2013 · drama · Gramedia · love love love · must read · tears

[Review] Me Before You – Jojo Moyes

Sigh. Susahnya mereview bintang 5, apalagi macam Me Before You tanpa spoiler. Jadi begini, saya percaya yang namanya buku itu kadang ‘memanggil’ pembacanya. Buku juga memiliki jiwa untuk mengetahui siapa pembaca yang tepat untuknya. Bentar, bentar, kok jadi horror? Ah, tapi teman-teman mengerti maksud saya kan? Saya lupa asal muasal bisa tertarik dengan buku ini, one click leads to another sepertinya, dan ketika adik saya pergi ke luar, saya dengan pedenya nitip dibelikan Me Before You. Covernya cantik, rating lumayan, dan siapa itu Jojo Moyes saya juga ga kenal. *sok kenal dengab penulis, padahal baru kenal dengan Agustinus Wibowo doang*

Me Before You
Me Before You

Yuk lanjut, Me Before You berhasil saya lalap dalam waktu 2 hari, pertengahan menitikkan air mata sedikit, 2/3 ke belakang mulai tes-tes-tes, bagian belakang mewek sampai mata bengkak dan merah. Memang saya lebay, gampang menangis, dan yang saya tekankan di sini bukan buku ini sedemikian sedihnya hingga perlu tissue saat membacanya tapi bagaimana kehebatan Jojo Moyes menciptakan karakter-karakter yang hidup. Sangat hidup. Buku ini sudah saya beberapa bulan lalu, namun sampai sekarang saat saya menulis review masih terbayang-bayang. Jarang-jarang saya ingin baca ulang buku, tapi Me Before You yang jelas menjadi kandidat buku favorit tahun 2013 adalah satu di antaranya.

Sinopsis dari bagian belakang buku:

Lou Clark knows lots of things. She knows how many footsteps there are between the bus stop and home. She knows she likes working in The Buttered Bun tea shop and she knows she might not love her boyfriend Patrick.

What Lou doesn’t know is she’s about to lose her job or that knowing what’s coming is what keeps her sane.

Will Traynor knows his motorcycle accident took away his desire to live. He knows everything feels very small and rather joyless now and he knows exactly how he’s going to put a stop to that.

What Will doesn’t know is that Lou is about to burst into his world in a riot of colour. And neither of them knows they’re going to change the other for all time.

Bukan dalam rangka ikut-ikutan Uni bicara soal takdir *disepak*, takdir menemukan Lou dan Will dalam suatu kejadian tak terduga. Will yang dulunya petualang, playboy, businessman sukses bukanMrGrey, siapa sangka nasibnya berubah drastis ketika kecelakaan sepeda motor. Will menjadi lumpuh (quadriplegic), ia tak lagi bisa melakukan apa pun tanpa bantuan orang lain, sudah 2 tahun Will bertahan. Kesabaran orang ada batasnya, begitu kata pepatah. Will lelah dan ketika Will menghubungi Dignitas (a group that helps those with terminal illness and severe physical and mental illnesses to die assisted by qualified doctors and nurses), pembaca sudah bisa membaca ke mana arah cerita ini. Lou, gadis eksentrik, gemar berbusana antik dipecat dari kerjaannya dan seperti saya bilang tadi, takdir menyatukan mereka berdua, Lou butuh uang dan ibu Will melihat sesuatu yang tak biasa dalam diri Lou sehingga beliau menggaji Lou sebagai asisten Will, walau ada niat yang lebih besar di balik itu. 

Bagaikan dua kutub magnet *tsaahbahasagueeeh* chemistry Will yang pesimis dengan hidup dan Lou yang begitu polos namun sesekali meledak-ledak menjadi kekuatan novel Me Before You. Lou mengajak Will melihat dunianya dari sisi seorang gadis lugu yang tidak pernah bermimpi muluk-muluk sedangkan Will yang hari lepas hari menyadari ada potensi yang besar dari Lou.

Saya ikut bangga dan senang ketika perlahan tapi pasti Will yang lelah dengan hidup mulai membuka diri dan Lou yang slebor, mudah dibully mulai berani bermimpi. Banyak adegan mengharukan yang muncul terlebih lagi saat ulang tahun Lou. Dan ketika semua berjalan baik-baik saja, kita tahu yang ada di halaman berikutnya pastilah ada sesuatu. Lou dan Will jatuh cinta, mampukah cinta Lou membangkitkan nafsu hidup Will?

“I kissed him, trying to bring him back. I kissed him and let my lips rest against his so that our breath mingled and the tears from my eyes became salt on his skin, and I told myself that, somewhere, tiny particles of him would become tiny particles of me, ingested, swallowed, alive, perpetual. I wanted to press every bit of me against him. I wanted to will something into him. I wanted to give him every bit of life I felt and force him to live.”

Sesuatu yang lebih dari sekadar apakah buku ini akan berakhir bahagia atau tidak. Pembaca akan diajak berpikir lebih jauh tentang hidup oleh Jojo Moyes tanpa terkesan menggurui. Seberapa berarti hidupmu? Masih berarti ketika kamu tidak lagi bisa mengerjakan apa pun? Boleh jadi kita berpikir betapa bodohnya Will, tapi Jojo Moyes juga menunjukkan bagaimana berat hidup yang sepenuhnya dan seumur hidupnya bergantung dari orang lain. Tidak ada yang benar dan yang salah. Dan saya menutup buku ini dengan hati sesak namun saya juga merasakan gelenyar hangat di dada.

“You only get one life. It’s actually your duty to live it as fully as possible.”

Petuah Will di bawah ini sangat menggetarkan hati saya.

“Push yourself. Don’t settle. Wear those stripy legs with pride. And if you insist on settling down with some ridiculous bloke, make sure some of this is squirreled away somewhere. Knowing you still have possibilities is a luxury. Knowing I might have given them to you has alleviated something for me.”

Sebelum Mengenalmu
Sebelum Mengenalmu

Me Before You sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia juga lho, saya belum cek tapi dari beberapa teman saya dengar bahwa harganya lumayan. Oh well, untuk mengenal Will dan Lou dan merasakan rollercoaster emosi saat membacanya saya pikir harga yang ditawarkan pasti sesuai. Wajib baca. You’ll gonna love this book, bagi yang ga nangis, uang kembali! #lah

Oia, satu quote lagi yang ingin saya bagikan, ketika Lou dan Will pulang berkencan.

 “I turned in my seat. Will’s face was in shadow and I couldn’t quite make it out.
‘Just hold on. Just for a minute.’
‘Are you all right?’ I found my gaze dropping towards his chair, afraid some part of him was pinched, or trapped, that I had got something wrong.

‘I’m fine. I just . . . ’
I could see his pale collar, his dark suit jacket a contrast against it.
‘I don’t want to go in just yet. I just want to sit and not have to think about . . . ’ He swallowed.
Even in the half-dark it seemed effortful.
‘I just . . . want to be a man who has been to a concert with a girl in a red dress. Just for a few minutes more.’
I released the door handle.
‘Sure.’
I closed my eyes and lay my head against the headrest, and we sat there together for a while longer, two people lost in remembered music, half hidden in the shadow of a castle on a moonlit hill.”

OMG. :’)

Udah deh, pokoknya harus baca buku me Before You, ya ya ya? Tidak akan menyesal, saya bahkan saat menulis review ini hati bagaikan ditujes-tujes dan ingin mengulang. Huks.

Sudah ah, pamit semuanya, jangan lupa kabari saya kalau sudah baca #teteplho #mustinyangelamarjadimarketinggramed #plak

Advertisements
2013 · BBI · Gramedia · inspiring · journal · karya anak negeri · memoar · tears

[Review] Titik Nol – Agustinus Wibowo

Catatan perjalanannya tidak banyak menekankan pada petualangan pribadi atau beragam keberhasilan yang dicapainya, melainkan berisi orang-orang yang ditemuinya sepanjang perjalanannya. Tulisan-tulisannya lebih memberi penghormatan pada kenangan-kenangan tentang mereka yang telah menyentuh, memperkaya, mencerahkan hidupnya. Merekalah yang menjadi alasan kenapa Agustinus bisa lolos dari zona perang tanpa terluka sedikit pun, melewati wilayah-wilayah sulit dengan mudah, dan melakukan perjalanan panjang dengan dana amat terbatas.

Nilai perjalanan tidak terletak pada jarak yang ditempuh seseorang, bukan tentang seberapa jauhnya perjalanan, tapi lebih tentang seberapa dalamnya seseorang bisa terkoneksi dengan orang-orang yang membentuk kenyataan di tanah kehidupan.

Lam Li, Oktober 2012.

Titik Nol
Titik Nol

Kalimat pembuka oleh sahabat Agustinus Wibowo sangat pas menggambarkan buku setebal 552 halaman dan sekaligus menjadi penyebab ia mendapat rating 4 lebih di Goodreads. Berbeda dengan Selimut Debu, atau pun buku-buku perjalanan lainnya yang semakin banyak saja kita jumpai di toko buku. Titik Nol terasa sangat hangat. Personal. Menyentuh. Bahkan di beberapa bagian terasa sangat menyesakkan dan bolak balik saya menitikkan air mata. Tidak heran baru rilis beberapa minggu dan sekarang sudah dicetak ulang lagi.

Sampul depan Titik Nol begitu mengundang. Biru cerah dengan anak melompat dari pohon. Bebas. Berani. Nekat. Sebagaimana penulis yang juga pengembara, musafir, you named it. Menurut saya Agustinus Wibowo adalah laki-laki pejalan yang nekat. Perjalannya penuh dengan bahaya, dirampok, sakit keras di negeri orang. Buset dah! Titik Nol menjadi buku bacaan saya saat liburan di Lombok. Malu sendiri sudah heboh kepanasan dan stress ketika merasakan ‘keramahan’ penduduk lokal di pelabuhan Bangsal.

Makna sebuah perjalanan.

Tibet. India. Nepal. Afganistan.

Surga. Khailash. Shangri La.

Titik Nol berpusat pada Agustinus Wibowo yang menggabungkan makna perjalanan dan sang Mama yang berjuang menghadapi kanker. Bagaimana kedua hal itu bisa menjadi korelasi yang pas, itulah magnet kuat dan kekuatan penulis merangkai kata sehingga Titik Nol lebih menyerupai buku kehidupan seperti yang ditulis Qaris Tajudin. Justru dari ibunya yang tidak pernah ke mana-mana itulah, ia menemukan satu demi satu makna perjalanan yang selama ini ia abaikan.

Dibedakan dari tulisan tegak yang mengisahkan perjalanan demi perjalanan dan tulisan bercetak miring, pembaca seakan melihat penulis dari dua sisi. Sebagai seorang pejalan yang mencari arti hidup, berpetualang dengan gagah berani dan sekaligus kita melihat Agustinus yang ternyata adalah manusia biasa. Tak lepas dari kecemasan, ketakutan, kesedihan.

Membaca Titik Nol, saya merasa ikut didongengi oleh Agustinus, sebagaimana bab demi bab ia menceritakan kisah Safarnama kepada sang Mama.

Jarak dan waktu memang sempat menjadikan hubungan ibu dan anak ini seperti tuan rumah dan tamu yang saling dipenuhi rasa sungkan. Tapi penyakit ini telah mengubah kami, yang kini tak segan mengucap kata ‘cinta’, berbagi ciuman dan belaian sayang. Penyakit ini membuatku menemukan Mama, mengalami keluarga, memberi makna baru pada rumah. Perjumpaan dan perpisahan, kegembiraan dan penderitaan, semua adalah anugerah. hal 334.

Pramoedya pernah berkata, hidup ini bukan pasar malam. Di tengah pesta kehidupan, kita tidak berbondong-bondong datang. Satu per satu kita datang, satu per satu kita berjalan dan menjelajah, satu per satu kita menciptakan kisah kita masing-masing, hingga tiba saatnya nanti satu per satu kita mengakhiri jalan ini-pulang. (hal 526).

Terima kasih Agustinus, untuk kesediannya berbagi kisah perjalananmu kepada kami. Membaca Titik Nol adalah suatu pengalaman berharga, menelusuri negeri yang mungkin tidak akan pernah saya pijak, terutama lagi mengingatkan saya akan mami di nirwana sana.

Setiap kisah, perjalanan, penantian, perjuangan, pengharapan dan kekuatan, tentu ada batas akhirnya. Dan selama masih ada waktu yang diberikan sang Pencipta, mari bersama kita buat kisah hidup kita berarti.

-Mia-

*edisireviewmepet*

 

inspiring · tears

Sold – Patricia McCormick

Sold
Sold

Heartbreaking, yet uplifting. Kesan yang saya dapat dari buku ini. Sejak pertama kali melihat buku ini di toko buku, I know I’m gonna love this book.

Berkisan tentang Laksmi, gadis kecil dari Nepal berusia 13 tahun yang dijual oleh ayah tirinya sendiri ke rumah bordil. keluguan, kenaifan seorang anak kecil terpampang dengan jelas di buku ini, karena kisah ini dikisahkan dari sudut pandang si Laksmi sendiri.

Buku setebal 310 halaman saya selesaikan dengan semalam karena ternyata isinya cukup ringan dan gaya penulisan yang beda dari novel biasanya.

Laksmi, diiming-imingi bekerja sebagai pembantu rumah tangga di kota cukup dengan permen manis ia sudah sangat senang. Kaki tangan sang pemilik rumah bordil memberitahukan Laksmi, “Saat melewati perbatasan, engkau harus memanggilku suami!”
Laksmi yang polos, menurut saja apa kata si paman dan mereka berhasil melewati India dengan aman. Lucunya, di pikiran Laksmi, paman itu sekarang ia panggil dengan paman suami.

Ketika tiba di rumah bordil, tiba waktunya Laksmi berpisah dengan paman suami, nah bagian-bagian ini membuat saya merinding. Tidak terbayangkan bagaimana rasanya seorang Laksmi, 13 tahun dipaksa melayani lelaki berbibir ikan.

Pria berbibir ikan itu melepas gaunku. 

Kutunggu diriku untuk melawan. Namun tak ada yang terjadi. 

Lantas dia di atasku, dan sesuatu yang panas dan menuntut ada di antara kedua tungkaiku. 

(hal 162)

Kira-kira seperti itulah cara penulisan Patricia di novel ini dari awal sampai akhir. Kalimatnya cukup singkat, tapi sudah berhasil membuat saya terentuh, berdebar-debar, bahkan hampir menitikkan air mata.

Rumah bordil, yang di sini disebut dengan rumah kebahagiaan berhasil merebut masa gadis Laksmi, masa di mana ia seharusnya bermain dengan teman-temannya, mengerjakan pr di sekolah. Laksmi mulai terbiasa membutakan segenap panca indranya, agar ia buta dengan wajah para lelaki yang membayarnya 30 rupee (seharga dengan 1 kaleng coca cola), agar hidungnya tidak mencium bau amis para lelaki berperut gendut.

Lakmi memiliki beberapa teman di rumah kebahagiaan, salah satunya bocah berbaju David Beckham, seringkali ia mengamatinya.

Aku tahu, dari segala kegiatannya bahwa dia hanyalah laki-laki biasa. 

Namun, sesekali kutemukan diriku membenci dirinya. 

Aku benci dia karena memiliki segala buku sekolah dan teman bermain. 

Karena memiliki seorang ibu yang menyisir rambutnya di pagi hari. 

Dan, karena kemerdekaan untuk datang dan pergi sesukanya. 

Namun, kadangkala aku membenci diriku sendiri karena membencinya. 

Hanya karena dia seorang anak laki-laki biasa. 

Dan si laki-laki biasa ini mengajarkan Laksmi menulis dan membaca, sampai suatu ketika ia memberikan Laksmi sebuah pensil. 

(hal 244)
Sebulir air mata bergulir di pipiku. 

Aku telah dipukuli di sini, 

dikurung, 

dianiaya ratusan kali, 

dan ratusan kali lagi. 

Aku telah dibiarkan kelaparan, 

dan ditipu, 

dijebak, 

dan dipermalukan. 

Betapa anehnya, aku telah luluh sepenuhnya oleh kebaikan hati seorang bocah lelaki dengan sebatang pensil kuning. 

Baca buku ini kebetulan juga dengan maraknya perkosaan anak kecil yang terjadi di Bali. Betapa saya mengutuk pria ini, karena ia tidak sekedar merobek selaput dara si anak, tapi sekaligus menghempaskan masa depan anak kecil tak berdosa dalam waktu 5 menit saja!!

Postingan lama di Goodreads, rencananya diposting bareng untuk tema bacaan perempuan. Membaca review singkat yang saya tulis penuh emosi 2 tahun lalu membuat ingin membaca ulang buku ini.

5 bintang.

Detail buku : Sold

Pengarang : Patricia McCormick

310 halaman, Penerbit Pustaka Iman.

2012 · drama · Gramedia · karya anak negeri · love love love · Metropop · must read · tears

[Review] Daisyflo ~ Forgiveness is a gift to yourself.

Sinopsis :

Di mata Junot, Tara adalah a miracle. Namun di mata Tora, Tara tidak lebih dari seseorang yang dapat digunakan dan ditinggalkan kapan pun dia mau. Tora telah menghancurkan sekaligus menguasai hidup Tara. Lalu kehidupan Tara yang abnormal pun dimulai. Dia mengorbankan Junot, manusia yang paling dicintainya di muka bumi ini. Ada yang bilang dia sakit jiwa, tapi hanya Tara yang tahu dia hampir menjadi pembunuh. 

Sekarang tidak hanya Tara yang terlibat, tapi ada Alexander yang rela mengorbankan hidupnya yang cemerlang untuk menghitam di penjara karena Tara. Ada Junot, laki-laki yang rela menderita untuk mematri serbuk bintang di matanya. Ada Tora, manusia yang menjadi target bahwa Tara hanya akan bernapas untuk melihatnya mati. Juga Muli, sahabatnya sewaktu kuliah yang menyimpan rahasia terbesar dalam hidup Junot. 

Apa yang sebenarnya terjadi pada Tara? Mengapa kisah cintanya bagaikan benang kusut? Mengapa dia begitu berambisi untuk membunuh Tora?

Daisyflo
Daisyflo

Dan di bawah ini saya comot dari blog penulis yang akan memperjelas hubungan Tara dengan 3 pria : Tora, Junot dan Alexander

Sebagai Tara,

aku ingin sekali membunuh Tora, sebab dia adalah b4jingan.
aku ingin sekali mengejar Junot, sebab aku selalu mencintainya.
aku ingin sekali mengatakan pada Alexander untuk berhentilah melukis duniaku, sebab aku tak lagi layak.

Aku ingin sekali,
kembali pada masa dimana bunga daisy mekar sehari lebih lama dari biasanya.

~ Daisyflo, Yennie Hardiwidjaja.

*speechless* 

Couldn’t put the book down until the last page. Jarang saya menemukan buku macam begini yang memutarbalikkan emosi dan bagian menjelang ending sukses menitikkan air mata. Cinta, ah, tak cukup kata untuk melukiskan makna kekuatan cinta seseorang.

Daisyflo dibuka dengan kejadian tanggal 22 April 2011, malam eksekusi. Hari di mana Tara menunggu detik-detik kedatangan Tora, saat mendebarkan yang siap menjadikan Tara seorang pembunuh. Tara tidak tahan lagi, malam ini Tora harus mati!

Wets! Tumben-tumbenan nih pembuka alur yang tidak biasa, tapi yang begini ini yang membuat saya penasaran. Emang siapa Tara? Tora apalagi? Heboh amat sampai niat ngebunuh. *wah, ini memang bukan Metropop biasa nih*

Ada lagi Alexander, pria yang sekarang dekat dengan Tara. Ia sudah curiga dengan perilaku Tara yang mengintai kantor tempat Tora bekerja, Tara yang sibuk dengan olahraga berat yang membuat tubuhnya berotot dan yang terakhir ia bahkan memotong rambutnya. Siapa sangka Tara akhirnya benar-benar mewujudkan niatan untuk membunuh Tora.

Alexander memacu mobil. Tak ada waktu lagi. Dia takkan membiarkan Tara membunuh Tora. Gadis itu sudah cukup sakit. Apa jadinya dia kalau sampai dipenjara?

Belum selesai penasaran kita, cerita bergulir flash back. Tahun 2008. Saat di mana Tara masih ceria walau sudah sedikit terkontaminasi dengan perilaku Tora yang menyebalkan. Tora masuk dalam kategori good looking guy, berwibawa, alis lebat, hidung mancung, rajin basket. Di sisi lain ia adalah tipe pengekang posesif yang menyebalkan, belum lagi gengsi tinggi padahal modal dengkul, wong hampir semua biaya hidupnya ditanggung Tara. Iiissh kalau saya jadi Tara baru pacaran 2 bulan sudah pasti saya depak pria macam begini! Gemes sendiri dibuatnya, bolak balik pas baca saya seakan pengen ngejambak rambut Tora! Apalagi kerap kali dia mengakhiri pertengkaran dengan kalimat, ” Aku cuma mau jaga kamu. Kamu cewek yang harus dilindungi.” Atau “Kamu sudah aku anggap kayak istri sendiri. Kenapa kamu nggak jadi istri yang baik saja sih?” Errh, plis deh Tora.

Adalah Junot, kakak kelas Tara yang pendiam, misterius dan sederhana. Selain jago kumputer ia juga pintar piano dan super baik! Padahal awalnya Junot dan Tara lebih dulu saling mengenal dan menyukai satu dengan yang lain, tapi Tara keburu silau dengan Tora. Dan misteri cinta mulai mempermainkan hidup Tara, Tora dan Junot. Tora adalah mimpi buruk Tara. Tara adalah mimpi buruk Junot.

Kenapa Tara tidak langsung saja memutuskan Tora? Kenapa ia masih bertahan? Bagaimana kelanjutan cinta Junot kepada Tara? Apakah arti bunga daisy yang ada di sampul buku? Silahkan baca sendiri, ingat bawa tissue dan siapkan emosi anda untuk Daisyflo.

Cinta tidak seharusnya dimulai dari keinginan seseorang demi mencapai kebahagiaan, tetapi keinginan untuk tetap bahagia walau dia nggak bisa berubah.

Alur flash back dan misteri yang terungkap perlahan membuat saya agak ragu meneruskan review Daisyflo tanpa menebar spoiler di mana-mana. Konflik satu berlanjut dengan konflik lainnya sehingga novel ini habis dalam satu kali duduk. Tidak seperti Metropop yang merk-merk terkenal bersliweran, Daisyflo mengangkat lebih dari itu. Penjiwaan tokoh! Betapa hati saya ‘lelah’ membaca Daisyflo, ingin hati memeluk Tara dan berkata you are not alone in this world, lady. Dan pria-pria ciptaan Yenni, duh bikin meleleh. Junot dan Alexander terutama.

Junot :

“Dari dulu sampai sekarang kamu adalah peri. No matter what you are, I won’t let you go anymore, Tara” – hal 131.

“Tara, knowing you is a gift. Holding you now is a miracle”- hal 150

Aaaaak.

Dan endingnya duh endingnya >.<

Cuma satu pesan saya baca deh buku ini, ga bakal nyesel! Apalagi ketika mengetahui ilustrasi bunga daisynya Junot. *meleleeeh*

Total opinion :

+ : karakter novel yang melekat bahkan sampai selesai membacanya, alur flash back yang membuat pembaca semakin penasaran, twist endingnya pas.

– : terus terang awalnya saya membeli buku ini karena twit dari Mbak @Hetih karena sampulnya kurang catchy, nama karakternya kurang pas tapi mau tak mau membayangkan Junot mirip dengan Herjunot jadi it’s not that bad afterall ;p

4/5.

Detail buku :

Judul : Daisyflo

Penulis : Yennie Hardiwidjaya

256 halaman, Gramedia, cetakan I, Maret 2012.

daisy flower
daisy flower

Bunga daisy : manis, simpel persis seperti Tara. Ia tidak seharum melati dan tidak seanggun mawar. Menurut theflowerexpert.com,  A Daisy symbolizes innocence and purity. It can also symbolize new beginnings. The flower meaning of daisy is “loyal love”and “I will never tell”.

Daisyflo adalah novel ke14 dari Yenni Hardiwidjaya, di blognya akan anda temui bagaimana behind the scene Daisyflo dan keseharian dari seorang Yenni. Ditunggu novel berikutnya ya 🙂

 

2012 · drama · inspiring · tears

A Thousand Splendid Suns, A Must Read Book!

Bintang 5 dan seperti biasa tak tahu juga apa yang salah dengan diri saya yang selalu saja kesusahan jika hendak mereview buku yang sukses mencampuradukkan emosi. Bisa jadi karena saya sadar kualitas review saja jadi mau tak mau buku dengan predikat bintang 5 memberikan beban tersendiri buat saya. Lah, jadi curhat. Yuk ah, saya coba menceritakan isi buku yang sukses membuat mata saya bengep dan bengkak, tissue yang habis berlembar-lembar dan tatapan bengong sang pacar saat melihat saya meneteskan air mata, kebetulan bab akhir yang fenomenal ini dibaca saat saya mengantar doi bagian fisioterapi. Hihi, jangan-jangan pasien lain malah berpikir pacar tertimpa bencana besar kali sampai saya nangis sesenggukan. Oia, bicara soal moment, Astrid malah lebih heboh membaca buku ini saat honeymoon! Haduh 😀

Gold Edition
Gold Edition

Sinopsis :

Hati pria sangat berbeda dengan rahim ibu, Mariam. 

Rahim tak akan berdarah ataupun melar karena harus menampungmu. 

Hanya akulah yang kaumiliki di dunia ini, dan kalau aku mati, kau tak akan punya siapa-siapa lagi. 

Tak akan ada siapa pun yang peduli padamu. Karena kau tidak berarti! 

Kalimat itu sering kali diucapkan ibunya setiap kali Mariam bersikeras ingin berjumpa dengan Jalil, ayah yang tak pernah secara sah mengakuinya sebagai anak. Dan kenekatan Mariam harus dibayarnya dengan sangat mahal. Sepulang menemui Jalil secara diam-diam, Mariam menemukan ibunya tewas gantung diri. Sontak kehidupan Mariam pun berubah. Sendiri kini dia menapaki hidup. Mengais-ngais cinta di tengah kepahitan sebagai anak haram. Pasrah akan pernikahan yang dipaksakan, menanggung perihnya luka yang disayatkan sang suami. Namun dalam kehampaan dan pudarnya asa, seribu mentari surga muncul di hadapannya. 

Buku yang mengisahkan 2 wanita beda generasi yang bersatu karena takdir ini dimulai dengan kisah Mariam. Seorang gadis kecil, anak haram yang hidup terpencil bersama ibunya yang menderita epilepsi. Nana, sang ibu adalah sosok yang penuh dengan kepahitan, digosipkan sering dirasuki oleh jin sehingga batal menikah. Nana menjadi pembantu di rumah Jalil, pria kaya yang memiliki 3 istri. Nasib mulai mempermainkan hidup Nana ketika perut Nana yang membuncit. Istri-istri Jalil mengusirnya. Ayah Nana sendiri tidak mau mengakuinya sebagai anak. Dan Jalil ternyata tidak cukup memiliki keberanian untuk mempertanggungjawabkan tindakannya, alih-alih Jalil mengucilkan Nana di Desa Gul Daman, bukit terjal yang jauh dari mana-mana.

Proses kelahiran Mariam adalah ringisan pertama saya saat membaca buku setebal 507 halaman ini. Duh, seram! Mariam tumbuh tanpa kasih sayang yang lengkap dari kedua orang tua, walaupun ia rutin dikunjungi oleh Jalil, tetap saja ia merindukan kehangatan keluarga. Hal itulah yang membuatnya nekat mengunjungi ayahnya di kota. Tindakan yang mengubah seluruh hidup Miriam, ayah menolaknya, ibunya bunuh diri, belum cukup pengarang mengagetkan kita, Mariam bahkan dipaksa menikah dengan duda tua teman Jalil.

Ah, Mariam, sungguh malang nasibmu.

Pernikahan Mariam dengan bapak tua yang digambarkan ala om-om tambun adalah peristiwa kedua yang kembali membuat saya meringis dan tangan saya mulai dingin saat adegan malam pertama Mariam. Untungnya kisah bergulir cepat dan Mariam hamil. Nah, bagian ini sedikit membuat saya bernafas lega. Dan itu tidak berlangsung lama, ada kejadian yang sebaiknya tidak saya tulis karena takut akan memberikan spoiler yang jelas akan mengurangi kenikmatan membaca. Pokoknya mulai pertengahan buku Khaled Hosseini berhasil memutarbalikkan perasaan dan emosi saya seenak hatinya. Ngilu, tercabik-cabik, tidak tahu kata apa lagi yang pas untuk melukiskan bagaimana saya mengikuti jalan hidup Mariam. Jengkel, dongkol juga saya rasakan ketika Rasheed, suami Mariam marah karena masakan Mariam kurang berkenan ia menjejalkan batu untuk Mariam kunyah. Tsk, bahkan saat menulis review ini emosi saya kembali bergolak.

Bagian ketiga, di saat saya sudah mulai terikat dengan karakter Mariam yang bahkan hawa panasnyapun seakan bisa saya rasakan, pengarang seakan mempermainkan pembaca. Kita dibawa ke kehidupan Laila, remaja putri yang hidup di keluarga terpelajar walau ibunya sedikit mengalami gangguan jiwa. Khaled Hosseini seakan menunjukkan kekontrasan hidup wanita di Afganistan. Laila hidup bahagia, teman-temannya banyak, ayahnya pintar dan apalagi ada teman laki-lakinya yang menjadi favorit saya di buku ini, Tariq. Dan seperti biasa dalam sekejap nasib bisa berubah. Sampai di sini saya tidak akan bicara lebih jauh, yang jelas mulai bagian ketiga di pertengahan buku para pembaca akan diajak menaiki roller coaster Afganistan melalui bagaimana kehidupan Mariam dan Laila dipermainkan oleh takdir kehidupan yang muncul dalam bentuk perang, pelecehan seksual, kekerasan dalam rumah tangga dan bagaimana cinta dan harapanlah yang membuat mereka bisa bertahan hidup.

“Sebuah cerita tentang harapan akan kemenangan, juga kekuatan menepis ketakutan. Sungguh megah!”  – New York Daily News

“A Thousand Splendid Suns, tidak hanya menyuguhkan kepada pembaca tentang realitas Afghanistan, tetapi juga menunjukkan kemampuan dan bakat Hosseini; melodrama dari setiap plot; pelukisan yang tajam; penggambaran karakter hitam-putih; dan pengolahan emosi yang memukai.”  – New York Post

“… kisah yang sangat memilukan tentang perjuangan perempuan Afghan dalam mengarungi kerasnya hidup.” – Entertainment Weekly

“Prosa Hosseini begitu menghunjam. Ia tidak hanya mengungkap sisi politik, tetapi juga sisi paling personal ….”  – The Guardian

Penggalan review di atas tidak cukup mewakili apa perasaan saya mengenai isi buku ini, memang bagi penggemar happy ending yang menghindari novel sedih ada baiknya saya berikan peringatan lebih dahulu. Tidak, buku ini bukan untuk pembaca berhati lemah, tapi bagi anda yang ingin membaca bacaan berkualitas tentang cinta, harapan dan perjuangan luar biasa wanita-wanita yang memang nyata adanya A Thousand Splendid Suns wajib dibaca.

Ingat bawa tissue ketika mendekati bab akhir.

You’ve been warned.

Saya baca buku terbitan Mizan Gold Edition, terjemahannya enak dan mengalir, covernya paling bagus di antara edisi lainnya. Perempuan muda yang nampak di cover termenung tapi seakan langit cerah di belakangnya mengisyaratkan ada bahagia yang menanti, ada thousand splendid suns 🙂 Sedangkan cover di bawah ini yang terasa hanya sedihnya saja.

Versi lebih muram
Versi lebih muram

A Thousand Splendid Suns, dipilih pengarang untuk dijadikan judul berdasar puisi dari Saib Tabrizi :

 Every street of Kabul is enthralling to the eye

Through the bazaars, caravans of Egypt pass

One could not count the moons that shimmer on her roofs

And the thousand splendid suns that hide behind her walls

Quote favorit saya :

“Behind every trial and sorrow that He makes us shoulder, God has a reason.”

Dan ada satu paragraf yang diucapkan Nana kepada Mariam, tajam, dalam dan mengiris hati : “Camkan ini sekarang, dan ingatlah terus, anakku: Seperti jarum kompas yang selalu menunjuk ke Utara, telunjuk laki-laki juga selalu teracung untuk menuduh perempuan. Selalu. Ingatlah ini, Mariam.”

Detail buku : A Thousand Splendid Suns

Pengarang : Khaled Hosseini

507 halaman, Edisi Gold, cetakan I, Desember 2010.

drama · inspiring · must read · tears

Nineteen Minutes – Jodi Picoult

In nineteen minutes, you can mow the front lawn, color your hair, watch a third of a kockey game. In nineteen minutes, you can bake scones or get a tooth filled by a dentist, you can fold laundry for a family of five.

In nineteen minutes, you can order a pizza and get it delivered. You can read a story to a child or have your oil changed. You can walk a mile. You can sew a hem.

In nineteen minutes, you can stop the world, or you can just jump off it.

In nineteen minutes, you can get revenge.

-Nineteen minutes – page 1-

Nineteen Minutes
Nineteen Minutes

19 menit waktu yang dibutuhkan Peter Houghton menembak teman-temannya di Sterling High School. 10 meninggal, 9 murid dan 1 guru. 19 lainnya luka-luka. Kenapa? Seorang psikopatkah? Apa yang menyebabkan remaja laki-laki berusia 17 tahun berani melakukan hal itu? Jodi Picoult mengulas latar belakang seorang Peter, anak korban bullying temannya semenjak hari pertamanya masuk TK.

19 minutes ditulis dengan alur maju mundur, bagaikan mengupas bawang, selapis demi selapis kita menyelami Peter Houghton dan beberapa tokoh lain di antaranya Josie Cormier, teman Peter sejak kecil yang sekarang sudah menjadi gadis populer di ssekolah; Alex Cormier, seorang juri pengadilan dan ibu dari Josie; serta Lacy Houghton teman Alex sekaligus ibu dari Peter; Patrick Ducharme seorang detektif lokal dan Jordan McAfee, pengacara muda ambisius yang membela Peter di pengadilan.

Cerita dimulai per tanggal 6 Maret 2007 saat penembakan terjadi. Salah satu korban adalah Matt, pacar Josie yang juga adalah satu-satunya korban yang tertembak 2 kali, badan dan kepala.

Nobody wants to admit to this, but bad things will keep on happening. Maybe that’s because it’s all a chain and a long time ago someone did the first bad thing, and that led someone else to do another bad thing, and soon. You know, like that game where you whisper a sentence into someone’s ear, and that person whispers it to someone else,and it all comes out wrong in the end.

But then again, maybe bad things happen because it’s the only way we can keep remembering what good is supposed to look like. – 61-

Hinaan terhadap Peter terus berlanjut, suatu ketika saat Peter mulai tidak bisa membedakan angka 3 dan 8 dan akhirnya ia harus memakai kacamata. Kacamata ringan yang membuat matanya terlihat besar seperti burung hantu namun ia juga dibuat terpana. Tulisan yang dulunya kabur kini terlihat jelas, mirip dengan pelengkap superhero! Sabuk Batman, Gua Superman dan kalau Peter adalah kacamata, ia begitu bersemangat ingin segera masuk sekolah.

Dan yang didapat keesokan harinya yang saya ambil dari halaman 110, As the world came into focus, Peter realized how people looked when they glanced at him. As if he were the punch line to a joke. And Peter, with his 20/20 vision, cast his eyes downward, so that he wouldn’t see.

😦

Bagaimana hati saya tidak hancur saat membaca paragraf itu. Huks.

When you don’t fit in, you become superhuman. You can feel everyone else’s eyes on you, stuck like Velcro. You can hear a whisper about youfrom a mile away. You can dissapear, even when it looks like you’re still standing right there. You can scream, and nobody hears a sound.

You become the mutant who fell into the vat of acid, the joker who can’t remove his mask, the bionic man who’s missing his limbs and none of his heart.

You are the thing that used to be normal, but that was so long ago, you can’t even remember what it was like.

Josie adalah satu-satunya teman Peter, bahkan ia pernah berkelahi dengan teman lelakinya gara-gara anak itu menghina Peter. Sayangnya begitu masuk SMA, Josie berubah. Josie mulai bergabung dengan kalangan abg ala kumpulan remaja putri di serial Gossip Girls dan berpacaran dengan Matt Royston, seorang pemain hockey populer yang kebetulan juga salah satu dari teman yang sering membully Peter. Matt bahkan sering menyebut Peter sebagai homo atau queer.

Tidak seperti membaca buku drama lainnya, beberapa hari selama saya membaca nineteen minutes perasaan saya nyesek. Sedih, kalut dan yang jelas buku ini menghantui saya sampai sekarang. Saya tidak bisa membayangkan kalau saya ada di posisi Peter, bahkan sampai di suatu kejadian (tidak akan saya sebutkan karena bisa jadi itu sebuah spoiler yang akan mengganggu kenikmatan membaca) yang mempermalukan Peter, saya menjadi maklum kenapa ia sampai mengambil keputusan membawa pistol ke sekolah untuk membunuh teman-temannya.

Nineteen Minutes tidak hanya terfokus pada penembakan di sekolah dan juga bullying, tapi seberapa dalam kita mengenal seseorang?

If you spent you life concentrating on what everyone else thought of you, would you forget who you really were? What if the face you showed the world turned out to be a mask…with nothing beneath it?

Buku yang kaya dengan nilai psikologis, cerita yang kompleks. Bagi pembaca yang belum pernah menikmati karangan Jodi Picoult, sungguh, buku ini amat sayang dilewatkan. Cover versi Atria cukup mewakilkan isi buku, menggambarkan sepasang tangan yang bergenggaman. Ada lagi versi Australia yang lebih ‘Peter’, tapi Peternya manis banget di sini 😀

Nineteen minutes Australian ed.
Nineteen minutes Australian ed.

Nineteen minutes adalah buku Jodi Picoult pertama saya dan mulai sekarang bakal mengoleksi buku-buku lainnya :p

Beberapa penghargaan Nineteen Minutes : Pemenang 2010 Iowa HS book award, 2009 New Hampshire Flume Award dan finlis dari 2010 Abraham Lincoln Illinois HS Book Award.

“(Nineteen Minutes is) absorbing and expertly made. On one level, it’s a thriller, complete with dismaying carnage, urgent discoveries and 11th-hour revelations, but it also asks serious moral questions about the relationship between the weak and the strong, questions that provide what school people call ‘teachable moments.’ If compassion can be taught, Picoult may be just the one to teach it. ”

—Washington Post

Detail buku :

Judul : Nineteen Minutes

Atria Books, November 2007. 642 halaman.

5 bintang!

Beberapa bulan belakangan ini sudah beberapa buku saya baca bertema sama, bullying. Berdasarkan http://www.stopbullying.govBullying is a widespread and serious problem that can happen anywhere.  It is not a phase children have to go through, it is not “just messing around”, and it is not something to grow out of.  Bullying can cause serious and lasting harm. 

Lebih jelas lagi, dari yayasan SEJIWA adalah  lembaga non profit yang memusatkan perhatian pada usaha pengaktualisasian diri melalui nilai-nilai, seperti integritas, empati, respek, toleran, dan tanggung jawab: ”Bullying terjadi ketika seseorang merasa teraniaya oleh tindakan orang lain berupa verbal, fisik dan mental dan ia takut bila perilaku buruk tersebut akan terjadi lagi serta merasa tak berdaya mencegahnya”.

Bullying is an act using power or strenght to hurt  a person or a group of people verbally, physically or psychologically, making the victim feel oppressed, traumatized and powerless (Yayasan Sejiwa, 2005)

Suatu tindakan dengan menggunakan kekuatan atau kekuasaan untuk menyakiti seseorang atau sekelompok orang baik secara verbal, fisik maupun psikologis, sehingga membuat korban merasa tertekan, takut dan tak berdaya (Yayasan Sejiwa, 2005).

Bullying bisa verbal, sosial, fisik dan yang kini sering terjadi cyber bullying. Bullying memiliki efek serius dan berkepanjangan. Untuk anak yang biasa dibully biasanya memiliki resiko depresi dan ansietas yang tingi, murung, gampang sedih dan penyendiri. Kehilangan minat dalam beraktivitas bahkan bisa memiliki keinginan untuk bunuh diri. Sedangkan bagi pembully itu sendiri memiliki resiko lebih tinggi dalam berkelahi dan drop out dari sekolah.

Jangan sangka bullying hanya terjadi di luar, di Indonesiapun kasus bullying juga cukup banyak, bahkan korban bullying sampai melakukan bunuh diri. Jakarta Globe menyebutkan di artikelnya per tanggal 25 Juni 2011 beberapa korban. Riska, umur 14 tahun mencoba melalukan usaha bunuh diri dengan menutup kepalanya dengan bantal karena tidak tahan diejek gendut. Cerita Linda lain lagi, ia ditemukan tergantung di rumahnya karena tidak tahan diejek oleh teman-temannya karena ayahnya adalah seorang sales. Berita lengkap bisa dibaca di sini.

Bullying memang tidak bisa kita pungkiri akan selalu ada di lingkungan mana saja, terutama sekolah. Oleh karena itu sudah seharusnya kita mengenal bullying lebih jauh dan mencegah terjadinya bullying. Mari kita bersama-sama mencegah bullying, pihak guru dan sekolah juga hendaknya tidak mengabaikan keberadaan bullying.

Pas banget saat ini sedang diputar di beberapa kota film Langit Biru yang memaparkan problema nyata kehidupan anak SMP. Pencarian jati diri, tali komunikasi bersama orangtua yang tak lagi mudah, hingga kerasnya pergaulan di sekolah yang kerap diwarnai unsur bully atau kekerasan secara fisik atau mental. Nonton yuk!

kawan bukan lawan
kawan bukan lawan
Langit Biru poster
Langit Biru poster

“Film ini menampilkan semua nilai kehidupan, apa yang berharga bagi anak-anak, tentunya keluarga dan persahabatan kan. Dan karena ini musikal, film ini akan bisa ditonton oleh segala usia. Anak-anak akan lebih  bisa menikmati musik dan tarian,” terang Hanna Carol selaku executive producer Langit Biru, saat ditemui dalam Kick Off film Langit Biru, Jumat (15/7) sore di Gedung Anex, Jl.MH Thamrin, Jakarta Pusat.

love love love · tears · young adult

Where She Went

Sinopsis dari Goodreads : 

Lanjutan Jika Aku Tetap Di Sini (If I Stay Here) 

Tiga tahun sudah berlalu sejak cinta Adam menyelamatkan Mia setelah kecelakaan yang memorakporandakan hidup gadis itu… 

…dan tiga tahun sejak Mia pergi dari kehidupan Adam untuk selamanya. 

Sekarang Mia bintang muda sekolah musik klasik Juilliard dan Adam bintang rock terkenal. Ketika Adam terjebak di New York sendirian, takdir mempertemukan mereka lagi, untuk satu malam terakhir. 

Sambil menjelajahi kota yang sekarang menjadi rumah Mia, Adam dan Mia kembali mengunjungi masa lalu dan membuka hati untuk masa depan—serta satu sama lain.

You know how the time flies

Only yesterday was the time of our lives

We were born and raised in a summer haze

Bound by the surprise of our glory days

Lirik Adelle – Someone Like You pas dengan kisah Adam 3 tahun setelah kecelakaan yang menimpa Mia.

Adam diputuskan Mia tanpa alasan yang jelas. Marah. Sedih. Terpuruk. Ia melampiaskan uneg-unegnya dalam lagu-lagu yang dalam sekejap menjadi hits. Adam dengan grup bandnya Shooting Star sontak digandrungi remaja dan lagunya bertengger di tangga lagu dunia, Billboard.

Diceritakan dalam sudut pandang Adam membuat buku ini lebih bernyawa dibanding If I Stay. Di sini kita bisa melihat bahkan merasakan perasaan terdalam seorang laki-laki yang hancur hatinya. Tegar namun dalamnya terpuruk. Coba kita lihat di bab 1 halaman 9, “Setiap hari aku bangun dan berkata pada diri sendiri : Hanya satu hari, satu periode dua puluh empat jam untuk kaulewati.”  Duh, pengen pukpuk Adam..

Bagaimana dengan Mia? Apa yang terjadi dengannya setelah kecelakaan?

Di halaman 36 kita segera mengetahuinya, saat Adam berjalan-jalan tak sengaja ia bersirobok dengan pengumuman di depan Carnegie Hall : Serial Konser Muda Mempersembahkan Mia Hall. Adampun masuk dan menikmati permainan cello seorang Mia Hall, perempuan pemilik hatinya.

Jreng jreng, di sinilah cerita mulai bergulir dan senantiasa membuat saya penasaran. Bagaimana pertemuan Adam dan Mia selanjutnya? Apa sih alasan Mia memutuskan Adam? Dan yang paling penting sepanjang buku setebal 240 halaman saya bertanya-tanya bagaimana ending Adam- Mia?

Jika If I Stay diibaratkan makanan pembuka, kalian harus membaca Where She Went untuk menikmati main course. Pembaca akan dibuai dengan penulisan Gayle Forman yang melankolis romantis. If I Stay yang heboh banget di luar malahan biasa saja kalau menurut saya, sebetulnya agak waswas juga sih baca Where She Went. Apakah penulis bisa menuliskan perasaan patah hati laki-laki? Ga kebayang juga kan kalau buku ini penuh dengan menye-menye? Dan ternyata Where She Went berhasil membuat saya berkaca-kaca dan meninggalkan sesak di dada saat akhir buku.

A must read book! Ah ya dan satu lagi, seandainya album Shooting Star dijadikan album beneran sudah pasti saya beli nih CDnya, liriknya doong juara 🙂 Di bawah ini saya cantumkan satu dari beberapa lirik Collateral Damage :

The clothes are packed off Goodwill

I said my good-byes up on that hill

The house is empty, the furniture sold

Soon you smells with decay to the mold

Don’t know why I bother calling, ain’t nobody answering

Don’t know why I bother singing, ain’t nobody listening

Disconnect – Collateral Damage, Lagu 10

(hal 85)

Terakhir mari kita membahas cover, menurut saya Where She Went versi Gramedia jauh lebih bagus dari versi luar, ilustrasi Marcel A. W berasa Adam banget! Maskulin sekaligus rapuh. Pas pula jika disandingkan dengan If I stay yang bernuansa biru. Ada beberapa typo dan pemenggalan kata yang kurang pas seperti yang tampak di halaman 31, kata mereka ditulis mere-ka tapi tenang saja tidak akan mengganggu kenikmatan membaca.

Setelah Dia Pergi - Gramedia
Setelah Dia Pergi - Gramedia
Where She Went versi luar
Where She Went versi luar

Mudah-mudahan buku remaja macam If I Stay, Where She Went makin banyak diterbitkan penerbit Indonesia. Gramedia terbitkan buku Laurie Halse Anderson yang lain dong atau Before I Fall juga keren 🙂 *kedip-kedip*

Berikut booktrailer yang saya comot dari whereshewent.com

Sekilas tentang penulis yang sebelumnya sempat saya sangka laki-laki ini  adalah penulis berkebangsaan Amerika yang sebelum menulis If I Stay dan Where She Went merupakan jurnalis lepas di majalah Seventeen, Glamour, dll. Dua novelnya yang kental dengan musik tak lepas dari peranan suaminya yang seorang gitaris. Ha! pantas saja 🙂

Detail buku :

Judul Asli: Where She Went

Pengarang: Gayle Forman

Alih bahasa: Poppy D. Chusfani

Editor: Dini Pandia

Cetakan I – Oktober 2011

240 halaman.