[Review] The Light Between Oceans – M. L. Stedman

Hola! Begini deh penyakit orang sok sibuk, blog terbengkalai berbulan-bulan, kalau tidak digerakkan oleh buku berbintang lima bisa jadi blog ini tidak tersentuh. Jadi, buku siapakah gerangan yang sanggup merontokkan kemalasan saya? Tidak lain tidak bukan adalah The Light Between Oceans, buku terbaik tahun 2012 versi Goodreads.

Image

Tom Sherbourne, released from the horrors of the First World War, is now a lighthouse keeper, cocooned on a remote island with his young wife Izzy, who is content in everything but her failure to have a child.

One April morning, a boat washes ashore carrying a dead man – and a crying baby. Safe from the real world, Tom and Izzy break the rules and follow their hearts.

It is a decision with devastating consequences.

This is a story about right and wrong and how sometimes they look the same.

Stedman menggiring pembaca untuk melihat kisah Tom – Izzy dari beberapa sudut pandang, sehingga tagline yang dipakai The Light Between Oceans di atas sangat pas untuk buku ini. Tom, seorang pria yang digambarkan sangat polos namun memendam banyak kepahitan, hidupnya menjadi berwarna sejak menikah dengan Isabel. Mereka hidup bahagia walau di tempat terpencil, di Janus Rock sembari Tom menjadi penjaga mercusuar. Namun kebahagiaan mereka terkikis perlahan seiring dengan keguguran demi keguguran yang dialami Isabel.

Dan out of the blue, di suatu hari Tom dan Isabel mendapati sekoci yang berisi 2 penumpang, seorang pria yang telah meninggal dan bayi perempuan. Bayi. Perempuan! Isabel yang baru beberapa saat lalu keguguran ternyata mampu menyusui. Awalnya hanya demi menyelamatkan bayi dari hipotermia, namun siapa yang bisa menandingi kebahagian wanita menggendong bayi? Isabel merasa utuh sebagai manusia dan menganggap bayi ini adalah hadiah dari Tuhan, ia berkeras ingin mempertahankan walau Tom masih ragu-ragu, namun demi Isabel akhirnya Tom menguburkan laki-laki tak dikenal itu.

Lucy, nama yang mereka berikan untuk sang bayi. Lucy, kehadirannya mengubah segalanya.

Di sisi kota yang lain, Hannah Roennfelt masih berusaha mencari kabar suami dan anaknya yang hilang. Sampai suatu ketika Tom dan Isabel malah bertemu langsung dengan Hannah. Kesedihan, kebingungan, wajah tirus dan mata kosong menghantui Tom. Akankah ia mengakui kesalahan yang ia lakukan beberapa waktu lalu? Walau itu artinya mengorbankan kebahagiaan Isabel atau lebih lagi membahayakan mereka keselamatan mereka berdua?

What happens next will break your heart.

Dijamin.

Saya tidak akan memperpanjang review di atas karena tentunya akan mengganggu kenikmatan membaca. Yang jelas saya mengerti kenapa The Light Between Oceans menjadi buku pilihan pembaca, semua tampak abu-abu di sini, benarkah? Salahkah? Anda sendiri yang menilai dan saya di sini sebagai pembaca yang belum merasakan jadi ibu pun terenyuh melihat pergumulan Isabel dan Hannah. Kekosongan hati Hannah, kegalauan Tom, keputusasaan Isabel diangkat dengan baik oleh Stedman, bahasanya yang puitis dan nyata sukses membius saya.

Seperti kalimat di bawah ini :

“When he wakes sometimes from dark dreams of broken cradles, and compasses without bearings, he pushes the unease down, lets the daylight contradict it. And isolation lulls him with the music of the lie.”
 
atau ini :
 
“Humans withdraw to their homes, and surrender the night to the creatures that own it: the crickets, the owls, the snakes. A world that hasn’t changed for hundreds of thousands of years wakes up, and carries on as if the daylight and the humans and the changes to the landscape have all been an illusion.”
 
Kabar terbaru menurut THR, TLBO akan segera diangkat ke layar lebar. Can’t wait!

4 thoughts on “[Review] The Light Between Oceans – M. L. Stedman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s