Don’t Call Me Ishmael – Michael Gerard Bauer

Buku pertama yang saya baca tahun ini, judul dan 2 badge award yang tertera di cover menjadi alasannya. Mirip-mirip dengan Diary of A Wimpy Kid, Don’t Call Me Ishmael menceritakan suka duka sekolah seorang anak korban bully gara-gara namanya, Ishmael Leseur.

Don't Calll Me Ishmael

Don’t Calll Me Ishmael

There’s no easy way to put this, so I’ll say it straight out. It’s time I faced up to the truth. I’m fourteen years old and I have Ishmael Leseur’s Syndrome. There is no cure. And there is no instant cure to not fitting in.

But that won’t stop Ishmael and his intrepid band of misfits from taking on bullies, bugs, babes, the Beatles, debating, and the great white whale in the toughest, the weirdest, the most embarrassingly awful and the best year of their lives.

Jadi si tokoh utama kita di sini menjadi korban bully dari Barry Bagsley karena namanya yang aneh. Padahal nama Ishmael diambil dari buku Moby Dick dan menariknya setiap memulai bab baru penulis menyertakan quote dari Moby Dick. Seperempat buku di sini kita akan melihat perjuangan Ishmael, kekikukannya di sekolah, kenakalan Barry dan teman-temannya. So far so good, sampai datanglah anak baru bernama James Scobie yang tampilan fisiknya ajaib, kecil klimis dan tentu saja menjadi sasaran bully baru bagi Barry.

Namun yang terjadi malah sebaliknya, James sama sekali tidak takut dengan Barry, sehingga dibuatlah satu kejadian yang menhebohkan satu sekolah namun James tetap tenang saja. Alasannya ia tidak punya rasa takut. Arek kecil keminthil gini, tidak punya rasa takut, jangankan Barry saya yang baca aja terbengong-bengong dengan tingkah lakunya.

Buku ini nyaris mendapat bintang 4 jika saja dieksekusi dengan baik di akhir. Goalnya memang bagaimana James, Ishmael dan teman-temannya ikut dalam kompetisi debat. Hampir mirip dengan Wonder dan juga Will Grayson Will Grayson endingnya, hanya saja penulis membuat James Scobie yang seharusnya menjadi tokoh tambahan malah menjadi tokoh favorit saya dan nasib akhirnya tidak jelas sangat saya sayangkan. Mungkin untuk mencegah spoiler saya tidak menegaskan apa yang kurang di akhir kisah, hanya saja membaca Don’t Call Me Ishamel ini layaknya senikmat makan seporsi nasi padang lengkap dengan rendang paru, tapi diakhiri dengan minum es teh sisa kemarin malam. Kenikmatannya tidak tuntas.

Still not enough?

Still not enough?

Don’t Call Me Ishmael masuk nominasi dalam shorlisted dalam  Children’s Book Council od Autralia kategori Book of the Year 2007. Bagi yang masih penasaran dengan Ishmael ternyata kisahnya masih berlanjut dan ada panduan bagi guru juga lho kalau mau murid-muridnya membaca buku ini di sini.

5 thoughts on “Don’t Call Me Ishmael – Michael Gerard Bauer

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s