[Review] 50 Shades of you-know-who.

*bengong selama 10 menit*

Heuuh, bingung dong mau tulis review macam gimana *perseteruan antara inner goddess dan subconscious*.

Okeh deh, sepertinya saya ga bakal nulis review panjang-panjang karena semua pasti sudah tahu perihal Anastasia Steele dan Christian Grey kan ya? No? Yeslah yaa, secara buku ini sedemikian hebohnya bahkan mengalahkan penjualan Harry Potter! (correct me if i’m wrong, lagi malas browsing).

Saya ini tipe yang rada nyinyir soal buku, jadi kadang kalau sudah tahu itu buku bukan selera seseorang dan seseorang itu tetep baca, my inner goddess will say, ” Udah tau ga suka, lah kok masih baca?”. Nah sekarang balik ke saya, sudah jelas-jelas bukan penikmat roman apalagi jenis kelas berat macam begini kok masih berani coba, hayo? Salah siapa? Dan kali ini subconscious saya menang, keingintahuan mengalahkan suara si inner goddess *inner goddess batal joget gangnam*. Yes, i want to know how great Christian Grey is. Terlebih lagi ada yang bersedia meminjamkan bukunya pada saya, mengapa tidak dicoba? Walau sebelum baca saya sudah wanti-wanti, jangan ngomel melulu, jangan komplen dan siapkan pikiran selayaknya target pembaca yang diharapkan oleh E. L. James aka mommy of porn? *rollineyes*.

Fifty Shades of Grey

Fifty Shades of Grey

Sinopsis yang saya ambil dari Goodreads :

When literature student Anastasia Steele goes to interview young entrepreneur Christian Grey, she encounters a man who is beautiful, brilliant, and intimidating. The unworldly, innocent Ana is startled to realize she wants this man and, despite his enigmatic reserve, finds she is desperate to get close to him. Unable to resist Ana’s quiet beauty, wit, and independent spirit, Grey admits he wants her, too—but on his own terms.

Shocked yet thrilled by Grey’s singular erotic tastes, Ana hesitates. For all the trappings of success—his multinational businesses, his vast wealth, his loving family—Grey is a man tormented by demons and consumed by the need to control. When the couple embarks on a daring, passionately physical affair, Ana discovers Christian Grey’s secrets and explores her own dark desires.

Erotic, amusing, and deeply moving, the Fifty Shades Trilogy is a tale that will obsess you, possess you, and stay with you forever.

Ok, kalau saya membaca buku ini saat usia 17 atau 20 tahun, bisa jadi saya tergila-gila dengan Christian Grey. Kaya, ganteng, uang tak terbatas, penyayang *eeeek, penyayang?* semua itu bisa menutupi kekurangannya yaitu posesif dan sifatnya yang dominan di *uhuk* tempat tidur. Kehidupannya di ranjang tak jauh dari hubungan BDSM, bagi yang belum jelas soal BDSM bisa cek di google dan tidak, saya tidak akan membelikan kalian satu buah MacBook Pro untuk itu😀

Ana, gadis belia polos, 21 tahun, layaknya gadis kebanyakan yang terkadang tidak pede dengan dirinya sendiri, slebor, yah mirip dengan tokoh-tokoh yang diciptakan oleh Sophie Kinsella yang mungkin sedikit tidaknya mirip dengan saya atau dengan kita semua, bisa jadi karena itu juga 50 shades laku keras, ada Ana dalam setiap diri kita.

Gimana ga klepek-klepek jikalau laki-laki gagah perkasa adi kuasa sakti mandraguna *eeeh* bertekuk lutut di hadapan gadis yang biasa-biasa saja? Macam Edward Cullen dengan si Isabella Swanlah. Apa hebatnya sampai drakula dan manusia serigala bisa mati-matian naksir perempuan tanpa ekspresi dari Forks? Hanya Stephenie Meyer dan E. L. James yang tahu.

Kembali ke 50 shades, jadi setelah membaca wajar saja jika trilogi ini meledak di mana-mana. Adegan ranjang yang lumayan vulgar pun masih bisa diterima oleh banyak pembaca, tapi terus terang beberapa adegan saya skip karena selain tidak bisa membayangkan bagaimana bentuk alat dan cara kerjanya, serem sendiri >.<

Beberapa hal yang mengganggu saat saya membaca 50 Shades :

1. Penulisan repetitif. Gaya bahasanya ini bolak balik membuat saya melakukan rolling eyes dan untungnya tidak ada Christian Grey deket-deket saya, yang sudah baca pasti mengerti :p

Crap, holy crap, double crap, triple crap. Errr. Dan masih banyak kata-kata lainnya yang mungkin di beberapa reviewer di Goodreads yang menghitung pengulangan beberapa kata, aduh saya makasih aja deh.

2. Saya mengerti dengan keluguan Ana, tapi satu yang saya tidak bisa terima dari penulis, sadarkah ia dengan yang ia tulis ini mempengaruhi banyak pembaca? Apalagi pembaca muda? Aduh yang masih muda-muda mending jangan baca buku ini ya!! Editornya mana? Adegan menggunakan sikat gigi bareng itu NGGAK BANGET.

Bukan karena saya dokter gigi saya ‘komplen’ bagian Ana menggosok gigi menggunakan sikat gigi kepunyaan Christian. Beneran deh, apakah penulis sendiri juga sikat gigi menggunakan sikat gigi pasangannya? haduh haduh dan bisa-bisanya dianggap thrilling oleh Ana. Thrilling? Yang bener aja.

3. Ini bukan pertama kalinya saya membaca buku roman dan masih banyak cara untuk menunjukkan bahwa Christian Grey adalah seorang laki-laki dominan, tapi TIDAK dengan bercinta dengan perempuan pada saat datang bulan.

Yuck.

Adegan BDSM dan segala jenis kontraknya masih bisa dimaklumi, tapi tidak untuk yang ini.

There I said it.

Fiuh.

Di twitter @anadudunk sempat bertanya apakah saya akan melanjutkan buku keduanya atau tidak, tidak, saya tidak berniat melanjutkan membaca buku selanjutnya tapi saya masih ingin tahu kisah akhir Ana dan Grey, mereka tetap lanjutkah? Feeling saya sih lanjut, ada yang berniat membocorkan kisah mereka? :p

Sebelum review ini saya sudahi, subconscious saya mau bicara terkait dengan apa kira-kira yang membuat buku 50 shades laris di mana-mana :

1. Cover yang minimalis dan modern. Coba bandingkan dengan cover historical romance macam perempuan kadang tanpa wajah berdiri di tengah kebun atau wanita berdada aduhai di pelukan pria kekar macam Ridho Rhoma tanpa bulu #eeeeh, oh atau postur pria berdada bidang tanpa wajah macam iklan pakaian dalam pria *maaf para penggemar romance*.

Noooh, got my point?

Noooh, got my point?

See??? :p

See??? :p

Where are you, Mr.Grey?

Where are you, Mr.Grey?

2. Kisah cinta klasik senantiasa hidup tak lekang masa. Aih bahasanyaaa si mia bawah sadar. Apa yang membuat Twilight dihina sekaligus dipuja puji? Tak beda dengan hubungan Ana – Grey. Kita semua senang dengan kisah yang menye-menye, Grey ternyata berhasil jatuh cinta dengan perempuan biasa, roman picisan kalau kata inner goddess saya, toh masih tetap laku bukan?

3. Seperti yang saya bilang di atas, ada sosok Ana dalam setiap kita. Saat membaca kontrak perihal urusan ranjang yang nyeleneh, Ana penasaran tapi sekaligus takut. Manusiawi kok, kita semua punya rasa ingin tahu, saya pun demikian saat memutuskan membaca 50 shades. Benar tidaknya perilaku BDSM mungkin bukan saya yang berhak memutuskan. Hanya satu pesan saya siapkan mental saat membacanya, jikalau tidak sreg, ya mending tidak usah dilanjutkan.

*tendang subconscious dan inner goddess*

Sekian review dari saya, mudah-mudahan berkenan bagi yang menanti-nanti *halaah*. Yuk ah! *dadah-dadah pake pecut* #lhooo

Oia, di bawah ini saya tambahkan link saat Ellen mencoba membaca buku 50 Shades of Grey, lucu banget, beneran😀

Dan cekidot cover Entertainment Weekly, keren sih menurut saya🙂

50 in EW

50 in EW

Detail buku :

Judul : Fifty Shades of Grey

Pengarang : E L James

Vintage Books, April 2012, 514 pages.

21 thoughts on “[Review] 50 Shades of you-know-who.

  1. putripwu says:

    Review yang sempurna untuk yang jarang membaca buku romance apalagi buku kipas…

    Salut sama “keberanian” Mia untuk memulai dan menyelesaikan buku ini. Aku sendiri entah kapan selesainya… :p

  2. ana says:

    wakakkakakka.. miaaa kocak banget reviewnya….. duh ngga bisa berkata-kata lagi…. >,<
    emang adegan ranjangnya itu menyebalkan sekali.. kaya di tiap halaman ada… emangnya mereka ngga bisa ya sedetika aja berhenti melakukan itu -___- *udah lah ngga usah dibahas*
    Yang pasti, aku setuju… harusnya jangan sampai buku2 macam begini ini dibaca oleh yang masih muda-muda.. soalnya, sekali penasaran BDSM itu seperti apa, penasaran itu akan terus berlanjut………….

    • miamembaca says:

      He eh, bener na, ga kebayang kalau yang muda-muda baca begini, bisa-bisa mereka mengidolakan cowo ala Grey dan lama-lama meng-OK-kan tindakan kontrak macam begini, hadeeh.

  3. kutubokek says:

    wakakaka, ngakak ak baca reviewnya apalagi pas bagian “Hanya Stephenie Meyer dan E. L. James yang tahu” dan cover buku romance tanpa bulu Ridho Roma =)), mungkin benar analisa kamu mia kenapa buku seperti ini laku keras, si miskin dan si kaya🙂

  4. daneeollie says:

    hahaha, sulis kn ngefens sma karya yg dsibutkan mia dari dua pengarang tsb😀

    well, kalo nanyain editor buku ini…entahlah mreka ad dmana…soalnya yg bikin kaget ni buku mledak n laris manis dmana2… *die*

      • erdeaka says:

        hhmmm sejauh ini sih belum, habisnya kakakku dah baca & aku dah tau ceritanya dari dia. model2 ceritanya cuma kayak kisah cinta “anak TK” cuma dibumbuhi hal2 yg ndak2 gitu… jadi ga minat. mending baca romance lainnya yg ceritanya lebih “berbobot” hahahahaha

  5. ayyash92 says:

    Hai Kak Mia salam kenal.

    Saya telat wihiii,
    Baru tahu ada buku itu tahun ini. Ketahuan nggak update atau krn masih kecil. Waks! Yah di toko buku sudah dibungkus 3 series lengkap. Menggunung di pintu masuk dan (hanya mengintip harganya) yang waow.
    Di sudut lain ada box 5buku GoT dg harga yang waow juga, yang kayaknya lebih worth buat dibaca dg seluruh lika-liku politik keras dan super kotoR.

    Ehm, curious saya hanya sanggup mengantar untuk cari tahu review si grey ini. Akhirnya memutuskan untuk tak membaca, apalagi beli. Oh eh😀

    Thanks buat reviwnya, Kak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s