Dark Places – Gillian Flynn

Well, well, well, seperti biasa buku bagus selalu bikin kerepotan tersendiri saat mereviewnya >.<

Berkat ajakan Alvina, sesama penggemar buku sakit jiwa yang sama-sama terkesima dengan Gone Girl dan Sharp Objects ditambah Marina, Mb Iyut dan Ayu kami serempak membaca bareng buku kedua karangan Gillian Flynn ini.

Dark Places

Dark Places

Setelah berurusan dengan silet dan pencabutan gigi anak-anak, rupanya Gillian ingin mengeksplorasi benda-benda tajam lainnya, kapak salah satunya. Dark Places dimulai dengan narasi seorang gadis berusia 30an bernama Libby Day.

I have a meannes inside me, real as an organ. Slit me at my belly and it might slide out, meaty and dark, drop on the floor so you could stomp on it. It’s the Day blood. Something’s wrong with it. I was never a good little girl, and I got worse after the murder.

Memang bukan Gillian kalau tidak bisa memikat pembaca dari paragraf pertama.

I was not a lovable child, and I’d grown into a deeply unlovable adult. Draw a picture of my soul, and it’d be a scribble with fangs.

Yeah, masa depan apa yang diharapkan dari seorang anak kecil yang selamat dari pembantaian keluarganya?

My brother slaughtered my family when I was seven. My mom, two sisters, gone: bang bang, chop chop, choke choke.

Dengan alur cerita maju mundur dan deskripsi yang begitu mendetil, Dark Places bukan bacaan untuk semua orang, saya bahkan sempat berhenti beberapa kali gegara mual.

Ibu mati tertembak. Saudaranya dicekik dan dibantai dengan kapak. Darah. Simbol setan di dinding. Nightmare banget deh hidup si Libby, ia selamat gegara ia bersembunyi di rerumputan dan tersangka utama dari pembantaian keluarganya tak lain tak bukan adalah kakak lelakinya, Ben Day.

Permasalahannya sekarang, benarkan Ben yang selama ini di penjara berkat kesaksian Libby benar membantai keluarganya? Dihimpit keadaan keuangan yang memprihatinkan Libby kembali mengorek kenangan masa lalunya; I’ve labeled the memories as if they were a particularly dangerous region: Darkplace. Demi tidur nyenyak, demi Ben dan demi dirinya sendiri, Libby menyelidiki dan mengumpulkan serpihan-serpihan memorinya yang gelap. Apa yang sebenarnya terjadi di malam itu?

Dark Places

Dark Places

Dark Places dikisahkan melalui 3 POV. Libby Day, Ben Day dan ibu mereka Patty Day. Itu salah satu poin lebih dari Dark Places dan itu juga yang menyelamatkan saya dari alurnya yang cukup lambat. Libby Day di saat sekarang, Ben dan Patty bergantian pada tanggal terjadinya tragedi pembantaian. Bahkan di saat menulis review ini, saya masih merasakan gaung dan kegelisahan Patty, seorang orang tua tunggal yang ditinggal oleh suami pemabuk yang entah ada di mana, masalah perkebunannya yang tak kunjung selesai malah semakin dijerat hutang, anak-anak perempuannya yang berisik seakan tidak pernah memberikannya saat-saat santai dan satu lagi yang menjadi beban pikirannya, Ben, anak laki-laki satunya yang semakin hari bertingkah semakin aneh saja. Ditambah lagi dengan isu yang beredar bahwa Ben melakukan pelecehan seksual kepada beberapa anak di bawah umur.

Ben. Ah malang benar nasibmu. Berkat POVnya saya seakan mengenal Ben, dengan segala kerikuhannya sebagai seorang lelaki.

He wanted to be a useful man,but he wasn’t sure how to make that happen. – 57

Ben yang berusaha menjadi remaja normal tetap saja menjadi korban bully di sekolahnya.

He kept his head down between classes and still some jock would slap him in the head, Hey Shitshorts! He’d just keep walking, his face in this grim smile, like he was pretending to be on the joke – 97

Terus terang saya paling menanti-nanti POV Ben, karena dengan pikirannya yang gelap dan liar terlebih lagi saat ia berkenalan dengan Diondra, gadis yang luar biasa binal, saya semakin dibuat penasaran, apakah ia yang membunuh keluarganya?

Bukan Gillian namanya kalau tidak menciptakan karakter perempuan ‘sakit’. Dalam satu wawancaranya tentang dark Places ia menjawab : in Dark Places, I started out thinking I would have a much different protagonist. I was determined to make her much lighter than Camille had been. I’d written a pretty solid first draft for a character that was very kind of optimistic and healthy. And she’s suffered this awful murder of her family in her childhood, but had recovered and was pretty stable. It was just awful. She didn’t work at all. I kind of tossed it out and had to start again. I went back and it became darker…and darker. And it started with the germ of that idea: What happens to these people who are the survivors of true crime? These people who are famous for the horrible, horrible things that happen to them? Ten years later, where are they? And just from growing up on the Kansas border, I was very familiar with In Cold Blood. So starting with that, dead bodies in a farmhouse in Kansas, and what happened, was a little bit of a nod to Truman Capote.

Dengan twisted ending seperti Sharp Objects dan terlebih lagi Gone Girl, begini pula reaksinya saat ditanya mengenai ending Dark Places : And then Dark Places, I actually went away to write the final scene where the family is actually murdered, where you finally figure out what happened in the flashbacks where the mom and the two girls are killed. I went to a friend’s break house, just by myself, to write this scene. I would be pretty much finished with the book. So I was up there. I’d bought a bottle of champagne I was going to open up and celebrate when I was done, you know, woo hoo! Finished the book! I tell you what, I finished writing that scene and just burst into tears. It felt so author-y and silly, but you become very attached to these characters. And I finally had to murder them and kill them off. I was just beside myself for most of the evening and into the next day.

Sepertinya review saya sudah cukup panjang dan mudah-mudahan sudah mampu menebar virus Gillian Flynn di kalangan teman-teman pembaca *wink* Jangan lupa, filmnya akan tayang beberapa bulan lagi, yuk dibaca sebelum filmnya tayang. Charlize Theron akan berperan sebagai Libby dan ada Christina Hendricks juga lho, kalau saya sih penasaran dengan akting Chloe Grace Moretz yang akan berperan sebagai Diondra.

4 dari 5 bintang untuk Dark Places dan tuntas sudah marathon buku-buku karangan Gillian Flynn. Saatnya membaca yang ringan-ringan dulu untuk melaraskan otak. Cheers!

 

 

Sharp Objects – Gillian Flynn

Reading is a ticket to everywhere, begitu kata Mary Schmich.

Tak hanya tempat, tapi juga suasana, bau-bauan seakan ikut merasuk masuk ke dalam dunia ciptaan pengarang.

Lembab, mual, lengket, gelap.

Sharp Objects

Sharp Objects

Semua sensasi di atas menghantui saya saat membaca Sharp objects, buku debut Gillian Flynn. Dengan tema yang berbeda jauh dengan Gone Girl namun memiliki benang merah yang sama perempuan sakit jiwa, Gillian kali ini mengangkat kisah seorang reporter Chicago Post bernama Camille Preaker yang menyelidiki kasus tewasnya dua anak kecil dengan cara mengenaskan di kota kelahirannya yang sudah ia tinggalkan sejak 8 tahun lalu.

Mau tidak mau Camille kembali ke Wind Gap, kota kecil yang suram, gelap dan tak hanya itu Camille juga akhirnya kembali berurusan dengan masa lalunya yang tak kalah suram. Bagaimana tidak, ia memiliki seorang ibu yang dingin dan sinis, Camille bisa dibilang tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Ibunya seakan lebih mencintai Marian, adiknya yang meninggal saat Camille berusia 13 tahun.

“It’s impossible to compete with the dead. I wished I could stop trying.”

Dibayang-bayangi oleh kematian Marian, Camille semakin menarik diri dan melampiaskan depresinya dengan cara menorehkan kata-kata di tubuhnya dengan benda tajam.

“I am a cutter, you see. Also a snipper, a slicer, a carver, a jabber. I am a very special case. I have a purpose. My skin, you see, screams. It’s covered with words – cook, cupcake, kitty, curls – as if a knife-wielding first-grader learned to write on my flesh. I sometimes, but only sometimes, laugh. Getting out of the bath and seeing, out of the corner of my eye, down the side of a leg: babydoll. Pull on a sweater and, in a flash of my wrist: harmful. Why these words? Thousands of hours of therapy have yielded a few ideas from the good doctors. They are often feminine, in a Dick and Jane, pink vs. puppy dog tails sort of way. Or they’re flat-out negative. Number of synonyms for anxious carved in my skin: eleven. The one thing I know for sure is that at the time, it was crucial to see these letters on me, and not just see them, but feel them. Burning on my left hip: petticoat.

Sharp Objects

Sharp Objects

*ngilu*

Tak hanya Camille yang menderita siksaan mental akibat sifat ibunya. Amma, adik tirinya yang menginjak remaja pun juga memiliki kelakuan tak kalah ajaib, terkadang meledak-ledak, di lain waktu bisa bersikap sangat binal.

“I wish I’d be murdered.”

“Amma, don’t say such a thing,” my mother said, blanching.

“Then I’d never have to worry again. When you die, you become perfect. I’d be like Princess Diana. Everyone loves here now.”

😐

*ketipketipketip*

Banyak banget wow momen saat saya membaca Sharp Objects ini, gelap dan menghantui. Duh untung saya ga nyimpen silet di rumah #heh. Yang jelas walau celekit-celekit bacanya saya sangat menikmati membaca buku ini, penasaran bagaimana Camille mencari siapa pembunuh anak-anak di Wind Gap dan apa pula motif pembunuh mencabut semua gigi anak tersebut? Dan satu lagi apakah Camille berhasil menaklukkan trauma masa lalunya yang seakan bangkit lagi selama ia berada di Wind Gap?

Sayangnya endingnya terkesan agak buru-buru, twistnya cukup bikin kaget tapi belum separah Gone Girl, namun tetap saja Sharp Objects ini enak untuk dinikmati bagi pecinta thriller. Kabar terbarunya sih buku ini bakal diadaptasi mengikuti Gone Girl dan juga Dark Places.

Gillian Flynn yang menurut The Hollywood Reporter merupakan salah satu most powerful author memang sengaja menuliskan buku bertema thriller dengan wanita-wanita yang ‘sakit’.

Gillian Flynn

Gillian Flynn

Sedikit mengenai pengarang saya ambil dari websitenya :

Libraries are filled with stories on generations of brutal men, trapped in a cycle of aggression. I wanted to write about the violence of women.

So I did. I wrote a dark, dark book. A book with a narrator who drinks too much, screws too much, and has a long history of slicing words into herself. With a mother who’s the definition of toxic, and a thirteen-year-old half-sister with a finely honed bartering system for drugs, sex, control. In a small, disturbed town, in which two little girls are murdered. It’s not a particularly flattering portrait of women, which is fine by me. Isn’t it time to acknowledge the ugly side?

I particularly mourn the lack of female villains — good, potent female villains. Not ill-tempered women who scheme about landing good men and better shoes (as if we had nothing more interesting to war over), not chilly WASP mothers (emotionally distant isn’t necessarily evil), not soapy vixens (merely bitchy doesn’t qualify either). I’m talking violent, wicked women. Scary women. Don’t tell me you don’t know some. The point is, women have spent so many years girl-powering ourselves — to the point of almost parodic encouragement — we’ve left no room to acknowledge our dark side. Dark sides are important. They should be nurtured like nasty black orchids. So Sharp Objects is my creepy little bouquet. – Gillian Flynn-

Lembab, mual, lengket, gelap.

Jadi gimana? Sudah siap membaca Sharp Objects? Siap-siap dihantui oleh penghuni Wind Gap ya?! Saya bukannya kapok, sekarang malah ketagihan novel ala Gillian Flynn, tapi sebelumnya rehat dulu deh :p

 

 

 

 

 

 

Before I Go to Sleep – S. J. Watson

Memories define us. So what if you lost yours every time you went to sleep?

Demikian kalimat pembuka sinopsis yang ada di balik buku debut S. J. Watson yang berjudul Before I Go to Sleep. Menarik ya?

Yuk dibaca lengkapnya :
‘As I sleep, my mind will erase everything I did today. I will wake up tomorrow as I did this morning. Thinking I’m still a child. Thinking I have a whole lifetime of choice ahead of me…’

Memories define us. So what if you lost yours every time you went to sleep? Your name, your identity, your past, even the people you love — all forgotten overnight. And the one person you trust may only be telling you half the story.

Welcome to Christine’s life.

Before I GoTo Sleep

Before I Go To Sleep

Hampir mirip dengan amnesia. Klise? Eits, tunggu dulu, jangan samakan buku ini dengan sinetron yang ada di tv *zoominzoomout*. Before I Go to Sleep lebih mirip dengan Memento, film yang disutradari tak lain tak bukan oleh Christopher Nolan. Christine mengalami amnesia setiap hari saat bangun tidur. Serem juga yak. Tapi kalau boleh curhat, ada masanya ketika badai dan cobaan hidup menghadang *pardonmyfrench* saya terkadang ingin pagi-pagi bangun, masalah sudah lenyap tak berbekas. Kemudian baca novel ini, iyuh, ga jadi deh. Okay kembali ke review.

The bedroom is strange. Unfamiliar. I don’t know where I am, how I came to be here. I don’t know how I’m going to get home.

Begitulah paragraf pertama sekaligus apa yang ada di benak Christine setiap pagi. Seramnya lagi saat ia ke kamar mandi, melihat jari jemarinya, wajahnya, seketika ia terkesiap dan menyadari bahwa yang ada di cermin bukanlah wajahnya yang terakhir ia ingat. Dan ia tidak sendiri di kamar itu, ada seorang lelaki yang mengaku sebagai suaminya. Jreng jreng.

Adalah Ben sang suami yang dengan sabar menjelaskan setiap pagi apa yang terjadi di 25 tahun yang hilang dalam hidup Christine. Di kamar mandi ditempel foto-foto pernikahan dan foto mereka berdua untuk memudahkan Christine mengingat kejadian di masa lalu. Ketegangan cerita mulai meningkat saat Christine menerima telpon dari seorang lelaki bernama Dr. Nash yang mengaku sebagai dokternya dalam usaha Christine mencari memorinya yang hilang.

My Doctor? I’m not ill, I want to add, but I do not know even this. I feel my mind begin to spin.

Nicole Kidman as Christine

Nicole Kidman as Christine

Dengan aba-aba dari Dr. Nash, Christine berhasil menemukan jurnal yang ia tulis sendiri hampir setiap hari sebelum ia tdur.

“I am sliding, down,down. Toward blackness, I must not sleep. I must not sleep.I.Must.Not.Sleep.”

The Journal of Christine Lucas.
Halaman pertama yang tertulis di sana : DON’T TRUST BEN

Whoa.
Menarik bukan? Dan itu semua baru bab awal dari Before I Go to Sleep. Susah payah Christine menggali memorinya yang kata Ben hilang oleh karena kecelakaan mobil namun yang terjadi seiring dengan waktu, semakin ia kalut. Ben acap kali berbohong dan Dr. Nash yang misterius tidak bisa dipercaya begitu saja. Kemudian kilasan memori gadis berambut merah, siapakah dia? Apa hubungannya dengan Ben? Dan kenapa Ben ngotot tidak ingin membaca Christine ke dokter?

Saya sepertinya tidak bisa menulis lebih jauh lagi karena unsur kejutan yang akan merusak kenikmatan membaca buku setebal 395 halaman ini. Memang sedikit jenuh dengan kekagetan dan kepanikan Christine setiap hari namun rasa penasaran yang menghantui saya membuat buku ini saya baca dalam beberapa hari saja. Bagi penggemar thriller ala Gone Girl, Before I Go to Sleep sayang untuk dilewatkan. Memang endingnya dibuat agak terburu-buru dan kelewat gampang, tapi tetap menarik untuk diikuti kok.

Beberapa award Before I Go to Sleep :
Winner of the 2011 Crime Writer’s Association John Creasey
Winner of the Galaxy National UK Thriller & Crime Novel of the Year, 2011
Winner of the Dutch Crimezone Debut of the Year, 2012[12]
Winner of the French SNCF Prix du Polar prize for best Crime Novel, 2012
Winner of the Crimefest Audible Sounds of Crime Award for Best Unabridged Audiobook, 2012

movie poster

movie poster

another one

another one

Tak heran buku ini dibuat dalam versi layar lebar lebarnya, ada yang sudah menontonkah? Saya belum nih, kita lihat trailernya dulu yuk!

Carrie – Stephen King

“But hardly anybody ever finds out that their actions really, actually, hurt other people! People don’t get better, they just get smarter. When you get smarter you don’t stop pulling the wings off flies, you just think of better reasons for doing it.”

Carrie, Carrie, Carrie… Bagaimana saya harus mereview buku ini ya? Carrie salah satu tokoh buku 2013 yang berkesan bagi saya. Sepertinya nama Carrie tidak asing lagi bagi penggemar horor maupun bagi penikmat film. Carrie adalah buku pertama Stephen King yang dipublikasikan. Padahal pada awalnya King tidak begitu pede dengan karyanya ini seperti yang saya baca di Wikipedia : King recalls, “Carrie was written after Rosemary Baby’s, but before The Exorcist, which really opened up the field. I didn’t expect much of Carrie. I thought, ‘Who’d want to read a book about a poor little girl with menstrual problems?’ I couldn’t believe I was writing it.” In a talk at the University of Maine, King said of Carrie, “I’m not saying that Carrie is shit, and I’m not repudiating it. She made me a star, but it was a young book by a young writer. In retrospect, it reminds me of a cookie baked by a first grader — tasty enough, but kind of lumpy and burned on the bottom.” The book went on to sell four million copies.

Carrie versi UK

Carrie versi UK

Buku setebal 253 halaman ini terbagi menjadi 3 bagian (Olahraga Berdarah, Malam Prom dan Reruntuhan), sebagaimana yang disebutkan King di atas, kisah dimulai di saat Carrie mengalami menstruasi pertama dan yang sebelumnya sudah menjadi korban bully, Carrie semakin diolok-olok karena ia tidak mengerti apa yang salah dengan dirinya kenapa sampai mengeluarkan darah. Aneh ya, remaja putri tidak mengerti dengan menstruasi, namun jika semakin dibaca kita mengerti bagaimana Carrie bisa menjadi seperti itu. Margaret White, ibu Carrie yang juga seorang janda berperangai ajaib turut berperan serta dalam membentuk mental Carrie. Sebagai seorang Kristen fanatik ia menganggap menstruasi adalah dosa keturunan dan Carrie dipaksa untuk duduk di altar dan berdoa. Terus terang di bagian ini saya merinding dan tidak menyangsikan lagi kepiawaian Stephen King sebagai penulis thriller. Whoosah!

Carrie semestinya hanyalah seorang gadis biasa dengan kemampuan khusus. Ia hanya ingin sekolah biasa, masuk ke kelas tanpa dibully dan datang ke acara prom. Ia memang datang ke acara prom dan setelahnya semua tidak akan sama lagi, bagi Carrie, bagi teman-temannya dan bagi kota Chamberlain.

“The over-all impression is one of a town that is waiting to die. It is not enough, these days, to say that Chamberlain will never be the same. It may be closer to the truth to say that Chamberlain will simply never again be.”

Carrie ditulis dengan gaya penceritaan yang tidak biasa, King menyelipkan potongan-potongan berita dari koran, buku catatan teman Carrie, terkadang tambahan dari buku telekinetis yang membuat kita semakin penasaran, apa yang akan terjadi selanjutnya. Terutama malam prom. Cover buku versi Gramedia contohnya, dari sana sudah tersirat akan ada peristiwa besar yang berhubungan dengan darah, apalagi bagi yang sudah sering melihat trailer filmnya.

Carrie movie poster

Carrie movie poster

Pendapat saya setelah membaca Carrie, kisahnya bukan termasuk dalam thriller maupun misteri. Horror psikologis lebih tepatnya.

Bagi yang penasaran tentang inspirasi Carrie, coba cek di sini deh, artikel bagus! Diceritakan bagaimana istrinya memegang peranan penting terciptanya buku ini.

Sekilas artikel saya cantumkan di bawah ini ya?

The idea for the novel came to King in a daydream. He had remembered an article about telekinesis in LIFE magazine, which said that if the power existed, it was strongest in adolescent girls. King’s background as a high school janitor also flashed to mind, specifically the day when he had to clean rust stains in the girls’ showers. He had never been in a girls’ bathroom before, and seeing tampon dispensers on the wall was like visiting a distant planet.

The two memories collided. King knew it could make a decent short story for Cavalier. Playboy was a possibility, too. Hef’s magazine paid better, and the Buick needed a new transmission.

King modeled Carrie White after two of the loneliest girls he remembered from high school. One was a timid epileptic with a voice that always gurgled with phlegm. Her fundamentalist mother kept a life-size crucifix in the living room, and it was clear to King that the thought of it followed her down the halls. The second girl was a loner. She wore the same outfit every day, which drew cruel taunts.

Carrie - Gramedia

Carrie – Gramedia

Satu yang mengganggu saya entah kenapa terjemahan kali ini terkesan agak kaku, tapi covernya menutupi kekecewaan saya 🙂

Adegan di kamar mandi, checked.

Freak momma, checked.

Bitchy ladies, checked.

Telekinetik superpower, checked.

Prom ‘bloody’ night, checked.

Tunggu apa lagi, yuk dibaca dan rasakan sensasinya 🙂

[Review] Gone Girl – Gillian Flynn

There are TWO sides to EVERY story.

Mohon maaf penulisan ala anak alay, tapi tagline mencolok yang ada di cover hitam polos Gone Girl seakan Gillian Flynn mengingatkan kita selaku pembaca untuk menyadari selalu ada sisi yang berbeda dari satu perkawinan. Makanya buku ini ditulis dari sudut pandang sepasang suami istri ‘sakit’ bernama Nick dan Amy.

Marriage can be a real killer.

Novel setebal 475 halaman dibuka dengan paragraf yang kuat, setidaknya bagi saya. Membaca paragraf pertamanya saja sudah mengisyaratkan ada yang salah dengan Nick dan mau tak mau membuat saya semakin penasaran tentang hubungan mereka.

When I think of my wife, I always think of her head. The shape of it, to begin with. The very first time I saw her, it was the back of the head I saw, and there was something lovely about it, the angles of it. Like a shiny, hard corn kernel or a riverbed fossil. She had what the Victorians would call a finely shape head. You could imagine the skull quite easily.

??!!!

Imagine the skull? Heh? Kenapa kebayang tengkoraknya? Dan mau tak mau saya membolakbalikkan cover Gone Girl dan baru menyadari itu adalah gambar rambut yang terurai kusut masai. Rambut Amykah? Amy yang di hari ulang tahun perkawinan mereka menghilang secara tiba-tiba. Rumah berantakan, kucing kesayangannya terlantar di luar rumah, setrika masih dalam keadaan hidup dan Amy hilang. Amy, the Gone Girl.

Image

Amy dan Nick secara bergantian akan menceritakan dari versi mereka masing-masing bagaimana keadaan rumah tangga mereka, bab pertama alur lumayan berjalan lambat namun pelan-pelan pengarang menuntun pembaca membentuk persepsi bahwa Nick adalah pria menyebalkan dan Amy berada dalam posisi yang serba salah sebagai istri. Nick pengangguran tidak jelas, Amy sebagai seorang wanita metropolitan yang terpaksa pindah dari New York pindah ke kota kecil untuk menemani ibu Nick yang sedang sakit, kehidupan rumah tangga mereka sejauh ini ditopang dari Amy.

Setiap ulang tahun perkawinan, Amy menyiapkan treasure hunt untuk Nick, petunjuk demi petunjuk demi mendapatkan hadiah spesial. Demikian pula dengan ulang tahun yang kelima ini, Amy ternyata juga menyiapkan kejutan untuk Nick. Sayang Amy keburu menghilang. Bersama dengan polisi Nick berusaha mencari ke manakah Amy? Bagaimana nasib kado ulang tahun yang disiapkan Amy? Kebohongan satu ditutupi dengan kebohongan yang lain menyebabkan Nick menjadi sasaran utama penyebab hilangnya Amy. Dibunuhkah? Ulah siapa jika demikian? Apakah Nick?

“We weren’t ourselves when we fell in love, and when we became ourselves – surprise! – we were poison. We complete each other in the nastiest, ugliest possible way.”

Penasaran? Iya saya juga, itu sebabnya saya tahan-tahan kebosanan membaca Gone Girl dan ketabahan saya berbuahkan hasil 4 bintang untuk buku ketiga Gillian Flynn yang adaptasi filmnya akan segera tayang Oktober tahun depan. Twist plotnya GILAAAA. Ini buku GILA, pasangan GILA dan tentu saja pengarang yang GILA!

Saya tidak akan menceritakan kelanjutan kisah Nick dan Amy disebabkan dengan adanya major spoiler, makanya review ini saya tunda-tunda melulu :p. Hanya saja saya tidak akan protes saat mengetahui bahwa Gone Girl menjadi pemenang buku terbaik pilihan pembaca versi Goodreads 2012. Bagi yang suka dengan thriller psikologis, permasalah rumah tangga, Gone Girl cocok untuk anda. Dilengkapi dengan berbagai quote yang menarik, ending yang luar biasa buku ini sayang dilewatkan. Yuk segera dibaca sebelum kita melihat Ben Affleck dan Rosamund Pike tampil sebagai Nick dan Amy Dunne di layar lebar.

Rosamund Pike

Rosamund Pike di lokasi syuting dengan penampakan Gone Girl di tangannya 🙂

Gone Girl masuk nominasi buku terfavorit 2013 berkat plotnya yang luar biasa dan menurut saya masuk kategori buku yang ingin kau rekomendasikan temanmu untuk segera dibaca dan ayo kita diskusikan bareng-bareng 🙂

Jadi siapa yang sudah membaca dan memasukkan Gone Girl dalam wishlist? Yuk mari kita bahas bareng-bareng! Cheers 🙂

[Review] Silence of the Lambs – Thomas Harris

Silence of the Lambs. Apa yang terbayang saat anda mendengar kalimat di atas? Kalau saya pertama kali yang terlintas : Hannibal Lecter, diperjelas lagi : wajah Anthony Hopkins dengan masker mengerikan di daerah mulut dan tatapan dinginnya yang menusuk.

Hannibal

Hannibal

Tidak adil rasanya membaca buku Thomas Harris dengan terlebih dahulu sudah memiliki persepsi tentang bagaimana perwujudan karakter Hannibal, tapi sebagaimana sudah kita ketahui oleh sebab itulah Anthony Hopkins diganjar piala Oscar sebagai pemeran pria terbaik tahun 1992 padahal beliau hanya muncul selama kurang lebih 16 menit saja.

Gramedia baru saja menerbitkan serial Hannibal Lecter ciptaan Thomas Harris yang sangat layak dikoleksi. Bagi penggemar cover macam saya begini, saya cukup puas dengan cover barunya dan entah disengaja untuk menambah kesan misterius, sinopsis yang ada di halaman belakang bukanlah rangkuman singkat cerita, melainkan adegan pertama bertemunya tokoh utama kita, agen FBI Clarice Starling dengan Dr Hannibal Lecter. Creepy!

Silence of the Lambs

Silence of the Lambs

Seorang diri Starling menyusuri koridor remang-remang itu. Ia tidak menoleh ke sel-sel di kedua sisi. Suara langkahnya berkesan keras baginya. Kecuali itu hanya ada suara mendengkur dari satu atau dua sel, serta tawa terkekeh-kekeh dari sel lain…

Dr. Lecter mengenakan seragam putih rumah sakit jiwa di selnya yang berwarna sama. Kecuali rambut, mata, dan mulutnya yang merah, segala sesuatu di sel itu berwarna putih. Wajahnya sudah begitu lama tidak terkena sinar matahari, sehingga seakan-akan menyatu dengan warna putih yang mengelilinginya; sepintas lalu timbul kesan wajahnya melayang di atas kerah bajunya. Lecter duduk di meja di balik jaring nilon yang menghalanginya dari terali. Ia sedang membuat sketsa pada kertas roti dengan memakai tangannya sebagai model. Sementara Starling menonton, Lecter membalikkan tangan dan, sambil meregangkan jari-jemari, menggambar sisi dalam lengannya. Dengan jari kelingking ia menggosok-gosok salah satu garis yang dibuatnya dengan arang.

Starling mendekati terali, dan Lecter menoleh.
“Selamat malam, Dr. Lecter.”
Ujung lidah Lecter yang merah muncul di antara kedua bibir yang tak kalah merahnya. Sejenak lidahnya menyentuh bibir atas, tepat di tengah, lalu menghilang kembali.
“Clarice.”
Starling mendengar suaranya yang parau, dan dalam hati ia bertanya, sudah berapa lama sejak pria itu terakhir angkat bicara. Keheningan seakan berdenyut-denyut.

Tersebutlah seorang pembunuh psikopat disebut-sebut dengan Buffalo Bill yang telah membunuh 5 perempuan, tidak hanya menghabisi nyawa, ia juga menguliti tubuh korban yang kesemuanya wanita dan terakhir diketahui ia juga memasukkan kepompong ngengat ke tenggorokan korban. Kehabisan akal, Kepala Seksi FBI bagian Ilmu Perilaku Jack Crawford menugaskan bawahannya Starling yang cantik dan pintar untuk menggali informasi mengenai Buffalo Bill melalui seorang tahanan penjara pembunuh berantai yang dikenal memakan hidup-hidup korbannya yang juga berprofesi sebagai psikiater, Dr Hannibal Lecter the cannibal.

Entah Hannibal tertarik dengan masa lalu Clarice atau ia sedang ingin bermain-main, Hannibal akhirnya setuju membantu FBI menemukan siapa si Buffalo Bill ini sesungguhnya sebelum korban kembali berjatuhan, terlebih lagi korban terakhir yang ia sekap adalah Catherine Martin, putri seorang senator.

Good evening, Clarice

Good evening, Clarice

Kira-kira begitulah garis besar novel setebal 476 halaman yang sangat sayang dilewatkan. Hannibal Lecter secara resmi sudah masuk dalam daftar salah satu dari karakter paling memorable yang pernah saya baca, mengesampingkan tokoh ini diperankan oleh Anthony Hopkins loh ya, wong saat membaca saya bisa merinding disko gitu kok.

Percakapan yang intens antara Hannibal – Clarice yang diungkap sedikit demi sedikit menambah ketegangan cerita sampai di akhir kisah. Akhir kisah, halaman terakhir bahkan! Dan seakan belum cukup Thomas Harris berhasil memikat pembaca lewat karakter antagonis lainnya, si Buffalo Bill. Transeksual, masa lalu yang kompleks dan untuk apakah ia menguliti korbannya? Dan apa gunanya ngengat yang sengaja ditinggalkan di tenggorokan korban? Satu misteri lagi, apa yang dimaksud dengan domba-domba telah membisu?

Buku kedua Thomas Harris ini pantang untuk dilewatkan, mari mengenal lebih jauh seperti apa Hannibal, seorang psikopat jenius yang disebut-sebut sebagai salah satu Greatest Movie Character via Empire dan 100 Greatest Characters of the Last 20 Years menurut Entertainment Weekly. Tindakannya acap kali ‘mengejutkan’ dan kalau mau diperjelas lagi saya sebagai pembaca merasa dibodoh-bodohi olehnya saat Hannibal bolak balik mengelabui polisi, dan tindakannya saat kabur dari penjara, EPIC!

Silence of the Lambs adalah buku kedua sebelum Red Dragon dan dilanjutkan di seri terakhir, Hannibal Rising. Walau begitu novel ini tetap bisa dinikmati tanpa membaca seri pertamanya terlebih dahulu. Saya pribadi memutuskan untuk mengoleksi serial lengkapnya. Care to join me?

Postingan ini dibuat dalam rangka #bacabareng #BBI edisi Oscar. Silence of the Lambs sukses merebut 5 piala untuk kategori :

Best Picture

Best Director

Best Actor

Best Actress

Best Adapted Screenplay.

movie poster

movie poster

Need to say more? 🙂

Trailer :

Oia, sekilas info terbaru, sepertinya kita akan kembali menyaksikan aksi gila Hannibal melalui TV seri dengan judul yang sama. Akan tayang April mendatang dengan Mads Mikkelsen sebagai Hannibal. Info lebih jelas silahkan klik di sini.

Can't get enough?

Can’t get enough?

Good evening, Clarice – diambil dari ttcritic.wordpress.com

[Review] Crooked House – Agatha Christie

There was a crooked man, and he walked a crooked mile. He found a crooked sixpence against a crooked stile. He bought a crooked cat, which caught a crooked mouse. And they all lived together in a little crooked house.

Crooked House

Crooked House

Nursery rhymes yang misterius, gaya khas Agatha Christie. Crooked House telah diterjemahkan dengan judul Catatan Harian Josephine, beda makna namun tetap memiliki korelasi yang pas.

My fave cover

My fave cover

Review di bawah saya ambil dari halaman belakang Crooked House :

The Leonidas are one big happy family living in a sprawling, ramshackle mansion. That is until the head of the household, Aristide, is murdered with a fatal barbiturate injection.

Suspicion naturally falls on the young widow, fifty years his junior. But the murderer has reckoned without the tenacity of Charles Hayward, fiance of the late millionare’s granddaughter…

My opinion :

Sejak awal Januari ketika akun Twitter @SelSelKelabu mengadakan event baca bareng Agatha Christie saya sudah sibuk berkeliling toko buku di Denpasar dan sekitarnya mencari 3 buku Agatha terfavorit. Dan tetap tidak nemu dong >.<

Alhasil setelah tanya sana sini, buku yang paling direkomendasikan adalah Crooked House. Setelah menuntaskan buku ini selama beberapa hari akhirnya saya mengerti mengapa banyak yang menyarankan saya membaca Crooked House. Malahan saya baru tahu kalau Crooked House adalah buku favorit pengarang sendiri. Well, this is something! Dan memang, buku ini ‘sesuatu!’ *tolongjangandibacaalaSyahrini*.

Kenapa demikian?

1. Saya membayangkan Oma Agatha di atas sana tertawa puas saat beliau berhasil mengecoh saya beberapa kali saat menebak siapa pembunuh kakek Aristide. Padahal saya sudah berusaha menyimpan clue-clue dan ikut menyelidiki bersama Charles, tokoh di mana dari dialah sudut pandang Crooked House.

2. Tiap anggota keluarga memiliki kans yang sama menjadi pembunuh Aristide. Istri mudanya. Guru privat cucunya, lelaki muda yang sekaligus dianggap cem-ceman istri muda Aristide. Anak-anak lelakinya yang terbelit masalah keuangan. Menantunya yang tingkat drama queennya level kelas kakap. Tidak terkecuali cucu-cucunya apalagi Sophia yang sekaligus menjadi kekasih Charles. Nah, loh. Selamat menebak!!

3. Josephine.

Josephine. Josephine. Engkau jelas telah masuk list karakter paling happening dari buku yang saya baca tahun 2013.

Kepiawaian Agatha Christie menulis cerita misteri rasanya sudah tidak patut dipertanyakan apalagi dibantah, namun satu hal yang tidak saya sangka adalah kejeniusannya menciptakan karakter Josephine. Gadis remaja yang misterius, aneh dan kemunculannya pertama di pertengahan buku cukup membuat saya bergidik. Tahu tokoh Hannibal di Silence of the Lambs kan? Nah, perasaan yang sama saya dapatkan saat Josephine muncul. Padahal ini di buku lho!

Grandfather’s been murdered. Did you know?

He was poisoned. With es-er-ine. She pronounced the word very carefully. It’s interesting, isn’t it?

Saya membayangkan saat Josephine mengucapkan kata er-er-ine sambil berbisik dan tersenyum misterius. Hih, seram!

4. Endingnya. OMG endingnyaa >.< Just prepare yourself, everybody!

5. Saat saya membaca sempat terlintas di otak, kalau Crooked House difilmkan seru juga nih! Ehh, detik-detik terakhir saat membuat review saya baru tahu kalau Crooked House beneran akan dibawa ke layar lebar! *girapgirap*

It’s been far too long since we’ve seen Agatha Christie’s work on the big screen,” LaBute said. “Crooked House is one of her best and most surprising murder mysteries. It’s the perfect title with which to bring a whole new audience to Christie, while at the same time delivering a wonderfully suspenseful experience to her legions of existing fans.”

Link berita diambil dari sini dan situ. Julie Andrews, Gemma Aterton, Matthew Goode, Gabriel Bryne sudah resmi menjadi pemeran dalam Crooked House berdasar sumber di sini. AAAAAK!

crooked house cast

crooked house cast

4 bintang untuk Josephine dan buku hariannya. Bagi yang belum baca? Tunggu apa lagi! Walau tanpa kehadiran Poirot, buku ini wajib baca bagi penggemar misteri!

PS : Postingan ini dibuat untuk meramaikan event dari Sel – sel kelabu. Kategori And There Were None.

The Labours of Grey Cells

The Labours of Grey Cells