Gramedia · Metropop

Rule of Third – Suarcani

Cinta selalu memaafkan. Begitulah setidaknya yang dipercaya Ladys, sehingga selalu ada kesempatan kedua. Ladys meninggalkan ayah dan pekerjaannya sebagai fotografer fashion di Seoul untuk mengejar cintanya kepada Esa di pulau Bali. Pulau yang menyimpan berbagai kenangan baik manis maupun buruk, atas nama cinta Ladys berusaha membuktikan kepada dirinya dan ayahnya bahwa dengan menyimpan amarah berkepanjangan sama saja dengan menunda bahagia.

Dias, seorang fotografer pendiam yang menyimpan banyak misteri dan luka masa lalu. Perceraian orang tua, kesulitan ekonomi sampai kebiasaanya mengunyah apel Fuji membuat Ladys terbengong-bengong.  Sering kali akibat karakter mereka yang bertolak belakang, pertengkaran pun muncul. Dimulai dengan kejadian rules of third, saat Dias mengoreksi keahlian foto Ladys saat mereka bekerja bersama dalam sesi foto prewedding. Ladys kesal dengan gaya blak-blakan Dias, namun seiring waktu Ladys malah terbiasa dengan Dias yang dingin dan tanpa mereka sadari, kehangatan mulai timbul di antara mereka.

r

Saya sebagai seorang warga Bali sangat senang dengan nuansa Bali yang mengiringi Rules of Third, tidak sebagai tempelan dan thank-god-bukan-hanya-kuta-seminyak-ubud, Suarcani menambahkan lokasi-lokasi tempat saya main saat kecil bersama oma saya, Pasar Kumbasari! Ah senangnya! Saya yang rumahnya juga di sekitar lokasi kantor Ladys dan Dias malah jadi menebak-nebak jangan-jangan saya pernah berpapasan dengan Mbak Suarcani nih saat menulis 🙂

Setelah lumayan lama tidak membaca Metropop dan dengan alur awal Rule of Third sejujurnya saya sempat menebak ke mana arah novel ini. Ternyata tebakan saya salah, penulis menyisipkan tentang hangatnya berkumpul bersama keluarga, tentang kerasnya hidup yang tidak harus dibalas dengan keras dan ketus dan memaafkan bukan hal yang mudah. Memaafkan butuh suatu proses namun semuanya dibayar dengan indah, bisa jadi seindah foto prewedding di Pantai Suluban 🙂

Selamat membaca novel Rule of Third, selain berkenalan dengan Ladys dan Dias yang bawaanya pengen saya peluk #eh, banyak informasi tentang ilmu fotografi yang bisa didapat! Salah satunya adalah saya jadi tahu kegunaan garis-garis saat hendak posting di Instagram 🙂

Advertisements
2013 · drama · Gramedia · love love love · must read · tears

[Review] Me Before You – Jojo Moyes

Sigh. Susahnya mereview bintang 5, apalagi macam Me Before You tanpa spoiler. Jadi begini, saya percaya yang namanya buku itu kadang ‘memanggil’ pembacanya. Buku juga memiliki jiwa untuk mengetahui siapa pembaca yang tepat untuknya. Bentar, bentar, kok jadi horror? Ah, tapi teman-teman mengerti maksud saya kan? Saya lupa asal muasal bisa tertarik dengan buku ini, one click leads to another sepertinya, dan ketika adik saya pergi ke luar, saya dengan pedenya nitip dibelikan Me Before You. Covernya cantik, rating lumayan, dan siapa itu Jojo Moyes saya juga ga kenal. *sok kenal dengab penulis, padahal baru kenal dengan Agustinus Wibowo doang*

Me Before You
Me Before You

Yuk lanjut, Me Before You berhasil saya lalap dalam waktu 2 hari, pertengahan menitikkan air mata sedikit, 2/3 ke belakang mulai tes-tes-tes, bagian belakang mewek sampai mata bengkak dan merah. Memang saya lebay, gampang menangis, dan yang saya tekankan di sini bukan buku ini sedemikian sedihnya hingga perlu tissue saat membacanya tapi bagaimana kehebatan Jojo Moyes menciptakan karakter-karakter yang hidup. Sangat hidup. Buku ini sudah saya beberapa bulan lalu, namun sampai sekarang saat saya menulis review masih terbayang-bayang. Jarang-jarang saya ingin baca ulang buku, tapi Me Before You yang jelas menjadi kandidat buku favorit tahun 2013 adalah satu di antaranya.

Sinopsis dari bagian belakang buku:

Lou Clark knows lots of things. She knows how many footsteps there are between the bus stop and home. She knows she likes working in The Buttered Bun tea shop and she knows she might not love her boyfriend Patrick.

What Lou doesn’t know is she’s about to lose her job or that knowing what’s coming is what keeps her sane.

Will Traynor knows his motorcycle accident took away his desire to live. He knows everything feels very small and rather joyless now and he knows exactly how he’s going to put a stop to that.

What Will doesn’t know is that Lou is about to burst into his world in a riot of colour. And neither of them knows they’re going to change the other for all time.

Bukan dalam rangka ikut-ikutan Uni bicara soal takdir *disepak*, takdir menemukan Lou dan Will dalam suatu kejadian tak terduga. Will yang dulunya petualang, playboy, businessman sukses bukanMrGrey, siapa sangka nasibnya berubah drastis ketika kecelakaan sepeda motor. Will menjadi lumpuh (quadriplegic), ia tak lagi bisa melakukan apa pun tanpa bantuan orang lain, sudah 2 tahun Will bertahan. Kesabaran orang ada batasnya, begitu kata pepatah. Will lelah dan ketika Will menghubungi Dignitas (a group that helps those with terminal illness and severe physical and mental illnesses to die assisted by qualified doctors and nurses), pembaca sudah bisa membaca ke mana arah cerita ini. Lou, gadis eksentrik, gemar berbusana antik dipecat dari kerjaannya dan seperti saya bilang tadi, takdir menyatukan mereka berdua, Lou butuh uang dan ibu Will melihat sesuatu yang tak biasa dalam diri Lou sehingga beliau menggaji Lou sebagai asisten Will, walau ada niat yang lebih besar di balik itu. 

Bagaikan dua kutub magnet *tsaahbahasagueeeh* chemistry Will yang pesimis dengan hidup dan Lou yang begitu polos namun sesekali meledak-ledak menjadi kekuatan novel Me Before You. Lou mengajak Will melihat dunianya dari sisi seorang gadis lugu yang tidak pernah bermimpi muluk-muluk sedangkan Will yang hari lepas hari menyadari ada potensi yang besar dari Lou.

Saya ikut bangga dan senang ketika perlahan tapi pasti Will yang lelah dengan hidup mulai membuka diri dan Lou yang slebor, mudah dibully mulai berani bermimpi. Banyak adegan mengharukan yang muncul terlebih lagi saat ulang tahun Lou. Dan ketika semua berjalan baik-baik saja, kita tahu yang ada di halaman berikutnya pastilah ada sesuatu. Lou dan Will jatuh cinta, mampukah cinta Lou membangkitkan nafsu hidup Will?

“I kissed him, trying to bring him back. I kissed him and let my lips rest against his so that our breath mingled and the tears from my eyes became salt on his skin, and I told myself that, somewhere, tiny particles of him would become tiny particles of me, ingested, swallowed, alive, perpetual. I wanted to press every bit of me against him. I wanted to will something into him. I wanted to give him every bit of life I felt and force him to live.”

Sesuatu yang lebih dari sekadar apakah buku ini akan berakhir bahagia atau tidak. Pembaca akan diajak berpikir lebih jauh tentang hidup oleh Jojo Moyes tanpa terkesan menggurui. Seberapa berarti hidupmu? Masih berarti ketika kamu tidak lagi bisa mengerjakan apa pun? Boleh jadi kita berpikir betapa bodohnya Will, tapi Jojo Moyes juga menunjukkan bagaimana berat hidup yang sepenuhnya dan seumur hidupnya bergantung dari orang lain. Tidak ada yang benar dan yang salah. Dan saya menutup buku ini dengan hati sesak namun saya juga merasakan gelenyar hangat di dada.

“You only get one life. It’s actually your duty to live it as fully as possible.”

Petuah Will di bawah ini sangat menggetarkan hati saya.

“Push yourself. Don’t settle. Wear those stripy legs with pride. And if you insist on settling down with some ridiculous bloke, make sure some of this is squirreled away somewhere. Knowing you still have possibilities is a luxury. Knowing I might have given them to you has alleviated something for me.”

Sebelum Mengenalmu
Sebelum Mengenalmu

Me Before You sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia juga lho, saya belum cek tapi dari beberapa teman saya dengar bahwa harganya lumayan. Oh well, untuk mengenal Will dan Lou dan merasakan rollercoaster emosi saat membacanya saya pikir harga yang ditawarkan pasti sesuai. Wajib baca. You’ll gonna love this book, bagi yang ga nangis, uang kembali! #lah

Oia, satu quote lagi yang ingin saya bagikan, ketika Lou dan Will pulang berkencan.

 “I turned in my seat. Will’s face was in shadow and I couldn’t quite make it out.
‘Just hold on. Just for a minute.’
‘Are you all right?’ I found my gaze dropping towards his chair, afraid some part of him was pinched, or trapped, that I had got something wrong.

‘I’m fine. I just . . . ’
I could see his pale collar, his dark suit jacket a contrast against it.
‘I don’t want to go in just yet. I just want to sit and not have to think about . . . ’ He swallowed.
Even in the half-dark it seemed effortful.
‘I just . . . want to be a man who has been to a concert with a girl in a red dress. Just for a few minutes more.’
I released the door handle.
‘Sure.’
I closed my eyes and lay my head against the headrest, and we sat there together for a while longer, two people lost in remembered music, half hidden in the shadow of a castle on a moonlit hill.”

OMG. :’)

Udah deh, pokoknya harus baca buku me Before You, ya ya ya? Tidak akan menyesal, saya bahkan saat menulis review ini hati bagaikan ditujes-tujes dan ingin mengulang. Huks.

Sudah ah, pamit semuanya, jangan lupa kabari saya kalau sudah baca #teteplho #mustinyangelamarjadimarketinggramed #plak

2013 · BBI · Gramedia · inspiring · journal · karya anak negeri · memoar · tears

[Review] Titik Nol – Agustinus Wibowo

Catatan perjalanannya tidak banyak menekankan pada petualangan pribadi atau beragam keberhasilan yang dicapainya, melainkan berisi orang-orang yang ditemuinya sepanjang perjalanannya. Tulisan-tulisannya lebih memberi penghormatan pada kenangan-kenangan tentang mereka yang telah menyentuh, memperkaya, mencerahkan hidupnya. Merekalah yang menjadi alasan kenapa Agustinus bisa lolos dari zona perang tanpa terluka sedikit pun, melewati wilayah-wilayah sulit dengan mudah, dan melakukan perjalanan panjang dengan dana amat terbatas.

Nilai perjalanan tidak terletak pada jarak yang ditempuh seseorang, bukan tentang seberapa jauhnya perjalanan, tapi lebih tentang seberapa dalamnya seseorang bisa terkoneksi dengan orang-orang yang membentuk kenyataan di tanah kehidupan.

Lam Li, Oktober 2012.

Titik Nol
Titik Nol

Kalimat pembuka oleh sahabat Agustinus Wibowo sangat pas menggambarkan buku setebal 552 halaman dan sekaligus menjadi penyebab ia mendapat rating 4 lebih di Goodreads. Berbeda dengan Selimut Debu, atau pun buku-buku perjalanan lainnya yang semakin banyak saja kita jumpai di toko buku. Titik Nol terasa sangat hangat. Personal. Menyentuh. Bahkan di beberapa bagian terasa sangat menyesakkan dan bolak balik saya menitikkan air mata. Tidak heran baru rilis beberapa minggu dan sekarang sudah dicetak ulang lagi.

Sampul depan Titik Nol begitu mengundang. Biru cerah dengan anak melompat dari pohon. Bebas. Berani. Nekat. Sebagaimana penulis yang juga pengembara, musafir, you named it. Menurut saya Agustinus Wibowo adalah laki-laki pejalan yang nekat. Perjalannya penuh dengan bahaya, dirampok, sakit keras di negeri orang. Buset dah! Titik Nol menjadi buku bacaan saya saat liburan di Lombok. Malu sendiri sudah heboh kepanasan dan stress ketika merasakan ‘keramahan’ penduduk lokal di pelabuhan Bangsal.

Makna sebuah perjalanan.

Tibet. India. Nepal. Afganistan.

Surga. Khailash. Shangri La.

Titik Nol berpusat pada Agustinus Wibowo yang menggabungkan makna perjalanan dan sang Mama yang berjuang menghadapi kanker. Bagaimana kedua hal itu bisa menjadi korelasi yang pas, itulah magnet kuat dan kekuatan penulis merangkai kata sehingga Titik Nol lebih menyerupai buku kehidupan seperti yang ditulis Qaris Tajudin. Justru dari ibunya yang tidak pernah ke mana-mana itulah, ia menemukan satu demi satu makna perjalanan yang selama ini ia abaikan.

Dibedakan dari tulisan tegak yang mengisahkan perjalanan demi perjalanan dan tulisan bercetak miring, pembaca seakan melihat penulis dari dua sisi. Sebagai seorang pejalan yang mencari arti hidup, berpetualang dengan gagah berani dan sekaligus kita melihat Agustinus yang ternyata adalah manusia biasa. Tak lepas dari kecemasan, ketakutan, kesedihan.

Membaca Titik Nol, saya merasa ikut didongengi oleh Agustinus, sebagaimana bab demi bab ia menceritakan kisah Safarnama kepada sang Mama.

Jarak dan waktu memang sempat menjadikan hubungan ibu dan anak ini seperti tuan rumah dan tamu yang saling dipenuhi rasa sungkan. Tapi penyakit ini telah mengubah kami, yang kini tak segan mengucap kata ‘cinta’, berbagi ciuman dan belaian sayang. Penyakit ini membuatku menemukan Mama, mengalami keluarga, memberi makna baru pada rumah. Perjumpaan dan perpisahan, kegembiraan dan penderitaan, semua adalah anugerah. hal 334.

Pramoedya pernah berkata, hidup ini bukan pasar malam. Di tengah pesta kehidupan, kita tidak berbondong-bondong datang. Satu per satu kita datang, satu per satu kita berjalan dan menjelajah, satu per satu kita menciptakan kisah kita masing-masing, hingga tiba saatnya nanti satu per satu kita mengakhiri jalan ini-pulang. (hal 526).

Terima kasih Agustinus, untuk kesediannya berbagi kisah perjalananmu kepada kami. Membaca Titik Nol adalah suatu pengalaman berharga, menelusuri negeri yang mungkin tidak akan pernah saya pijak, terutama lagi mengingatkan saya akan mami di nirwana sana.

Setiap kisah, perjalanan, penantian, perjuangan, pengharapan dan kekuatan, tentu ada batas akhirnya. Dan selama masih ada waktu yang diberikan sang Pencipta, mari bersama kita buat kisah hidup kita berarti.

-Mia-

*edisireviewmepet*

 

2013 · BBI · Gramedia · thriller

[Review] Silence of the Lambs – Thomas Harris

Silence of the Lambs. Apa yang terbayang saat anda mendengar kalimat di atas? Kalau saya pertama kali yang terlintas : Hannibal Lecter, diperjelas lagi : wajah Anthony Hopkins dengan masker mengerikan di daerah mulut dan tatapan dinginnya yang menusuk.

Hannibal
Hannibal

Tidak adil rasanya membaca buku Thomas Harris dengan terlebih dahulu sudah memiliki persepsi tentang bagaimana perwujudan karakter Hannibal, tapi sebagaimana sudah kita ketahui oleh sebab itulah Anthony Hopkins diganjar piala Oscar sebagai pemeran pria terbaik tahun 1992 padahal beliau hanya muncul selama kurang lebih 16 menit saja.

Gramedia baru saja menerbitkan serial Hannibal Lecter ciptaan Thomas Harris yang sangat layak dikoleksi. Bagi penggemar cover macam saya begini, saya cukup puas dengan cover barunya dan entah disengaja untuk menambah kesan misterius, sinopsis yang ada di halaman belakang bukanlah rangkuman singkat cerita, melainkan adegan pertama bertemunya tokoh utama kita, agen FBI Clarice Starling dengan Dr Hannibal Lecter. Creepy!

Silence of the Lambs
Silence of the Lambs

Seorang diri Starling menyusuri koridor remang-remang itu. Ia tidak menoleh ke sel-sel di kedua sisi. Suara langkahnya berkesan keras baginya. Kecuali itu hanya ada suara mendengkur dari satu atau dua sel, serta tawa terkekeh-kekeh dari sel lain…

Dr. Lecter mengenakan seragam putih rumah sakit jiwa di selnya yang berwarna sama. Kecuali rambut, mata, dan mulutnya yang merah, segala sesuatu di sel itu berwarna putih. Wajahnya sudah begitu lama tidak terkena sinar matahari, sehingga seakan-akan menyatu dengan warna putih yang mengelilinginya; sepintas lalu timbul kesan wajahnya melayang di atas kerah bajunya. Lecter duduk di meja di balik jaring nilon yang menghalanginya dari terali. Ia sedang membuat sketsa pada kertas roti dengan memakai tangannya sebagai model. Sementara Starling menonton, Lecter membalikkan tangan dan, sambil meregangkan jari-jemari, menggambar sisi dalam lengannya. Dengan jari kelingking ia menggosok-gosok salah satu garis yang dibuatnya dengan arang.

Starling mendekati terali, dan Lecter menoleh.
“Selamat malam, Dr. Lecter.”
Ujung lidah Lecter yang merah muncul di antara kedua bibir yang tak kalah merahnya. Sejenak lidahnya menyentuh bibir atas, tepat di tengah, lalu menghilang kembali.
“Clarice.”
Starling mendengar suaranya yang parau, dan dalam hati ia bertanya, sudah berapa lama sejak pria itu terakhir angkat bicara. Keheningan seakan berdenyut-denyut.

Tersebutlah seorang pembunuh psikopat disebut-sebut dengan Buffalo Bill yang telah membunuh 5 perempuan, tidak hanya menghabisi nyawa, ia juga menguliti tubuh korban yang kesemuanya wanita dan terakhir diketahui ia juga memasukkan kepompong ngengat ke tenggorokan korban. Kehabisan akal, Kepala Seksi FBI bagian Ilmu Perilaku Jack Crawford menugaskan bawahannya Starling yang cantik dan pintar untuk menggali informasi mengenai Buffalo Bill melalui seorang tahanan penjara pembunuh berantai yang dikenal memakan hidup-hidup korbannya yang juga berprofesi sebagai psikiater, Dr Hannibal Lecter the cannibal.

Entah Hannibal tertarik dengan masa lalu Clarice atau ia sedang ingin bermain-main, Hannibal akhirnya setuju membantu FBI menemukan siapa si Buffalo Bill ini sesungguhnya sebelum korban kembali berjatuhan, terlebih lagi korban terakhir yang ia sekap adalah Catherine Martin, putri seorang senator.

Good evening, Clarice
Good evening, Clarice

Kira-kira begitulah garis besar novel setebal 476 halaman yang sangat sayang dilewatkan. Hannibal Lecter secara resmi sudah masuk dalam daftar salah satu dari karakter paling memorable yang pernah saya baca, mengesampingkan tokoh ini diperankan oleh Anthony Hopkins loh ya, wong saat membaca saya bisa merinding disko gitu kok.

Percakapan yang intens antara Hannibal – Clarice yang diungkap sedikit demi sedikit menambah ketegangan cerita sampai di akhir kisah. Akhir kisah, halaman terakhir bahkan! Dan seakan belum cukup Thomas Harris berhasil memikat pembaca lewat karakter antagonis lainnya, si Buffalo Bill. Transeksual, masa lalu yang kompleks dan untuk apakah ia menguliti korbannya? Dan apa gunanya ngengat yang sengaja ditinggalkan di tenggorokan korban? Satu misteri lagi, apa yang dimaksud dengan domba-domba telah membisu?

Buku kedua Thomas Harris ini pantang untuk dilewatkan, mari mengenal lebih jauh seperti apa Hannibal, seorang psikopat jenius yang disebut-sebut sebagai salah satu Greatest Movie Character via Empire dan 100 Greatest Characters of the Last 20 Years menurut Entertainment Weekly. Tindakannya acap kali ‘mengejutkan’ dan kalau mau diperjelas lagi saya sebagai pembaca merasa dibodoh-bodohi olehnya saat Hannibal bolak balik mengelabui polisi, dan tindakannya saat kabur dari penjara, EPIC!

Silence of the Lambs adalah buku kedua sebelum Red Dragon dan dilanjutkan di seri terakhir, Hannibal Rising. Walau begitu novel ini tetap bisa dinikmati tanpa membaca seri pertamanya terlebih dahulu. Saya pribadi memutuskan untuk mengoleksi serial lengkapnya. Care to join me?

Postingan ini dibuat dalam rangka #bacabareng #BBI edisi Oscar. Silence of the Lambs sukses merebut 5 piala untuk kategori :

Best Picture

Best Director

Best Actor

Best Actress

Best Adapted Screenplay.

movie poster
movie poster

Need to say more? 🙂

Trailer :

Oia, sekilas info terbaru, sepertinya kita akan kembali menyaksikan aksi gila Hannibal melalui TV seri dengan judul yang sama. Akan tayang April mendatang dengan Mads Mikkelsen sebagai Hannibal. Info lebih jelas silahkan klik di sini.

Can't get enough?
Can’t get enough?

Good evening, Clarice – diambil dari ttcritic.wordpress.com

2013 · adventure · fantasy · Gramedia · kids just wanna have some fun · Middle Grade

[Review] The Ring of Solomon – Jonathan Stroud

Bartimeus, bisa dibilang adalah salah satu karakter terbaik yang pernah diciptakan, jin favorit rata-rata penggemar fantasi, penyebab saya dipandang heran oleh teman-teman gara-gara ngakak sendirian saat membaca buku The Ring of Solomon.

Karakternya sendiri dibilang nyenengin banget ya nggak, malah cenderung pain in the ass, judes, sarkastik, narsisnya bukan kepalang, tapi ya itu Barti. Sifatnya yang blak-blakan, apa adanya dan cenderung merendahkan manusia malah membuat kita pembaca jatuh hati kepadanya. Saya iri dengan Nathanael, yang bisa mengalami petualangan bersama Barti yang kisah terakhirnyanya saya baca hampir 3 tahun lalu.

Betapa girangnya saya dan saya pastikan begitu juga semua penggemar Barti saat Gramedia menerjemahkan buku lanjutan The Ring of Solomon. Tidak ada Nathan, Kitty dan grup penyihir modern. Jonathan Stoud membawa kita berkelana ke Israel 950 S.M. Saat di mana Israel dipimpin oleh raja Solomon yang memiliki cincin sakti, sehingga banyak kerajaan takluk di tangan Solomon. Bukan raja hebat kalau tidak memiliki banyak penyihir, salah satu penyihirnya yang lumayan culas Khaba menjadi master Barti kali ini. Dan bukan Barti kalau tidak membuat ulah.

The Ring of Solomon
The Ring of Solomon

Mulai dari balas-balasan hinaan dengan Faquarl, menciptakan lagu bernuansa cabul untuk Raja Solomon dan yang fatal berubah wujud menjadi kuda nil pakai rok!! *aduh kok kebayang aki*

Intensitas cerita yang awalnya agak membosankan mulai meningkat kala kerajaan Sheba yang mengutus salah satu pendetanya yang bernama Asmira untuk mencuri cincin Solomon. Berhasilkah Asmira? Asmira tentu saja harus berhadapan dengan Barti. Penasaran? Mariii dibacaa sendiri 🙂

(+) :

tengil banget kan?
tengil banget kan?

– Bartimeus, sudah jelas. Nuff said. Bahkan saat menulis review ini saya bisa membayangkan wajah tengilnya. Kangeen 🙂 Tapi beneran loh, jarang kan kita membaca buku dan kangen dengan tokoh utamanya. Harry Potter juga tuh, bikin kangen. Kangen dengan penasaran beda ya? Saya menanti serial kadang karena penasaran endingnya walau belum tentu kangen dengan si tokoh utama. Beda dengan Barti, sepertinya saya tumbuh dan menghabiskan waktu dengannya, walau dipikir-pikir serem juga yang dikangenin kok jin XD.

– Bartimeus. Lebih spesifik lagi : catatan kakinya.

– Kejutan dan twist di akhir kisah.

(-) :

– Entah karakter Barti yang terlalu menonjol sehingga karakter lainnya tenggelam atau memang tokoh yang dibuat Jonathan Stroud kurang menarik atau sayanya mulai berganti selera.

Asmira sangat-sangat membosankan, padahal saya pikir penulis sudah berusaha keras menciptakan fearless female *kok kaya Cosmopolitan* yang gahar sekaligus pemberani. Tapi setiap di bagian Asmira saya bosaaaan, mungkin itu sebabnya waktu yang saya pakai untuk menamatkan The Ring of Solomon cukup lambat.

– Typo. Tumben-tumbenan lolos sebegini banyak.

– Mustinya total bintang 3,5 tapi saya turunkan jadi 3 karena 4 rasanya tidak pas. 3 bintang untuk my favorit djin. Bartimeus!

2013 · BBI · Gramedia · historical

[Review] The Various Flavours of Coffee – Anthony Capella

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu tiba! Posting bareng BBI pertama tahun 2013. Yay! Serunya lagi kali ini temanya adalah Secret Santa. Dan saya masih ragu-ragu siapa pengirim buku setebal 677 halaman ini >.<

The Various Flavours of Coffee
The Various Flavours of Coffee

Ya, buku hadiah dari Secret Santa saya adalah The Various Flavours of Coffe karangan Anthony Capella yang sebelumnya menuliskan beberapa buku yang kental dengan eksotisme makanan.

Sinopsis :

Dengan secangkir kopi, hidup Robert Wallis berubah. Penyair amatir itu tengah duduk di kedai kopi di London merenungi masa depannya yang suram ketika Samuel Pinker menghampirinya. Ternyata si pemilik Castle Coffee menawarkan satu hal yang sangat diharapkan pemuda itu: pekerjaan.

Robert bertugas menyusun daftar “kosakata kopi” berdasarkan cita rasa dan aroma kopi, pekerjaan yang menjadi awal petualangan Robert menemukan manis pahit kehidupan. Adalah putri Pinker yang membuat Robert jatuh cinta dan sadar bahwa ia tidak mungkin membangkitkan satu indra tanpa membangunkan indra-indra lain.

Sayang cinta mereka diuji saat Robert mesti bertolak ke Afrika. Di sana Robert bertemu Fikre yang melayaninya dalam upacara minum kopi khas Abyssinia tradisional. Dan ketika Fikre, budak seorang saudagar, dengan berani menyelipkan sebiji kopi ke tangan Robert, misteri kopi dan cinta terlarang berbaur dan mengubah… sejarah dan takdir.

From the internationally bestselling author of The Wedding Officer comes a novel whose stunning blend of exotic adventure and erotic passion will intoxicate every reader who tastes of its remarkable delights.

fave cover kedua setelah versi gramedia
fave cover kedua setelah versi gramedia

Kutipan di atas pas banget mewakili isi dari buku yang diterjemahkan dengan judul Rasa Cinta dalam Kopi ini. Kita tidak hanya ikut serta dalam petualangan mencari cinta seorang laki-laki genit yang bernama Robert Wallis, pembaca bahkan mendapat pengetahuan baru mengenai sejarah kopi dan karakter kopi yang berbeda-beda. Mirip manusia saja, beda tempat beda karakter.

“Rasanya seperti lumpur. Dengan sedikit sisa rasa samar-samar dari buah aprikot busuk.”

Siapa sangka berkat omelan Robert Wallis soal kopi yang ia minum kepada pelayan di Cafe Royal membuka perkenalannya dengan seorang saudagar kopi bernama Samuel Pinker. Pinker tertarik dengan kepiawaian Robert mendefinisikan rasa secangkir kopi, tak butuh waktu lama akhirnya Robert mengiyakan ajakan Pinker.

Sebagai penikmat kopi instan dan sesekali menyesap kopi di beberapa kedai kopi, saya merasa tidak ada apa-apanya dibanding Robert yang sedemikian ‘unik’ menguraikan harum secangkir kopi.

Seperti pada halaman 35 :

“Rasanya tidak tajam. Seperti handuk basah.”

atau

“Baunya seperti —- karpet lama!”

atau juga

“Sekepul roti bakar gosong”

Haha, coba kopi macam apa pula yang Robert cicipi? Entah memang sedemikian rasanya atau lidah awam saya tidak peka dengan cita rasa kopi?

Robert memilah dan menerjemahkan rasa berbagai jenis biji kopi dari Sumatra, Srilanka, Arab, Jamaika bersama anak gadis Pinker, Emily Pinker. Dasarnya Robert adalah pria flamboyan maka Emily pun tak luput dari godaannya. Walau awalnya jual mahal, akhirnya Emily jatuh juga ke pelukan Robert.

Ayah Emily, Mr. Pinker akan merestui hubungan mereka jika Robert berhasil memberikan mahar sebanyak seribu pound. Dengan cara pergi ke Afrika, membuka lahan baru seluas lima puluh ribu acre. Seukuran London!

Namanya memang laki-laki flamboyan, di Afrika Robert malah jatuh cinta dengan seorang budak bernama Fikre. Duh, beneran saat baca buku ini bolak balik Robert pengen saya sembur dengan kopi panas. Genitnya ini ga ketulungan! Memang sih di Afrika banyak masalah yang akan menimpanya yang membuat Robert jatuh bangun dan mau tak mau pembaca akan bersimpati padanya, tapi  tetep saja saya gemes duluan dengan karakter Robert.

The Various Flavours tidak hanya berkisah seputaran kisah cinta Robert, sebagai pembaca indera penglihatan dan penciuman kita dimanjakan dengan penuturan kopi oleh Anthony Capella, sampai bolak balik saya ikutan minum kopi untuk merasakan sensasi eksotisme yang begitu kental di buku ini. Sayangnya tetap saja yang berasa cuma krimer dan gula 😀

The Various Flavours merupakan fiksi historikal yang mengambil setting London di akhir tahun 1900an di saat marak isu penjajahan, perbudakan, kental dengan teori ekonomi dan perdagangan. Puas kok bacanya, hanya saja tetap 3 bintang yang saya karena sudah sebel duluan dengan Robert XD.

Terima kasih my dearest Santa.

Di detik-detik terakhir saya memutuskan bahwa secret santa saya : jreng jreng jreng …… Om Rahib! aka @htanzil. Kenapa? Karena ada kalimat the old one with H. Benar tidaknya mari ditunggu komentarnya saja :p

Saatnya blogwalking! Dan ah ya, sudahkah minum kopi hari ini?

images

2012 · fantasy · Gramedia · love love love · young adult

[Review] Daughter of Smoke and Bone – Laini Taylor

Praha.

Gadis misterius berambut biru.

Pemburu gigi.

Portal ke mana saja ala doraemon.

Malaikat bermata oranye dengan tubuh gagah memesona.

Chimaera.

Iblis vs Malaikat.

Cinta terlarang.

Dari Asap dan Tulang
Dari Asap dan Tulang

Lupakan sejenak vampir, manusia serigala, dunia distopia. Kita kembali ke bumi, tepatnya di Praha yang menjadi setting novel pertama trilogi Daughter of Smoke and Bone karangan dari Laini Taylor.Tidak hanya itu kali ini kita mendapat ‘segambreng’ tokoh unik. Chimaera beragam jenis, malaikat ganteng dan Karou, tokoh protagonis yang bisa beragam bahasa dengan fasih berambut biru dengan tato di kedua telapak tangan.

Wajarlah jika Daughter of Smoke and Bone meraih rating yang tinggi di Amazon dan Goodreads, bahkan menurut postingan di blog penulis Universal Pictures resmi akan mewujudkan kisah cinta terlarang angel dan demon versi layar lebar. Yuk kita kupas sedikit soal buku dari penulis yang juga memiliki rambut ajaib berwarna pink ini.

Daughter of Smoke and Bone dibuka dengan kehidupan Karou yang mendalami kelas kesenian di Praha, ia pintar menggambar dan buku sketsanya penuh dengan gambar aneh. Wanita bertudung kobra, laki-laki berparuh burung. Siapa sangka semua itu nyata adanya.

Praha
Praha

Di sebuah bangunan art noveau, di situlah pintu yang dianggap ‘rumah’ oleh Karou. Di bawah saya cantumkan definisi tempat tinggal Karou dan mahluk-mahluk yang mengisi buku sketsanya.

Di mana pun letaknya, toko itu terdiri atas tumpukan raktanpa jendela yang tampak seperti semacam tempat pembuangan sampah peri gigi – itu kalau peri berurusan dengan semua spesies. Taring kobra, gigi anjing, gigi geraham gajah yang melengkung, seri gigi hutan yang eksotis – semua dikumpulkan dalam keranjang dan kotak obat,diikat dalam untaian yang menjuntai dari kaitan, dan disegel dalam ratusan stoples yang bisa diguncangkan seperti alat musik marakas. – hal.49

Terbayang bagaimana suram dan anehnya toko itu >.<

Brimstone: laki-laki besar perpaduan beragam binatang, bertanduk domba jantan yang sering disebut sebagai Wishmonger.

Issa : wanita cantik berwajah malaikat dengan payudara seindah dalam pahatan Kama Sutra, namun bertudung dan bertaring kobra.

Twiga berleher jerapah dan Yasri bermata manusia tapi berparuh burung kakaktua.

Seperti yang tertera di halaman 53 :

Brimstone adalah monster. Jika Brimstone, Issa,Twiga dan yasri berkeliaran di luar toko, itulah sebutan para manusia untuk mereka : monster. Setan, barangkali, atau iblis. Mereka menyebut dirinya sebagai chimaera.

Serem juga yak dipikir-pikir, tapi bagi Karou merekalah teman sekaligus orang tuanya. Siapa dan bagaimana ia bisa dibesarkan di sana Karou tidak tahu. Ia hanya bertugas sebagai pengumpul gigi oleh sosok ‘father figure’nya yaitu Brimstone.

Dulu, ia pernah menjadi gadis polos yang memainkan bulu di lantai sarang iblis. Sekarang ia tak polos lagi, tapi tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk mengatasinya. Inilah hidupnya, sihir, rasa malu, rahasia, gigi-gigi dan kehampaan yang dalam dan menyiksa dalam tubuhnya. hal – 60

Dengan portal di belasan kota Karou mengumpulkan gigi bahkan melukis jika ia sempat. Saat Karou ‘ngidam’ mangga, Brimstone tak pikir panjang dan membukakan portal ke India, dengan syarat ia juga dibawakan beberapa. *huwik, iblis juga bisa makan mangga! :D*

Dan…

Di bagian lain Praha, fenomena cap tangan hitam yangmenempel jelas di pintu ada di mana-mana. Kayu bahkan logam melesak terbakar.

Nairobi. Delhi. Kairo. St. Petersburg.

Menurut anak kecil yang menjadi saksi di New York hal itu dilakukan oleh pria yang meletakkan tangannya di sana, kemudia pintu menyala dan berasap. Dia tidak memiliki sayap, namun bayangannya berasap. Matanya seperti api, percikan api berjatuhan saat ia terbang. Seperti malaikat.

Anak kecil itu tidak salah. Malaikat.

Tersebutlah serdadu seraphim bernama Akiva. Malaikat rupawan yang di punggungnya tampak sepasang pedang bersarung yang disilangkan, tangannya memiliki bekas luka dan tato bertinta hitam yang menghias hingga puncak jemari. Rambutnya dipotong sangat pendek, dengan rambut yang melancip di dahi, kulitnya perunggu keemasan, tulang pipi, alis dan hidung mancung.

Ahey! Ladies, kita menemukan idola baru niiih. *tendang Edward Cullen dan Adam Wilde*

Okeh, sebelum saya semakin meracau tak jelas sepertinya pembaca sudah menebak ke mana larinya cerita ini seperti tagline bukunya :

Once upon a time,

an angel and a devil fell in love.

It did not end well.

Kelanjutan kisah Karou dan Akiva yang ditakdirkan saling membunuh bisa dibaca sendiri yak! Dan bagi yang sudah membaca mari menunggu kelanjutan buku keduanya yang berjudul  Days of Blood and Starlight yang bisa dibaca excerpnya di sini.

Days of Blood and Starlight
Days of Blood and Starlight

Beberapa penghargaan Daughter of Smoke and Bone :

  • AMAZON TOP TEN BOOKS OF 2011
  • AMAZON #1 TEEN BOOK OF 2011
  • YALSA TOP TEN BEST FICTION FOR YOUNG ADULTS, 2012
  • WINNER, AUDIE AWARD FOR BEST FANTASY AUDIOBOOK, 2012
  • NEW YORK TIMES NOTABLE CHILDREN’S BOOK OF 2011
  • PUBLISHER”S WEEKLY BEST BOOKS OF 2011
  • SCHOOL LIBRARY JOURNAL BEST BOOKS OF 2011
  • KIRKUS REVIEWS BEST TEEN BOOKS OF 2011
  • LOS ANGELES PUBLIC LIBRARY, BEST OF 2011
  • CHICAGO PUBLIC LIBRARY, BEST OF THE BEST 2012
  • BARNES & NOBLE REVIEW, BEST YA FICTION OF 2011
  • LOCUS (MAGAZINE OF SCIENCE FICTION & FANTASY) REC READING LIST 2011
  • YALSA 2012 READER’S CHOICE BOOKLIST
  • A JUNIOR LIBRARY GUILD SELECTION, 2011
  • ABC BEST CHILDREN’S BOOK CATALOG, 2011
  • FINALIST, ANDRE NORTON AWARD
  • FINALIST, CHILDREN’S CHOICE BOOK AWARDS TEEN BOOK OF THE YEAR
  • WINNER, OREGON SPIRIT BOOK AWARD

Banyak! Walau begitu menurut saya ada sedikit uneg-uneg saya soal buku ini : Klimaksnya kurang tegang apa karena masih banyak permasalah yang dimunculkan penulis di buku selanjutnya? We’ll see. Kemudian ujug-ujug mereka jatuh cinta padahal belum kenal-kenal amat, hyaeyalah namanya juga ini romance Mi! Hanya saja perkenalannya kurang dalam kalau menurut saya, lain dari itu sih masih bisa diterima, jadi tunggu apa lagi? Baca bukunya dan nikmati keindahan Praha dan jadilah saksi cinta Akiva dan Karou. Jih, berasa kaya tukang obat ga sik saya?

Beberapa quote favorit saya yang saya kutip langsung dari Goodreads *males ngetik ulang* 😀

“Hope can be a powerful force. Maybe there’s no actual magic in it, but when you know what you hope for most and hold it like a light within you, you can make things happen, almost like magic.”

Dan kalimat Brimstone saat menasehati Karou awalnya sih bijaksana, terakhirnya dooong bikin ngakak.

“I don’t know many rules to live by,’ he’d said. ‘But here’s one. It’s simple. Don’t put anything unnecessary into yourself. No poisons or chemicals, no fumes or smoke or alcohol, no sharp objects, no inessential needles–drug or tattoo–and…no inessential penises either.’

‘Inessential penises?’ Karou had repeated, delighted with the phrase in spite of her grief. ‘Is there any such thing as an essential one?’

‘When an essential one comes along, you’ll know,’ he’d replied.”

Cheers!

Oia, coba buka blog resmi Daughter of Smoke and Bone deh! Keren! Dan juga blog resmi Laini Taylor, ada trailer resmi dari Amerika dan Inggris dari berbagai sudut pandang (Akiva, Karou, Brimstone, Issa dan Zuzana) selain itu kita bisa melihat cover Daughter of Smoke and Bone dalam berbagai versi.

Book trailer versi USA :

Book trailer versi UK

Detail buku :

Judul : Dari Asap dan Tulang

Penerjemah : Primadonna Angela (saya suka terjemahan beliau, bahkan baru menemukan kata baru ‘birai’) :p

488 halaman, cetakan pertama,  September 2012, Gramedia Pustaka Utama.