2013 · karya anak negeri · must read

[Review] Generasi 90an – Marchella FP

Kebahagiaan itu sederhana.

Sesederhana nyanyi depan kipas angin.

Seserderhana tertawa saat nempelin kertas bertuliskan “Aku orgil” di punggung teman.

Sesederhana nemuin 2 tazos di sebungkus Chiki.

Hell, yeah!

Sebagian dari kebahagiaan sederhana anak-anak imut macam saya di tahun 90an. Kalau saya boleh ikut berpartisipasi di halaman pembuka buku Generasi 90an saya akan menambahkan :

Bahagia itu sesederhana boleh tidur malam lewat dari acara Dunia Dalam Berita.

Sesederhana berhasil makan arum manis secara sembunyi-sembunyi.

generasi-90an
generasi-90an

Bisa dibilang saya seakan menemukan harta karun saat membaca Generasi 90an karya Marchela FP. Senyum-senyum bahkan ngakak-ngakak najis sendirian. Secara garis besar, buku yang mayoritas berisi ilustrasi Marchella dan jangan lupakan jadwal acara RCTI!! menceritakan WHO, WHAT, WHERE yang berbau 90an. Beberapa hal yang berkesan akan saya bagikan di bawah ini.

Let’s relive our 90s memory!

1. Sinetron!

Dulu saya penggemar sinetron lho. Abad 21, Tersanjung *sebelumsampaitaraftersandung-sandung*, sampai Noktah Merah Perkawinan yang digambar apik oleh Marchella.

2. Serial TV.

Dulu saya ingat setiap selasa pasti nyetel SCTV, saatnya Selasa Drama dong :p Kalau serial juaranya tetap dipegang oleh RCTI.

Jadwal RCTI
baca pesan paling bawah deh :p

Senin : Miami Vice

Selasa : Riptide

Rabu : Knight Rider

Kamis : Airwolf.

Jumat : Mac Gyver, quote yang ada di Generasi 90an di bagian ini bikin ngakak.

Hidup itu pilihan, semua ada risikonya. Mac Gyver ada bingung mau potong kabel biru atau merah.

Bhihik, ini yang angkatan 90an pasti sudah nostalgia nih, jangan lupakan Wings, Law and Order oh dan tentu saja! Friday 13 tahun! ๐Ÿ˜€

Untuk serial ABG mulai dari Saved by the Bell, Boys Next Door, Vicky dan silahkan dilanjutkan sendiri.

3. Kuis-kuis 90an

Dulu hidup kita seimbang, emosi diasah lewat sinetron, otak diasah lewat kuis.

Bener banget, tiap malam habis belajar waktunya nongkrongin kuis, bahkan saya bercita-cita untuk ikutan acara Kata Berkait dan Piramida, sedangkan ayah saya terobsesi untuk ikutan Kuis Keluarga Lifeboy, entah penasaran dengan acara menggambarnya atau minta tanda tangan Cathyy Boon ๐Ÿ˜€

4. Must have items.

Must have items
Must have items

Nah ini, mulai dari pin up boyband sampai G-Shock yang ibaratnya baik haji bagi generasi 90an (wajib punya bila mampu) ๐Ÿ˜€

Dan jangan lupakan sepatu ada lampu-lampu, merknya saya masih inget, LA Gear! err, tapi dulu ga punya sik , jaman SMA yang ngetrend sepatu bening jelly yang dipopulerkan Guess, nah ini juga masih ga punya ;D

Punya satu baju Alien Workshop aja sudah berasa tingkat kecantikan mengalahkan kakak kelas yang mayoret loh #tsah!

Kalau mau diterusin bisa-bisa satu buku saya ceritakan semua, tapi yang wajib diposting adalah gambar di bawah ini!

ring a bell? :p
ring a bell? :p

Ada hari di mana kita harus berenti sebentar, nengok ke belakang lalu bersyukur. @Generasi90an.

Terima kasih Marchella berkat karya akhirmu ini kami para angkatan 90an mengenang kembali tazos, tetris bego lu, MTV, camilan SD dan ke-alayan maksimal yang tertuang di buku diary lengkap dengan tulisan panjang ke bawah salam-manis-selalu.

Thank you! ๐Ÿ™‚

Penulis bisa dijumpai di sini. Bagi yang sudah baca dan merasa generasi 90an, masih belum beli juga? Keterlaluan *geleng-gelengalabangRhoma*

PS. Harga memang lumayan mahal, tapi demi kenangan yang sedemikan indahnya, tentu saja, amat sangat pantas.

Cheers,

 

Mia, the proud generasi 90an >.<

Advertisements
2013 · BBI · Gramedia · inspiring · journal · karya anak negeri · memoar · tears

[Review] Titik Nol – Agustinus Wibowo

Catatan perjalanannya tidak banyak menekankan pada petualangan pribadi atau beragam keberhasilan yang dicapainya, melainkan berisi orang-orang yang ditemuinya sepanjang perjalanannya. Tulisan-tulisannya lebih memberi penghormatan pada kenangan-kenangan tentang mereka yang telah menyentuh, memperkaya, mencerahkan hidupnya. Merekalah yang menjadi alasan kenapa Agustinus bisa lolos dari zona perang tanpa terluka sedikit pun, melewati wilayah-wilayah sulit dengan mudah, dan melakukan perjalanan panjang dengan dana amat terbatas.

Nilai perjalanan tidak terletak pada jarak yang ditempuh seseorang, bukan tentang seberapa jauhnya perjalanan, tapi lebih tentang seberapa dalamnya seseorang bisa terkoneksi dengan orang-orang yang membentuk kenyataan di tanah kehidupan.

Lam Li, Oktober 2012.

Titik Nol
Titik Nol

Kalimat pembuka oleh sahabat Agustinus Wibowo sangat pas menggambarkan buku setebal 552 halaman dan sekaligus menjadi penyebab ia mendapat rating 4 lebih di Goodreads. Berbeda dengan Selimut Debu, atau pun buku-buku perjalanan lainnya yang semakin banyak saja kita jumpai di toko buku. Titik Nol terasa sangat hangat. Personal. Menyentuh. Bahkan di beberapa bagian terasa sangat menyesakkan dan bolak balik saya menitikkan air mata. Tidak heran baru rilis beberapa minggu dan sekarang sudah dicetak ulang lagi.

Sampul depan Titik Nol begitu mengundang. Biru cerah dengan anak melompat dari pohon. Bebas. Berani. Nekat. Sebagaimana penulis yang juga pengembara, musafir, you named it. Menurut saya Agustinus Wibowo adalah laki-laki pejalan yang nekat. Perjalannya penuh dengan bahaya, dirampok, sakit keras di negeri orang. Buset dah! Titik Nol menjadi buku bacaan saya saat liburan di Lombok. Malu sendiri sudah heboh kepanasan dan stress ketika merasakan ‘keramahan’ penduduk lokal di pelabuhan Bangsal.

Makna sebuah perjalanan.

Tibet. India. Nepal. Afganistan.

Surga. Khailash. Shangri La.

Titik Nol berpusat pada Agustinus Wibowo yang menggabungkan makna perjalanan dan sang Mama yang berjuang menghadapi kanker. Bagaimana kedua hal itu bisa menjadi korelasi yang pas, itulah magnet kuat dan kekuatan penulis merangkai kata sehingga Titik Nol lebih menyerupai buku kehidupan seperti yang ditulis Qaris Tajudin. Justru dari ibunya yang tidak pernah ke mana-mana itulah, ia menemukan satu demi satu makna perjalanan yang selama ini ia abaikan.

Dibedakan dari tulisan tegak yang mengisahkan perjalanan demi perjalanan dan tulisan bercetak miring, pembaca seakan melihat penulis dari dua sisi. Sebagai seorang pejalan yang mencari arti hidup, berpetualang dengan gagah berani dan sekaligus kita melihat Agustinus yang ternyata adalah manusia biasa. Tak lepas dari kecemasan, ketakutan, kesedihan.

Membaca Titik Nol, saya merasa ikut didongengi oleh Agustinus, sebagaimana bab demi bab ia menceritakan kisah Safarnama kepada sang Mama.

Jarak dan waktu memang sempat menjadikan hubungan ibu dan anak ini seperti tuan rumah dan tamu yang saling dipenuhi rasa sungkan. Tapi penyakit ini telah mengubah kami, yang kini tak segan mengucap kata ‘cinta’, berbagi ciuman dan belaian sayang. Penyakit ini membuatku menemukan Mama, mengalami keluarga, memberi makna baru pada rumah. Perjumpaan dan perpisahan, kegembiraan dan penderitaan, semua adalah anugerah. hal 334.

Pramoedya pernah berkata, hidup ini bukan pasar malam. Di tengah pesta kehidupan, kita tidak berbondong-bondong datang. Satu per satu kita datang, satu per satu kita berjalan dan menjelajah, satu per satu kita menciptakan kisah kita masing-masing, hingga tiba saatnya nanti satu per satu kita mengakhiri jalan ini-pulang. (hal 526).

Terima kasih Agustinus, untuk kesediannya berbagi kisah perjalananmu kepada kami. Membaca Titik Nol adalah suatu pengalaman berharga, menelusuri negeri yang mungkin tidak akan pernah saya pijak, terutama lagi mengingatkan saya akan mami di nirwana sana.

Setiap kisah, perjalanan, penantian, perjuangan, pengharapan dan kekuatan, tentu ada batas akhirnya. Dan selama masih ada waktu yang diberikan sang Pencipta, mari bersama kita buat kisah hidup kita berarti.

-Mia-

*edisireviewmepet*

 

2012 · karya anak negeri · love love love · must read · young adult

Blue Romance – Sheva

Dear Sheva,

Aku lupa sejak kapan mengikuti kicauanmu di Twitter, tak butuh waktu lama membuatku rutin mengecek lini masamu. Menikmati tweetmu yang puitis tapi tidak menye-menye atau sekedar berbagi cerita karena kita sama-sama mengidolakan John Mayer. Awalnya aku malah tidak tahu kamu ternyata penulis buku, tapi karena tweetmu sering kali membiusku dan membawaku ke suasana mellow-romantis mau tak mau aku tergoda mencari Blue Romance.

Blue Romance
Blue Romance

Dear Sheva,

Firasatku benar rupanya, tak butuh waktu lama untuk jatuh cinta dengan tokoh-tokoh yang ada di Blue Romance. Malah aku curiga mereka semua nyata adanya. Dan kalau boleh sedikit menyalahkanmu, aku merindukan coffee shop semacam Blue Romance ada di tempatku tinggal. Aku ingin ikut merasakan kehangatan di pojok Blue Romance sembari menikmati secangkir cappuccino yang adalah minuman favoritku.

Dear Sheva,

Rainy Saturday yang menjadi cerita pertamamu, sukses membiusku sejak kamu memasukkan quote ‘Nostalgia is denial. Denial of painful present’. Ah, aku juga sama seperti gadis itu, terkadang lebih memilih hidup di masa lalu. Aku mengerti kepahitannya dan aku turut senang ketika ia berkenalan secara tidak sengaja dengan laki-laki arsitek itu. Hatiku dibuat berdebar-debar dengan endingnya. Suka!

Dear Sheva, cerita selanjutnya berjudul 1997 – 2002. Kisah manis antara Rika dan Niko. Judul yang tidak biasa untuk nostalgia kisah masa kecil Rika. We’ve lost each other, so let’s found ourselves by being together. Indahnya kalimat yang diucapkan Niko itu! Seandainya saja pasanganku bisa bersikap seromantis Niko.

Dear Sheva, setelah sebelumnya kamu membawaku ke suasana hangatnya cinta yang bersatu setelah lima tahun, di Blue Moon kamu memutarbalikkan emosiku dengan bercerita soal ayah. Well, walau sudah tua begini aku tetap menganggap diriku adalah daddy’s little girl. Edi, begitulah nama tokohmu kali ini. Edi yang jauh dari orang tuanya, yang mengadu nasib di Jakarta. Mirip kisahku saat bersekolah di Surabaya dulu, hanya dengan mendengar suara ayah di telepon saja mampu mengungkit semangat yang terkadang lenyap entah ke mana. Walau aku sudah serumah kembali dengan beliau, kami memiliki kesibukan berbeda yang membuat jadwal ngopi bersama di teras rumah berkurang. Besok aku janji, akan menyiapkan waktu lebih banyak untuk ayahku, mumpung libur!

Dear Sheva, tak kusangka ceritamu yang berjudul A Farewell to A Dream yang hanya 26 halaman mampu membuatku menitikkan air mata. Bagaimana hatiku tidak ikut sedih membaca nasih Bima. Bima, yang jatuh cinta dengan sahabatnya sendiri. Anjani. Bram, yang terpuruk saat Anjani lebih memilih teman dekat Bima, Bram. Tega nian kau, Shev. Tapi mungkin sama seperti kopi, suatu kisah lebih menyesap di dada ketika ada sedikit rasa pahit yang tertinggal.

Dear Sheva, Happy Days sedikit mengingatkanku akan gaya penulisan ala penulis asal Jepang favoritmu. Haruki Murakami. Surreal. Mengambang. Menyakitkan. Indah. Oh, masih soal penulis, betapa senangnya di kisah The Coffee and Cream Book Club kamu mengambil tema dari buku favoritku, The Fault in Our Stars.

Dear Sheva, sedikit kritik mungkin bisa kutambahkan di kisah A Tale About One Day yang kurasa rada aneh. Kai yang kamu kisahkan di sini terkesan lebih tua dari umur sebenarnya, tapi aku suka pilihan lagu untuk penutup Blue Romance. Snow Patrol. Pas untuk kudengar malam-malam dan mungkin itu juga yang membiusku untuk menulis review yang tidak biasa ini.

Dear Sheva,

Sudah aku bilangkah kalau aku resmi menjadi penggemar tulisanmu? Terima kasih untuk Kai, Bima, Niko, Anjani, semua tokoh yang begitu nyata. Tetaplah menulis. Aku menunggu karyamu selanjutnya.

-Mia-

2012 · fantasy · karya anak negeri

[Review] Tabir Nalar – Rynaldo C. Hadi

Jadi begini ceritanya, saya bertemu dengan Rynaldo C. Hadi karena kebetulan doi tinggal di Bali juga dan souvenir dari Mbak Truly dititipkan dia untuk diberikan kepada saya. Ho’oh, mbulet memang. Akhirnya kami ngopi sore sambil ngobrol-ngobrol dan di sanalah saya baru tahu kalau Aldo ini pengarang seri Vandaria Saga yang berjudul Tabir Nalar.

Me : Wooh, kamu yang nulis buku ini? *sambil bolak balik Tabir Nalar*

Aldo : Iya, gara-gara menang cerita favorit jadinya diterbitkan. Ini bukunya buat kamu aja.

Me : Aaaak, terima kasihh, tapi ini covernya rada-rada ya ๐Ÿ˜€

Aldo : Err, iya banyak yang bilang sih ๐Ÿ˜

Beberapa hari kemudian saya mulai membaca Tabir Nalar, walau dengan sedikit perasaan was was. Kenapa was was?

1. Saya bosan dengan fantasi.

2. Sedikit trauma dengan fantasi lokal Indonesia.

3. Bok, ini penulisย  sudah saling follow di Twitter, kalau ntar ga suka kan repot juga ๐Ÿ˜€

Okelah lanjut, saya membaca Tabir Nalar tanpa berharap apa-apa walau sedikit penasaran juga karena rating di Goodreads lumayan tinggi di atas 3,7 kalau tidak salah.

Tabir Nalar
Tabir Nalar

Sekilas sinopsis Tabir Nalar – Vandaria Saga :

Setelah tiga ribu tahun lamanya berkuasa, akhirnya dominasi bangsa frameless terhadap manusia diruntuhkan oleh Raja Tunggal. Kini kedudukan bangsa frameless dan manusia setara. Namun tidak semua pihak senang akan kesetaraan itu. Sebuah organisasi rahasia muncul dan mengoyak kedamaian antara frameless dan manusia dengan serangkaian pembunuh.

Cervale Irvana, sang pembaca pikiran, berusaha menguak misteri di balik pembunuhan itu. Ia membuka rahasia organisasi misterius itu dan menemukan kenyataan yang sulit ia percayai.

Berkisah tentang seorang frameless ganteng sekaligus angkuh bernama Cervale Irvana yang menghadapi misteri pembunuhan rekan-rekannya sesama kaum frameless. Ditambah dengan kode-kode misterius ala Digital Fortress, Cervale dibantu dengan gadis manis bernama Rilsia berusaha memecahkan dan menghentikan pembunuhan kaum frameless yang terus berjatuhan. Namun petunjuk demi petunjuk malah membuat Cervale terperangah dan yang harus ia lakukan adalah mengikuti kata hatinya. Berhasilkah ia? Lanjut baca sendiri dan mari berpetualang di Vandaria bersama Cervale!

3,5 bintang untuk Tabir Nalar, kecemasan saya tidak terbukti, bahkan untuk ukuran ‘newbie’ yang tidak pernah membaca seri Vandaria, saya sangat menikmati sepak terjang Cervale.

Ilustrasi dan tulisan yang ‘ramah’ untuk mata menunjang kenikmatan saya membaca Tabir Nalar dan mengenal Cervale, Rilsia, Barad dan lainnya, walau penggambaran tokoh perempuannya rada-rada bahenol tapi tetap okelah. :p

Cervale, Rilsia
Cervale, Rilsia

Tapi menurut saya yang memegang peranan penting adalah karakterisasi tokoh dan alur yang diciptakan pas oleh penulis. Awalnya saya sempat tidak percaya kalau Tabir Nalar adalah buku pertama Rynaldo, memang ada beberapa bagian yang sedikit kaku dan masih perlu polesan tapi pengenalan Vandaria dideskripsikan dengan pas. Saya juga suka penokohan Cervale dan tokoh penting lainnya macam Barad, Alevor bahkan Kanselir Shah Azhad.

Baru kali ini saya membaca fantasi lokal dengan nuansa misteri ala Dan Brown di buku Demons and Angels. Pembunuhan demi pembunuhan, gulungan darah berisi kode untuk target selanjutnya membuat saya penasaran dan ikut menebak-nebak siapa gerangan si pembunuh. Pertarungan seru dan twist ending di akhir kisah lumayan bikin greget dan membuat novel Tabir Nalar sayang untuk dilewatkan.

Good job, Rynaldo. Keep on writing yak, ditunggu novel keduanya. I want to know more about Cervale!

 

Cheers.

 

2012 · Gagas Media · karya anak negeri

[Review] Kala Kali, mari bermain dengan waktu.

Pembukaan sedikit, postingan kali ini dibuat karena kantuk belum juga menyerang dan melihat kemalasan saya yang semakin meningkat ada baiknya menghabiskan malam dengan mengisi beberapa patah kata di blog :p Jadi jangan berharap bakal menemukan review serius ya teman-teman ๐Ÿ™‚ *kaya pernah serius aja sih mi!*

Kala-Kali
Kala-Kali

Kala Kali. Vabyo. Windy Ariestanty. Judul yang sedikit misterius dan jaminan 2 pengarang yang masing-masing bukunya baru pernah saya baca sekali (Kedai 1001 Mimpi dan Life Traveler) membuat saya melakukan PO berbarengan dengan buku @aMrazing. Buku yang saya sangka adalah buku duet fantasi-mistis ternyata memiliki ‘aura’ yang sangat berbeda, hampir tidak ada benang merah di antara kedua kisah kecuali keduanya mengisahkan tokoh yang berulang tahun.

Ramalan dari Desa Emas – Vabyo.

Twisted ending. Ah, jadi ini yang dimaksud beberapa tweet tentang kepiawaian Vabyo meramu ending cerita. Saya belum baca Joker dan Bintang Bunting tapi bisa terbayang Vabyo yang berhasil mengecoh pembacanya. Tidak jelek kok, hanya saja terkesan sedikit dipaksakan. Celetukan Keni si tokoh utama mirip dengan ceplas-ceplos Vabyo di Twitter. Joke yang ditampilkan kurang mulus dan ‘menggigit’. Bisa jadi karena saya berharap membaca karya Vabyo bisa kembali membuat saya ketawa ngakak seperti di Kedai 1001 Mimpi.

Tsk, susah memang untuk tidak membandingkan Kala Kali dengan Kedai dan saya sadar penulis mana pun tidak suka dibanding-bandingkan dengan karyanya yang dulu. Itu sih yang saya lihat dari beberapa tweetnya yang secara tidak langsung menegaskan ini beda loh dengan Kedai. Ya memang beda, satunya fiksi, satunya pengalaman pribadi Vabyo.

Yang membuat saya salut, penulis sempat membalas tweet saya soal Kala Kali (tanpa memention beliau lho ini). Terima kasih atas waktunya dan maaf mengecewakan, kurang lebih seperti itu balasannya. Errh, kaget juga ๐Ÿ˜€ Momennya hampir bersamaan dengan ‘keramaian’ penulis dan reviewer di Goodreads sehingga mau tak mau saya tersenyum sendiri saat membaca balasan Vabyo.

Saya tetap menantikan karya Vabyo selanjutnya, terlebih lagi lanjutan Kedai 1001 Mimpi dan sukses selalu Valiant Budi!

Bukan Cerita Cinta – Windy Ariestanty.

Setelah berbanyol-banyol dengan Keni, butuh waktu bagi saya untuk mendalami atmosfer puitis yang diciptakan oleh Windy.

Bumi, Koma, Akshara. Saya seakan terlempar ke Jakarta yang mendung, berbau hujan dan senja yang menggelayut. Ish ikutan romantis ala Windy nih ceritanya ๐Ÿ˜€

Saya menemukan sosok Windy dalam seluruh cerita. Windy yang gemar memotret. Windy yang juga seorang editor. Windy sang pengejar awan. Bleh, sok kenal aja sih saya :p Tapi itu yang saya rasakan saat membaca kisah Bumi dengan Akshara. Banyak filosofis yang dijejalkan dalam novella Bukan Cerita Biasa sehingga banyak yang harus dicerna padahal halaman yang disediakan tak cukup tebal. Pembahasan tentang Tolstoy saya rasa tidak terlalu penting untuk dimasukkan tapi itu menurut saya lhooo yaaa. Mungkin seandainya cerita Bumi dijabarkan lebih mendalam di satu buku terpisah bakal lebih ‘greng’.

3 bintang untuk Kala Kali.

Covernya keren! Misterius gimanaa gitu. Tapiiiiii. He eh, tapinya panjang karena buku ini jadi susah banget dibaca tanpa ketekuk!!

2012 · drama · Gagas Media · karya anak negeri · love love love · young adult

Di antara hembusan angin dan hempasan ombak Belfast. Truth or Dare, a review.

Hi! Miss me? :p Maafkan blogger pemalas yang perhatiannya terebut oleh Songpop *ketip-ketip*, yuk ah biar tidak lama-lama kangen dengan saya, mari membahas buku duet Gagas Media antara Winna Efendi dan Yoana Dianika berjudul Truth or Dare.

Truth or Dare
Truth or Dare

Truth or Dare mengambil tema persahabatan antara dua gadis SMA bernama Alice dan Catherine. Winna Efendi mengambil bagian di Alice si gadis polos dan Yoana Dianika menciptakan gadis tomboy Catherine.

Karena ‘penyakit’ tetap Gagas Media yang tidak pernah mencantumkan sinopsis cerita, saya akan bercerita sedikit tentang kota kecil bernama Belfast yang menjadi latar belakang cinta segitiga antara Alice, Cat dan pria Indo blasteran bernama Julian.

Alice.

Terbagi menjadi 14 bab yang judul babnya sangat khas Winna Efendi.

Each friend represents a world in us, a world possibly not born until they arrive, and it is only by the meeting that a new world is born.- Anais Nin-

“Hei, di antara kalian ada yang membutuhkan partner tambahan?” – Julian

Semuanya dimulai di kelas sejarah, saat guru Alice dan Cat memberikan tugas untuk menciptakan sejarah Belfast, kota kecil mereka tinggal sesuai versi masing-masing. Dan pertanyaan yang diajukan murid pindahan dari Indonesia mengawali kekompakan mereka bertiga. Berdiskusi, riset dan brainstorming idea atau sekadar mengobrol sampai matahari terbenam sambil berbagi fish and chips di Young’s Lobster Pound.

Belfast's sunset
Belfast’s sunset

Life changes in the instant. The ordinary instant. – Joan Didion

Sesuai perkataan Heraclitus yang diucap Julian, “Perubahan adalah satu-satunya perubahan yang konstan di dunia ini”, ada yang berubah di antara mereka. Walau mungkin Alice tak ingin ada yang berubah dari persahabatan mereka bertiga. Alice mulai menyukaiJulian dan di saat yang sama ia menyadari kalau Cat juga menyukai Julian.

Have you ever been in love? Horrible isn’t it? It makes you vulnerable. It opens your chest and it opens up your heart and it means that someone can get inside you and mess you up. – Neil Gaiman.

Cat dan Julian berpacaran. Alice diam. Alice memendam perasaannya. Alice tidak ingin ada yang berubah tapi kejadian demi kejadian terjadi dan puncaknya berakibat fatal terhadap mereka bertiga.

Apa itu?

Baca sendiri ya, karena itu spoiler berat kalau sampai saya ceritakan ๐Ÿ™‚

Catherine.

Mulai halaman 157 kita dibawa melihat runutan kisah Alice-Cat-Julian dari versi Catherine. Sayangnya kurang banyak hal baru yang bisa diketahui. Saya mengharapkan bakal ada rahasia-rahasia lain yang terungkap, tapi Yoana malah memperluas cerita dengan menambahkan tokoh baru kakak tiri Cat : Ethan dan Chase, yang tidak ada hubungannya dengan cerita, jadi malah terkesan ‘ga nyambung’.

Walau ada beberapa kekecewaan bintang 3 tetap saya sematkan untuk Truth or Dare, karena kesan hangat yang ditimbulkan saat saya menutup halaman terakhirnya.

Seperti biasanya saya suka kepiawaian Winna Efendi melukiskan suatu kota (Ingat Ai dengan Jepangnya?), Truth or Dare membawa saya travelling ke Belfast, sebuah kota pesisir pantai di Maine. Kota kecil yang hangat, tidak terlalu ramai penduduknya dengan suara burung di sore hari.

Penasaran? Excerpt dari Truth or Dare bisa dibaca di sini.

Salut untuk Gagas Media yang selalu mengusung sesuatu yang baru, terdepan dalam pemilihan cover kali ini Gagas menciptakan genre baru. Novel duet. Menarik sekaligus bisa menggaet pasar lebih banyak :p Oia dan cover keluaran terbaru dibuat dengan tampilan memanjang dan sampulnya dibuat ala amplop. Unik walau saya sedikit susah ketika hendak menyampul bukunya. Alhasil tidak tersampul dan ujungnya malah gampang tertekuk.

Detail buku :

Truth or Dare – Winna Efendi dan Yoana Dianika,

Gagas Media, cetakan pertama 2012, 301 halaman.

2012 · inspiring · journal · karya anak negeri

[Review] The Not-so Amazing Life of @aMrazing

Sebelum bercerita tentang buku #TNSALOA, cerita soal awal mulanya saya ngefans berat sama doi dulu gpp yak ๐Ÿ˜€

Berawal dari follow akunnya di twitter, kicauan khas Alexander Thian mulai mewarnai hari saya, kalau lagi bete atau lagi bosan menunggu pas ga baca buku yang saya klik di ‘go to user’ ya pasti @aMrazing ๐Ÿ˜€ Tweet-tweetnya itu RTable, ceplas ceplosnya bikin ngakak, tweet mellownya pengen klik jadi favorite mulu atau lebih seru lagi kalau doi berantem dengan fans beratnya penyanyi Indonesia berkaliber internasional itu :p

Tulisannya sebelumnya sudah pernah saya baca di kumpulan kisah The Journeys dan siapa sangka review The Journeys di blog ini dikomentarin langsung oleh @aMrazing. Akkk, senang!

Makanya saya yang jarang banget beli buku pre order, langsung sigap memesan buku The Not-so Amazing Life of @aMrazing! Tak butuh waktu lama untuk membaca habis buku #TNSALOA, sampai pacar saya bengong, kadang ketawa ngikik, eh sebentarnya berkaca-kaca.

#TNSALOA
#TNSALOA

#TNSALOA terbagi menjadi 14 cerita unik tentang pelanggan-pelanggan ajaib Alex saat ia memiliki konter HP.

1.ย  Bapak Yu jam ai jam yang ngotot pengen lagu My Heart Will Go Onnya Maria Kere.

2. Mbak-mbak bohay yang nyimpen kondom bekas Ona Sutra *kalau ga salah dulu @aMrazing pernah ngetwit soal Mbak ini deh*

3. Bapak pemilik HP yang punya nama Pelangi *perhatian baca bagian ini diharapkan di tempat sepi biar ga kliatan gila ngakak-ngakak ga jelas*

4. Dummy seharga 2 juta yang sukses membuat saya menitikkan air mata. Duh, apa kabar Rama sekarang ya?

5. Anak kecil kembaran Pretty Asmara yang bawaannya pengen nampol dan sedihnya sering kali saya jumpai anak macam begini sekarang.

6. Bab yang berjudul Amnesia Mendadak selain lucu juga berjasa menambah kosakata permisuhan saya. ‘sapi’ ‘sapi berkoreng’ ‘sapi budukan’ dan ‘sapi bersusu jumbo’ ๐Ÿ˜€

7. Kali ini kita melihat Alex yang apes kuadrat kena nafas bau neraka plus ‘digajahi’.

8. That awkward moment antara ibu berkonde tinggi dan ibu polos yang kebingungan softwarenya yang harus di’flash‘.

9. Takjub-takjub dengan kisah loper koran yang punya Nokia N70 plus selera musiknya juara. Tak hanya itu, saya juga belajar untuk tidak menilai dari luarnya saja, di jaman everybody judges everbody kita diingatkan kembali untuk mendalami arti ‘beauty is only skin deep‘. Touching!

10. Bapak dangdut terorejing, Alex kembali mengalami hari dengan pelanggan bernafas naga :p

11.Manajer masturbasi, kisahnya mirip-mirip pengalaman @vabyo di Kedai 1001 Mimpi hanya saja nama bapak ‘Kokcoli’ ini fenomenal! Dan beneran deh, bolak balik saya bingung kok bisa ya kejadian aneh-aneh selalu menyertai hidup Alex? Sudah ditakdirkan untuk buat buku selanjutnyakah? #kodebuatkohAlex

12. Pelanggan selanjutnya adalah khas tipe pejabat Indonesia bedanya yang ini pake Virtu bukan Vertu.

13. Preman jadi-jadian, another tragic day buat Alex dan menjadi hiburan buat pembaca ๐Ÿ˜€

14. Terakhir. Jujur itu Mahal yang saya tangkap sangat personal, terbukti quotenya yang dalem banget.

Sometimes, acceptance is the hardest thing to do. Not because we can’t, but because we just don’t want to. We hold on to things that are no longer there, because we’re not ready to go.

Ditutup dengan kalimat ‘Dan pada akhirnya, orang yang berbesar hati akan menertawakan kesalahannya sendiri tanpa beban’, 4 bintang untuk pelanggan-pelanggan fenomenal dan tulisan khas @aMrazing!

Kalau bisa diumpamakan sebagai penonton di penutup konser-konser artees, kali ini saya akan joget-joget sambil berkata, “We want more, we want more!” ๐Ÿ™‚

Ditunggu buku selanjutnya ya Mas Alex or should i say Mas Gordon Levitt? :p

Bagi penggemar buku macam Kicau Kacaunya Indra Herlambang dan Kedai 1001 Mimpinya @vabyo, buku ini wajib baca, apalagi bagi follower-followernya. Belum pernah dengar tentang penulis, silahkan follow twitternya di @aMrazing dan tumblrnyaย  di amrazing007.tumblr.com.

Detail buku :

Pre order di @bukabuku

Judul : The Not – so Amazing Life of @aMrazing

Cetakan pertama, 2012, 218 halaman.

Gagas Media