2012 · BBI · classic · drama · historical · touch of Asia

[Review] The Good Earth – Pearl S. Buck #postingbareng

Though more than sixty years have passed since this remarkable novel won the Pulitzer Prize, it has retained its popularity and become one of the great modern classics. “I can only write what I know, and I know nothing but China, having always lived there,” wrote Pearl Buck.

Haihai! Postingan kali ini dibuat dalam rangka baca bareng BBI, setelah ikutan listopia 1001 books that you should read before you die, kali ini teman-teman BBI sepakat untuk menjajal penulis Nobel untuk posting bareng. Setelah ditimbang-timbang saya memilih Pearl S. Buck yang kebetulan saya suka dan lagi buku The Good Earth yang tergeletak merana semenjana ingin dibaca. *tsah* Saya tidak salah pilih! Walau buku ini baru kelar jam 1 subuh tadi, 5 bintang untuk Wang Lung dan Pearl S. Buck tentunya. Berhubung ini review dibuat mepet sumepet langsung saja yuk kita time travel ke dataran Cina tahun 1920an awal eh apa 1930an ya, yang jelas sebelum meletusnya perang dunia kedua.

First Edition
First Edition

The Good Earth berkisah tentang jatuh bangun seorang petani miskin bernama Wang Lung, ia hidup bersama ayahnya. Di awal buku kita juga mengetahui Wang menikah dengan budak yang bekerja di rumah keluarga kaya bernama O Lan. Namanya budak tentu saja yang Wang dapatkan adalah seorang gadis berwajah biasa saja, kaki yang tidak diikat namun kelebihannya O Lan adalah wanita pekerja keras dan pintar masak. Wang Lung bekerja mati-matian untuk menghidupi ayahnya yang semakin tua apalagi ketika didengarnya O Lan mengandung.

“Wang Lung sat smoking, thinking of the silver as it had lain upon the table. It had come out of the earth, this silver, out of the earth that he ploughed and turned and spent himself upon. He took his life from the earth; drop by drop by his sweat he wrung food from it and from the food, silver. Each time before this that he had taken the silver out to give to anyone, it had been like taking a piece of his life and giving it to someone carelessly. But not for the first time, such giving was not pain. He saw, not the silver in the alien hand of a merchant in the town; he saw the silver transmuted into something worth even more than life itself – clothes upon the body of his son.”

Sebelum lanjut quote di atas sengaja saya cantumkan, walau tidak dengan bahasa berbunga-bunga, Pearl S. Buck dengan pas menyiratkan makna tanah dan anak dari Wang Lung, apalagi kalau membaca langsung bukunya, ah saya merasa malu dengan hidup saya yang sedemikian pemalasnya dibanding dengan Wang Lung yang begitu mencintai tanahnya, terus bekerja tanpa henti.

Tahun terus berlalu, kelaparan hebat melanda Cina tapi Wang Lung sekeluarga mampu melewatinya setelah mengungsi, Wang tidak bertahan lama di tempatnya yang baru karena ia terus memikirkan tanahnya. Setelah dirasanya memiliki uang yang cukup ia kembali ke desa dan bekerja lebih giat lagi. Kaya dan semakin kaya. Akhirnya Wang Lung berhasil menabung keping perak dan emas dalam jumlah yang banyak.

Wang Lung tetap ingin lebih kaya lagi dan repotnya ia terperosok di tempat yang sangat wajar ketika pria sedang di puncak kejayaan. Wanita. Petani lugu sudah tidak ada lagi, Wang mulai mampir ke rumah bordil dan jatuh hati dengan perempuan berkulit halus, kaki mungil, mata besar macam buah aprikot bernama Lotus.

Sampai di sini cerita mulai semakin menarik dan untuk selanjutnya lebih enak jika dibaca sendiri *alesanwaktupostingmakinmepet* :p Selain saya tidak ingin menebar spoiler sensasi membaca karya Pearl S. Buck itu harus dinikmati pelan-pelan. Jangan harap ada klimaks yang membuat jantung kita berdebar-debar atau gemes pengen mites akan satu tokoh. Semua dibeberkan pelan, pelan dan pelan, itu juga sebabnya waktu yang saya butuhkan untuk membaca bagian awal sampai tengah juga tersendat-sendat. Tapi kita seakan ikut menjadi saksi hidup kehidupan Cina jaman itu, bagaimana saat kelaparan melanda, betapa timpangnya harga laki-laki dan perempuan dan ikut terbuai saat bau candu menguar di rumah keluarga kaya.

Sampai akhir buku pertama saya sendiri tidak menyangka akan memberikan bintang lima, tapi perasaan hangat dan kisah yang sedikit menggantung meninggalkan bekas yang dalam di hati. Jelas-jelas The Good Earth adalah salah satu dari 10 buku terbaik yang saya baca untuk tahun ini.

Bumi yang Subur
Bumi yang Subur

The Good Earth adalah buku pertama dari trilogi House of Earth, buku kedua dan ketiga sudah diterjemahkan oleh Gramedia dengan judul Wang si Macan selanjutnya disusul dengan Runtuhnya Dinasti Wang. Mau saya cari ah lanjutannya.

The Good Earth diterbitkan tahun 1931, memenangkan Pulitzer tahun 1932 dan meraih Pearl S. Buck meraih Nobel tahun 1938  yang menurut new York Times diberikan ‘for her rich and truly epic descriptions of peasant life in China and for her biographical masterpieces’.

Hail to Pearl S. Buck
Hail to Pearl S. Buck

 

 

Advertisements
2012 · adventure · BBI · classic · fantasy · Gramedia · kids just wanna have some fun · listopia

[Review] The Hobbit – J. R. R. Tolkien

Yay! Akhirnya bisa ikutan lagi proyek baca bareng BBI yang mengambil tema 1001 Books You Have to Read Before You Die. Woh, seru pisan temanya. Buku yang saya pilih adalah The Hobbit dengan alasan : penganut aliran harus baca bukunya dulu sebelum nonton film adaptasi, belum pernah membaca pengarang yang sangat saya segani ini dan yang terakhir mengurangi timbunan karena buku The Hobbit sudah saya beli sekitar 4 tahun yang lalu :p

The Hobbit
The Hobbit

Sinopsis singkat dari Goodreads :

Gara-gara Gandalf, Bilbo jadi terlibat petualangan menegangkan. Tiga belas Kurcaci mendatangi rumahnya dengan mendadak, karena mengira ia seorang Pencuri berpengalaman, seperti kata Gandalf. Terpaksa ia bergabung dalam petualangan mereka : mengadakan perjalanan panjang dan berbahaya untuk mencari Smaug, naga jahat yang telah merampas harta kaum Kurcaci di masa lampau. Dalam perjalanan, rombongannya dihadang pasukan goblin. Saat melarikan diri dari kejaran mereka, Bilbo tersesat ke gua Gollum dan menemukan Cincin yang bisa membuatnya tidak kelihatan. Cincin ini sangat membantunya ketika menghadapi Smaug, juga dalam perang besar yang berkobar kemudian, antara kelompok Peri, Manusia, dan Kurcaci melawan pasukan goblin dan Warg.

Sepertinya semua sudah tidak asing lagi dengan penyihir tua bijaksana Gandalf, hobbit Frodo yang imut, si ganteng Aragorn, Legolas salah seorang personil boyband dari fellowship of the ring dan the one and only ‘my preciouusss’ Gollum. Bilbo yang hanya muncul di awal kisah LOTR memegang peranan kunci di buku prequelnya yaitu The Hobbit.

Berawal dari saat Tolkien memeriksa ujian dan menemukan halaman kosong. Dasarnya orang jenius kali ya, seketika itu beliau mendapat inspirasi dan menulis, “In a hole on the ground there lived a hobbit.” Kelanjutan dari The Hobbit selesai ditulis tahun 1932 dan meminjamkan manuskrip tersebut ke beberapa orang yang salah satu di antaranya adalah sahabat karib Tolkien, yang sama-sama orang hebat dan pengarang, tak lain tak bukan C. S. Lewis. Dan tak lama kemudian, tanggal 21 September 1937 terbitlah edisi perdana The Hobbit yang covernya juga dibuat oleh Tolkien himself.

1st ed
1st ed

Balik ke Bilbo Baggins. Berawal dari pertemuannya dengan Gandalf, ia harus keluar dari rumahnya yang hangat, memulai petualangan menegangkan bersama ketigabelas kurcaci. Perjalanan mereka mencari harta karun tidak mudah, Bilbo dan kawan-kawan harus melewati laba-laba raksasa, troll, goblin, bangsa peri, wargs, gollum dan terakhir Smaug si naga jahat.

The beginning
The beginning

Saya tidak akan bercerita panjang lebar mengenai seluk beluk rintangan demi rintangan yang Bilbo hadapi tapi saya ingin mengajak pembaca blog di sini mendalami lebih jauh kenapa sih The Hobbit masuk dalam list 1001 books you have to read before you die. Ini dari sudut pandang saya lho ya, kritikus tidak jelas*takut kalau ada yang protes* berdasar pengalaman pribadi saat membaca dan hasil browsing-browsing beberapa situs :

1. Seperti yang sudah pernah saya tulis di postingan sebelumnya (Character Thursday) Bilbo adalah sosok penolong yang from zero to hero. Pembaca memiliki kedekatan dengan tipe protagonis macam begini dibanding yang memang sudah kebal metekel terhadap bahaya ala superhero komik. Bilbo, sebagaimana kita adalah seorang hobbit biasa. Ia gemar membaca, duduk-duduk minum teh di sofanya yang empuk, giliran harus melakukan perjalanan panjang ia tak lepas dari yang namanya bersungut-sungut dan merindukan rumahnya yang hangat. Apalagi kelakukan kurcaci terkadang menyebalkan, kalau orang Surabaya bilang, “yo tambah wes kangen karo umah dhewek!”. Bilbo bisa saja menjelma di dalam diri kita dan di saat kepepet ia malah bisa menjadi penolong teman-temannya. Ringan tangan, cerdik dan setia kawan, itu kunci yang dibutuhkan dalam perjalanan menempuh maut dan Bilbo memiliki semuanya.

The journey
The journey

2. Tolkien merepresentasikan Smaug dan Gollum sebagai akar dari evil, ketamakan. Dikutip dari cliffnotes.com : Smaug and Gollum represent the perverted use of property. They are monsters because isolation and selfishness such as theirs is evil. They do not recognize community; there are no other creatures like them. Smaug makes his home in the Lonely Mountain, and Gollum is so self-centered he does not even know the word for “you.” They are vehemently opposed to sharing; indeed, they would rather kill than share what they possess, whether it be Gollum’s ring of invisibility or Smaug’s treasure trove. Smaug makes no use at all of the treasure trove; he only sits on top of it and sleeps. Ironically, Smaug is killed himself as he wages war in defense of his treasure. (Gollum, too, dies in The Lord of the Rings trilogy as he finally reclaims his prized possession, the ring of invisibility.)

Elves vs Gollum
Elves vs Gollum

3. Buku yang disebut  The Most Important 20th-Century Novel (for Older Readers)” in the Children’s Books of the Century poll in Books for Keeps, disebut C. S. Lewis sebagai “this book a number of good things, never before united, have come together: a fund of humour, an understanding of children, and a happy fusion of the scholar’s with the poet’s grasp of mythology… The professor has the air of inventing nothing. He has studied trolls and dragons at first hand and describes them with that fidelity that is worth oceans of glib “originality.”

4. Satu lagi yang membuat saya semakin kagum dengan J. R. R. Tolkien adalah kemampuannya meramu prosa yang tertuang dalam balasan teka-teki antara Bilbo dan Gollum. Ah sayang saya tidak membaca versi Inggrisnya, walau begitu yang terjemahan juga menarik untuk disimak.

Apa yang punya kaki tapi tidak kelihatan, lebih tinggi dari pepohonan. Menembus awan sangatlah tinggi, tapi tidak pernah tumbuh sama sekali?

Gunung!

Tiga puluh kuda putih di atas bukit merah, mula-mula mereka memamah, lalu kemudian mengunyah, kemudian berdiri diam tak berubah.

Gigi!

Keereeen yaaa!

5. Bicara tentang gollum, mau tak mau saya teringat akan cincin “The One Ring”, cincin keramat yang diciptakan Sauron, tentu semua masih ingat tulisan yang ada di cincin itu.

The One Ring
The One Ring

Ash nazg durbatulûk, ash nazg gimbatul,
Ash nazg thrakatulûk agh burzum-ishi krimpatul.

One ring to rule them all, one ring to find them,
One ring to bring them all and in the darkness bind them.

Memang ini tidak terlalu banyak berhubungan dengan Bilbo sih tapi sebagai pembaca awam dan mengetahui bahwa tulisan dan bahasa Tengwar yang dibuat oleh Tolkien yang contohnya bisa dilihat di cincin The One Ring membuat saya merinding. Saya membaca sebuah masterpiece dunia. Buku yang tidak main-main dan adalah kehormatan tersendiri saya bisa membaca buku beliau. Ingin mengetahui huruf Tengwar secara lengkap? Bisa dibuka di sini.

J. R. R.Tolkien
J. R. R.Tolkien

John Ronald Reuel Tolkien lahir di Afrika Selatan tahun 1892, beliau adalah profesor yang mengajar di Leeds dan Oxford. Sejak usia muda beliau tertarik mendalami bahasa terutama Greek, Anglo Saxon, and later at Oxford, Finnish. Sejak meledaknya The Hobbit dan Lord f The Rings, beliau menyepi di Poole, istrinya meninggal tahun 1971 disusul oleh Tolkien 2 tahun kemudian.

Detail buku :

The Hobbit – J. R. R. Tolkien

348 halaman

Gramedia, Januari 2002

*menggos-menggos*

Kayanya sekian dulu curhatan saya mengenai The Hobbit, saatnya blogwalking, navaer!

*sok ngomong Sindarin, and it means,”Goodbye” 🙂

Character Thursday · classic

Character Thursday #6

Character ThursdayTaraaaaa!! Kamis lagiii, waktunya Character Thursdaynya Mbak Fanda.

The Hobbit - Gramedia
The Hobbit – Gramedia

Karakter saya sekarang sesuai dengan buku yang baru saja kelar dibaca demi baca bareng BBI bulan Agustus yang mengambil tema 1001 books you have to read before you die. Tokoh ini menjadi tokoh utama The Hobbit yang filmnya bakal tayang Desember mendatang. Sudah tau siapa dia kaaan? Bukan si gollum loh tapinya, melainkan Bilbo Baggins!

Bagi penggemar Lord of the Rings tidak hanya terfokus pada Aragorn dan Legolas kan yak? Hihi, padahal saya adalah fans berat Aragorn, hauhau apalagi gondrongnyah itu *plaak*. Hayuk balik ke Bilbo, siapa sangka cincin bertuah yang menjadi inti fellowship of the ring ini berawal dari petualangan Bilbo, dijabarkan secara detil oleh J. R. R. Tolkien di The Hobbit yang sejatinya adalah buku anak-anak yang cukup kental aroma petualangan dan fantasi.

John oops Bilbo Baggins
John oops Bilbo Baggins

Bilbo, hobbit yang senang bersantai sambil duduk manis ngeteh di sofa seketika berubah hidupnya saat dikunjungi oleh penyihir bijak Gandalf. Malahan penghuni rumahnya bertambah 13 orang kurcaci yang mengajaknya berpetualang merebut harta karun. Untuk Bilbo yang sejatinya adalah penggemar ketenangan, petualangan yang mengasyikkan bagi kurcaci malah menjadi bencana baginya. Kerjaannya bersungut-sungut setiap hari sambil memimpikan rumahnya yang hangat. Namun siapa sangka halangan dan rintangan yang dihadapai gerombolan ini tiap harinya hampir selalu ditolong oleh Bilbo.

Pembaca dapat melihat perubahan karakter Bilbo Baggins, from zero to hero, begitu kalimat yang sering saya dengar di televisi. Pahlawan tidak selalu gagah dan bertopeng, Bilbo yang biasa-biasa saja bisa menjadi penyelamat. Kecerdasannya dapat kita lihat saat ia berbalas-balasan dengan gollum yang licik dan akhirnya seperti yang kita ketahui, cincin ajaib berhasil ia rebut.

Penasaran dengan Bilbo, yuk kita intip trailer The Hobbit yang bakal tayang beberapa bulan lagi. Dan bagi penggemar serial Sherlock tentu tidak asing lagi dengan Martin Freeman yang di sini berperan sebagai Bilbo muda, sedangkan Bilbo tua masih tetap diperankan oleh Ian Holm.

Sekian cerita singkat Bilbo yang menjadi Character Thursday saya, saatnya blogwalking sekarang, ciao! 🙂

2012 · BBI · classic · kumpulan cerita · Penerbit Serambi

Kenangan Cinta – Anton Chekhov

Kenangan Cinta adalah proyek baca bareng kumpulan cerpen BBI yang juga sekaligus ikut program mbak Fanda membaca buku klasik penulis yang berulang tahun di bulan Januari.

Kenangan Cinta
Kenangan Cinta

Anton Chekhov (29 Januari 1860 – 15 Juli 1904) sendiri adalah sastrawan Rusia yang terkenal, selain berkat karya cerita pendeknya, ia juga seorang dramawan dan dokter! Duh ga kebayang betapa jeniusnya beliau ini. Saking jeniusnya malah ada beberapa karyanya yang melegenda ga nyantol di otak saya*puk-puk kepala sendiri*.

“Wisdom…. comes not from age, but from education and learning.”  – Anton Chekhov

“Do you see that tree? It is dead but it still sways in the wind with the others. I think it would be like that with me. That if I died I would still be part of life in one way or another.” A.C. – The Three Sisters

Anton Chekhov adalah penulis kedua Rusia yang saya baca setelah Leo Tolstoy, ada satu kesamaan antara mereka berdua, cerita yang ditulis biasanya sederhana, tidak disertakan konflik yang ‘wah’ namun gaya berceritanya dramatis dan lebih mementingkan kedalaman karakter.

Anton Pavlovich Chekhov
Anton Pavlovich Chekhov

Penerbit Serambi mengemas 7 cerita terbaik karya beliau yang rata-rata berkisah tentang suka duka percintaan di Rusia abad ke 19.  Di antaranya : Yang Tersayang, Kemalangan, Ariadne, Agafya, Ciuman, Perempuan dan Anjing Peliharaannya dan Kenangan Cinta. Walaupun singkat, rata-rata ending yang dikemas untuk menutup cerita malah cenderung tak tertebak loh! Satir dan kesinisan bahkan sindiran banyak saya jumpai dalam buku ini. Sering kali tokoh  utama perempuan digambarkan senang berfoya-foya, berselingkuh dan materialistis.

Ariadne adalah cerita favorit saya, menceritakan tentang kegundahan dan perjalanan cinta seorang lelaki kepada perempuan cantik Ariadne, yang berakhir tragis, eh bukan sih, kurang pas. Ngenes kalau orang Jawa bilang. 🙂

Terus terang, saya pribadi lebih menyukai gaya penulisan Leo Tolstoy dibanding Anton Chekhov yang di beberapa cerita pendeknya lebih bernuansa gembira. Benar saja, sedikit mengintip kilas pengarang yang ada di bagian akhir buku, Anton Chekhov dikenal sebagai penulis yang salah satu ciri khasnya adalah mengangkat kehidupan jalanan Rusia dengan bumbu sindiran dan tidak bertele-tele.

Salut untuk penerbit Serambi yang menerbitkan kumpulan kisah maestro kelas dunia, kalau tidak begitu mungkin saya tidak akan pernah membaca buku sastra klasik macam begini, 2 buku selanjutnya menanti untuk dibaca. Cinta Sejati karya sastrawan Perancis Guy de Maupassant dan Cinta yang Hilang karya penulis yang juga mantan narapidana O. Henry. Sesuai dengan resolusi 2012 saya, bacaan harus semakin beragam, wish me luck ya 🙂

PS : berasa mirip dengan Edward Norton ga sih beliau?

Detail buku :

Judul : Kenangan Cinta

Penulis : Anton Chekhov

Penerbit : Serambi Ilmu Semesta

Cetakan I, April 2011, 229 halaman.

buntelan · classic · kids just wanna have some fun

The Jungle Book

Ahay, senang banget saat saya mengetahui Atria bakal menerbitkan buku anak klasik The Jungle Book yang sebelumnya hanya saya kenal lewat adaptasi  film Disney berjudul sama di tahun 1994. Cover Atriapun hampir mirip dengan poster filmnya, warna yang cerah membuat The Jungle Book layak dikoleksi oleh para pencinta buku klasik.

The Jungle Book
The Jungle Book

Sinopsis : Bukit Batuan gempar! Mama dan Papa Serigala mengajukan seorang anak manusia untuk diasuh oleh mereka. Meskipun dengan berbagai pertentangan, Akela sang Pemimpin Serigala mengizinkannya, dengan jaminan sebuah lembu dari Bagheera, sang Macan Kumbang Hitam, dan pembelaan si Beruang Hitam Baloo, guru dari semua anak-anak serigala. 

Namun Shere Khan, si Harimau Pincang tidak setuju karena anak manusia itu adalah buruannya. Itulah sebabnya, Mowgli, nama anak manusia itu, harus terus belajar agar ia berhasil bertahan hidup dan mengalahkan Shere Khan. 

Tetapi, saat sebagian besar kawanan serigala mengusirnya, dapatkah Mowgli bertahan sendirian?

Saya baru sadar The Jungle Book adalah kumpulan kisah hewan hasil karangan Rudyard Kipling. Awalnya saya pikir buku ini adalah kisah petualangan Mowgli bersama Baloo si beruang dan Bagheera si panther saja. Ada 11 kisah yang bisa berdiri sendiri, beberapa kisah Mowgli dan ada juga yang berupa puisi.

Inti ceritanyasih  sederhana, Rudyard Kipling banyak memasukkan pesan moral melalui binatang hutan yang kesemuanya bisa berbicara. Monyet digambarkan binatang yang nakal dan kerjanya hanya bermain-main saja. Sebelum saya mulai membaca The Jungle Book, saya sempat melihat beberapa review di Goodreads yang menyebutkan buku ini berbeda dengan film animasi Disney. Benar juga, ternyata karakter si ular piton Kaa di buku itu baik, padahal seingat saya dari kecil tokoh ular Kaa adalah tokoh antagonis 😀

Jungle Book - movie poster
Jungle Book - movie poster

Salut untuk penerjemah yang berhasil mengalihbahasakan bahasa puitis Rudyard Kipling! Terus terang, The Jungle Book bukan buku anak favorit saya namun begitu buku klasik tak lekang jaman ini sayang untuk dilewatkan. 🙂

Sekilas tentang penulis yang sebelumnya hanya saya ketahui berkat puisi “if”nya yang sangat indah ini adalah penyair dan penulis novel Inggris yang menghabiskan masa kecilnya di India. Pantas saja buku The Jungle Book dan Kim sangat kental dengan aroma eksotisme India. Bahkan penulis terkenal Inggris, Henry James menyebutkan Kipling sebagai manusia jenius.

Detail buku : The Jungle Book – Rudyard Kipling, Penerbit Atria, cetakan I – September 2011, 239 halaman. Penerjemah : Anggun Prameswari.

 

buntelan · classic · kids just wanna have some fun

Pangeran Bahagia – Oscar Wilde

Pangeran Bahagia, kumpulan cerita Oscar Wilde adalah salah satu seri fiksi klasik yang diterbitkan oleh penerbit Serambi. Covernya bagus, menggambarkan patung Pangeran Bahagia yang menjulang tinggi dan di pundaknya bertengger burung Walet. Ada 5 cerita yang semuanya bernuansa sedih dan ironis. Kelima di antaranya : Pangeran Bahagia, Bunga Mawar dan Burung Bulbul, Raksasa yang Egois, Teman yang Setia dan Roket yang Luar Biasa. Mirip dongeng anak-anak, walau begitu banyak pelajaran yang secara implisit ditampilkan di sana.

Pangeran Bahagia
Pangeran Bahagia

Favorit saya :

1. Pangeran Bahagia (1888), patung penghias kota yang menjadi kebanggaan masyarakat. Ah ya namanya memang pangeran bahagia, tapi pangeran ini bersedih hati melihat keadaan rakyat miskin yang ada di kota. Adalah seekor Walet yang hinggap di pundak pangeran kejatuhan air mata pangeran. Pangeran menangis melihat ibu tua penjahit yang anaknya demam dan ia meminta burung Walet mencongkel batu delima yang ada di gagang pedangnya untuk diberikan kepada si ibu-ibu tua.

Burung Walet resmi menjadi tangan kanan Pangeran untuk membantu rakyat, kedua permata yang menjadi pangeran sudah hilang, sekeping demi sekeping emas yang menyelimuti tubuhnya juga dibagikan kepada rakyat yang membutuhkan. Musim berganti, cuaca berubah menjadi semakin dingin, Walet mulai kepayahan karena seharusnya sedari dulu ia pergi ke Mesir tempat teman-temannya menikmati sinar matahari.

“Aku akan pergi ke Rumah Kematian. Bukankah mati adalah saudara dari Tidur?”, Walet mencium bibir Pangeran lalu ia kehilangan nyawanya. Pada saat itu, terdengarlah bunyi retakan dari patung. Hati timah milik Pangeran terbelah menjadi dua. Di akhir kisah, Tuhan meminta malaikatNya untuk membawa dua hal yang paling berharga di kota dan malaikat membawakan sekeping hati dan tubuh burung yang telah mati.

“Pilihan kalian tepat, karena di Taman Surgaku burung kecil ini akan terus bernyanyi dan di dalam kota emasku Pangeran Bahagia akan terus memuliakanku”.

Sediiiih 😦

2. Bunga Mawar dan Burung Bulbul.

Berkisah tentang perjuangan burung yang berusaha menyenangkan hati seorang pemuda yang jatuh cinta. Pemuda ini ingin memberikan pujaan hatinya sekuntum mawar merah. Burung bulbul berkelana ke sana ke mari mencari mawar merah, yang ada malahan mawar putih dan mawar kuning. Akhirnya ada juga pohon mawar merah tapi musim dingin telah menghambat pembuluh darahnya, keping es menjepit tinasnya dan badai telah mematahkan rantingnya. Ada satu cara mawar merah bisa tumbuh lagi tapi syaratnya burung bulbul harus bernyanyi semalam suntuk sembari dadanya terpapar duri, agar darah yang menopang hidup burung bulbul mengalir menuju pembuluh darah pohon.

Sadis 😦

Endingnya sangat tragis. Ada satu kalimat yang indah yang diucapkan burung bulbul, ” Ah, betapa kebahagiaan ternyata bergantung pada hal-hal yang sungguh remeh”. (hal.28)

3. Raksasa yang egois, kalau ini persis dongeng-dongeng masa kecil saya dan tetap endingnya itu tragis. Heeeuh, ada apa dengan penulis-penulis jaman dulu, apa karena jaman dulu belum ada pengaruh dari Walt Disney ya? 😀

Endingnya sedih sekaligus indah, saya copy dari wikipedia ya, kalau ngetik dari buku malas, kepanjangan :p

“Who hath dared to wound thee?” cried the Giant; “tell me, that I may take my big sword and slay him.” 

“Nay!” answered the child; “but these are the wounds of Love.” 

“Who art thou?” said the Giant, and a strange awe fell on him, and he knelt before the little child. 

And the child smiled on the Giant, and said to him, “You let Me play once in your garden, to-day you shall come with Me to My garden, which is Paradise.” 

Kisah keempat dan kelima menurut saya benang merahnya mirip, tentang keegoisan seseorang. Browsing di Wikipedia, kisah Roket adalah kisah Oscar Wilde yang berisi epigram.

“Conversation, indeed!” said the Rocket. “You have talked the whole time yourself. That is not conversation.” 

“Somebody must listen,” answered the Frog, “and I like to do all the talking myself. It saves time, and prevents arguments.” 

“But I like arguments,” said the Rocket. 

“I hope not,” said the Frog complacently. “Arguments are extremely vulgar, for everybody in good society holds exactly the same opinions.” 

Sindiran yang mengena.

Walaupun buku ini murni dongeng tapi layak dikoleksi, saya baru kali ini membaca tulisan Oscar Wilde, aah pengen cari buku Picture of Dorian Gray. Dulu nonton filmnya sih, err agak-agak ‘seram’ penasaran bukunya seperti apa.

Review saya tutup dengan penggalan lagu Ironic – Alaniss Morissette, salah satu penyanyi yang saya kagumi, liriknya dahsyat.

Well life has a funny way of sneaking up on you
When you think everything’s okay and everything’s going right
And life has a funny way of helping you out when
You think everything’s gone wrong and everything blows up
In your face.

Sekilas tentang penulis, Oscar Wilde ternyata adalah orang yang penuh dengan kontroversi, beliau dikenal karena epigram, masuk penjara karena kasus homoseksual dan kematiannya yang mendadak di usia muda (46 tahun).  PR saya selanjutnya : mencari buku Picture of Dorian Gray dan The Importance of Being Earnest. Pihak Serambi, berniat menerbitkankah? *ketip-ketip*

Oscar Wilde
Oscar Wilde

Detail buku : Pangeran Bahagia – Oscar Wilde, diterjemahkan dari The Happy Prince and Other Stories oleh Risyiana Muthia, cetakan I – April 2011, 103 halaman.

Terjemahannya bagus, salut untuk mbak Risyiana yang bisa mengalihbahasakan kalimat Oscar Wilde aslinya indah menjadi tetap indah dan puitis, minim typo dan covernya bagus pulak. 4 bintang!

BBI · classic · historical

Pembalasan dendam Count of Monte Cristo

There is no revenge so complete as forgiveness – Josh Billings

Perkenalkan tokoh utama buku maha karya maestro Alexander Dumas : Edmond Dantes, pria muda berusia 19 tahun yang akan menjadi kapten kapal dan akan segera menjadi suami dari gadis cantik, Mercedez Mondego. Akibat iri dengki teman dekatnya Danglars dan Fernand, saudara Mercedez, nasib Edmond terpuruk ke jurang paling dalam kehidupannya. Ia dituduh menjadi pemberontak berbahaya dan langsung dijebloskan ke dalam penjara bawah tanah seumur hidupnya.

Quote yang berbunyi “Sometimes what you want isn’t always what you get, but in the end what you get is so much better than what you wanted” pas dengan nasib Edmont. Mendekam dalam penjara sampai hampir gila, ia akhirnya memiliki seorang teman, pendeta bernama Abbe Faria. Pria yang berjasa mengubah kehidupan Edmund, ia mengajarkan Edmund banyak hal, bahasa Spanyol dan Italia. Abbe memiliki kekayaan berlimpah yang tertanam di pulau Monte Cristo, sampai akhirnya ia meninggal karena epilepsi di penjara,  Edmund berhasil melarikan diri dari penjara dan mengganti identitasnya menjadi Count of Monte Cristo. Hilang sudah Edmund yang ceria dan penyayang, seakan ada karakter lain dalam jiwanya, muncullah Count yang kaya raya, pintar, licik dan penuh dendam.

Seakan bangkit dari kubur, Count mulai menghantui kehidupan orang-orang yang dulu menjebaknya. Danglars, Fernand dan Villefort. Eye for an Eye, a Tooth for a Tooth. Tanpa ampun Count of Monte Cristo menjadi ‘hakim’ dalam perjalanan hidup para penjebaknya. Intrik, tipu muslihat Count yang membuat seru buku yang sudah diterjemahkan ke dalam lebih dari 100 bahasa.

Count of Monte Cristo
Count of Monte Cristo

Sampai pertengahan buku, saya mengerti kenapa buku ini begitu fenomenal. Alexander Dumas meramu balas dendam Edmond Dantes menjadi sangat menarik untuk diikuti. Walau sempat bingung di awal dengan banyaknya tokoh yang muncul out of nowhere eeeh di akhir bab membuat saya terpana, seakan menonton film action!

Beberapa kekurangan buku ini adalah fontnya yang kecil dan dempet-dempet lumayan mengganggu konsentrasi membaca. Seandainya saja dibuat lebih besar dengan kertas yang lebih putih bukan buram, pasti lebih terang untuk dibaca. Satu lagi, bisa tidak ya penerbit untuk membuatkan daftar tokoh yang rata-rata bernama Perancis yang susah untuk diingat.

Di atas saya cantumkan family tree yang saya ambil dari Wikipedia, sayangnya gambarnya terlalu kecil 😦

Bintang 4 untuk The Count of Monte Cristo, sayang karena saya bacanya lumayan terburu-buru demi mengejar akhir bulan, sempat bingung dengan banyaknya tokoh plus lagi namanya mirip semua :p Ah ya, satu lagi terkadang saya lelah membaca buku ini, bukan karena font kecilnya, melainkan ‘lelah’ mendalami perasaan Edmond Dantes itu sendiri. Hidup hanya untuk pembalasan dendam dan nuansa kebencian terkadang terasa begitu kental. Mungkin saya jika ditempatkan dalam posisi itu saya juga akan bersikap seperti Edmond, tapi membaca buku bernuansa kebencian yah itu dia, capek bacanya. Untung saja endingnya lumayan membahagiakan. Edmond berhak untuk hidup bahagia atas apa yang telah dilaluinya.

Salut untuk Penerbit Bentang yang berhasil menerjemahkan karya ‘njelimet’ Alexander Dumas dengan mulus dan minim typo.

Detail buku : The Count of Monte Cristo, Penerbit Bentang, Cetakan Pertama Maret 2011, 563. Penerjemah : Nin Bakdi Soemanto.