2013 · drama · Gramedia · love love love · must read · tears

[Review] Me Before You – Jojo Moyes

Sigh. Susahnya mereview bintang 5, apalagi macam Me Before You tanpa spoiler. Jadi begini, saya percaya yang namanya buku itu kadang ‘memanggil’ pembacanya. Buku juga memiliki jiwa untuk mengetahui siapa pembaca yang tepat untuknya. Bentar, bentar, kok jadi horror? Ah, tapi teman-teman mengerti maksud saya kan? Saya lupa asal muasal bisa tertarik dengan buku ini, one click leads to another sepertinya, dan ketika adik saya pergi ke luar, saya dengan pedenya nitip dibelikan Me Before You. Covernya cantik, rating lumayan, dan siapa itu Jojo Moyes saya juga ga kenal. *sok kenal dengab penulis, padahal baru kenal dengan Agustinus Wibowo doang*

Me Before You
Me Before You

Yuk lanjut, Me Before You berhasil saya lalap dalam waktu 2 hari, pertengahan menitikkan air mata sedikit, 2/3 ke belakang mulai tes-tes-tes, bagian belakang mewek sampai mata bengkak dan merah. Memang saya lebay, gampang menangis, dan yang saya tekankan di sini bukan buku ini sedemikian sedihnya hingga perlu tissue saat membacanya tapi bagaimana kehebatan Jojo Moyes menciptakan karakter-karakter yang hidup. Sangat hidup. Buku ini sudah saya beberapa bulan lalu, namun sampai sekarang saat saya menulis review masih terbayang-bayang. Jarang-jarang saya ingin baca ulang buku, tapi Me Before You yang jelas menjadi kandidat buku favorit tahun 2013 adalah satu di antaranya.

Sinopsis dari bagian belakang buku:

Lou Clark knows lots of things. She knows how many footsteps there are between the bus stop and home. She knows she likes working in The Buttered Bun tea shop and she knows she might not love her boyfriend Patrick.

What Lou doesn’t know is she’s about to lose her job or that knowing what’s coming is what keeps her sane.

Will Traynor knows his motorcycle accident took away his desire to live. He knows everything feels very small and rather joyless now and he knows exactly how he’s going to put a stop to that.

What Will doesn’t know is that Lou is about to burst into his world in a riot of colour. And neither of them knows they’re going to change the other for all time.

Bukan dalam rangka ikut-ikutan Uni bicara soal takdir *disepak*, takdir menemukan Lou dan Will dalam suatu kejadian tak terduga. Will yang dulunya petualang, playboy, businessman sukses bukanMrGrey, siapa sangka nasibnya berubah drastis ketika kecelakaan sepeda motor. Will menjadi lumpuh (quadriplegic), ia tak lagi bisa melakukan apa pun tanpa bantuan orang lain, sudah 2 tahun Will bertahan. Kesabaran orang ada batasnya, begitu kata pepatah. Will lelah dan ketika Will menghubungi Dignitas (a group that helps those with terminal illness and severe physical and mental illnesses to die assisted by qualified doctors and nurses), pembaca sudah bisa membaca ke mana arah cerita ini. Lou, gadis eksentrik, gemar berbusana antik dipecat dari kerjaannya dan seperti saya bilang tadi, takdir menyatukan mereka berdua, Lou butuh uang dan ibu Will melihat sesuatu yang tak biasa dalam diri Lou sehingga beliau menggaji Lou sebagai asisten Will, walau ada niat yang lebih besar di balik itu. 

Bagaikan dua kutub magnet *tsaahbahasagueeeh* chemistry Will yang pesimis dengan hidup dan Lou yang begitu polos namun sesekali meledak-ledak menjadi kekuatan novel Me Before You. Lou mengajak Will melihat dunianya dari sisi seorang gadis lugu yang tidak pernah bermimpi muluk-muluk sedangkan Will yang hari lepas hari menyadari ada potensi yang besar dari Lou.

Saya ikut bangga dan senang ketika perlahan tapi pasti Will yang lelah dengan hidup mulai membuka diri dan Lou yang slebor, mudah dibully mulai berani bermimpi. Banyak adegan mengharukan yang muncul terlebih lagi saat ulang tahun Lou. Dan ketika semua berjalan baik-baik saja, kita tahu yang ada di halaman berikutnya pastilah ada sesuatu. Lou dan Will jatuh cinta, mampukah cinta Lou membangkitkan nafsu hidup Will?

“I kissed him, trying to bring him back. I kissed him and let my lips rest against his so that our breath mingled and the tears from my eyes became salt on his skin, and I told myself that, somewhere, tiny particles of him would become tiny particles of me, ingested, swallowed, alive, perpetual. I wanted to press every bit of me against him. I wanted to will something into him. I wanted to give him every bit of life I felt and force him to live.”

Sesuatu yang lebih dari sekadar apakah buku ini akan berakhir bahagia atau tidak. Pembaca akan diajak berpikir lebih jauh tentang hidup oleh Jojo Moyes tanpa terkesan menggurui. Seberapa berarti hidupmu? Masih berarti ketika kamu tidak lagi bisa mengerjakan apa pun? Boleh jadi kita berpikir betapa bodohnya Will, tapi Jojo Moyes juga menunjukkan bagaimana berat hidup yang sepenuhnya dan seumur hidupnya bergantung dari orang lain. Tidak ada yang benar dan yang salah. Dan saya menutup buku ini dengan hati sesak namun saya juga merasakan gelenyar hangat di dada.

“You only get one life. It’s actually your duty to live it as fully as possible.”

Petuah Will di bawah ini sangat menggetarkan hati saya.

“Push yourself. Don’t settle. Wear those stripy legs with pride. And if you insist on settling down with some ridiculous bloke, make sure some of this is squirreled away somewhere. Knowing you still have possibilities is a luxury. Knowing I might have given them to you has alleviated something for me.”

Sebelum Mengenalmu
Sebelum Mengenalmu

Me Before You sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia juga lho, saya belum cek tapi dari beberapa teman saya dengar bahwa harganya lumayan. Oh well, untuk mengenal Will dan Lou dan merasakan rollercoaster emosi saat membacanya saya pikir harga yang ditawarkan pasti sesuai. Wajib baca. You’ll gonna love this book, bagi yang ga nangis, uang kembali! #lah

Oia, satu quote lagi yang ingin saya bagikan, ketika Lou dan Will pulang berkencan.

 “I turned in my seat. Will’s face was in shadow and I couldn’t quite make it out.
‘Just hold on. Just for a minute.’
‘Are you all right?’ I found my gaze dropping towards his chair, afraid some part of him was pinched, or trapped, that I had got something wrong.

‘I’m fine. I just . . . ’
I could see his pale collar, his dark suit jacket a contrast against it.
‘I don’t want to go in just yet. I just want to sit and not have to think about . . . ’ He swallowed.
Even in the half-dark it seemed effortful.
‘I just . . . want to be a man who has been to a concert with a girl in a red dress. Just for a few minutes more.’
I released the door handle.
‘Sure.’
I closed my eyes and lay my head against the headrest, and we sat there together for a while longer, two people lost in remembered music, half hidden in the shadow of a castle on a moonlit hill.”

OMG. :’)

Udah deh, pokoknya harus baca buku me Before You, ya ya ya? Tidak akan menyesal, saya bahkan saat menulis review ini hati bagaikan ditujes-tujes dan ingin mengulang. Huks.

Sudah ah, pamit semuanya, jangan lupa kabari saya kalau sudah baca #teteplho #mustinyangelamarjadimarketinggramed #plak

Advertisements
2012 · karya anak negeri · love love love · must read · young adult

Blue Romance – Sheva

Dear Sheva,

Aku lupa sejak kapan mengikuti kicauanmu di Twitter, tak butuh waktu lama membuatku rutin mengecek lini masamu. Menikmati tweetmu yang puitis tapi tidak menye-menye atau sekedar berbagi cerita karena kita sama-sama mengidolakan John Mayer. Awalnya aku malah tidak tahu kamu ternyata penulis buku, tapi karena tweetmu sering kali membiusku dan membawaku ke suasana mellow-romantis mau tak mau aku tergoda mencari Blue Romance.

Blue Romance
Blue Romance

Dear Sheva,

Firasatku benar rupanya, tak butuh waktu lama untuk jatuh cinta dengan tokoh-tokoh yang ada di Blue Romance. Malah aku curiga mereka semua nyata adanya. Dan kalau boleh sedikit menyalahkanmu, aku merindukan coffee shop semacam Blue Romance ada di tempatku tinggal. Aku ingin ikut merasakan kehangatan di pojok Blue Romance sembari menikmati secangkir cappuccino yang adalah minuman favoritku.

Dear Sheva,

Rainy Saturday yang menjadi cerita pertamamu, sukses membiusku sejak kamu memasukkan quote ‘Nostalgia is denial. Denial of painful present’. Ah, aku juga sama seperti gadis itu, terkadang lebih memilih hidup di masa lalu. Aku mengerti kepahitannya dan aku turut senang ketika ia berkenalan secara tidak sengaja dengan laki-laki arsitek itu. Hatiku dibuat berdebar-debar dengan endingnya. Suka!

Dear Sheva, cerita selanjutnya berjudul 1997 – 2002. Kisah manis antara Rika dan Niko. Judul yang tidak biasa untuk nostalgia kisah masa kecil Rika. We’ve lost each other, so let’s found ourselves by being together. Indahnya kalimat yang diucapkan Niko itu! Seandainya saja pasanganku bisa bersikap seromantis Niko.

Dear Sheva, setelah sebelumnya kamu membawaku ke suasana hangatnya cinta yang bersatu setelah lima tahun, di Blue Moon kamu memutarbalikkan emosiku dengan bercerita soal ayah. Well, walau sudah tua begini aku tetap menganggap diriku adalah daddy’s little girl. Edi, begitulah nama tokohmu kali ini. Edi yang jauh dari orang tuanya, yang mengadu nasib di Jakarta. Mirip kisahku saat bersekolah di Surabaya dulu, hanya dengan mendengar suara ayah di telepon saja mampu mengungkit semangat yang terkadang lenyap entah ke mana. Walau aku sudah serumah kembali dengan beliau, kami memiliki kesibukan berbeda yang membuat jadwal ngopi bersama di teras rumah berkurang. Besok aku janji, akan menyiapkan waktu lebih banyak untuk ayahku, mumpung libur!

Dear Sheva, tak kusangka ceritamu yang berjudul A Farewell to A Dream yang hanya 26 halaman mampu membuatku menitikkan air mata. Bagaimana hatiku tidak ikut sedih membaca nasih Bima. Bima, yang jatuh cinta dengan sahabatnya sendiri. Anjani. Bram, yang terpuruk saat Anjani lebih memilih teman dekat Bima, Bram. Tega nian kau, Shev. Tapi mungkin sama seperti kopi, suatu kisah lebih menyesap di dada ketika ada sedikit rasa pahit yang tertinggal.

Dear Sheva, Happy Days sedikit mengingatkanku akan gaya penulisan ala penulis asal Jepang favoritmu. Haruki Murakami. Surreal. Mengambang. Menyakitkan. Indah. Oh, masih soal penulis, betapa senangnya di kisah The Coffee and Cream Book Club kamu mengambil tema dari buku favoritku, The Fault in Our Stars.

Dear Sheva, sedikit kritik mungkin bisa kutambahkan di kisah A Tale About One Day yang kurasa rada aneh. Kai yang kamu kisahkan di sini terkesan lebih tua dari umur sebenarnya, tapi aku suka pilihan lagu untuk penutup Blue Romance. Snow Patrol. Pas untuk kudengar malam-malam dan mungkin itu juga yang membiusku untuk menulis review yang tidak biasa ini.

Dear Sheva,

Sudah aku bilangkah kalau aku resmi menjadi penggemar tulisanmu? Terima kasih untuk Kai, Bima, Niko, Anjani, semua tokoh yang begitu nyata. Tetaplah menulis. Aku menunggu karyamu selanjutnya.

-Mia-

2013 · ebook · love love love · New Adult

[Review] On Dublin Street – Samantha Young

Haduh, Januari belum lewat, resolusi rajin ngeblog sudah menguap entah ke mana *pentung*.

Mumpung malam ini mata masih cling, marii kita bahas buku dewasa saja yuk #eh.

Sekilas apdet saat browsing Goodreads, akhir-akhir ini banyak buku dengan cover yang *ehem* sedap dipandang mata. Sepasang remaja berpelukan, pangku-pangkuan dan berpegangan tangan. Fenomena genre baru yang sering disebut sebagai new adult.

Sedikit saya tambahkan sedikit fenomena new adult yang saya ambil dari new york times : The earlier versions of the books followed young-adult conventions and went to the edge of describing sex, and no further. The new uncut versions, labeled appropriate only for ages 17 and up, are explicit about sexual activity — with exclamations of rapture and all.

Penasaran? Hayuk dibahas lebih lanjut buku yang saya lalap habis dalam 2 hari kemarin.

On Dublin Street
On Dublin Street

Sinopsis On Dublin Street dari Goodreads :

Jocelyn Butler has been hiding from her past for years. But all her secrets are about to be laid bare…

Four years ago, Jocelyn left her tragic past behind in the States and started over in Scotland, burying her grief, ignoring her demons, and forging ahead without attachments. Her solitary life is working well—until she moves into a new apartment on Dublin Street where she meets a man who shakes her carefully guarded world to its core.

Braden Carmichael is used to getting what he wants, and he’s determined to get Jocelyn into his bed. Knowing how skittish she is about entering a relationship, Braden proposes an arrangement that will satisfy their intense attraction without any strings attached.

But after an intrigued Jocelyn accepts, she realizes that Braden won’t be satisfied with just mind-blowing passion. The stubborn Scotsman is intent on truly knowing her… down to the very soul.

Gadis remaja bermasalah? Checked.

Laki-laki dengan potongan jas mahal warna silver- GREY? Checked.

Perjanjian friends with benefit aka fuck buddy? Checked.

BDSM? Tet tot, anda kurang beruntung.

Berkisah tentang Joss yang kehilangan orang tuanya secara tragis diikuti dengan perpisahannya dengan sahabat karib yang lumayan menyesakkan, membuat nona satu ini tidak percaya lagi dengan yang namanya cinta. Lebih baik hubungan yang sedang-sedang saja *nyanyidangdut*.

Jadiii ketika kakak teman seapartemennya yang ganteng bin berduit bernama Braden yang sebelumnya sudah pernah secara tidak sengaja memergoki Joss keluar dari kamar mandi itu mengajaknya melakukan hubungan yang sama-sama enak #eh, Joss pun mengiyakan.

Dimulailah ‘pergulatan’ mereka berdua sampai akhirnya Joss ketakutan sendiri karena jauh di dasar hatinya ia sudah kepincut dengan Braden. Ditambah sedikit intrik sana sini, rekan sekerja Joss yang genit dan sesuatu menimpa Ellie, adik Braden, buku pertama seri On Dublin Street ternyata mendapat respon positif dari pembaca. Ratingnya hampir 4,5.

Oh well, cukup bintang 3 dari saya.

1. Hubungan tarik ulur Joss – Braden antara penasaran tapi juga menyebalkan. Joss seharusnya bisa bersikap lebih dewasa menyikapi hubungan asmara mereka.

2. Ada apa dengan perempuan dengan pria-bossy-berduit-yang-seharusnya-ketimbang-makeout-mending-diporotin-berlian #laah. Ups, maksud saya sepertinya ada ketertarikan tersendiri dan sex appeal yang tinggi dari pria arogan dengan pembaca wanita jaman sekarang. Saya sih emoh banget diperlakukan seperti itu.

3. Tidak telalu banyak formula baru yang ditawarkan tapi untuk bacaan ringan pengisi malam yang sunyi sepi *dihbahasaku* On Dublin Street boleh juga dibaca. Not bad kok.

Cheers!

Detail :

On Dublin Street #1 – Samantha Young

Ebook. 398 pages.

 

 

2012 · fantasy · Gramedia · love love love · young adult

[Review] Daughter of Smoke and Bone – Laini Taylor

Praha.

Gadis misterius berambut biru.

Pemburu gigi.

Portal ke mana saja ala doraemon.

Malaikat bermata oranye dengan tubuh gagah memesona.

Chimaera.

Iblis vs Malaikat.

Cinta terlarang.

Dari Asap dan Tulang
Dari Asap dan Tulang

Lupakan sejenak vampir, manusia serigala, dunia distopia. Kita kembali ke bumi, tepatnya di Praha yang menjadi setting novel pertama trilogi Daughter of Smoke and Bone karangan dari Laini Taylor.Tidak hanya itu kali ini kita mendapat ‘segambreng’ tokoh unik. Chimaera beragam jenis, malaikat ganteng dan Karou, tokoh protagonis yang bisa beragam bahasa dengan fasih berambut biru dengan tato di kedua telapak tangan.

Wajarlah jika Daughter of Smoke and Bone meraih rating yang tinggi di Amazon dan Goodreads, bahkan menurut postingan di blog penulis Universal Pictures resmi akan mewujudkan kisah cinta terlarang angel dan demon versi layar lebar. Yuk kita kupas sedikit soal buku dari penulis yang juga memiliki rambut ajaib berwarna pink ini.

Daughter of Smoke and Bone dibuka dengan kehidupan Karou yang mendalami kelas kesenian di Praha, ia pintar menggambar dan buku sketsanya penuh dengan gambar aneh. Wanita bertudung kobra, laki-laki berparuh burung. Siapa sangka semua itu nyata adanya.

Praha
Praha

Di sebuah bangunan art noveau, di situlah pintu yang dianggap ‘rumah’ oleh Karou. Di bawah saya cantumkan definisi tempat tinggal Karou dan mahluk-mahluk yang mengisi buku sketsanya.

Di mana pun letaknya, toko itu terdiri atas tumpukan raktanpa jendela yang tampak seperti semacam tempat pembuangan sampah peri gigi – itu kalau peri berurusan dengan semua spesies. Taring kobra, gigi anjing, gigi geraham gajah yang melengkung, seri gigi hutan yang eksotis – semua dikumpulkan dalam keranjang dan kotak obat,diikat dalam untaian yang menjuntai dari kaitan, dan disegel dalam ratusan stoples yang bisa diguncangkan seperti alat musik marakas. – hal.49

Terbayang bagaimana suram dan anehnya toko itu >.<

Brimstone: laki-laki besar perpaduan beragam binatang, bertanduk domba jantan yang sering disebut sebagai Wishmonger.

Issa : wanita cantik berwajah malaikat dengan payudara seindah dalam pahatan Kama Sutra, namun bertudung dan bertaring kobra.

Twiga berleher jerapah dan Yasri bermata manusia tapi berparuh burung kakaktua.

Seperti yang tertera di halaman 53 :

Brimstone adalah monster. Jika Brimstone, Issa,Twiga dan yasri berkeliaran di luar toko, itulah sebutan para manusia untuk mereka : monster. Setan, barangkali, atau iblis. Mereka menyebut dirinya sebagai chimaera.

Serem juga yak dipikir-pikir, tapi bagi Karou merekalah teman sekaligus orang tuanya. Siapa dan bagaimana ia bisa dibesarkan di sana Karou tidak tahu. Ia hanya bertugas sebagai pengumpul gigi oleh sosok ‘father figure’nya yaitu Brimstone.

Dulu, ia pernah menjadi gadis polos yang memainkan bulu di lantai sarang iblis. Sekarang ia tak polos lagi, tapi tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk mengatasinya. Inilah hidupnya, sihir, rasa malu, rahasia, gigi-gigi dan kehampaan yang dalam dan menyiksa dalam tubuhnya. hal – 60

Dengan portal di belasan kota Karou mengumpulkan gigi bahkan melukis jika ia sempat. Saat Karou ‘ngidam’ mangga, Brimstone tak pikir panjang dan membukakan portal ke India, dengan syarat ia juga dibawakan beberapa. *huwik, iblis juga bisa makan mangga! :D*

Dan…

Di bagian lain Praha, fenomena cap tangan hitam yangmenempel jelas di pintu ada di mana-mana. Kayu bahkan logam melesak terbakar.

Nairobi. Delhi. Kairo. St. Petersburg.

Menurut anak kecil yang menjadi saksi di New York hal itu dilakukan oleh pria yang meletakkan tangannya di sana, kemudia pintu menyala dan berasap. Dia tidak memiliki sayap, namun bayangannya berasap. Matanya seperti api, percikan api berjatuhan saat ia terbang. Seperti malaikat.

Anak kecil itu tidak salah. Malaikat.

Tersebutlah serdadu seraphim bernama Akiva. Malaikat rupawan yang di punggungnya tampak sepasang pedang bersarung yang disilangkan, tangannya memiliki bekas luka dan tato bertinta hitam yang menghias hingga puncak jemari. Rambutnya dipotong sangat pendek, dengan rambut yang melancip di dahi, kulitnya perunggu keemasan, tulang pipi, alis dan hidung mancung.

Ahey! Ladies, kita menemukan idola baru niiih. *tendang Edward Cullen dan Adam Wilde*

Okeh, sebelum saya semakin meracau tak jelas sepertinya pembaca sudah menebak ke mana larinya cerita ini seperti tagline bukunya :

Once upon a time,

an angel and a devil fell in love.

It did not end well.

Kelanjutan kisah Karou dan Akiva yang ditakdirkan saling membunuh bisa dibaca sendiri yak! Dan bagi yang sudah membaca mari menunggu kelanjutan buku keduanya yang berjudul  Days of Blood and Starlight yang bisa dibaca excerpnya di sini.

Days of Blood and Starlight
Days of Blood and Starlight

Beberapa penghargaan Daughter of Smoke and Bone :

  • AMAZON TOP TEN BOOKS OF 2011
  • AMAZON #1 TEEN BOOK OF 2011
  • YALSA TOP TEN BEST FICTION FOR YOUNG ADULTS, 2012
  • WINNER, AUDIE AWARD FOR BEST FANTASY AUDIOBOOK, 2012
  • NEW YORK TIMES NOTABLE CHILDREN’S BOOK OF 2011
  • PUBLISHER”S WEEKLY BEST BOOKS OF 2011
  • SCHOOL LIBRARY JOURNAL BEST BOOKS OF 2011
  • KIRKUS REVIEWS BEST TEEN BOOKS OF 2011
  • LOS ANGELES PUBLIC LIBRARY, BEST OF 2011
  • CHICAGO PUBLIC LIBRARY, BEST OF THE BEST 2012
  • BARNES & NOBLE REVIEW, BEST YA FICTION OF 2011
  • LOCUS (MAGAZINE OF SCIENCE FICTION & FANTASY) REC READING LIST 2011
  • YALSA 2012 READER’S CHOICE BOOKLIST
  • A JUNIOR LIBRARY GUILD SELECTION, 2011
  • ABC BEST CHILDREN’S BOOK CATALOG, 2011
  • FINALIST, ANDRE NORTON AWARD
  • FINALIST, CHILDREN’S CHOICE BOOK AWARDS TEEN BOOK OF THE YEAR
  • WINNER, OREGON SPIRIT BOOK AWARD

Banyak! Walau begitu menurut saya ada sedikit uneg-uneg saya soal buku ini : Klimaksnya kurang tegang apa karena masih banyak permasalah yang dimunculkan penulis di buku selanjutnya? We’ll see. Kemudian ujug-ujug mereka jatuh cinta padahal belum kenal-kenal amat, hyaeyalah namanya juga ini romance Mi! Hanya saja perkenalannya kurang dalam kalau menurut saya, lain dari itu sih masih bisa diterima, jadi tunggu apa lagi? Baca bukunya dan nikmati keindahan Praha dan jadilah saksi cinta Akiva dan Karou. Jih, berasa kaya tukang obat ga sik saya?

Beberapa quote favorit saya yang saya kutip langsung dari Goodreads *males ngetik ulang* 😀

“Hope can be a powerful force. Maybe there’s no actual magic in it, but when you know what you hope for most and hold it like a light within you, you can make things happen, almost like magic.”

Dan kalimat Brimstone saat menasehati Karou awalnya sih bijaksana, terakhirnya dooong bikin ngakak.

“I don’t know many rules to live by,’ he’d said. ‘But here’s one. It’s simple. Don’t put anything unnecessary into yourself. No poisons or chemicals, no fumes or smoke or alcohol, no sharp objects, no inessential needles–drug or tattoo–and…no inessential penises either.’

‘Inessential penises?’ Karou had repeated, delighted with the phrase in spite of her grief. ‘Is there any such thing as an essential one?’

‘When an essential one comes along, you’ll know,’ he’d replied.”

Cheers!

Oia, coba buka blog resmi Daughter of Smoke and Bone deh! Keren! Dan juga blog resmi Laini Taylor, ada trailer resmi dari Amerika dan Inggris dari berbagai sudut pandang (Akiva, Karou, Brimstone, Issa dan Zuzana) selain itu kita bisa melihat cover Daughter of Smoke and Bone dalam berbagai versi.

Book trailer versi USA :

Book trailer versi UK

Detail buku :

Judul : Dari Asap dan Tulang

Penerjemah : Primadonna Angela (saya suka terjemahan beliau, bahkan baru menemukan kata baru ‘birai’) :p

488 halaman, cetakan pertama,  September 2012, Gramedia Pustaka Utama.

2012 · drama · Gagas Media · karya anak negeri · love love love · young adult

Di antara hembusan angin dan hempasan ombak Belfast. Truth or Dare, a review.

Hi! Miss me? :p Maafkan blogger pemalas yang perhatiannya terebut oleh Songpop *ketip-ketip*, yuk ah biar tidak lama-lama kangen dengan saya, mari membahas buku duet Gagas Media antara Winna Efendi dan Yoana Dianika berjudul Truth or Dare.

Truth or Dare
Truth or Dare

Truth or Dare mengambil tema persahabatan antara dua gadis SMA bernama Alice dan Catherine. Winna Efendi mengambil bagian di Alice si gadis polos dan Yoana Dianika menciptakan gadis tomboy Catherine.

Karena ‘penyakit’ tetap Gagas Media yang tidak pernah mencantumkan sinopsis cerita, saya akan bercerita sedikit tentang kota kecil bernama Belfast yang menjadi latar belakang cinta segitiga antara Alice, Cat dan pria Indo blasteran bernama Julian.

Alice.

Terbagi menjadi 14 bab yang judul babnya sangat khas Winna Efendi.

Each friend represents a world in us, a world possibly not born until they arrive, and it is only by the meeting that a new world is born.- Anais Nin-

“Hei, di antara kalian ada yang membutuhkan partner tambahan?” – Julian

Semuanya dimulai di kelas sejarah, saat guru Alice dan Cat memberikan tugas untuk menciptakan sejarah Belfast, kota kecil mereka tinggal sesuai versi masing-masing. Dan pertanyaan yang diajukan murid pindahan dari Indonesia mengawali kekompakan mereka bertiga. Berdiskusi, riset dan brainstorming idea atau sekadar mengobrol sampai matahari terbenam sambil berbagi fish and chips di Young’s Lobster Pound.

Belfast's sunset
Belfast’s sunset

Life changes in the instant. The ordinary instant. – Joan Didion

Sesuai perkataan Heraclitus yang diucap Julian, “Perubahan adalah satu-satunya perubahan yang konstan di dunia ini”, ada yang berubah di antara mereka. Walau mungkin Alice tak ingin ada yang berubah dari persahabatan mereka bertiga. Alice mulai menyukaiJulian dan di saat yang sama ia menyadari kalau Cat juga menyukai Julian.

Have you ever been in love? Horrible isn’t it? It makes you vulnerable. It opens your chest and it opens up your heart and it means that someone can get inside you and mess you up. – Neil Gaiman.

Cat dan Julian berpacaran. Alice diam. Alice memendam perasaannya. Alice tidak ingin ada yang berubah tapi kejadian demi kejadian terjadi dan puncaknya berakibat fatal terhadap mereka bertiga.

Apa itu?

Baca sendiri ya, karena itu spoiler berat kalau sampai saya ceritakan 🙂

Catherine.

Mulai halaman 157 kita dibawa melihat runutan kisah Alice-Cat-Julian dari versi Catherine. Sayangnya kurang banyak hal baru yang bisa diketahui. Saya mengharapkan bakal ada rahasia-rahasia lain yang terungkap, tapi Yoana malah memperluas cerita dengan menambahkan tokoh baru kakak tiri Cat : Ethan dan Chase, yang tidak ada hubungannya dengan cerita, jadi malah terkesan ‘ga nyambung’.

Walau ada beberapa kekecewaan bintang 3 tetap saya sematkan untuk Truth or Dare, karena kesan hangat yang ditimbulkan saat saya menutup halaman terakhirnya.

Seperti biasanya saya suka kepiawaian Winna Efendi melukiskan suatu kota (Ingat Ai dengan Jepangnya?), Truth or Dare membawa saya travelling ke Belfast, sebuah kota pesisir pantai di Maine. Kota kecil yang hangat, tidak terlalu ramai penduduknya dengan suara burung di sore hari.

Penasaran? Excerpt dari Truth or Dare bisa dibaca di sini.

Salut untuk Gagas Media yang selalu mengusung sesuatu yang baru, terdepan dalam pemilihan cover kali ini Gagas menciptakan genre baru. Novel duet. Menarik sekaligus bisa menggaet pasar lebih banyak :p Oia dan cover keluaran terbaru dibuat dengan tampilan memanjang dan sampulnya dibuat ala amplop. Unik walau saya sedikit susah ketika hendak menyampul bukunya. Alhasil tidak tersampul dan ujungnya malah gampang tertekuk.

Detail buku :

Truth or Dare – Winna Efendi dan Yoana Dianika,

Gagas Media, cetakan pertama 2012, 301 halaman.

2012 · drama · love love love · young adult

The Sky is Everywhere – Jandy Nelson

Sebelum saya mulai review The Sky is Everywhere terus terang stress juga, dari 5 atau 6 buku terakhir bintangnya 2 mulu dan yang ini malah 1 >.<

Bukan apa-apa sih tapi sepertinya buku yang ratingnya tinggi tidak menjamin kita bakal suka dengan buku itu ternyata, padahal biasanya saya lumayan percaya dengan rating di Goodreads, beginilah kalau tante-tante tetap baca YA, hehe.

The Sky is Everywhere
The Sky is Everywhere

The Sky is Everywhere berkisah tentang Lenni Walker yang katanya pemain clarinet, terobsesi dengan Heathcliff *puhliiiiss* dan senantiasa hidup di bawah bayang-bayang sang kakak. Si Kakak, Bailey, baru saja meninggal dan TSiE mengisahkan bagaimana hidup Lennie setelah ditinggal Bailey.

Tiba-tiba saja hidupnya yang muram dicerahkan dengan hadirnya lelaki. Tidak satu tapi dua sekaligus. Yang pertama Toby, notabene adalah mantan pacar Bailey dan Joe, new boy in town. Pindahan dari Paris dan pintar bermusik. Pilihan sulit rupanya.

Berbicara soal kesedihan, kesepian, proses menemukan cinta, mau tak mau saya membandingkan TSiE dengan Before I Fall dan If I Stay. Berbeda dengan kedua buku di atas, terlebih If I Stay yang tokoh utamanya sama-sama gemar memainkan alat musik, saya tidak merasakan bahwa Lennie yang dibilang pemain clarinet memiliki passion di sana. Lebih jelasnya lagi saya tidak merasakan apa-apa soal Lennie. Apalagi Bailey yang sejak awal dikisahkan kalau sudah meninggal.

Kesedihan yang digaungkan pun juga tak nampak di buku, yang ada kebingungan Lennie hendak memilih Toby atau Joe? Kencan dengan siapa, berciuman dengn siapa? Woi, kakakmu baru meninggal loh nona maniiiisss *jewer kuping Lennie*

Lennie yang notabene masih perawan malah sempat membahas dengan Joe, kalau nanti make out pertama harus dengan Joe. Alamak, penting ya? Dan sempat di satu bagian Lennie membayangkan bagaimana rasanya mandi bareng dengan Joe. Aduh aduh aduh. Saya tidak masalah dengan sex pranikah, saya tidak anti banget dengan buku romance tapi saya tidak sreg membaca kalau tokoh utamanya yang sedang berduka yang disibukkan itu adalah tingginya hormon-hormon tertentu macam begini. Lennie juga berciuman dengan hot dan romantis di kebun belakang rumah dengan Toby. Toby yang mantan kakaknya, yang baru saja meninggal, yang tidak hanya meninggal tapi Bailey dikabarkan tengah mengandung 2 bulan. Aih matiik daaah.

Saya jarang memberikan nilai 1 tapi buku ini perkecualian, memang disebutkan keunggulan TSiE adalah penulisan kalimat yang puitis dan Lennie suka menuliskan puisi yang ditulis di tempat-tempat unik, tapi antara puisi dan sikapnya sehari-hari tidak mencerminkan bahwa ia adalah gadis yang berjuang dengan kesedihan dan gadis yang puitis. Seakan deskripsi karakternya hanyalah tembelan semata.

Prolog yang ada di halaman pertama :

I roll onto my back and before long I’m holding my pillow in my arms and kissing the air with an embarrassing amount of passion. Not again, I think. What kind of girl wants to kiss every boy at a funeral, wants to maul a guy in a tree after making out with her dead sister’s boyfriend the previous night? Speaking of which, what kind of girl makes out with her sister’s boyfriend, period?

Nah ya itu, saya juga tidak bisa menjawab pertanyaanmu nona.

Selena
Selena

The Sky is Everywhere bakal dibawa ke layar lebar dan yang berperan sebagai Lennie adalah Selena Gomez. Mudah-mudahan filmnya bakal lebih bagus dan yuk ah sudah saatnya mengubek-ubek buku Historical untuk baca bareng BBI bulan Juli ini. Cheers!

Detail buku :

The Sky is Everywhere

Pengarang : Jandy Nelson

275 halaman, Speak, Penguin Group

Hasil swap dengan Ndari.

2012 · chicklit · drama · Gramedia · love love love

I’ve Got Your Number – Sophie Kinsella

I've Got Your Number
I’ve Got Your Number

Buku terbaru Sophie Kinsella yang sudah lama saya tunggu dan ugh maafken saya Tante Kinsella,tapi sepertinya saya tidak berjodoh dengan I’ve got Your Number.

Sekilas sinopsis yang saya ambil dari Goodreads :

Cincin pertunanganku hilang… 😦 Padahal cincin itu sudah menjadi milik keluarga Magnus selama tiga generasi. Gimana dooong?! 😦

Gara-gara beberapa gelas sampanye di acara amal, hidup Poppy kacau-balau. Bukan saja cincinnya hilang pada hari dia akan bertemu dengan calon mertua, ponselnya pun ikut raib, padahal nomornya sudah dia sebarkan ke seluruh staf hotel yang ikut mencari cincin itu. Ketika dilanda kebingungan, tahu-tahu dia menemukan ponsel di tempat sampah. Aha! Karena sudah dibuang, ponsel itu jadi milik publik, bukan?

Sayangnya, si pemilik ponsel, Sam Roxton, tidak senang. Dia mau ponselnya kembali, dan dia sebal Poppy membaca pesan-pesannya serta ikut campur dalam hidupnya. Bayangkanlah betapa ruwet hidup Poppy di antara kesibukan mempersiapkan pernikahan, meneruskan SMS dan e-mail, juga menyembunyikan tangan kirinya dari Magnus serta orangtuanya..

What if the wrong number leads you to the right guy??

Kinsella tetap dengan formula lamanya yang acap kali berhasil. Tokoh utama : Poppy Wyatt yang panik gara-gara kehilangan cincin kawinnya sering kali bertindak bodoh yang kadang bikin gemes saya sebagai pembaca. Tidak cukup kesialannya kehilangan cincin, eh ponselnya raib! Padahal sebentar lagi orang tua Magnus akan datang. Keluarga Magnus adalah keluarga terpelajar nan absurd yang membuat nyali Poppy mengkeret karena pembicaraan kelas atas mereka.

Kekonyolan terjadi saat Poppy bermain scrabble bersama mereka.

“We’re playing Scrabble. It’s a nightmare.”
“Scrabble?” He sounds
surprised. “Scrabble’s great.”
“Not when you’re playing with a family of geniuses, it’s not. They all put words like ‘iridiums’. And I put ‘pig’.”

Banyak momen-momen yang membuat saya tersenyum-senyum sendiri, bahkan rata-rata teman di Goodreads memberikan bintang 4 untuk I’ve Got Your Number. Hanya saja menurut saya tidak ada yang baru yang ditawarkan di sini, Sophie Kinsella nyaman dengan gaya penceritaan macam begini dan bagi saya yang membaca hampir semua bukunya (bukan sebagai Madeleine Wickham) akhirnya merasa bosan. Kisah cerita mudah tertebak dan penulisan catatan kaki juga tidak membantu malahan mengganggu. Memang tujuan membeli chicklit bukan untuk bacaan yang berat-berat, yes I know.

Saya biasanya terhibur dengan kekonyolan tokoh ciptaan Sophie Kinsella, tapi di buku I’ve Got Your Number formulanya kurang berhasil, yang saya suka malah SMSan antara Poppy dan si ganteng Sam Roxton. Walau begitu untuk bacaan di akhir pekan yang ringan dan santai kisah si Poppy cukup menarik untuk mengisi waktu.

Sekilas video pengarang saat bercerita soal novel terbarunya. *perhatikan rak buku di balik Sophie Kinsella deh, warnanya unyuuk*

Cheers!

Gramedia, 576 halaman.

Cetakan I, Mei 2012.

PS : Gara-gara twit soal buku ini saya sempat ngobrol di twitter bersama teman-teman perihal pengarang yang formulanya begitu-begitu saja. Lama-lama malah bosan, contoh Dan Brown, Nicholas Sparks, Sidney Sheldon, Danielle Steel adalah nama-nama yang terbersit di otak saya. Mungkin itu gunanya kita memperluas bacaan kita tidak pengarang yang itu-itu saja, kalau pengarang belum bisa move on dengan zona nyaman, mungkin saya yang harus move on dengan pengarang-pengarang baru. Fenomena yang menarik, bisa dibahas kapan-kapan di blog (kalau tidak malas :p)