adventure · ebook · fantasy · kids just wanna have some fun · young adult

The Throne of Fire – Rick Riordan

Hai hai semua, miss me? *blogger narsis ga tau diri*

Akhirnya saya berhasil menyelesaikan Throne of Fire setelah ngendon di rak currently reading selama lebih dari 2 bulan, beginilah kendala baca ebook, pasti nyandet-nyandet 😦 Lah kok jadi curhat, yuk kita langsung saja ke berpetualang di Mesir bersama Kane bersaudara Sadie dan Carter. Berikut sinopsis buku 2 dari 3 buku petualangan Kane chronicles yang saya ambil dari sini.

Ever since the gods of Ancient Egypt were unleashed in the modern world, Carter Kane and his sister Sadie have been in trouble. As descendants of the House of Life, the Kanes have some powers at their command, but the devious gods haven’t given them much time to master their skills at Brooklyn House, which has become a training ground for young magicians.

And now their most threatening enemy yet – the chaos snake Apophis – is rising. If they don’t prevent him from breaking free in a few days’ time, the world will come to an end. In other words, it’s a typical week for the Kane family.

To have any chance of battling the Forces of Chaos, the Kanes must revive the sun god Ra. But that would be a feat more powerful than any magician has ever accomplished. 

First they have to search the world for the three sections of the Book of Ra, then they have to learn how to chant its spells. Oh, and did we mention that no one knows where Ra is exactly?

Narrated in two different wisecracking voices, featuring a large cast of new and unforgettable characters, and with adventures spanning the globe, this second installment in the Kane Chronicles is nothing short of a thrill ride.

Throne of Fire
Throne of Fire

Review :

Sedari kecil Mesir selalu menarik buat saya, Cleopatra, mumi, piramida, anything! Jadi bisa dibayangkan ketika salah satu pengarang favorit saya membuat serial baru selepas Percy Jackson yang mengambil lokasi di Mesir lengkap dengan dewa-dewanya.

Walaupun Throne of Fire lanjutan dari Red Pyramid tapi bagi yang ingin langsung membaca buku 2nya tidak mengurangi keasyikan saat membacanya. Sadie dan Kane, 2 remaja biasa yang dalam beberapa hari bertualang menyelamatkan dunia, classic eh? Dewa Mesir semakin banyak yang muncul, penggemar mitologi bakal merasa sangat dimanjakan oleh Rick Riordan. Sayangnya Throne of Fire terlalu bertele-tele, banyak hal yang saya rasa dipanjang-panjangkan oleh om Riordan, walau tetap menarik untuk dibaca sih karena celetukan dan pertengkaran Sadie – Carter mengingatkan saya akan pertengkaran khas adik kakak yang terjadi di rumah.

Sadie, gadis 13 tahun, keras kepala, bossy sedangkan Carter yang setahun lebih tua malah terkesan lebih polos dan lugu. Karakter favorit saya tetap Anubis, dewa kematian yang muncul dalam sosok pria ganteng 😀 #salahfokus.

Carter Kane
Carter Kane
Sadie Kane
Sadie Kane

3,5 bintang. Mudah-mudahan buku terakhir yang terbit tahun depan bakal lebih seru, secara musuh abadi Kane bersaudara yang sebelumnya masih belum muncul total di ending buku 2 sudah bangkit. Yah mirip-mirip Voldemort yang semakin kuat mendekati akhir kisah.

Hal lain yang ingin saya ceritakan di sini, The Throne of fire adalah buku pertama yang saya baca via format audiobook. Awal-awalnya sih seru, bisa mendengar langsung Sadie dan Carter berbicara pas buku ini memakai 2 point of view, eeeh lama-lama jereng juga dengarnya, susah mendengar kalau tidak sambil membaca bukunya. Solusi saya : baca ebooknya sambil dengar audiobook. Menarik dan pengisi suaranya pun pas. Sadie yang bossy terdengar well yeah bossy dan tegas, sedangkan Carter lebih tenang.

Bagi yang memiliki waktu ekstra coba deh untuk berkunjung ke situs resmi Rick Riordan, saya sukaaa banget! Ada penjelasan lengkap tentang Egyptian Magic, shabti dan penjelasan mengenai dewa-dewi Mesir. Bagi yang suka game, Rick Riordan juga menyediakan link ke website resmi British Museum, tempat yang didatangi oleh Sadie dan Kane, kita bahkan bisa mencoba membuat nama kita versi Hieroglyphics, seru! Kita juga bisa belajar membuat mumi di BBC online. Bagi yang belum puas download saja Egyptian Event Kit , ada 2 versi Red Pyramid dan Throne of fire, ada pertanyaan yang memudahkan kita untuk mendalami Sadie dan Carter, Alphabet chart versi Mesir, Egyptian Gods family tree. If those are not enough, di kit tersebut juga ada list bahan kalau ingin membuat replika piramid.

Sayang saya mengutak atik website ini setelah baca sampai selesai, coba pas baca pasti lebih seru karena kita bisa membayangkan seperti apa Bes, Bast, Isis, Horus dkk 🙂 hauhau, jadi tambah pengen ke Mesir @.@

 

graphic novel · inspiring · kids just wanna have some fun · young adult

Senyum manis Raina, a dental drama.

Cover simpel, gambar kawat gigi yang kinclong serta nominasi Eisner Award membuat saya tanpa ragu membeli Graphic Novel terbaru terbitan Gramedia. Saya tidak salah pilih, Senyum langsung saya lalap habis dalam semalam.

Senyum
Senyum

Senyum mengisahkan seluk beluk kehidupan seorang gadis remaja yang sedang getol-getolnya mencari jati diri. Menjadi pelajar normal yang banyak teman adalah impian Raina, apa daya sepertinya masalah selalu menghampiri. Keluarga, teman yang suka meledek, mulai taksir-taksiran dan lirik- lirik kakak kelas sampai masalah besar yang menghantui hidupnya hingga beberapa tahun ke depan. Gigi!

Siapa sangka gigi bisa menjadi problem hidup Raina? Berawal dari tersandung, dua gigi depan Raina ‘mblesak’ ke rahang, sehingga kunjungan dokter gigi menjadi rutinitas dalam hidupnya. Mulai dari orthodontist, endodontist sampai periodontist. Kalimat Raina,  “Aku bahkan tidak tahu ada ‘dontis’ sebanyak ini” saat ia harus membersihkan karang giginya ke periodontist (hal 164) membuat saya tertawa. Jadi ingat saat saya  masih menjadi mahasiswi Fakultas Kedokteran Gigi, saya juga tak menyangka ada begitu banyak spesialisasi dokter gigi.

Belum cukup memakai behel, Raina juga diharuskan memakai head gear selama beberapa waktu (halaman 55). Aduh terus terang itu alat memang tidak ‘happening’, bagi yang pernah menonton video klip Last Fiday Night, nah ada adegan di mana Katy Perry menggunakan head gear.

Katy Perry's head gear
Katy Perry's head gear

Senyum menjadi graphic novel favorit saya, ilustrasi Telgemeier yang simpel dan elegan, kisah Raina yang berdasar pengalaman hidupnya sendiri menjadikan buku ini sayang untuk dilewatkan. Raina mengajarkan kita arti persahabatan yang sesungguhnya dan panggilan jiwa yang terkadang saat remaja kita lupa.  “Semakin fokus pada hal-hal yang kuminati, semakin banyak hal yang kusukai pada diriku. Dan itu mempengaruhi cara orang lain memandangku.” halaman 207. Raina yang rendah diri karena kawat gigi akhirnya berhenti mengasihani diri sendiri dan memusatkan perhatian pada hal-hal yang digemarinya (hal 206). Penampilan luar tak lagi memengaruhi perasaan dalam hatinya dan sekarang Raina bisa tersenyum lepas tanpa beban.

Senyum Raina :)
Senyum Raina 🙂

5  bintang!

Saya sebagai eks pemakai behel merasakan keribetan Raina. Bukan bedak dan sisir barang wajib yang ada di tas, melainkan sikat gigi, benang floss, kait floss, tusuk gigi, cermin kecil dan kadang seplastik karet benang kecil seperti yang ada di halaman 184. Ribet banget deh!

Karet elastik Raina
Karet elastik Raina

Kejadian lucu lain saat Raina harus dicetak giginya oleh Orthodontist (dokter gigi spesialis untuk merapikan gigi) – halaman 40. Cetakan harus dibiarkan sampai mengeras di dalam mulut. Wajah Raina yang menahan nafas menahan muntah juga membuat saya tertawa terbahak-bahak, karena dulu saya juga merasakan hal yang sama saat dicetak. Bagi yang penasaran bagaimana bentuk sendok cetak dan bahan cetak gigi, di bawah saya sertakan gambarnya.

Proses mencetak gigi
Proses mencetak gigi

Saat gigi Raina hendak dibor oleh Endodontis (dokter gigi spesialis perawatan saluran akar atau yang biasa disebut ahli konservasi gigi), sebelumnya ia diharuskan menghirup N2O atau yang biasa disebut gas gelak. Setelah beberapa menit, Raina menjadi tidak cemas dan agak ‘fly’ melayang-layang sehingga proses perawatan saluran akar berjalan lancar karena ketegangan Raina berkurang. Gas gelak hampir dipakai oleh semua dokter gigi luar untuk melancarkan proses perawatan, namun sayang di Indonesia sangat jarang karena ijinnya susah dan perlu pengawasan dari pihak yang terkait. Bagi yang ingin mengetahui lebih banyak mengenai gas gelak bisa meluncur ke http://www.dentalfearcentral.org. Di sana kita juga bisa mendapatkan informasi bagaimana mengatasi kecemasan saat mengunjungi dokter gigi. Webnya bagus dan informatif.

Satu lagi spesialis yang disebutkan di buku Senyum adalah periodontist, dokter gigi yang ahli di bidang jaringan penyangga gigi. Kalau hendak membersihkan karang gigi, nah periodontist ini ahlinya. Proses scalling atau pembersihan karang gigi sering kali menjadi momok juga karena pengambilan karang gigi terkadang mengeluarkan darah, sampai Raina stress sendiri saat melihat mulutnya (halaman 166). Proses pembersihan karang gigi agar lebih jelas saya cantumkan di bawah ini, gambar didapat dari google image.

Pembersihan karang gigi
Pembersihan karang gigi

Siapa sangka kisah pengalamannya di usia 6 tahun jatuh di parkiran yang berlanjut dengan kunjungan ke dokter gigi bertahun-tahun menjadi ide untuk penulisan buku Smile. Bahkan buku novel grafis terbaru terbitan Gramedia ini menjadi nominasi EisnerAward tahun 2011, penghargaan bergengsi di dunia novel grafis. Yah mirip-mirip Oscarnya dunia perfilman, 2010 Editor’s Choice New York Times Book Review, 2011 YALSA Top 10 Great Graphic Novel for Teens pick dan finalis Choice Book Award.

Bersama dengan suaminya, Dave Roman yang juga seorang kartunis mereka mengeluarkan komik ala manga berjudul X-Men : Misfits. Ayo Gramedia, terbitkan juga dong :p

Proyek royokan Raina dan Dave
Proyek royokan Raina dan Dave

Detail buku : Senyum – Raina Telgemeier. Penerjemah : Indah S. Pratidina, cetakan I, Juni 2011.


buntelan · fantasy · kids just wanna have some fun

Yes, Piper McCloud can fly!

The Girl Who Could Fly
The Girl Who Could Fly

The Girl Who Could Fly, novel karangan Victoria Forester berhasil menggabungkan karakter gadis kecil pemberani sepertiDorothy di Wizard of Oz dengan karakter manusia berkekuatan super ala X Men. Piper McCloud, sejak bayi sudah mampu melambungkan naik dari permukaan tanah sehingga kedua orang tuanya sepakat untuk mengurung Piper di rumah. Serapat apapun Betty dan Joe McCloud menyembunyikan Piper, naluri terbang Piper tak terbendung. Piper berhasil mencuri-curi waktu untuk terbang di malam hari, sayangnya saat main bola bersama teman-temannya, Piper kebablasan. Bola yang melambung tinggi dikejar Piper bagaikan anak panah yang melesat di udara. “Yippieee!”, seru Piper ala pemain bisbol profesional saat bola berhasil ia raih setelah berputar spiral sebanyak 3 kali.

Apa yang terjadi berikutnya sama sekali tidak sesuai dengan harapan Piper, bukan pujian yang dia dapat melainkan hinaan dan cemooh. Malah ada yang menyangka keahlian Piper adalah ulah setan. Kasihan Piper. Orang tuanya marah, keluarganya dikucilkan dan rumah mulai tidak nyaman dengan hadirnya wartawan yang mengintai kehidupannya. Datangnya Dr. Letitia Hellion mengubah hidup Piper, perempuan anggun yang mengaku wakil dari pemerintah Amerika Serikat mengajak Piper bergabung dengan institut khusus untuk anak dengan keahlian super.

Saya suka kalimat Betty McCloud saat ia hendak berpisah dengan Piper :

“Dalam hidup ini, tidak ada yang mudah bagi kita, Nak. Untuk setiap jalan yang kau ambil, pasti ada harga yang harus kau bayar. Lebih cepat kau menyadarinya, lebih baik. Tidak peduli ke arah mana pun kau pergi, pasti akan ada hal-hal buruk yang bercampur dengan hal-hal baik. Kau cuma perlu belajar menerimanya.”

Dalam sekejap hidup Piper berubah, sekolah I.N.S.A.N.E (Institute of Normalcy, Stability, and Non Exceptionality) menyediakan hal-hal yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Kasur empuk, makanan enak dan teman-teman baru yang ternyata juga memiliki keahlian khusus seperti dirinya. Violet yang bisa menciutkan ukuran tubuh, Mustafa dan Mustafa si kembar yang mampu mengendalikan cuaca, Conrad si Jenius,  Lily yang memiliki kemampuan telekinesis dan masih banyak lagi yang lain. Sayang tak lama kemudian Piper sadar, bukan hanya teman-temannya yang menyimpan rahasia melainkan sekolah tempat mereka semua berlindung adalah tempat yang paling berbahaya. Piper tak tinggal diam, ia bersama Conrad dan teman-teman lainnya berkonspirasi menggagalkan misi tersembunyi I.N.S.A.N.E.

Beberapa kalimat favorit saya :

“Kadang-kadang kita perlu membuat pilihan yang sulit dan mempertimbangkan segala macam perspektif serta perasaan orang lain. Dan hal seperti itulah yang dinamakan sebagai sikap dewasa.” – halaman 102.

“Kita tidak bisa belajar sesuatu yang berharga tanpa membuat beberapa kesalahan, benar bukan?” – halaman 325.

Berdasar beberapa review yang saya baca di Amazon dan Goodreads, rata-rata mengatakan The Girl Who Could Fly memadukan cerita anak dengan nuansa fantasi, campuran X Men, Anne of Green Gables, bahkan Harry Potter sempat disebut.

Kebanyakan buku anak mengambil tokoh sentral anak perempuan yang cerdas, imut dan penuh dengan rasa ingin tahu. Sama seperti Piper, karakternya yang menyenangkan sehingga dengan mudah kita jatuh hati kepadanya.

Buku ini pas ditujukan kepada pembaca muda dan penggemar fantasy young adult. Penuh dengan kalimat membangun yang mengajarkan kita untuk jangan takut menjadi berbeda, selau berusaha karena di setiap kemauan keras pasti akan ada jalan. Sebagai pembaca young adult, saya merasakan kurangnya eksplorasi karakter dan ending yang sedikit terburu-buru tapi secara keseluruhan 4 bintang untuk Piper McCloud and yes, she can fly!

Detail buku : The Girl Who Could Fly – Victoria Forester. Penerjemah : Ferry Halim, terbitan Atria cetakan I, Mei 2011. 380 halaman.

Victoria Forester
Victoria Forester

PS : Awalnya kisah Piper McCloud dituliskan untuk skenario film karena profesi utama Victoria adalah seorang penulis script film. The Girl Who Could Fly adalah buku pertamanya dan menurut pendapat saya nih, foto Victoria Forester di website resminya mirip dengan tokoh Dr. Letitia :p

adventure · kids just wanna have some fun

Pintu Waktu, Ulysses Moore #1

Jason dan Julia, sepasang kembar anak dari pasangan Covenant pindah dari kota besar ke daerah pesisir pantai Kilmore Cove. Rumah Argo Manor yang mereka tinggali melengkapi keunikan dari kota Kilmore Cove. Rumah yang bertengger di tebing tinggi menghadap laut, deretan pepohonan diselingi bunga beraneka warna, terkesan sangat eksotis. Bagian dalamnya lain lagi, vas dari Mesir, meja dari Venesia, permadani Persia yang entah bagaimana terlihat serasi dan memberi karakter yang kuat di Argo Manor.

Pintu Waktu
Pintu Waktu

Jason dan Julia adalah sepasang anak kembar beda karakter yang senantiasa bertengkar namun senantiasa melengkapi satu dengan yang lain. Jason penuh dengan keingintahuan dan hidup dalam dunianya sendiri, sedangkan Julia blak-blakan dan sistematis. Ditambah dengan Rick teman baru mereka di Kilmore Cove, ketiga anak tersebut bertekad menggali misteri Argo Manor! Bunyi jejak langkah kaki yang didengar Jason semakin membenarkan pikirannya bahwa Ulysses Moore pemilik Argo Manor sebelumnya yang telah meninggal lama masih hidup dan meninggalkan jejak yang membantu mereka untuk mengetahui rahasia pintu waktu yang ada di sana.

Perkamen kertas kuno dengan huruf Mesir kuno, pintu kayu misterius yang penuh dengan tanda-tanda pernah dibuka dengan paksa, teka-teki pantun adalah pr Julia-Jason-Rick selanjutnya. Satu pemecahan teka-teki, mengarah ke teka-teki selanjutnya membuat saya menyelesaikan seri pertama Ulysses Moore hanya dalam waktu beberapa jam saja. Sang pengarang sukses membuat pembaca masuk dalam alur misteri yang sudah terasa sejak awal. Mau tak mau saya dibuat penasaran Ulysses Moore  yang fotonya tidak ada di mana-mana apakah benar-benar masih hidup dan menghantui keluarga Covenant? Ada rahasia apa di balik semua ini? Silahkan baca sendiri dan bisa dipastikan anda akan ikut berpetualang 🙂

Perpaduan anak kecil yang penuh rasa ingin tahu, rahasia pantun, Mesir kuno membuat saya penasaran mati-matian dengan buku ini, terlebih lagi dengan sampulnya yang Hard Cover dan ilustrasi yang ada di setiap bab membuat seri Ulysses Moore pantas untuk dikoleksi. Sayangnya buku ini cukup susah didapatkan di Bali. Untungnya dapat pinjeman dari Echa dan sang penerjemah favorit saya mbak Uci 🙂 Sampai hari ini sudah 4 buku yang diterbitkan penerbit Erlangga, masih ada 5 buku lagi sepertinya :p

Detail buku.

Judul : Pintu Waktu

Pengarang : Pierdomenico Baccalario

Halaman : 222

4 bintang dari saya 🙂

buntelan · classic · kids just wanna have some fun

Gadis Korek Api – H.C. Andersen

Bagi angkatan 80’an seperti saya di mana jaman SD bacaan hanya berkisar donal bebek, komik Nina dan kumpulan dongeng tentunya nama Hans Christian Andersen melekat kuat di ingatan kita. Kisah tragis gadis korek api, cinta putri duyung yang bertepuk sebelah tangan, perjalanan hidup gadis mungil Thumbelina adalah beberapa karyanya yang sangat terkenal dan sudah diterjemahkan dalam berbagai bahasa di dunia.

Kali ini penerbit Atria mengemas 10 kisah H.C. Andersen dalam satu kumpulan dongeng yang diantaranya  Kisah Cinta Putri Duyung Kecil, Angsa-Angsa Liar, Sang Putri Sejati, Thumbelina, Burung Bulbul, Gadis Korek Api, Ratu Salju, Baju Baru Kaisar, Kisah Rembulan dan yang terakhir Anak Itik Buruk Rupa. Favorit saya gadis korek api,kisah singkat gadis miskin yang hidupnya berakhir karena kedinginan di malam tahun baru. Tragis, sedih tapi entah bagaimana ada nuansa kelegaan dan kegembiraan di sana saat sang gadis bersua dengan arwah neneknya di atas sana. Cerita lain yang juga saya suka adalah kisah cinta putri duyung, sayangnya bayangan Ariel yang hidup happily ever after tak mampu ditepis saat saya membaca kisah yang kisahnya berbeda 180 derajat dari cerita asli karangan Andersen.

Gadis Korek Api

Nuansa kelam kerap membayangi dongeng-dongeng Andersen, yang mana awalnya saya merasa aneh juga. Dongeng yang identik dengan story telling dengan target pembaca anak-anak kenapa malah identik dengan nuansa suram. Mau tak mau saya menggoogling kisah hidup H.C. Andersen. Pantas saja. Ternyata perjalanan hidup Andersen yang lahir tahun 1805 bisa dibilang tidak mudah, bakkan cenderung kesepian dan penuh dengan kepahitan. Andersen lahir di keluarga miskin, sang ibu bekerja sebagai buruh dan ayahnya hanya pembuat sepatu miskin dan buta huruf. Khayalannya berkembang sedari kecil karena ibunya sering bercerita tentang dongeng rakyat  dan ayahnya yang kerap membawa Andersen menonton sandiwara. Yatim piatu pada usia muda, Andersen bekerja serabutan sampai suatu kali ia bertemu raja Denmark Frederik VI yang kemudian membiayai Andersen sekolah bahasa. Happy ending? Jangan salah karena di sekolah Andersen malah menjadi korban ejekan teman-temannya, selain karena usianya yang terpaut jauh dengan teman sekelasnya, Andersen ternyata pengidap dyslexia. Tamat dari sana, Andersen mengenyam studi di Kopenhagen dan mulai meneruskan hobinya menulis. Kisah cintanya mirip dengan si putri duyung cilik, bertepuk sebelah tangan malah sampai pada akhir hidupnya Andersen tidak menikah sama sekali. Ia meninggal pada tahun 1874 karena sakit.

Every man’s life is a fairy tale, written by God’s fingers, once he said. Mungkin hanya dengan khayalannya dan dengan menulis ia bisa melupakan semua kisah sedih yang terjadi dalam hidupnya. Ia menulis dengan penuh perasaan dan bisa jadi karena itu jugalah dongeng karyanya tak lekang oleh waktu dan masih dapat saya nikmati walaupun sudah lewat ratusan tahun lewat. Luar biasa. Bahkan beberapa waktu lalu Google juga memperingati hari lahirnya dengan doodle Thumbelina selama lima hari berturut-turut.

Thumbelina - 1
Thumbelina - 2
Thumbelina - 3
Thumbelina - 4
Thumbelina- 5

Bintang 4 untuk keseluruhan cerita dan cover indah hasil karya @curutsalto. Saat nulis review ini saya baru memperhatikan lagi covernya, ternyata latar dari sketsa gadis korek api juga seakan-akan ada tetesan darah baik di sampul depan maupun belakang. Gothic, tragic yet so beautiful!

Judu buku : Gadis Korek Api dan Dongeng-Dongeng Lainnya. Penerbit : Atria, Maret 2011. 267 halaman.

PS. Kenapa dongeng jaman dulu yang identik dengan anak-anak nuansanya horor bin gothic begini ya? Perasaan cerita dari Grimm bersaudara juga gelap bahkan lebih sadis.

PS lagi, dongen Ratu Salju yang berkisah tentang 2 anak Kay dan Gerda entah kenapa terkesan sangat familiar, sepertinya dulu pernah dibawakan dalam kaset Sanggar Cerita kalau tidak salah. Ring a bell anyone?

inspiring · kids just wanna have some fun · touch of Asia

Where the Mountain Meets the Moon

Min Li tinggal di gubuk reyot bersama kedua orang tuanya di kaki gunung Nirbuah. Mereka keluarga yang sangat miskin, bahkan makan malam pun sangat pas-pasan. Ma (ibu Min Li) senantiasa berkeluh kesah tentang kehidupan mereka, untungnya Pa (ayah Min Li) selalu berhasil menceriakan suasana makan mereka dengan mendongeng untuk Min Li. Dari Pa, Min Li mengetahui hakim harimau yang jahat dan kakek rembulan bijaksana yang bisa merubah takdir.

Min Li yang tidak ingin Ma senantiasa bersungut-sungut, maka di saat semua tertidur ia pun pergi dari rumah dan berniat mencari kakek rembulan di Gunung Tak Berujung. Dengan bantuan ikan mas, Min Li memulai perjalanannya yang menjadi inti cerita dari buku Where the Mountain meets the Moon. Ia berjumpa dengan naga yang tidak bisa terbang, yang ternyata juga ingin bertemu dengan kakek rembulan untuk menanyakan bagaimana caranya agar ia bisa terbang.

Grace Lin dengan indah menuturkan mitos-mitos Cina yang diselipkan dalam perjalanan Min Li bertemu dengan kakek rembulan tanpa kesan menggurui. Min Li bertemu dengan raja yang menyamar menjadi pengemis kelaparan, walaupun ia juga kelaparan namun Min Li memberikan sisa uangnya kepada raja. Dari kisah itu kita diajarkan untuk selalu berbagi untuk sesama. Di bab berikutnya pembaca diajak Min Li bertualang melawan monyet-monyet tamak yang pada akhirnya keserakahan mereka malah membawa kesialan. Di akhir perjalanan Min Li dan naga berhasil bertemu kakek rembulan yang ternyata hanya menjawab 1 pertanyaan dalam kurun waktu sembilan puluh sembilan tahun. Padahal Min Li ingin mengetahui cara mengubah peruntungan keluarga namun juga ia juga mendapat titipan pertanyaan sang naga bagaimana cara agar bisa terbang. Pertanyaan apakah yang akan ditanyakan Min Li kepada kakek rembulan? Nah untuk ini teman-teman harus membaca sendiri buku indah ini.

Salah satu ilustrasi Grace Lin

Buku Where the mountains Meets the Moon yang ditujukan untuk pembaca belia berhasil memikat saya yang tentu saja sudah jauh dari usia anak SD namun tetap saja saya terpesona dengan gaya penceritaan Grace Lin sehingga tanpa terasa dalam sehari buku ini saya baca habis. Terlebih lagi di dalamnya ada ilustrasi yang khas negeri Tiongkok dan ternyata dilukis sendiri oleh sang pengarang buku. Must read

kids just wanna have some fun · touch of Asia

#toreadsoon : Where the Mountain Meets the Moon

Dalam rangka menjelang imlek saya berniat membaca buku yang berasal dari para leluhur 🙂 Where the mountain meets the moon, dari judulnya saja sudah terkesan puitis, sepertinya saya bakal suka buku ini. Berkisah tentang Minli, gadis kecil yang mencari kakek rembulan untuk merubah nasib keluarganya.

book cover

Banyaknya penghargaan dan nominasi semakin membuat saya penasaran dengan buku ini. Review segera menyusul, have a great day, people! Cheers.

 

inspiring · kids just wanna have some fun

Guess How Much I love You

Saya sangat suka membaca buku cerita untuk anak-anak, malah menurut saya orang dewasa semestinya lebih sering membaca buku anak. Jujur, polos, cinta yang tak kenal batas, hal-hal yang kita tahu tapi kadang terlewatkan sepertinya kembali diingatkan saat kita membaca buku anak.

 

Guess How Much I love You

Beberapa minggu lalu saya membeli buku Guess How Much I love You, karangan dari Sam McBratney. Berkisah tentang ayah dan anak kelinci. Little Nutbrown Hare dan sang ayah, Big Nutbrown Hare. Buku ini terjual lebih dari 20 juta kopi dan diterjemahkan ke dalam kurang lebih 37 bahasa. Apa sih hebatnya? Mari kita renungkan ceritanya.

Little Nutbrown Hare ingin menunjukkan betapa ia mencintai sang ayah. Ia pun merentangkan tangannya lebar-lebar. “I love you this much”. Big Nutbrown Hare ikut juga merentangkan tangannya, “But I love you this much

Hm, that is a lot, pikir Little Nutbrown Hare. Kembali ia mencari akal. “I love you as high as I can reach” Dan kembali sang ayah ikut juga menaikkan tangannya tinggi-tinggi.

That is quite high, I wish I had arms like that, kata Little Nutbrown dalam hati.

Begitu seterusnya sampai hampir 20 halaman, Little nutbrown terus mencari cara agar cintanya lebih besar dari sang ayah tapi selalu kalah. Sampai akhirnya saat malam tiba ia punya akal. “I love you right up to the moon!” dan ia pun tertidur. Saat Big Nutbrown Hare mencium kening anaknya ia berbisik sambil tersenyum, “I love you to the moon and back”

Ah, so sweet 🙂

kids just wanna have some fun

Wilma, lil version of Nancy Drew

Wilma Tenderfoot dan Kasus jantung Beku

Matahati

301 halaman

Agustus 2010

Suka! Covernya bagus! Ceritanya unik. Bukan sekedar cerita anak biasa, si Wilma yang pengen banget jadi detektif akhirnya bisa juga memecahkan kasus ada apa dengan jantung yang beku. Haghag. Menarik dan mudah-mudahan bakal dilanjutin buku berikutnya, penasaran akan asal usulnya Wilma.

Kenapa 4 bintang?
– covernya unik
– ada ilustrasi di dalamnya dan penggambarannya pas banget.
– tokohnya bodor dan rame
– Wilma ini loveable, pantang menyerah jadi pas bacanya ikutan semangat, go Wilma go!

classic · kids just wanna have some fun

Ekstrak kebahagiaan, Pollyanna

Pollyanna – Eleanor H. Porter

Orange Books

312 halaman

Oktober 2010

 

 

Pollyanna

 

Inilah sebabnya kenapa saya suka membaca cerita klasik. Kisahnya indah, ga neko-neko, mungkin ada sedikit masalah, klimaks yang secukupnya (ga bikin hati dag dig dug)dan ending pas.

Hati hangat dengan senyum simpul di bibir saya setelah membaca halaman terakhir Pollyanna membuat saya memberikan bintang 5 untuk buku ini.

Kisahnya sih standar, gabungan antara Anne of Green Gables dan A Little Princess, berkisah tentang anak perempuan yatim piatu yang diasuh oleh kerabatnya yang kersa hati, judes dan pada akhirnya luluh dengan semangat dan keceriaan yang dibawa oleh sang anak.

Pollyanna, namanya.
Tidak cantik-cantik banget, apalagi ia merasa bintik-bintik di wajahnya cukup banyak. (mirip Anne yang merasa minder dengan rambut merahnya)

Pollyana yang dalam waktu singkat berhasil merubah desa tempat ia tinggal menjadi desa yang ceria.

Permainan kebahagiaan, yang merupakan inti dari kisah Pollyanna ternyata adalah permainan yang wajib kita mainkan sampai saat ini. “Dan biasanya selalu ada yang menyenangkan dalam segala hal, bila kau berkeras untuk menemukannya” – Pollyannna hal.66

Ada satu adegan yang membuat saya tersenyum geli, nah di suatu ketika tukang kebun Pollyanna mengalami encok jadi jalannya agak bungkuk, “nah mana ada kebahagiaan kalau situasinya begini” pikirnya.

Pollyanna menjawab “Wah, kalau bungkuk gitu, kan jadi tidak terlalu susah untuk menyiangi rumput??”

Hihihihi, okeh good point, girl!

Sekarang hal terberatnya, pengejawantahannya. Baca sih gampang, tapi bagaimana kita selalu memandang hal positif tentang segala hal seperti Pollyanna itu yang berat. Wong panas dikit ngeluh, banjir becek protes.

Terima kasih gadis kecil, kau mengingatkan saya untuk senantiasa bersyukur. Hal yang mudah tapi entah kenapa terkadang kita lupa melakukannya.