[Review] The Various Flavours of Coffee – Anthony Capella

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu tiba! Posting bareng BBI pertama tahun 2013. Yay! Serunya lagi kali ini temanya adalah Secret Santa. Dan saya masih ragu-ragu siapa pengirim buku setebal 677 halaman ini >.<

The Various Flavours of Coffee

The Various Flavours of Coffee

Ya, buku hadiah dari Secret Santa saya adalah The Various Flavours of Coffe karangan Anthony Capella yang sebelumnya menuliskan beberapa buku yang kental dengan eksotisme makanan.

Sinopsis :

Dengan secangkir kopi, hidup Robert Wallis berubah. Penyair amatir itu tengah duduk di kedai kopi di London merenungi masa depannya yang suram ketika Samuel Pinker menghampirinya. Ternyata si pemilik Castle Coffee menawarkan satu hal yang sangat diharapkan pemuda itu: pekerjaan.

Robert bertugas menyusun daftar “kosakata kopi” berdasarkan cita rasa dan aroma kopi, pekerjaan yang menjadi awal petualangan Robert menemukan manis pahit kehidupan. Adalah putri Pinker yang membuat Robert jatuh cinta dan sadar bahwa ia tidak mungkin membangkitkan satu indra tanpa membangunkan indra-indra lain.

Sayang cinta mereka diuji saat Robert mesti bertolak ke Afrika. Di sana Robert bertemu Fikre yang melayaninya dalam upacara minum kopi khas Abyssinia tradisional. Dan ketika Fikre, budak seorang saudagar, dengan berani menyelipkan sebiji kopi ke tangan Robert, misteri kopi dan cinta terlarang berbaur dan mengubah… sejarah dan takdir.

From the internationally bestselling author of The Wedding Officer comes a novel whose stunning blend of exotic adventure and erotic passion will intoxicate every reader who tastes of its remarkable delights.

fave cover kedua setelah versi gramedia

fave cover kedua setelah versi gramedia

Kutipan di atas pas banget mewakili isi dari buku yang diterjemahkan dengan judul Rasa Cinta dalam Kopi ini. Kita tidak hanya ikut serta dalam petualangan mencari cinta seorang laki-laki genit yang bernama Robert Wallis, pembaca bahkan mendapat pengetahuan baru mengenai sejarah kopi dan karakter kopi yang berbeda-beda. Mirip manusia saja, beda tempat beda karakter.

“Rasanya seperti lumpur. Dengan sedikit sisa rasa samar-samar dari buah aprikot busuk.”

Siapa sangka berkat omelan Robert Wallis soal kopi yang ia minum kepada pelayan di Cafe Royal membuka perkenalannya dengan seorang saudagar kopi bernama Samuel Pinker. Pinker tertarik dengan kepiawaian Robert mendefinisikan rasa secangkir kopi, tak butuh waktu lama akhirnya Robert mengiyakan ajakan Pinker.

Sebagai penikmat kopi instan dan sesekali menyesap kopi di beberapa kedai kopi, saya merasa tidak ada apa-apanya dibanding Robert yang sedemikian ‘unik’ menguraikan harum secangkir kopi.

Seperti pada halaman 35 :

“Rasanya tidak tajam. Seperti handuk basah.”

atau

“Baunya seperti —- karpet lama!”

atau juga

“Sekepul roti bakar gosong”

Haha, coba kopi macam apa pula yang Robert cicipi? Entah memang sedemikian rasanya atau lidah awam saya tidak peka dengan cita rasa kopi?

Robert memilah dan menerjemahkan rasa berbagai jenis biji kopi dari Sumatra, Srilanka, Arab, Jamaika bersama anak gadis Pinker, Emily Pinker. Dasarnya Robert adalah pria flamboyan maka Emily pun tak luput dari godaannya. Walau awalnya jual mahal, akhirnya Emily jatuh juga ke pelukan Robert.

Ayah Emily, Mr. Pinker akan merestui hubungan mereka jika Robert berhasil memberikan mahar sebanyak seribu pound. Dengan cara pergi ke Afrika, membuka lahan baru seluas lima puluh ribu acre. Seukuran London!

Namanya memang laki-laki flamboyan, di Afrika Robert malah jatuh cinta dengan seorang budak bernama Fikre. Duh, beneran saat baca buku ini bolak balik Robert pengen saya sembur dengan kopi panas. Genitnya ini ga ketulungan! Memang sih di Afrika banyak masalah yang akan menimpanya yang membuat Robert jatuh bangun dan mau tak mau pembaca akan bersimpati padanya, tapi  tetep saja saya gemes duluan dengan karakter Robert.

The Various Flavours tidak hanya berkisah seputaran kisah cinta Robert, sebagai pembaca indera penglihatan dan penciuman kita dimanjakan dengan penuturan kopi oleh Anthony Capella, sampai bolak balik saya ikutan minum kopi untuk merasakan sensasi eksotisme yang begitu kental di buku ini. Sayangnya tetap saja yang berasa cuma krimer dan gula😀

The Various Flavours merupakan fiksi historikal yang mengambil setting London di akhir tahun 1900an di saat marak isu penjajahan, perbudakan, kental dengan teori ekonomi dan perdagangan. Puas kok bacanya, hanya saja tetap 3 bintang yang saya karena sudah sebel duluan dengan Robert😄.

Terima kasih my dearest Santa.

Di detik-detik terakhir saya memutuskan bahwa secret santa saya : jreng jreng jreng …… Om Rahib! aka @htanzil. Kenapa? Karena ada kalimat the old one with H. Benar tidaknya mari ditunggu komentarnya saja :p

Saatnya blogwalking! Dan ah ya, sudahkah minum kopi hari ini?

images

25 thoughts on “[Review] The Various Flavours of Coffee – Anthony Capella

  1. riana says:

    aku tak kunjung tamat baca buku ini, mungkin karena aku bukan peminum kopi tapi pecinta teh, halah…*cari-cari alasan karena makin rajin beli buku tapi makin lambat membacanya*😀

  2. astrid.lim says:

    wah seru, seruuuu tunggu pengakuan sang santa =D btw aku jadi penasaran sama bukunya mi, kayaknya terjemahannya juga kena ya…keren.

    • miamembaca says:

      Terjemahannya bagus trid! Dan si Anthony ini kalau nulis adegan ranjang bisa puitiiis gitu dan diterjemahkan dengan apik, tapi ga enak sendiri mencantumkan adegannya, hihi.

  3. asdewi says:

    Kebayang klo aku yg baca buku ini bakal bimbang antara ngiler pengen ngopi, tapi lambung perih bayangin skit maag yg bakal kambuh klo nekat nyicip kopi.

    Btw hayoooo…Santa nya Mbak Mia siapa tuh?

  4. Maria says:

    lho saman sama mbak Vina donk, nah siapa yg benar nih😀
    widih, ini buku tuebel banget, aq blm smpt baca, bgs kyknya ya, klo bagus aq pengen cari buku2nya yg lain hehe, temanya selalu seputar ‘foodie’

  5. htanzil says:

    yakin nih kalau santanya aku? :))
    terlepas buku ini dari aku dan bukan aku suka banget sama kopi, aromanya itu bikin aku terbuai.
    tapi aku gak boleh banyak2 minum kopi karena faktor usia…waduh sok jadi tua ya… wkwkwk…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s