[Review] The Good Earth – Pearl S. Buck #postingbareng

Though more than sixty years have passed since this remarkable novel won the Pulitzer Prize, it has retained its popularity and become one of the great modern classics. “I can only write what I know, and I know nothing but China, having always lived there,” wrote Pearl Buck.

Haihai! Postingan kali ini dibuat dalam rangka baca bareng BBI, setelah ikutan listopia 1001 books that you should read before you die, kali ini teman-teman BBI sepakat untuk menjajal penulis Nobel untuk posting bareng. Setelah ditimbang-timbang saya memilih Pearl S. Buck yang kebetulan saya suka dan lagi buku The Good Earth yang tergeletak merana semenjana ingin dibaca. *tsah* Saya tidak salah pilih! Walau buku ini baru kelar jam 1 subuh tadi, 5 bintang untuk Wang Lung dan Pearl S. Buck tentunya. Berhubung ini review dibuat mepet sumepet langsung saja yuk kita time travel ke dataran Cina tahun 1920an awal eh apa 1930an ya, yang jelas sebelum meletusnya perang dunia kedua.

First Edition

First Edition

The Good Earth berkisah tentang jatuh bangun seorang petani miskin bernama Wang Lung, ia hidup bersama ayahnya. Di awal buku kita juga mengetahui Wang menikah dengan budak yang bekerja di rumah keluarga kaya bernama O Lan. Namanya budak tentu saja yang Wang dapatkan adalah seorang gadis berwajah biasa saja, kaki yang tidak diikat namun kelebihannya O Lan adalah wanita pekerja keras dan pintar masak. Wang Lung bekerja mati-matian untuk menghidupi ayahnya yang semakin tua apalagi ketika didengarnya O Lan mengandung.

“Wang Lung sat smoking, thinking of the silver as it had lain upon the table. It had come out of the earth, this silver, out of the earth that he ploughed and turned and spent himself upon. He took his life from the earth; drop by drop by his sweat he wrung food from it and from the food, silver. Each time before this that he had taken the silver out to give to anyone, it had been like taking a piece of his life and giving it to someone carelessly. But not for the first time, such giving was not pain. He saw, not the silver in the alien hand of a merchant in the town; he saw the silver transmuted into something worth even more than life itself – clothes upon the body of his son.”

Sebelum lanjut quote di atas sengaja saya cantumkan, walau tidak dengan bahasa berbunga-bunga, Pearl S. Buck dengan pas menyiratkan makna tanah dan anak dari Wang Lung, apalagi kalau membaca langsung bukunya, ah saya merasa malu dengan hidup saya yang sedemikian pemalasnya dibanding dengan Wang Lung yang begitu mencintai tanahnya, terus bekerja tanpa henti.

Tahun terus berlalu, kelaparan hebat melanda Cina tapi Wang Lung sekeluarga mampu melewatinya setelah mengungsi, Wang tidak bertahan lama di tempatnya yang baru karena ia terus memikirkan tanahnya. Setelah dirasanya memiliki uang yang cukup ia kembali ke desa dan bekerja lebih giat lagi. Kaya dan semakin kaya. Akhirnya Wang Lung berhasil menabung keping perak dan emas dalam jumlah yang banyak.

Wang Lung tetap ingin lebih kaya lagi dan repotnya ia terperosok di tempat yang sangat wajar ketika pria sedang di puncak kejayaan. Wanita. Petani lugu sudah tidak ada lagi, Wang mulai mampir ke rumah bordil dan jatuh hati dengan perempuan berkulit halus, kaki mungil, mata besar macam buah aprikot bernama Lotus.

Sampai di sini cerita mulai semakin menarik dan untuk selanjutnya lebih enak jika dibaca sendiri *alesanwaktupostingmakinmepet* :p Selain saya tidak ingin menebar spoiler sensasi membaca karya Pearl S. Buck itu harus dinikmati pelan-pelan. Jangan harap ada klimaks yang membuat jantung kita berdebar-debar atau gemes pengen mites akan satu tokoh. Semua dibeberkan pelan, pelan dan pelan, itu juga sebabnya waktu yang saya butuhkan untuk membaca bagian awal sampai tengah juga tersendat-sendat. Tapi kita seakan ikut menjadi saksi hidup kehidupan Cina jaman itu, bagaimana saat kelaparan melanda, betapa timpangnya harga laki-laki dan perempuan dan ikut terbuai saat bau candu menguar di rumah keluarga kaya.

Sampai akhir buku pertama saya sendiri tidak menyangka akan memberikan bintang lima, tapi perasaan hangat dan kisah yang sedikit menggantung meninggalkan bekas yang dalam di hati. Jelas-jelas The Good Earth adalah salah satu dari 10 buku terbaik yang saya baca untuk tahun ini.

Bumi yang Subur

Bumi yang Subur

The Good Earth adalah buku pertama dari trilogi House of Earth, buku kedua dan ketiga sudah diterjemahkan oleh Gramedia dengan judul Wang si Macan selanjutnya disusul dengan Runtuhnya Dinasti Wang. Mau saya cari ah lanjutannya.

The Good Earth diterbitkan tahun 1931, memenangkan Pulitzer tahun 1932 dan meraih Pearl S. Buck meraih Nobel tahun 1938  yang menurut new York Times diberikan ‘for her rich and truly epic descriptions of peasant life in China and for her biographical masterpieces’.

Hail to Pearl S. Buck

Hail to Pearl S. Buck

 

 

Advertisements

[Review] After Orchard – Margareta Astaman

After Orchard

After Orchard

Covernya unyu sekaliii ^.^

After Orchard berisikan curhatan hati seorang Margareta Astaman di Singapura selama 4 tahun menjadi mahasiswa Nanyang  Technological University. Betapa berbedanya surga belanja yang nyaman dan tertib di mata saya dengan mata Margareta. Siapa sangka di balik keteraturan dan kemegahan mall, Margareta harus berhadapan dengan teror tugas yang tak habis-habisnya, hilangnya sosialisasi yang seakan-akan membuang waktu sampai kutukan kutu tempat tidur!

Bab Membasmi Kutu Sesuai Prosedur menegaskan betapa Singapura adalah kota yang penuh dan taat aturan, sa’nglotok-nglotoknya kalau kata orang Jawa. Semua hal diatur dengan jelas dan tidak fleksibel, termasuk dalam pembasmian kutu. R, salah satu teman Margareta yang tempat tidurnya jelas-jelas berkutu  tidak bisa disteam dengan alasan steam hanya dilakukan setahun sekali pada saat penerimaan mahasiswa baru, jelas saja permintaan R untuk steam ditolak. R yang sudah tak tahan rela membayar berapa saja agar ranjangnya di-steam, namun sistem kebal suap yang mengakar langsung mematahkan indikasi sogokan R, dengan alasan jika setiap anak kampus minta ranjangnya dibersihkan setiap saat tentu akan menggangu kinerja tenaga kerja asrama. R tidak hilang akal, borok-borok yang ditimbulkan tidak menjadi bukti yang kuat karena bisa saja karena R jorok dan kemproh, padahal membuktikan kutu yang mikroskopik juga bukan hal yang mudah.

Setiap prosedur harus dilaksanakan tanpa kompromi, tanpa revisi, padahal urusan birokrasi terkadang berbenturan dengan faktor tak terduga wong manusia bukan robot, ada yang namanya human error dan kutu, tentu saja.

Menjadi mahasiswa di sebuah universitas terkemuka menjadi beban tersendiri ternyata, setiap orang dilihat bukan berdasar kepribadiannya melainkan nilai. Bahkan cenderung nilai adalah segalanya. Seram! Hal itulah yang memicu terjadinya bunuh diri di Singapura. Setiap individu sibuk berkompetisi dan yang tidak mampu bersaing dianggap gagal. Hampir setiap minggu margareta mendengar praktik percobaan bunuh diri. Kisah percobaan bunuh diri hampir tidak pernah diangkat ke publik, kebijakan pers melarang kasus bunuh diri untuk diberitakan alasannya bisa memicu orang untuk meniru.

Kejadian lain yang lucu terjadi ketika Margareta merasa mual, muntah selama beberapa hari sehingga ia memutuskan untuk berkonsultasi di klinik bersubsidi kampus. Ia malah disangka hamil, setelah menjalani serangkaian tes kehamilan, Margareta pulang dengan berbekal obat maag padahal ia sudah mewanti-wanti dokter bisa jadi ia terkena hepatitis. Seminggu tak sembuh ia mengunjungi rumah sakt umum Singapura dan kembali lagi didiagnosa hamil. Sesuai dengan prosedur pemeriksaan ia kembali diwajibkan untuk tes kehamilan. Menolak mati di negeri orang , Margareta pulang ke Jakarta dan berobat di sana, memang benar ia terkena hepatitis A.  Jiah!

Menarik, menggelitik, ringan dan menggigit. After Orchard menyikap sisi lain Singapura yang bisa jadi tidak terselami bagi saya yang hanya menginjakkan kaki seputaran Kinokuniya dan Orchard Road saja 😀 Memang bukan rahasia lagi kalau Singapura adalah kota yang keras, banyak teman saya yang tinggal di sana juga berbicara hal yang serupa. Tapi bukan berarti buku ini hanya mengupas keburukan Singapura, toh Singapura tetap menjadi kota yang penuh pesona buat saya. 🙂 Yah anggap saja buku ini bisa menjadi guide tidak resmi bagi yang ingin mengambil pendidikan di sana. Cheers!

Detail buku :

Penerbit Buku Kompas, Agustus 2010, 193 halaman.

 

Hotel on the Corner of Bitter and Sweet

Sinopsis :

“Berapa lama kau akan menungguku, Henry?”

“Selama yang dibutuhkan…”

“Bagaimana kalau aku tetap di sini sampai tua dan ubanan—”

“Kalau begitu aku akan membawakanmu tongkat.”

Henry dan Keiko adalah korban perang Amerika-Jepang (1942). Mereka lahir dan tumbuh di Amerika, dalam masa perang tersebut. Henry adalah anak keturunan China, sementara Keiko keturunan Jepang. Persahabatan mereka, yang diwarnai cinta remaja, terpaksa berakhir karena kondisi yang tidak memungkinkan.

 Empat puluh tahun kemudian, Henry, yang baru kehilangan istri tercintanya, tergugah untuk mencari benda peninggalan Keiko di sebuah hotel yang menjadi ciri khas kota Seattle, sekaligus tempat penyimpanan benda-benda keluarga Jepang di masa perang. Akankah pencarian ini akhirnya membuat Henry menemukan jawaban atas penantiannya di masa lalu?

Cover versi Matahati

Cover versi Matahati

“I try not to live in the past…but…sometimes the past lives in me”

Sudah lama buku Hotel on the Corner of Bitter and Sweet masuk ke wish list saya di Goodreads, eh ternyata diterbitkan oleh Matahati!Yay! Covernya cantik ya? Nuansa Jepangnya dapat dan kesannya melankolis banget, pas sesuai genrenya Historical Fiction.

Mengambil dalam 2 rentang waktu yang berbeda, tahun 1986 dan tahun 1942, berkisah tentang seputar kehidupan Henry, lelaki berkebangsaan Cina yang bersekolah yang mayoritas orang Amerika. Henry sering diejek terlebih lagi karena bros Aku Orang Cina yang disematkan di seragamnya (yang dulu memang benar adanya, harus dipakai untuk mencegah keselamatan warga Cina karena pengeboman Pearl Harbor).

Ayah Henry adalah seorang nasionalis sejati, makanya ketika Henry menjalin hubungan dekat dengan anak perempuan Jepang bernama Keiko, beliau amat marah. Sampai akhirnya kebencian mayoritas publik terhadap orang Jepang memuncak sehingga Keiko bersama dengan ribuan lainnya dipaksa untuk tinggal dalam kamp pengungsian.

Hubungan Henry-Keiko mau tidak mau dihentikan secara paksa oleh keadaan, apalagi ternyata saat itu ayah Henry menderita stroke dan menginginkan Henry bersekolah di negara asalnya. Waktu berlalu, Keiko menghilang dan adalah Ethel, seorang perempuan yang mulai menggantikan kekosongan hati Henry. Merekapun menikah yang sayangnya kandas karena Ethel meninggal terkena kanker.

Tahun 1986.

Pembongkaran hotel Panama yang ternyata menyimpan barang-barang peninggalan Jepang. Henry datang untuk mencari serpihan keping hatinya yang hilang. Gaun komuni putih, wadah lilin perak, keranjang piknik, benda yang tak terjamah selama empat puluh tahun. Apakah hatinya yang hancur ada di sana? Tersembunyi di antara harta benda tak bertuan dari masa lalu?

Review :

Pahit sekaligus manis, sesuai dengan judul bukunya itu yang saya rasakan. Kegalauan hati Henry, kebahagiaan saat ia dan Keiko saat masih bersama ditulis dengan indah oleh Jamie Ford. Bahkan terlalu manis karena di benak saya mereka berdua masih berusia 12 tahun, perasaan di usia itu pikiran saya tidak sedewasa mereka.

Satu yang mengganjal, saya kurang bisa mengenal dekat kedua tokoh utama ini walaupun mereka berdua adalah tokoh protagonis yang menyenangkan. Penulis seakan memberikan porsi lebih besar ke hubungan ayah dan anak. Baik itu dalam porsi Henry dengan ayahnya atau Henry dengan Marty, anaknya. Jadi walau saya menikmati kisah cinta Henry – Keiko tapi kesannya kurang megang. *aduh bahasanya* 😀

Memang tak habis-habis bicara soal cinta, apakah cinta Henry dan Keiko bisa bersatu kembali? Dengan belakang perang yang suram, Hotel on the Corner of Bitter and Sweet sayang untuk dilewatkan, Henry – Keiko mengajarkan kita bahwa kita manusia adalah sama adanya dan betapa besarnya pengaruh harapan dalam kehidupan.

3 bintang!

Saya lebih suka cover aslinya, berasa lebih syahdu dan bawaannya jadi pengen hujan dan payungan di halaman *pentung*

Versi asli

Versi asli

Judul: Hotel on the Corner of Bitter and Sweet

Penulis: Jamie Ford

Penerbit: M-Pop (Matahati) / November 2011

Tebal: 398 hlm

Hotel Panama dibangun tahun 1910 oleh Sabro Ozasa seorang arsitek tamatan University of Washington yang berkebangsaan jepang. Selama bertahun-tahun menjadi tempat tinggal imigran Jepang sampai tahun 1950. Bangunan ini masih ada sampai sekarang.

Panama Hotel, Seattle

Panama Hotel, Seattle

Sekilas tentang pengarang yang saya dapat dari situs resminya adalah penulis keturunan Cina yang juga ayah dari 6 orang anak. Novel pertamanya Hotel on the Corner of Bitter and Sweet telah diterjemahkan ke dalam 32 bahasa.

Sold – Patricia McCormick

Heartbreaking, yet uplifting.

Sold

Sold

Berkisah tentang Laksmi, gadis kecil dari Nepal berusia 13 tahun yang dijual oleh ayah tirinya sendiri ke rumah bordil. Keluguan, kenaifan seorang anak kecil terpampang dengan jelas di buku ini, karena kisah ini dikisahkan dari sudut pandang si Laksmi sendiri.

Buku setebal 310 halaman saya selesaikan dengan semalam karena ternyata isinya cukup ringan dan gaya penulisan yang beda dari novel biasanya.

Laksmi, diiming-imingi bekerja sebagai pembantu rumah tangga di kota cukup dengan permen manis ia sudah sangat senang. Kaki tangan sang pemilik rumah bordil memberitahukan Laksmi, “saat melewati perbatasan, engkau harus memanggilku suami!”
Laksmi yang polos, menurut saja apa kata si paman dan mereka berhasil melewati India dengan aman. Lucunya, di pikiran Laksmi, paman itu sekarang ia panggil dengan paman suami.

Ketika tiba di rumah bordil, tiba waktunya Laksmi berpisah dengan paman suami, nah bagian-bagian ini membuat saya merinding. Tidak terbayangkan bagaimana rasanya seorang Laksmi, 13 tahun dipaksa melayani lelaki berbibir ikan.

Pria berbibir ikan itu melepas gaunku.

Kutunggu diriku untuk melawan. Namun tak ada yang terjadi.

Lantas dia di atasku, dan sesuatu yang panas dan menuntut ada di antara kedua tungkaiku.

(hal 162)

Kira-kira seperti itulah cara penulisan Patricia di novel ini dari awal sampai akhir. Kalimatnya cukup singkat, tapi sudah berhasil membuat saya terentuh, berdebar-debar, bahkan hampir menitikkan air mata.

Rumah bordil, yang di sini disebut dengan rumah kebahagiaan berhasil merebut masa gadis Laksmi, masa di mana ia seharusnya bermain dengan teman-temannya, mengerjakan pr di sekolah. Laksmi mulai terbiasa membutakan segenap panca indranya, agar ia buta dengan wajah para lelaki yang membayarnya 30 rupee (seharga dengan 1 kaleng coca cola), agar hidungnya tidak mencium bau amis para lelaki berperut gendut.

Lakmi memiliki beberapa teman di rumah kebahagiaan, salah satunya bocah berbaju David Beckham, seringkali ia mengamatinya.

(hal 204)
Aku tahu, dari segala kegiatannya bahwa dia hanyalah laki-laki biasa.

Namun, sesekali kutemukan diriku membenci dirinya.

Aku benci dia karena memiliki segala buku sekolah dan teman bermain.

Karena memiliki seorang ibu yang menyisir rambutnya di pagi hari.

Dan, karena kemerdekaan untuk datang dan pergi sesukanya.

Namun, kadangkala aku membenci diriku sendiri karena membencinya.

Hanya karena dia seorang anak laki-laki biasa.

Dan si laki-laki biasa ini mengajarkan Laksmi menulis dan membaca, sampai suatu ketika ia memberikan Laksmi sebuah pensil.

(hal 244)
Sebulir air mata bergulir di pipiku.

Aku telah dipukuli di sini,

dikurung,

dianiaya ratusan kali,

dan ratusan kali lagi.

Aku telah dibiarkan kelaparan,

dan ditipu,

dijebak,

dan dipermalukan.

Betapa anehnya, aku telah luluh sepenuhnya oleh kebaikan hati seorang bocah lelaki dengan sebatang pensil kuning.

Baca buku ini kebetulan juga dengan maraknya perkosaan anak kecil yang terjadi di Bali. Betapa saya mengutuk pria ini, karena ia tidak sekedar merobek selaput dara si anak, tapi sekaligus menghempaskan masa depan anak kecil tak berdosa dalam waktu 5 menit saja!!

Madame Wu – Pearl S. Buck

Tidak seperti yang saya kira, novel sastra cina ternyata bisa membuat saya hampir tidak bisa berhenti membacanya, kesalib dikit ama death note sih, tapi secara keseluruhan buku ini sangat bagus, ditulis dengan manis dan indah oleh Pearl S Buck.
Madame Wu

Madame Wu

Bagian awal buku menceritakan tentang seorang nyonya rumah bijaksana bernama Madame Wu, pada ulang tahun ke 40 ia mengambil keputusan heboh. Mencarikan istri muda untuk suaminya.
Review itu sudah cukup membuat saya tertarik untuk membeli novel ini, dan saya tidak salah pilih, bukunya bagus banget. Saya pikir selanjutnya akan bercerita tentang intrik yang akan terjadi setelah istri baru menempati kediaman Mr Wu. Ternyata saya salah besar, buku ini mengajarkan akan kebebasan berpikir, proses pendewasaan seorang nyonya rumah yang membawa perubahan baik dalam mendidik anak maupun kebebasan jiwanya sendiri.

Pertama membaca, dengan mudah saya mengambil kesimpulan betapa tersiksanya wanita Cina jaman dulu, kerjaannya hanya melayani suami sampai puas tanpa memikirkan dirinya sendiri, memasak dan mengatur rumah tangga, tidak usah belajar karena wanita itu tidak butuh otak, hanya badan saja, dan tak lupa tugas mulianya yang lain, melahirkan anak laki-laki. Anak perempuan tak ada gunanya. Terlebih lagi jaman dulu belum mengenal kontrasepsi, Madame Wu mengambil keputusan untuk mencarikan istri muda untuk sang suami karena dia sudah tidak lagi menginginkan kehamilan dan ingin menikmati hari tuanya sebagai wanita. Walaupun badan masih kencang, karena ia tak pernah menyusui anaknya, ada ibu susu sendiri untuk tiap anak. Akhirnya terpilih gadis yatim sebagai istri muda Mr Wu, yang sintal dan agak bodoh. Tapi yang namanya manusia bukan binatang, hidup bukan hanya berkisar di bawah pusar, Mr Wu tidak mencintai istri mudanya, parahnya lagi istri mudanya malah jatuh cinta dengan anak ketiga mereka. Nah lho…

Pertengahan cerita ada lagi tokoh baru, brader Andre, seorang pendeta berbadan besar, berkaki besar dan berbulu lebat. Dari Andre, madame Wu belajar banyak hal dan ia mengalami perubahan yang luar biasa, bahkan ia menyadari bahwa selama ini ia sama sekali tidak mencintai suaminya. *jreng jreng*

Selanjutnya saya malah takut jadi spoiler, mending baca sendiri deh. Recommended! Saya jelas-jelas akan membaca buku karangan Pearl S. Buck selanjutnya, sudah ada 3 buku yang saya baca termasuk Madame Wu. Next on my to read book : Mandala, hasil belanja kalap obralan Gramedia seharga 10ribu saja. Dan kali ini latarnya di India, padahal biasanya selalu mengambil setting di Cina, mudah-mudahan saja bukunya sebagus Madame Wu 😉

The Palace of Illusions – Divakaruni

Bisa dibilang saya merasa beruntung bisa membaca buku seindah ini. Terlebih lagi sedari SD ayah saya yang juga pecinta buku rutin menghadiahi saya buku Mahabrata karangan R.A Kosasih. Kaget juga karena di usia saya yang sekarang, kurang lebih 20 tahun lewat sejak pertama kali mengenal tokoh Pandawa lima, ternyata saya masih mengingat garis besar kisah Mahabrata.

Istana Khayalan

Istana Khayalan

Istana khayalan benar-benar membuat saya berkhayal jauh, seakan-akan saya ikut berada dalam Hastinapura, ikut bersimpati dengan Dropadi dan tanpa saya sadari, ketawa sendiri mendengar celetukan Dropadi yang ngasal juga.

Pada awal buku, Divakaruni mengajak kita berkenalan langsung dengan tokoh utama, Dropadi. Kisah kelahirannya yang fenomenal, kondisi ayahnya yang terbakar api dendam, kakaknya yang sangat mencintainya dan teman sehati Dropadi, Krishna yang bijaksana. Siapapun akan mudah jatuh hati dengan sosok Dropadi, perempuan yang cerdas, blak-blakan, haus akan ilmu, tidak menyukai pertempuran bahkan ia bertekad merubah pola pikir sang ayah dan kakak tercinta (sangat berbeda dengan apa yang terjadi di kemudian hari). Sejak masa mudanya Dropadi menyadari ia bukan seperti perempan kebanyakan, ia tidak menikmati pelajaran khas wanita, dan takdir memang membawanya jauh dari perempuan kebanyakan.

Suatu ketika, Dropadi menanyakan nasibnya kepada pertapa,
“Kau akan mengawini lima pahlawan terbesar pada masamu. Kau akan menjadi ratu segala ratu, dicemburui segala dewi. Kau akan menjadi pelayan, kau akan menjadi penguasa yang paling hebat lalu kehilangan itu.
Kau akan diingat karena menyebabkan perang terbesar pada masamu.
Kau akan dicintai, meskipun kau tak selalu tahu siapa yang mencintaimu”
Ramalan itu kembali diucapkan Srikandi, dan Dropadi mulai menunggu, takdir apakah yang menantinya di depan sana?

Betapa takdir mempermainkan nasib seorang wanita, Dropadi yang jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Karna, seorang anak kusir kerajaan yang pada akhirnya juga mencintainya yang ironis baru diketahui sesaat sebelum Karna meninggal. Perkawinannya dengan Arjuna, pandawa yang berhasil memenangkan sayembara menjadi suaminya, namun sesuai dengan titah sang ibunda pandawa apa yang menjadi milik seseorang harus menjadi milik bersama. Dropadi menjadi istri dari kelima Pandawa. Ia memiliki istana yang sangat indah, namun sebagaimana yang ditulis di ramalan pertapa bijak, ia akan kehilangan semuanya itu.

Bagian tengah buku, Dropadi yang kita kenal dulu sudah berubah.
“Dia sudah mati. Separuh dirinya mati saat semua yang dicintai dan dia harapkan menyelamatkan hanya duduk tanpa protes dan menontonnya dipermalukan. Separuh dirinya yang lain musnah bersama rumahnya tercinta. Tetapi jangan takut, perempuan yang menggantikan tempatnya akan mengukir jejak yang lebih kuat ke dalam sejarah daripada yang dulu dibayangkan gadis naïf itu” h.289

Dipermalukan, kehilangan, dendam, kesombongan menghancurkan Dropadi dan ia bertekad tidak akan menyisir rambutnya sampai ia keramas dengan darah Kurawa. Betapa besar arti kebencian dalam diri seseorang, sampai pada akhirnya kebencian pun membakar hatimu sendiri, kau tak akan menyadarinya sampai semua yang kaucintai hancur, luluh lantak tak bersisa.

Kayaknya saya bisa jadi penerusnya Echa nih, ayo semua teman-teman yang belum baca buku ini, baca deh.
Banyak pelajaran yang didapat dari buku ini, salah satunya jangan meremehkan wanita ;D
Oia, agak beda dari buku komiknya dulu yang membuat saya kesengsem dengan Yudhistira, nah di sini Yudhistiranya agak oon sedikit, amat tidak pas dengan karakter Dropadi yang meledak-ledak. Hanya Bima yang bisa mengimbanginya, siapa sangka pendekar yang keker sumeker bisa bertekuk lutut di kaki Dropadi, Bima bersedia membantu Dropadi di dapur, bahkan rela membunuh demi Dropadi. Salah satu kalimat Bima yang saat ini saya jadikan status di fesbuk, “Tanpa kau di sisiku, untuk apa ada kerajaan?” Huwaah manis sekali, siapa yang sangka kalimat seromantis ini datang dari Bima?
Kalau Arjuna sih tidak banyak diceritakan di sini, terlebih lagi Nakula dan Sadewa.

Semua teramu lengkap di buku ini, perang dahsyat, ramalan, dewa dewi yang ga kalah keren dengan dewa dewi Olympus, kisah cinta fenomenal, cinta sejati Dropadi – Karna walau tidak pernah sekalipun mereka berkumpul tapi kita berasa ikut merasakan kesungguhan cinta mereka, ada di sini. Yak, kayaknya musti buat rak baru nih, buku-yang-saat-kelar-dibacanya-bikin-bilang-aaaaaaahhhh-indah-sekaliiii.

PS. Covernya cantik dan hasil karya ilustrator favorit saya, Satya Utama jadi. Kapan-kapan saya posting deh cover dari Satya, bagus-bagus semuanya 🙂

Where the Mountain Meets the Moon

Min Li tinggal di gubuk reyot bersama kedua orang tuanya di kaki gunung Nirbuah. Mereka keluarga yang sangat miskin, bahkan makan malam pun sangat pas-pasan. Ma (ibu Min Li) senantiasa berkeluh kesah tentang kehidupan mereka, untungnya Pa (ayah Min Li) selalu berhasil menceriakan suasana makan mereka dengan mendongeng untuk Min Li. Dari Pa, Min Li mengetahui hakim harimau yang jahat dan kakek rembulan bijaksana yang bisa merubah takdir.

Min Li yang tidak ingin Ma senantiasa bersungut-sungut, maka di saat semua tertidur ia pun pergi dari rumah dan berniat mencari kakek rembulan di Gunung Tak Berujung. Dengan bantuan ikan mas, Min Li memulai perjalanannya yang menjadi inti cerita dari buku Where the Mountain meets the Moon. Ia berjumpa dengan naga yang tidak bisa terbang, yang ternyata juga ingin bertemu dengan kakek rembulan untuk menanyakan bagaimana caranya agar ia bisa terbang.

Grace Lin dengan indah menuturkan mitos-mitos Cina yang diselipkan dalam perjalanan Min Li bertemu dengan kakek rembulan tanpa kesan menggurui. Min Li bertemu dengan raja yang menyamar menjadi pengemis kelaparan, walaupun ia juga kelaparan namun Min Li memberikan sisa uangnya kepada raja. Dari kisah itu kita diajarkan untuk selalu berbagi untuk sesama. Di bab berikutnya pembaca diajak Min Li bertualang melawan monyet-monyet tamak yang pada akhirnya keserakahan mereka malah membawa kesialan. Di akhir perjalanan Min Li dan naga berhasil bertemu kakek rembulan yang ternyata hanya menjawab 1 pertanyaan dalam kurun waktu sembilan puluh sembilan tahun. Padahal Min Li ingin mengetahui cara mengubah peruntungan keluarga namun juga ia juga mendapat titipan pertanyaan sang naga bagaimana cara agar bisa terbang. Pertanyaan apakah yang akan ditanyakan Min Li kepada kakek rembulan? Nah untuk ini teman-teman harus membaca sendiri buku indah ini.

Salah satu ilustrasi Grace Lin

Buku Where the mountains Meets the Moon yang ditujukan untuk pembaca belia berhasil memikat saya yang tentu saja sudah jauh dari usia anak SD namun tetap saja saya terpesona dengan gaya penceritaan Grace Lin sehingga tanpa terasa dalam sehari buku ini saya baca habis. Terlebih lagi di dalamnya ada ilustrasi yang khas negeri Tiongkok dan ternyata dilukis sendiri oleh sang pengarang buku. Must read