[Review] Icy Sparks, the frog eyes girl

Icy Sparks, cukup sedemikian judul buku yang saya dapat secara kebetulan di book swap, covernya yang hanya memperlihatkan seorang gadis kecil dari belakang dan embel-embel Oprah’s Book Club sudah cukup membuat saya memilih buku ini, kesan dramanya terasa hanya dari covernya terlebih lagi saya sedang bosan dengan fantasi.

Icy Sparks

Icy Sparks

Icy Sparks sudah sempat saya bahas sedikit lewat Character Thursday beberapa waktu lalu namun di bawah tetap saya tampilkan sinopsis singkat via Goodreads.

Icy Sparks is the sad, funny and transcendent tale of a young girl growing up in the mountains of Eastern Kentucky during the 1950’s. Gwyn Hyman Rubio’s beautifully written first novel revolves around Icy Sparks, an unforgettable heroine in the tradition of Scout in To Kill a Mockingbird or Will Treed in Cold Sassy Tree. At the age of ten, Icy, a bright, curious child orphaned as a baby but raised by adoring grandparents, begins to have strange experiences. Try as she might, her “secrets”—verbal croaks, groans, and physical spasms—keep afflicting her. As an adult, she will find out she has Tourette’s Syndrome, a rare neurological disorder, but for years her behavior is the source of mystery, confusion, and deep humiliation.

Narrated by a grown up Icy, the book chronicles a difficult, but ultimately hilarious and heartwarming journey, from her first spasms to her self-acceptance as a young woman. Curious about life beyond the hills, talented, and energetic, Icy learns to cut through all barriers—physical, mental, and spiritual—in order to find community and acceptance.

Terbagi menjadi 3 bagian sesuai perjalanan hidup Icy. Bagian pertama saat Icy kecil, di mana ia belum mengerti ada apa dengan dirinya. Bagian kedua saat ia berada di institut dan bagian ketiga ketika Icy Sparks telah menjadi wanita dewasa. Terus terang bagian pertama adalah bagian yang paling miris karena menceritakan bagaimana teman-teman sekolahnya mengejek Icy dengan panggilan ‘frog eyes’ apalagi guru yang seharusnya membimbing murid malah sering kali memarahi Icy.

Banyak ciri-ciri dari Tourette’s syndrome dan yang dialami Icy saya cantumkan di bawah ini, saat ia berterus terang kepada Emily teman baik Icy mengenai sakitnya.

Sometimes my eyes pop out.

Then before I could think twice, the whole truth rushed from my mouth.

I can’t help it.

I’m popping and jerking and repeating all the time.

Duh. Jaman segitu belum terdeteksi sih ya😦 Poor Icy. Ia dikucilkan sampai akhirnya dikirim ke institusi untuk menyembuhkan sakitnya. Masuk institusi masalah tetap berlanjut.

Sampai sini saya tidak akan bercerita panjang lebar, lebih enak jika dibaca sendiri, tidak rugi kok :)  Selain kita terlempar ke Amerika jaman dulu kental terasa lewat dialeknya yang sedikit berbeda dari novel kebanyakan, pembaca juga bisa mengetahui Tourette’s syndrome lebih jauh. Kita melihat perjuangan Icy Sparks sampai akhirnya ia bisa bersinar, walau kurang suka seperempat bagian akhir yang seakan dibuat-buat namun secara keseluruhan saya suka buku ini.

Sekilas mengenai Tourette’s : Tourette pernah dianggap sebagai sindrom langka dan aneh, paling sering dikaitkan dengan kata-kata seru cabul atau komentar sosial yang tidak pantas dan menghina (coprolalia). Namun, gejala ini hadir dalam hanya minoritas kecil orang dengan Tourette. Tourette tidak lagi dianggap suatu kondisi yang jarang, tetapi mungkin tidak selalu diidentifikasi dengan benar karena kebanyakan kasus diklasifikasikan sebagai ringan. Antara 1 dan 10 anak per 1.000 telah di Tourette, sebanyak 10 per 1.000 orang mungkin memiliki gangguan tic, dengan tics lebih umum dari mata berkedip, batuk, berdehem, mengendus, dan gerakan wajah. Orang dengan Tourette memiliki harapan hidup yang normal dan intelijen. Keparahan tics menurun bagi kebanyakan anak ketika mereka melalui masa remaja, dan ekstrim yang Tourette di masa dewasa adalah langka. Individu terkenal dengan Tourette ditemukan di semua bidang kehidupan. ( diambil dari http://www.news-medical.net)

Detail buku :

Icy Sparks

Pengarang : Gwyn Hyman Rubio

Penguin Books, 1999, 308 halaman.

 

6 thoughts on “[Review] Icy Sparks, the frog eyes girl

  1. helvry says:

    theme blognya apik rek #abaikan
    kalau neurological disorder, berarti ada hubungannya dengan syaraf ya kak? apa hubungannya dengan mata kodok ya?
    mohon pencerahan🙂

  2. miamembaca says:

    hihi habis diprotes Mbak Fanda yang kemarin kekecilan Bang Helvryyy :p

    He eh, ini berhubungan dengan saraf Bang, banyak manifestasinya Tourette dan yang dialami Icy ini yang matanya melotot, jadi mirip mata kodok, ia juga kalau kumat bisa yang ‘misuh-misuh’ ga berhenti.

  3. carolinezenia says:

    Tourette Syndrom sepertinya agak jarang (atau malah tidak ada?) di Indonesia. Kalau tic(s) mungkin lebih sering kita temui. AKu yang pasti sih pernah ketemu orang yang memiliki tics. Yang ngeliat aja capek, apalagi yang emang ngalamin sendiri, ya? Mungkin yang agak mendekati dengan Tourette Syndrom di Indonesia adalah latah. Cuma bedanya, kalo latah seringkali muncul pada saat orang tersebut dikagetin atau terkaget sendiri, tapi respon yang muncul (latah) kurang lebih mirip dengan apa yang dilakukan oleh mereka penderita Tourette Syndrom.

    Gak perlu baca bukunya, udah kebayang betapa kasian dan susahnya hidup Icy. Hidup di jaman masyarakat belum mengenal dan mengetahui soal Tourette Syndrom.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s