2013 · adventure · fantasy · kids just wanna have some fun · Middle Grade · not mine

[Review] Graveyard – Neil Gaiman

It takes a graveyard to raise a child.

Oh well, kalimat pertama yang menarik,yaaa selain Neil Gaimannya sendiri sih. Sepertinya siapa yang tidak kenal dengan Neil, karyanya mulai dari Coraline, American Gods bahkan Stardust semuanya mendapat rating tinggi dari penggemar fantasi. Saya sudah membaca Coraline dan Good Omen, namun Graveyard adalah buku Neil berbahasa Inggris pertama yang saya baca, awalnya rada was-was juga, bagaimana kalau saya tidak bisa menikmatinya? Bagaimana kalau bahasanya susah? But there’s always the first time for everything dan perjumpaan pertama saya dengan novel Neil Gaiman berbuah manis, 5 bintang untuk kisah dark fantasy yang bertema unik sekaligus seram plus ajaib. Bayangkan, ini adalah kisah seorang anak yang orang tuanya mati dibunuh sehingga akhirnya ia diasuh oleh keluarga hantu di kuburan. Ga kebayang kan? Memang saya bukan pengarang novel, tapi seandainya saya penulis, tidak pernah terbesit bakal memakai kuburan sebagai setting sebuah buku. *udahurusgigiajasana*

Spooky Cover, eh?
Spooky Cover, eh?

Okehlah, tanpa bertele-tele mari kita gali satu-satu apa yang menyebabkan Graveyard menjadi pemenang Newberry Medal 2009 dan menjadi jalan pembuka bagi saya untuk mengoleksi karya beliau yang lain.

–          Ilustrasi

Dasarnya Graveyard adalah buku untuk middle grade, tidak salah jika buku ini dilengkapi dengan ilustrasi yang menawan, walau hanya coretan kuas hitam putih saja namun cukup kuat mewakilkan isi bab demi bab. Tak jarang saat membacanya, saya iseng membolak-balik halaman yang telah lewat demi memandang ulang gambarnya saja 🙂

Salah satu ilustrasi Dave McKean
Salah satu ilustrasi Dave McKean

–          Freedom of the graveyard.

Si anak yang dipanggil Bod, singkatan dari Nobody Owens dianugerahkan beberapa kekuatan yang tidak dimiliki orang hidup seperti muncul ke mimpi seseorang, mampu menghilang bahkan bisa melihat di kegelapan. Ia memiliki pengasuh bernama Silas yang mengajarinya banyak hal. Kesannya misterius tapi saya sangat menyukai karater Silas yang kebapakan dan bertanggung jawab penuh akan Bod. Ada satu percakapan Silas dan Bod yang saya suka saat Silas mengingatkan pembunuh keluarganya masih berkeliaran :

Bod said, “The person who hurt my family. The one who wants to kill me. You are certain that he’s still out there?”

“Yes. He’s still out there.”

“Then, said Bod, and said that the unsayable, “I want to go to school.”

Silas was imperturbable, but now his mouth open and his brow furrowed, and he said only,

“What?”

“I’ve learned a lot in the graveyard. I can Fade and I can Haunt. I can open a ghoul-gate and I know the constellations. But there’sa world out  there, with the sea in it, and the islands, and shipwrecks and pigs. And the teachers here have taught me lots of things, but i need more. If I’m going to survive there, one day.”

“Out of the question. Here we can keep you safe, out there? Outside, anything could happen.”

“Yes, “ agreed Bod. “That’s the potential thing you were talking about. Someone killed my mother and my father and my sister.”

“Yes. Someone did.”

“A man?”

“A man.”

“Which means you’re asking the wrong question.”

Silas raised an eyebrow. “How so?”

“Well, if I go outside in the world, the question isn’t who will keep me safe from him?”

“No?”

“No. It’s who will keep him safe from me?”

:’)

–          Teman-teman Bod.

Semua karakter pendukung Graveyard memiliki tempat dan kisah sendiri di buku ini tanpa terkesan keluar dari jalur, mulai dari Scarlett teman pertama Bod yang akhirnya menjadi pembuka jalan Bod sekolah dengan orang-orang hidup lainnya. Selain itu masih banyak karakter lain seperti Miss Lupescu, Scarlett dan juga Liza Hempstock.

–          The Man Jack

Karakter misterius pembunuh keluarga Bod. Siapakah ia sebenarnya? Siapa sebenarnya keluarga Bod sehingga harus dibantai habis? Jack masih berkeliaran mencari si anak hilang terlebih lagi sejak Bod masuk sekolah, ia mulai dikenali dan Jack tidak diam, ia tidak mau dipecundangi untuk kedua kalinya dan Jack, tentu saja berniat membereskan misinya yang tertunda.

–          The ending.

Penuh dengan kalimat quotable.

“Do you know what you’re going to do now?”

“See the world, get into trouble. Get out of trouble again. Visit jungles and volcanoes and deserts and islands. And people. I want to meet an awful lot of people.”

Saya juga menyukai kalimat ini :

Fear is contagious. You can catch it. Sometimes all it takes is for someone to say that they’re scared for the fear to become real.

Dan yang terakhir :

Face your life,
It’s pain,
It’s pleasure,
Leave no path untaken.

Have a great journey, Bod!

I’m sure you’ll have a great journey ahead. :’)

Saya menutup halaman terakhir dengan tersenyum puas, seakan melihat perjalanan mulus seorang teman lama, ya, Bod menjadi salah satu karakter favorit saya tahun ini. Saya seakan menjadi saksi belasan tahun hidupnya sedari ia diasuh keluarga Owen di kuburan. Neil tak hanya menulis cerita ia menciptakan karakter yang abadi, bahkan bisa jadi Graveyard menjadi buku klasik wajib baca di tahun-tahun ke depan nantinya. Neil juga membuat cerita anak yang tidak klise, tidak dijejalkan pesan moral berlebih bagi pembaca muda namun ia menawarkan teman dan perjalanan yang menyenangkan bagi semua pembacanya dan tentu saja mengingatkan kembali untuk menikmati hidupmu selagi muda, cobalah banyak hal, leave no the path untaken.

Sudah jelas kenapa buku ini mendapat bintang 5 kan? 🙂

Bagi yang masih penasaran coba cek di sini, Neil Gaiman menjawab pertanyaan-pertanyaan pembaca saat tur bukunya dan ada video saat Neil membaca Graveyard. Enjoy!

Advertisements
2012 · BBI · inspiring · not mine

[Review] The Time Keeper – Mitch Albom

“Try to imagine a life without timekeeping. You probably can’t. You know the month, the year, the day of the week. There is a clock on your wall or the dashboard of your car. You have a schedule, a calendar, a time for dinner or a movie. Yet all around you, timekeeping is ignored. Birds are not late. A dog does not check its watch. Deer do not fret over passing birthdays. an alone measures time. Man alone chimes the hour. And, because of this, man alone suffers a paralyzing fear that no other creature endures. A fear of time running out.”

Berapa banyak di antara kita hari ini 31 Desember 2012 berpikir ‘time flies’? Time is running out. Ke mana saja waktu berlalu? Apa saja pencapaian tahun ini? Resolusi tercapai semuakah?

Terus terang saya masih keteteran dengan resolusi 2012, memang ada momen-momen penting yang terukir cemerlang di tahun ini, tapi banyak juga yang belum sempat terwujud dengan alasan ‘tidak cukup waktu’. Benar tidak cukup waktu? Atau saya yang terlalu banyak menghabiskan waktu percuma?

Seperti kata Dor, tokoh utama di buku terbaru Mitch Albom :

“Dor: there is a reason God limits our days.
Victor: why?
Dor: to make each one precious.”

The Time Keeper
The Time Keeper

Inti dari buku setebal 222 halaman, cukup tipis dan ringan untuk dibaca. Malah paling simpel dari semua buku karangan Mitch Albom yang pernah saya baca. Saya tidak akan berpanjang lebar dengan review teman-teman lain pasti lebih piawai meracik review. Time Keeper mengajak kita semua untuk tidak bermain-main dengan waktu, jujur dengan perasaan kita. Isi waktu dengan hal-hal yang berharga sehingga momen yang lewat tidak sia-sia karena bagaimana pun caranya kita tidak bisa menghentikan waktu seperti Dor. Pergunakan waktu kita yang terbatas ini dengan baik.

“We all yearn for what we have lost. But sometimes, we forget what we have.”

Mudah-mudahan tahun depan menjadi tahun yang baik untuk kita semua, mimpi terwujud, cita-cita tercapai dan rencana Dia tergenapi atas kita. Terima kasih Mitch Albom atas dongeng yang indah akan berharganya waktu yang sering kali kita habiskan sia-sia.

Selamat tahun baru 2013, teman-teman semua! 🙂

*review yang bukan review*

**dibaca dalam rangka posting bareng buku karangan Mitch Albom bareng BBI**

***Gara-gara baca Time Keeper saya ingin baca ulang semua karya beliau yang ternyata baru satu saja yang saya review, bagi yang ingin baca silahkan berkunjung ke sini, salah satu buku favorit saya tahun 2011***

2012 · not mine

[Review] 50 Shades of you-know-who.

*bengong selama 10 menit*

Heuuh, bingung dong mau tulis review macam gimana *perseteruan antara inner goddess dan subconscious*.

Okeh deh, sepertinya saya ga bakal nulis review panjang-panjang karena semua pasti sudah tahu perihal Anastasia Steele dan Christian Grey kan ya? No? Yeslah yaa, secara buku ini sedemikian hebohnya bahkan mengalahkan penjualan Harry Potter! (correct me if i’m wrong, lagi malas browsing).

Saya ini tipe yang rada nyinyir soal buku, jadi kadang kalau sudah tahu itu buku bukan selera seseorang dan seseorang itu tetep baca, my inner goddess will say, ” Udah tau ga suka, lah kok masih baca?”. Nah sekarang balik ke saya, sudah jelas-jelas bukan penikmat roman apalagi jenis kelas berat macam begini kok masih berani coba, hayo? Salah siapa? Dan kali ini subconscious saya menang, keingintahuan mengalahkan suara si inner goddess *inner goddess batal joget gangnam*. Yes, i want to know how great Christian Grey is. Terlebih lagi ada yang bersedia meminjamkan bukunya pada saya, mengapa tidak dicoba? Walau sebelum baca saya sudah wanti-wanti, jangan ngomel melulu, jangan komplen dan siapkan pikiran selayaknya target pembaca yang diharapkan oleh E. L. James aka mommy of porn? *rollineyes*.

Fifty Shades of Grey
Fifty Shades of Grey

Sinopsis yang saya ambil dari Goodreads :

When literature student Anastasia Steele goes to interview young entrepreneur Christian Grey, she encounters a man who is beautiful, brilliant, and intimidating. The unworldly, innocent Ana is startled to realize she wants this man and, despite his enigmatic reserve, finds she is desperate to get close to him. Unable to resist Ana’s quiet beauty, wit, and independent spirit, Grey admits he wants her, too—but on his own terms.

Shocked yet thrilled by Grey’s singular erotic tastes, Ana hesitates. For all the trappings of success—his multinational businesses, his vast wealth, his loving family—Grey is a man tormented by demons and consumed by the need to control. When the couple embarks on a daring, passionately physical affair, Ana discovers Christian Grey’s secrets and explores her own dark desires.

Erotic, amusing, and deeply moving, the Fifty Shades Trilogy is a tale that will obsess you, possess you, and stay with you forever.

Ok, kalau saya membaca buku ini saat usia 17 atau 20 tahun, bisa jadi saya tergila-gila dengan Christian Grey. Kaya, ganteng, uang tak terbatas, penyayang *eeeek, penyayang?* semua itu bisa menutupi kekurangannya yaitu posesif dan sifatnya yang dominan di *uhuk* tempat tidur. Kehidupannya di ranjang tak jauh dari hubungan BDSM, bagi yang belum jelas soal BDSM bisa cek di google dan tidak, saya tidak akan membelikan kalian satu buah MacBook Pro untuk itu 😀

Ana, gadis belia polos, 21 tahun, layaknya gadis kebanyakan yang terkadang tidak pede dengan dirinya sendiri, slebor, yah mirip dengan tokoh-tokoh yang diciptakan oleh Sophie Kinsella yang mungkin sedikit tidaknya mirip dengan saya atau dengan kita semua, bisa jadi karena itu juga 50 shades laku keras, ada Ana dalam setiap diri kita.

Gimana ga klepek-klepek jikalau laki-laki gagah perkasa adi kuasa sakti mandraguna *eeeh* bertekuk lutut di hadapan gadis yang biasa-biasa saja? Macam Edward Cullen dengan si Isabella Swanlah. Apa hebatnya sampai drakula dan manusia serigala bisa mati-matian naksir perempuan tanpa ekspresi dari Forks? Hanya Stephenie Meyer dan E. L. James yang tahu.

Kembali ke 50 shades, jadi setelah membaca wajar saja jika trilogi ini meledak di mana-mana. Adegan ranjang yang lumayan vulgar pun masih bisa diterima oleh banyak pembaca, tapi terus terang beberapa adegan saya skip karena selain tidak bisa membayangkan bagaimana bentuk alat dan cara kerjanya, serem sendiri >.<

Beberapa hal yang mengganggu saat saya membaca 50 Shades :

1. Penulisan repetitif. Gaya bahasanya ini bolak balik membuat saya melakukan rolling eyes dan untungnya tidak ada Christian Grey deket-deket saya, yang sudah baca pasti mengerti :p

Crap, holy crap, double crap, triple crap. Errr. Dan masih banyak kata-kata lainnya yang mungkin di beberapa reviewer di Goodreads yang menghitung pengulangan beberapa kata, aduh saya makasih aja deh.

2. Saya mengerti dengan keluguan Ana, tapi satu yang saya tidak bisa terima dari penulis, sadarkah ia dengan yang ia tulis ini mempengaruhi banyak pembaca? Apalagi pembaca muda? Aduh yang masih muda-muda mending jangan baca buku ini ya!! Editornya mana? Adegan menggunakan sikat gigi bareng itu NGGAK BANGET.

Bukan karena saya dokter gigi saya ‘komplen’ bagian Ana menggosok gigi menggunakan sikat gigi kepunyaan Christian. Beneran deh, apakah penulis sendiri juga sikat gigi menggunakan sikat gigi pasangannya? haduh haduh dan bisa-bisanya dianggap thrilling oleh Ana. Thrilling? Yang bener aja.

3. Ini bukan pertama kalinya saya membaca buku roman dan masih banyak cara untuk menunjukkan bahwa Christian Grey adalah seorang laki-laki dominan, tapi TIDAK dengan bercinta dengan perempuan pada saat datang bulan.

Yuck.

Adegan BDSM dan segala jenis kontraknya masih bisa dimaklumi, tapi tidak untuk yang ini.

There I said it.

Fiuh.

Di twitter @anadudunk sempat bertanya apakah saya akan melanjutkan buku keduanya atau tidak, tidak, saya tidak berniat melanjutkan membaca buku selanjutnya tapi saya masih ingin tahu kisah akhir Ana dan Grey, mereka tetap lanjutkah? Feeling saya sih lanjut, ada yang berniat membocorkan kisah mereka? :p

Sebelum review ini saya sudahi, subconscious saya mau bicara terkait dengan apa kira-kira yang membuat buku 50 shades laris di mana-mana :

1. Cover yang minimalis dan modern. Coba bandingkan dengan cover historical romance macam perempuan kadang tanpa wajah berdiri di tengah kebun atau wanita berdada aduhai di pelukan pria kekar macam Ridho Rhoma tanpa bulu #eeeeh, oh atau postur pria berdada bidang tanpa wajah macam iklan pakaian dalam pria *maaf para penggemar romance*.

Noooh, got my point?
Noooh, got my point?
See??? :p
See??? :p
Where are you, Mr.Grey?
Where are you, Mr.Grey?

2. Kisah cinta klasik senantiasa hidup tak lekang masa. Aih bahasanyaaa si mia bawah sadar. Apa yang membuat Twilight dihina sekaligus dipuja puji? Tak beda dengan hubungan Ana – Grey. Kita semua senang dengan kisah yang menye-menye, Grey ternyata berhasil jatuh cinta dengan perempuan biasa, roman picisan kalau kata inner goddess saya, toh masih tetap laku bukan?

3. Seperti yang saya bilang di atas, ada sosok Ana dalam setiap kita. Saat membaca kontrak perihal urusan ranjang yang nyeleneh, Ana penasaran tapi sekaligus takut. Manusiawi kok, kita semua punya rasa ingin tahu, saya pun demikian saat memutuskan membaca 50 shades. Benar tidaknya perilaku BDSM mungkin bukan saya yang berhak memutuskan. Hanya satu pesan saya siapkan mental saat membacanya, jikalau tidak sreg, ya mending tidak usah dilanjutkan.

*tendang subconscious dan inner goddess*

Sekian review dari saya, mudah-mudahan berkenan bagi yang menanti-nanti *halaah*. Yuk ah! *dadah-dadah pake pecut* #lhooo

Oia, di bawah ini saya tambahkan link saat Ellen mencoba membaca buku 50 Shades of Grey, lucu banget, beneran 😀

Dan cekidot cover Entertainment Weekly, keren sih menurut saya 🙂

50 in EW
50 in EW

Detail buku :

Judul : Fifty Shades of Grey

Pengarang : E L James

Vintage Books, April 2012, 514 pages.

2012 · drama · fantasy · love love love · not mine · young adult

[Review] Delirium – Lauren Oliver

If love were a disease, would you take the cure?

Delirium
Delirium

Tagline yang sesuai dengan isi buku YA fenomenal, setahun terakhir Delirium bergema di mana-mana, blogger luar heboh dan teman-teman di Indonesia juga semangat saat tahu Delirium bakal diterjemahkan. Sungguh sayang covernya aneh 😦 Kurang terasa distopiannya dan itu si Lena terjerat cinta ya artinya?

Versi Indonesia
Versi Indonesia

Ah cinta mah memang penjerat kelas kakap.Seperti yang tertulis di halaman 11 : Hal yang paling mematikan dari yang memantikan, cinta akan tetap membunuhmu, tak peduli apakah kau memilikinya atau tidak.

Jadi begini, review singkat saya soal Delirium :

Ketemu pada pandangan pertama. Suka. Malu-malu dan takut. Eh keterusan. Jreng-jreng. Masalah. Saat akan bersama kembali. Tet tooot. Belum waktunya ya, tunggu kelanjutan di buku 2.

“Hearts are fragile things. That’s why you have to be so careful.”

Soal review lengkap bisa dilihat dari blog teman-teman lain yang sepertinya sudah lebih dari cukup untuk mengetahui jalan cerita Delirium yang sayangnya kurang mengena di saya. Pas kebetulan saya tidak terlalu suka distopian juga sih,apalagi awal bukunya rada lambat. Lenanya juga klemar klemer ga jelas, untung saja saat Alex muncul karakter Lena tampak lebih hidup tidak hanya abu-abu.

Walau 3 bintang cukup dari saya tapi saya mengerti kok kenapa buku ini sedemikian larisnya, kisahnya tidak biasa, cinta sebagai penyakit? Baru tahu kan? Apalagi tingkatan penyakit Amor Deliria Nervorsa bermacam-macam dari yang tahap ringan hanya mulut kering, banyak berkeringat dan kegirangan sedikit mengingatkan saya akan indahnya masa-masa pdkt dengan pacar dulu. *haalah*

Terus muncul Alex, rebel, bebas dan romantis. Aaak, bagaimana pembaca tidak klepek-klepek? Belum lagi misteri tentang ibunya Lena. Wajar jika Delirium menjadi bacaan wajib penggemar young adult, dijamin pasti suka. Satu lagi yang memegang peranan penting suksesnya Delirium : Lauren Oliver.

Cover favorit
Cover favorit

Gaya bahasanya yang mengalun indah dan puitis! Banyak quote yang memorable, singkat tapi berkesan.

“You can’t be happy unless you’re unhappy sometimes”

“I guess that’s just part of loving people: You have to give things up. Sometimes you even have to give them up.”

“Love: a single word, a wispy thing, a word no bigger or longer than an edge. That’s what it is: an edge; a razor. It draws up through the center of your life, cutting everything in two. Before and after. The rest of the world falls away on either side.”

Dan yang ini nih : “You can build walls all the way to the sky and I will find a way to fly above them. You can try to pin me down with a hundred thousand arms, but I will find a way to resist. And there are many of us out there, more than you think. People who refuse to stop believing. People who refuse to come to earth. People who love in a world without walls, people who love into hate, into refusal, against hope, and without fear.

I love you. Remember. They cannot take it.”

Duh duh duh. Di mana dapet laki macam gini yak di manaa?

Masih banyak lagi kalimatnya yang keren-keren, penasaran? Yuk silahkan dibaca walau saran saya jikalau memungkinkan bacalah yang bahasa Inggrisnya, untaian kata pengarang sayang untuk dilewatkan.

Pandemonium
Pandemonium

Buku keduanya Pandemonium sudah terbit dan dari review yang saya baca sekilas tambah seru! Bintangnya tidak beda jauh dengan Delirium, rata-rata pembaca memberikan 4 bintang.

Trailer Delirium:

Ingin mengetahui lebih banyak soal Delirium, Pandemonium dan Requiem silahkan buka websitenya di laurenoliverbooks.com, ada discussion guidenya juga loh yang bisa diunduh langsung.

Baca dan mari terinfeksi Amor Deliria Nervorsa bersama-sama yuk!

 

 

chicklit · not mine

Cocktails for Three – Madeleine Wickham

Tiga wanita cerdas dan sukses, bekerja di dunia majalah yang sibuk. Mereka bertemu untuk berbagi koktail dan gosip sebulan sekali.

Roxanne: glamor, percaya diri, memiliki kekasih gelap—dan berharap pria itu akan meninggalkan sang istri dan menikah dengannya.

Maggie: ambisius dan mumpuni dalam pekerjaan, hingga ia menemukan satu hal yang tak dapat diatasinya: menjadi ibu.

Candice: polos, baik hati, jujur—hingga suatu ketika hantu masa lalunya muncul dan mengacau-balaukan hidupnya.

Pertemuan tak disangka-sangka di bar koktail menggulirkan serangkaian peristiwa yang kemudian mengguncang kehidupan mereka dan mengancam akan menghancurkan persahabatan mereka yang unik.

Klub Koktail
Klub Koktail

Covernya cantik yaa 🙂

Klub Koktail adalah buku karangan alter ego dari Sophie Kinsella pertama yang saya baca. Walau Sophie Kinsella dan Madeleine Wickham adalah orang yang sama tapi gaya penceritaannya sangat berbeda. Sama-sama bergenre chicklit tapi Cocktails for Three terasa lebih gelap dan satir.

Cocktails for three berkisah tentang kehidupan 3 wanita yang sudah tidak muda lagi dengan masalahnya sendiri-sendiri walau benang merahnya sama. Rahasia.  Maggie yang bergulat dengan kekhawatirannya sebagai ibu, Roxanne yang disibukkan oleh hubungan gelap dengan suami orang dan Candice, tokoh yang paling ingin saya pentung kepalanya polos namun hampir kehilangan pekerjaan akibat teman SMAnya muncul dan mulai merongrong kehidupannya.

Secara sekilas memang tema persahabatan selalu menarik untuk diselami, sayangnya gaya penulisan Madeleine kurang greget dan berjiwa. Saya tidak merasakan kedekatan 3 wanita kosmopolitan sepanjang membaca Cocktail for Three. Karakternya mentah dan seakan berdiri sendiri.  Tidak tercermin hubungan pertemanan wanita yang hangat dan semarak. Untungnya konflik yang muncul lumayan ‘semarak’ dan membuat saya penasaran bagaimanakah kisah ini akan berakhir. Temanyapun cukup berat : isu motherhood, hubungan gelap dan kekacauan masa lalu yang muncul kembali.

Saya terkecoh dengan nama Sophie Kinsella yang kerap kali memunculkan tokoh wanita sedikit ‘bodor’ namun menarik. Kali ini tokohnya sih memang ada yang rada kacau tapi kurang menghibur namun untuk bacaan di kala senggang boleh juga buku Cocktails for Three ini dijadikan pilihan. Seusai membaca saya jadi kangen jaman kuliah dulu di mana bisa cerita ngalor ngidul dengan sahabat sambil menyesap kopi. Kebiasaan yang sudah langka karena kesibukan pekerjaan dan teman-teman yang sudah berpencar mulai dari di Bogor sampai Papua.

Oia, satu yang mengganggu entah apa yang ada di pikiran pengarang saat menuliskan kalimat pembukaan di saat Candice hendak bercinta dengan pasangannya. Saat Ed merengkuhnya dengan penuh tekad, berdiri dan membawanya ke dalam rumah, menaiki anak tangga, tungkai Candice segemetar anak sapi yang baru lahir. Heu… Kok ga ada romantis-romantisnya ya? Malah kebayang anak sapi 😀

Terima kasih mbak Ferina untuk pinjamannya 🙂

Detail buku : Coctail for Three / Klub Koktail

Pengarang : Madeleine Wickham

Gramedia, Cetakan I Juni 2011, 440 halaman.