out.

Then before I could think twice, the whole truth rushed from my mouth.

I can’t help it.

I’m popping and jerking and repeating all the time.

Duh. Jaman segitu belum terdeteksi sih ya 😦 Poor Icy. Ia dikucilkan sampai akhirnya dikirim ke institusi untuk menyembuhkan sakitnya. Masuk institusi masalah tetap berlanjut.

Sampai sini saya tidak akan bercerita panjang lebar, lebih enak jika dibaca sendiri, tidak rugi kok 🙂  Selain kita terlempar ke Amerika jaman dulu kental terasa lewat dialeknya yang sedikit berbeda dari novel kebanyakan, pembaca juga bisa mengetahui Tourette’s syndrome lebih jauh. Kita melihat perjuangan Icy Sparks sampai akhirnya ia bisa bersinar, walau kurang suka seperempat bagian akhir yang seakan dibuat-buat namun secara keseluruhan saya suka buku ini.

Sekilas mengenai Tourette’s : Tourette pernah dianggap sebagai sindrom langka dan aneh, paling sering dikaitkan dengan kata-kata seru cabul atau komentar sosial yang tidak pantas dan menghina (coprolalia). Namun, gejala ini hadir dalam hanya minoritas kecil orang dengan Tourette. Tourette tidak lagi dianggap suatu kondisi yang jarang, tetapi mungkin tidak selalu diidentifikasi dengan benar karena kebanyakan kasus diklasifikasikan sebagai ringan. Antara 1 dan 10 anak per 1.000 telah di Tourette, sebanyak 10 per 1.000 orang mungkin memiliki gangguan tic, dengan tics lebih umum dari mata berkedip, batuk, berdehem, mengendus, dan gerakan wajah. Orang dengan Tourette memiliki harapan hidup yang normal dan intelijen. Keparahan tics menurun bagi kebanyakan anak ketika mereka melalui masa remaja, dan ekstrim yang Tourette di masa dewasa adalah langka. Individu terkenal dengan Tourette ditemukan di semua bidang kehidupan. ( diambil dari http://www.news-medical.net)

Detail buku :

Icy Sparks

Pengarang : Gwyn Hyman Rubio

Penguin Books, 1999, 308 halaman.

 

Friday’s Recommendation #2

Jumaat! Waktunya ikutan meme blog dari Ren!

Friday's Recommendation

Friday’s Recommendation

Kebetulan saya masih berjibaku dengan seri ketiga Game of Thrones yang berjudul A Storm of Swords yang tebalnya lebih dari 1000 halaman, hahaaau, saya ingin merekomendasikan buku pertama yang keren banget!

A Game of Thrones.

Sekilas review dari Goodreads :

Long ago, in a time forgotten, a preternatural event threw the seasons out of balance. In a land where summers can last decades and winters a lifetime, trouble is brewing. The cold is returning, and in the frozen wastes to the north of Winterfell, sinister and supernatural forces are massing beyond the kingdom’s protective Wall. At the center of the conflict lie the Starks of Winterfell, a family as harsh and unyielding as the land they were born to. Sweeping from a land of brutal cold to a distant summertime kingdom of epicurean plenty, here is a tale of lords and ladies, soldiers and sorcerers, assassins and bastards, who come together in a time of grim omens.

Here an enigmatic band of warriors bear swords of no human metal; a tribe of fierce wildlings carry men off into madness; a cruel young dragon prince barters his sister to win back his throne; and a determined woman undertakes the most treacherous of journeys. Amid plots and counterplots, tragedy and betrayal, victory and terror, the fate of the Starks, their allies, and their enemies hangs perilously in the balance, as each endeavors to win that deadliest of conflicts: the game of thrones.

Book #1

Book #1

Buku setebal 807 halaman ini dulu sempat saya dengar akan diterjemahkan, tapi belum tahu lagi bagaimana kelanjutanya, yang jelas jangan cemas dengan ketebalannya. Dijamin ga bakal bosan. Intrik kerajaan, perpaduan antara romance, drama, tragedi bahkan magic bercampur baur di sini. Malas baca bukunya, coba dulu menonton serialnya yang sudah beredar 2 season.

Game of Thrones

Game of Thrones

Beberapa quote favorit saya dari buku pertama :

“A mind needs books as a sword needs a whetstone, if it is to keep its edge.”

“Never forget what you are, for surely the world will not. Make it your strength. Then it can never be your weakness. Armour yourself in it, and it will never be used to hurt you.”

Gimana? Keren kan? 🙂 *towel-towel penerbit lokal*

 

Character Thursday #5

Waktu cepat sekali berlalu, itu saya rasakan sejak ikut meme blog 😀 Lah kok sudah Kamis lagi, huwoh. Yuk tanpa basa basi mari memeriahkan Character Thursday dari Mbak Fanda.

Augustus Waters adalah nama dari karakter kelima yang akan saya bahas di sini, tokoh ciptaan John Green di buku terbarunya The Fault in Our Stars berhasil memikat saya dan ribuan pembaca lainnya melalui karakternya yang loveable. Terlebih lagi bahasa puitisnya yang sukses menjadi quote favorit di Goodreads maupun tumblr.

The Fault in Our Stars

The Fault in Our Stars

Augustus Waters adalah mantan penderita Osteosarkoma yang bergabung dalam sebuah support group atas desakan temannya Isaac, ndilalah di sana Augustus malah jatuh cinta dengan Hazel Grace. Dan dimulailah percakapan absurd sekaligus dialog-dialog memorable dari buku TFiOS.

Percakapan ini saat mereka baru saja bertemu, sudah bikin seneng kan bacanya? :p

“May I see you again?” he asked. There was an endearing nervousness in his voice.

I smiled. “Sure.”

“Tomorrow?” he asked.

“Patience, grasshopper,” I counseled. “You don’t want to seem overeager.

“Right, that’s why I said tomorrow,” he said. “I want to see you again tonight. But I’m willing to wait all night and much of tomorrow.” I rolled my eyes. “I’m serious,” he said.

“You don’t even know me,” I said. I grabbed the book from the center console. “How about I call you when I finish this?”

“But you don’t even have my phone number,” he said.

“I strongly suspect you wrote it in this book.”

He broke out into that goofy smile. “And you say we don’t know each other.”

Atau saat Augustus menyatakan cinta ke Hazel.

“I’m in love with you,” he said quietly.

“Augustus,” I said.

“I am,” he said. He was staring at me, and I could see the corners of his eyes crinkling. “I’m in love with you, and I’m not in the business of denying myself the simple pleasure of saying true things. I’m in love with you, and I know that love is just a shout into the void, and that oblivion is inevitable, and that we’re all doomed and that there will come a day when all our labor has been returned to dust, and I know the sun will swallow the only earth we’ll ever have, and I am in love with you.”

the thing about pain

the thing about pain

Woooh, gimana ga klepek-klepek coba nemu laki-laki macam Augustus, terlebih lagi di sana setiap anak penderita kanker diberikan kesempatan untuk mewujudkan impiannya dan yang dilakukan Augustus adalah memberikan kesempatan itu kepada Hazel untuk bertemu penulis idolanya karena Hazel dulu telah mewujudkan impiannya dengan pergi ke Disneyland. Sweet banget kan 🙂

Duh, wajib baca deh buku ini! Dan bayangan saya yang pas untuk memerankan karakter Augustus adalah jreng jreng jreng, berhubung masih dalam euforia film superhero jadi pilihan jatuh ke Andrew Garfield!

Andrew Garfield

Andrew Garfield

I just can't get enough. Ups, sorry. My bad :p

I just can’t get enough. Ups, sorry. My bad :p

Membuat postingan ini saya jadi pengen baca ulang *halaah* 🙂

Jadi, siapa karaktermu hari ini? Kabar-kabari yak, cheers!