We Were Liars – E. Lockhart

A beautiful and distinguished family.
A private island.
A brilliant, damaged girl; a passionate, political boy.
A group of four friends—the Liars—whose friendship turns destructive.
A revolution. An accident. A secret.
Lies upon lies.
True love.
The truth.

We Were Liars is a modern, sophisticated suspense novel from National Book Award finalist and Printz Award honoree E. Lockhart.

Read it.
And if anyone asks you how it ends, just LIE.

we-were-liars

Terus terang sinopsisnya bikin penasaran, pinter nih marketingnya *lohkokkesanalarinya*
Baru sadar juga kalau We Were Liar menjadi Best Young Adult Fiction Goodreads ChoiceAward 2014 ya? Wih! Jadi tambah bingung mau ngereview :p
Jadi begini, pada nonton Game of Thrones kan? Bagi yang belum nonton,masih belum terlambat, sisen 5 mulai 3 bulan lagi! Ingat keluarga Lannister yang rata-rata berwajah aristokrat dengan kekayaan yang tak ada habisnya? Nah seperti itulah keluarga Sinclair: our smiles are wide, our chins square, and our tennis serves aggressive, sang Kakek bersama ketiga putri dan cucu-cucunya yang menghabiskan liburan musim panasnya di pulau pribadi.
My full name is Cadence Sinclair Eastman. I live with Mummy and three dogs. I am nearly eighteen.
I used to be blond, but now my hair is black.
I used to be pretty,but now I look sick.
It is true I suffer migraines since my accident.
Begitulah perkenalan kita dengan Cady, narator kita yang menderita amnesia sejak kecelakaan 2 tahun lalu. Kisah dimulai saat Cady berusia 15 tahun, di saat ia bersama sepupu-sepupunya Johnny, Mirren dan kerabatnya yang bernama Gat. Four the Liars.

tumblr_mxk4emjTkt1sm095go1_500

Awalnya mirip seperti kisah young adult biasa pada umumnya, liburan musim panas, cinta-cintaan ditambah intrik keluarga kaya dan diakhiri dengan amnesia. Klise. Sudah biasa. Namun apa yang terjadi sebelum Cady amnesia? Ia tidak bisa mengingat tragedi apa yang terjadi bahkan ketika kedatangannya lagi ke pulau itu 2 tahun kemudian seakan-akan semua anggota keluarga bersekutu menutup mulut jika Cady bertanya apa yang sebenarnya terjadi.Endingnya lumayan mengejutkan dan tentunya tidak akan saya beberkan di sini, buku ini cukup tipis dan cepat dibaca kok, bagi penggemar YA sayang untuk melewatkannya.
Lalu kenapa Cuma 3 bintang?
Hehe kurang gregetnya kalau saya ya, maklum sekarang rada cerewet kalau baca buku *dipentung* setengah buku lumayan membosankan, tidak ada keseruan yang greget seperi membaca diary petualangan musim panas seorang gadis remaja kaya. Saya malah jauh lebih suka dengan penggalan kisah ala Grimm yang beberapa kali diselipkan E. Lockhart. Untuk endingnya agak tidak biasa untuk kategori novel YA, keren sih, bisa jadi difilmkan juga nih!

Just One Day – Gayle Forman

Houla! Beberapa lalu melihat percakapan Non Aul dan Non Ziy tentang review marathon yang seharusnya berlangsung sejak kemarin, tapi ternyata kemarin saya seharian tidak pegang laptop 😀 So, mari berjibaku pagi ini mengerjakan pr review dan we’ll see berapa review yang bisa saya kerjakan. Buku pertama yang hendak saya review adalah Just One Day buku dari pengarang If I Stay, Gayle Forman.

Buku pertama yang kelanjutannya sudah terbit (Just One Year) ternyata ratingnya lumayan tinggi di Goodreads, 4 lebih bahkan. Tersebutlah seorang gadis bernama Allyson yang sedang tour ke Eropa bersama sahabatnya Melanie, dua sahabat ini selayaknya abg macam saya dulu normal mangkir dari yang seharusnya mereka lakukan. Bukan teater yang dilihat melainkan pertunjukan di jalanan yang membuat Allyson berkenalan dengan aktor bernama Willem.

Willem di sini digambarkan pria ganteng, berjiwa bebas dan membuat Allyson lupa diri, di mana biasanya Allyson hidup teratur dan tertata mendadak bertemu Willem, seakan ia bertransformasi menjadi jiwa baru. Ia juga memiliki nama baru. Lulu. Dan hanya dengan perkenalan kilat itu, Allyson Lulu manut saja diajak berkeliling Paris dalam sehari. Paris, salah satu kota paling romantis di dunia dan Willem, tentu saja pengalaman tak terlupakan yang dialami Lulu.

Seperti judulnya, Just One Day, kebahagiaan Lulu hanya bertahan sehari karena keesokan paginya Willem hilang tanpa jejak. Jreng jreng. Kisah berlanjut di bab kedua buku yang menceritakan setahun kehidupan Allyson pasca Paris dan Willem. Ia tidak lagi menjadi Allyson yang dulu, dari yang saya baca Allyson kini lebih tertutup dan skeptis dalam hidup sampai ia menemukan binar kehidupannya lagi dalam kelas drama Shakespeare. Walau pertanyaannya dan pertanyaan pembaca belum terjawab sampai akhir. Dapatkan ia bertemu kembali dengan Willem? Ke manakah ia menghilang pagi itu dan apa alasannya?

Huft. Entah apa yang salah dengan buku ini atau saya sebagai pembaca karena saya sama sekali tidak merasakan kedekatan emosi dengan para tokohnya. Allyson, Melanie, lebih lagi Willem. Sekilas buku ini mirip dengan Before Sunset di mana kamu akan bertemu belahan jiwamu secara tidak sengaja dan puff semua seakan memudar hanya ada kita dan pasangan yang bagaikan potongan puzzle yang langung klik. Saya bisa mengerti Allyson bisa jatuh cinta dengan Willem, tapi Willem? Apa yang membuatnya jatuh cinta dengan Ally? Apakah gara-gara potongan rambut bobnya? Tidak saya dapat di sini. Mungkin memang saya harus membaca Just One Year yang diambil dari sudut pandang Willem untuk mengerti itu.

Just One Day Just One Year

Just One Day Just One Year

2 bintang untuk Allyson dan Willem dari Mia yang masih belum percaya dengan adanya cinta kilat dan sejati. *wink*

[Review] Melbourne – Winna Efendi

Terus terang, tahun 2013 merupakan tahun suram dalam dunia perbukuan saya, membaca buku apa saja rasanya kurang pas, apalagi mau ngeblog. Untungnya saya tidak salah pilih ketika membeli buku terbaru Winna, Melbourne berhasil dilalap dalam sekali duduk. Ah, betapa senangnya kembali merasakan kenikmatan membaca.

Melbourne. Rupanya Winna cukup berhasil mengambil setting kota yang dianugerahi ‘the world’s liveable city’, sehingga Melbourne menjadi salah satu kota impian yang ingin saya kunjungi. 🙂

Image

Rumus Winna masih sama, berurusan dengan cinta pasangan dewasa muda, sedikit muram, sendu dan melankolis, apalagi ada soundtrack keren dan potongan lirik puitis yang mengiringi kisah Max dan Laura di sepanjang bab. A song tells the story of your life, there’s always a personal history attached to it.

Dibuka dengan adegan Max Prasetya *hey nama keluarga kita sama, Max* *ga penting kali ditulis, Mi* kembali ke kota di mana Laura berada, sang mantan pacar. Lima tahun sudah mereka berpisah, lima tahun sudah kisah mereka terkubur tanpa ada penyelesaian, dan kini bersama dengan sekelumit alunan musik, kita pembaca ikut larut untuk mengetahui apa yang salah dengan Max dan Laura, where did their love go?

What about some coffe?

Kalimat pembuka dari Max setelah mereka bertemu kembali, yang juga diucapkan saat awal mereka berkencan. Prudence, kafe favorit mereka bertahun silam, tempat mereka menghabiskan waktu berjam-jam talking about everything and nothing.

Saya seakan menjadi saksi hidup perjalanan Max – Laura, aduh lebay bener ini sik bahasanya, tapi saya tidak menemukan padanan yang pas, ah, atau begini, di saat Laura duduk dengan kaki terlipat sambil menyesap kopi marsmellow dengan Max yang tak henti memandang Laura, bayangkan saya duduk di pojok, ikut mendengarkan pembicaraan mereka. Ya, saya bisa membayangkan adegan itu dan percakapan nostalgia mereka lengkap dengan alunan John Mayer terekam di kepala saya. Good job, Winna!

Dan seperti pertanyaan klise pada umumnya, bisakah mantan yang menorehkan sekian banyak kenangan hanya menjadi teman biasa saja?

Laura bisa saja bilang, ” So, we’re friends now”.  Rex, teman dekat Max mengagetkan Max dengan berkata, “Nggak ada yang namanya mantan deket terus balikan lagi, atau cowok dan cewek temenan tanpa rasa, atau seks. It’s biologically impossible. Human beings are just not built with that kind of sensibility, or resistance“.

Is it?

Ihiy, baca sendiri dong ya untuk membuktikan teori Max. Terlebih lagi kisah menjadi semakin rumit dengan hadirnya Evan, calon suami sahabat dekat Laura, yang ternyata memiliki selera musik yang sama dengan Laura.

Walau klimaks Melbourne saya rasa kurang menggigit, terasa sedikit terburu-buru di akhir dan saya lumayan gemes dengan tokoh Laura yang menurut saya sedikit ingin menang sendiri “don’t we all?* Ga akan rugi kok baca Melbourne, selain kita mau tak mau akan mencari daftar lagu yang dibuat penulis (terbukti dengan saya, yang sebelumnya mengalami hal serupa saat membaca Blue Romance), tulisan Winna ini adiktif! Tidak akan berhenti sebelum selesai. I love Maaax!! Dan ucapan Max saat mengajak Laura pacaran walau simpel sangat realistis dan romantis di saat yang bersamaan :’)

4 bintang untuk Max – Laura dan playlist pilihan Winna 🙂

Winna Efendi - Melbourne

Winna Efendi – Melbourne

Kembali ke novel, proyek Gagas Setiap Tempat Punya Cerita saya akui keren! Selain tematik, kaver layak koleksi, terlebih lagi saya sudah bosan dengan kaver Gagas yang oke punya namun belakangan ini kaver serupa bertebaran di mana-mana. Monoton. Berbekal warna mencolok dan penulis-penulis pentolan membuat saya tergiur untuk membeli serinya yang lain. Menabung untuk membeli buku dan mari bekerja lebih giat untuk berlibur ke kota-kota lain. Roma, Paris, Bangkok, London. Yuk ah!

Blue Romance – Sheva

Dear Sheva,

Aku lupa sejak kapan mengikuti kicauanmu di Twitter, tak butuh waktu lama membuatku rutin mengecek lini masamu. Menikmati tweetmu yang puitis tapi tidak menye-menye atau sekedar berbagi cerita karena kita sama-sama mengidolakan John Mayer. Awalnya aku malah tidak tahu kamu ternyata penulis buku, tapi karena tweetmu sering kali membiusku dan membawaku ke suasana mellow-romantis mau tak mau aku tergoda mencari Blue Romance.

Blue Romance

Blue Romance

Dear Sheva,

Firasatku benar rupanya, tak butuh waktu lama untuk jatuh cinta dengan tokoh-tokoh yang ada di Blue Romance. Malah aku curiga mereka semua nyata adanya. Dan kalau boleh sedikit menyalahkanmu, aku merindukan coffee shop semacam Blue Romance ada di tempatku tinggal. Aku ingin ikut merasakan kehangatan di pojok Blue Romance sembari menikmati secangkir cappuccino yang adalah minuman favoritku.

Dear Sheva,

Rainy Saturday yang menjadi cerita pertamamu, sukses membiusku sejak kamu memasukkan quote ‘Nostalgia is denial. Denial of painful present’. Ah, aku juga sama seperti gadis itu, terkadang lebih memilih hidup di masa lalu. Aku mengerti kepahitannya dan aku turut senang ketika ia berkenalan secara tidak sengaja dengan laki-laki arsitek itu. Hatiku dibuat berdebar-debar dengan endingnya. Suka!

Dear Sheva, cerita selanjutnya berjudul 1997 – 2002. Kisah manis antara Rika dan Niko. Judul yang tidak biasa untuk nostalgia kisah masa kecil Rika. We’ve lost each other, so let’s found ourselves by being together. Indahnya kalimat yang diucapkan Niko itu! Seandainya saja pasanganku bisa bersikap seromantis Niko.

Dear Sheva, setelah sebelumnya kamu membawaku ke suasana hangatnya cinta yang bersatu setelah lima tahun, di Blue Moon kamu memutarbalikkan emosiku dengan bercerita soal ayah. Well, walau sudah tua begini aku tetap menganggap diriku adalah daddy’s little girl. Edi, begitulah nama tokohmu kali ini. Edi yang jauh dari orang tuanya, yang mengadu nasib di Jakarta. Mirip kisahku saat bersekolah di Surabaya dulu, hanya dengan mendengar suara ayah di telepon saja mampu mengungkit semangat yang terkadang lenyap entah ke mana. Walau aku sudah serumah kembali dengan beliau, kami memiliki kesibukan berbeda yang membuat jadwal ngopi bersama di teras rumah berkurang. Besok aku janji, akan menyiapkan waktu lebih banyak untuk ayahku, mumpung libur!

Dear Sheva, tak kusangka ceritamu yang berjudul A Farewell to A Dream yang hanya 26 halaman mampu membuatku menitikkan air mata. Bagaimana hatiku tidak ikut sedih membaca nasih Bima. Bima, yang jatuh cinta dengan sahabatnya sendiri. Anjani. Bram, yang terpuruk saat Anjani lebih memilih teman dekat Bima, Bram. Tega nian kau, Shev. Tapi mungkin sama seperti kopi, suatu kisah lebih menyesap di dada ketika ada sedikit rasa pahit yang tertinggal.

Dear Sheva, Happy Days sedikit mengingatkanku akan gaya penulisan ala penulis asal Jepang favoritmu. Haruki Murakami. Surreal. Mengambang. Menyakitkan. Indah. Oh, masih soal penulis, betapa senangnya di kisah The Coffee and Cream Book Club kamu mengambil tema dari buku favoritku, The Fault in Our Stars.

Dear Sheva, sedikit kritik mungkin bisa kutambahkan di kisah A Tale About One Day yang kurasa rada aneh. Kai yang kamu kisahkan di sini terkesan lebih tua dari umur sebenarnya, tapi aku suka pilihan lagu untuk penutup Blue Romance. Snow Patrol. Pas untuk kudengar malam-malam dan mungkin itu juga yang membiusku untuk menulis review yang tidak biasa ini.

Dear Sheva,

Sudah aku bilangkah kalau aku resmi menjadi penggemar tulisanmu? Terima kasih untuk Kai, Bima, Niko, Anjani, semua tokoh yang begitu nyata. Tetaplah menulis. Aku menunggu karyamu selanjutnya.

-Mia-

[Review] Will Grayson Will Grayson – John Green & David Levithan

Beberapa bulan lalu salah seorang teman BBI memberi usul membaca buku bertema LGBT. Whoa, seru juga, kenapa tidak? Kebetulan juga saya dapat pinjaman Will Grayson Will Grayson dari Astrid yang sebelumnya juga sudah pernah direkomendasikan Ndari dan Zenia.

Saya hanya mengetahui bahwa Will Grayson Will Grayson mengisahkan 2 remaja pria bernama sama dan buku ini adalah duet dari John Green bersama David Levithan. Ah kebetulan juga nih! Jikalau tahun 2011 saya ngefans banget dengan Sarah Dessen, di tahun 2012 perhatian saya banyak tersorot kepada mereka berdua. John Green dengan The Fault in Our Stars dan David Levithan yang twitternya hampir setiap hari saya cek melalui akun @loversdiction.

Apa jadinya ketika dua penulis jenius, puitis dan anti mainstream ini bergabung menjadi satu?

Will Grayson Will Grayson

Will Grayson Will Grayson

Wooshah. Will Grayson Will Grayson sukses mendapat bintang penuh dari saya, walau endingnya yang terlalu too good to be true dan sinetron-ish banget, buku ini jelas menjadi salah satu buku favorit saya di akhir tahun 2012. Yuk ah, kayanya pembukaan posting bareng kali ini kelamaan.

Sinopsis yang saya ambil dari Goodreads :

One cold night, in a most unlikely corner of Chicago, two teens—both named Will Grayson—are about to cross paths. As their worlds collide and intertwine, the Will Graysons find their lives going in new and unexpected directions, building toward romantic turns-of-heart and the epic production of history’s most fabulous high school musical.

Hilarious, poignant, and deeply insightful, John Green and David Levithan’s collaborative novel is brimming with a double helping of the heart and humor that have won both of them legions of faithful fans.

Cukup unik idenya mengisahkan pencarian jati diri remaja pria bernama sama. Will Grayson dan will grayson. Tidak sulit membedakan mana yang versi JG dan mana yang ciptaan DL. Masing-masing karakter mendapat porsi yang sama, Will Grayson versi JG adalah remaja normal yang diceritakan bersikap cukup riang dan terbuka, memiliki teman ajaib bernama Tiny Cooper yang sangat loveable. Sedangkan will grayson versi DL dikisahkan lebih suram dan penulisannya juga berbeda, semuanya huruf kecil, tanpa kapital dan tanpa tanda baca.

i am constantly torn between killing myself and killing everyone around me. those seem to be the two choices. everything else is just killing time. right now i’m walking through the kitchen to get the back door.

mom : where are you going

school, mom. You should try it some time.

mom : don’t  let your hair fall in your face like that – i can’t see your eyes.

but you see, mom, that’s the whole fucking point.

Begitulah will grayson ala David Levithan. Saya langsung suka dengan will sejak awal saya membacanya. Weird, quirky, dark dan rada menyebalkan. Khas remaja pria tapi entah kenapa saya lebih suka will grayson versi David ketimbang  Will Grayson-nya John Green yang pesonanya terlibas oleh Tiny Cooper.

will grayson yang jelas mengetahui bahwa dirinya adalah seorang gay sedang dibuat jumpalitan karena seorang laki-laki bernama Isaac. Percakapan mereka via messenger sedikit mengingatkan saya akan jaman-jaman pedekate yang ngobrol ngalur ngidul sambil senyum-senyum sendiri. Ahey.

i never hoped for everything to get better- only for one thing to get better. and it never did. so eventually i gave up. i give up every single day.

but not with isaac. it scare me sometimes. wishing it to work.

Untuk ukuran will yang emotionless dan menurut perkiraan saya pasti jarang berekspresi  juga, kalimat di atas itu mengharukan :’)

My fave cover

My fave cover

Will Grayson Will Grayson adalah buku yang tidak muluk-muluk. Masing-masing dari mereka berusaha mencari jati diri. Berusaha menjadi diri mereka sendiri, meraba-raba kehidupan lewat jatuh bangun kehidupan percintaan. Tokoh di buku ini, baik kedua will, ibu will dan Tiny Cooper terasa sangat nyata. We can find them anywhere. Mungkin itu yang menyebabkan walau sudah lewat lama, buku Will Grayson Will Grayson meninggalkan after effect yang cukup dalam di hati saya.

I love this book!! Senang, sedih, nyesek semuanya jadi satu di sini. Will Grayson memberikan konsep yang baru tentang buku young adult, walau temanya berhubungan dengan gay, buku ini tidak berusaha mencari pembenaran ataupun menitikberatkan pada point bahwa will dan Tiny adalah pria penggemar sesama jenis. Persahabatan, hubungan kekeluargaan, arti teman sesungguhnya, kebutuhan kita untuk berinteraksi dengan yang lain menjadi point dari Will Grayson Will Grayson. Gay atau pun tidak, sebenarnya itulah inti dari kehidupan kita bukan?

5 bintang untuk Will, will dan the one and only Tiny Cooper!

Quote favorit :

“I feel like my life is so scattered right now. Like it’s all the small pieces of paper and someone’s turned on the fan. But, talking to you makes me feel like the fan’s been turned off for a little bit. Like things could actually make sense. You completely unscatter me, and I appreciate that so much.”

“Maybe tonight you’re scared of falling, and maybe there’s somebody here or somewhere else you’re thinking about, worrying over, fretting over, trying to figure out if you want to fall, or how and when you’re gonna land, and I gotta tell you, Friends, to stop thinking about the landing, because it’s all about falling.”

Will Grayson Will Grayson

John Green & David Levithan

Speak, 2010.

310 halaman.

[Review] Daughter of Smoke and Bone – Laini Taylor

Praha.

Gadis misterius berambut biru.

Pemburu gigi.

Portal ke mana saja ala doraemon.

Malaikat bermata oranye dengan tubuh gagah memesona.

Chimaera.

Iblis vs Malaikat.

Cinta terlarang.

Dari Asap dan Tulang

Dari Asap dan Tulang

Lupakan sejenak vampir, manusia serigala, dunia distopia. Kita kembali ke bumi, tepatnya di Praha yang menjadi setting novel pertama trilogi Daughter of Smoke and Bone karangan dari Laini Taylor.Tidak hanya itu kali ini kita mendapat ‘segambreng’ tokoh unik. Chimaera beragam jenis, malaikat ganteng dan Karou, tokoh protagonis yang bisa beragam bahasa dengan fasih berambut biru dengan tato di kedua telapak tangan.

Wajarlah jika Daughter of Smoke and Bone meraih rating yang tinggi di Amazon dan Goodreads, bahkan menurut postingan di blog penulis Universal Pictures resmi akan mewujudkan kisah cinta terlarang angel dan demon versi layar lebar. Yuk kita kupas sedikit soal buku dari penulis yang juga memiliki rambut ajaib berwarna pink ini.

Daughter of Smoke and Bone dibuka dengan kehidupan Karou yang mendalami kelas kesenian di Praha, ia pintar menggambar dan buku sketsanya penuh dengan gambar aneh. Wanita bertudung kobra, laki-laki berparuh burung. Siapa sangka semua itu nyata adanya.

Praha

Praha

Di sebuah bangunan art noveau, di situlah pintu yang dianggap ‘rumah’ oleh Karou. Di bawah saya cantumkan definisi tempat tinggal Karou dan mahluk-mahluk yang mengisi buku sketsanya.

Di mana pun letaknya, toko itu terdiri atas tumpukan raktanpa jendela yang tampak seperti semacam tempat pembuangan sampah peri gigi – itu kalau peri berurusan dengan semua spesies. Taring kobra, gigi anjing, gigi geraham gajah yang melengkung, seri gigi hutan yang eksotis – semua dikumpulkan dalam keranjang dan kotak obat,diikat dalam untaian yang menjuntai dari kaitan, dan disegel dalam ratusan stoples yang bisa diguncangkan seperti alat musik marakas. – hal.49

Terbayang bagaimana suram dan anehnya toko itu >.<

Brimstone: laki-laki besar perpaduan beragam binatang, bertanduk domba jantan yang sering disebut sebagai Wishmonger.

Issa : wanita cantik berwajah malaikat dengan payudara seindah dalam pahatan Kama Sutra, namun bertudung dan bertaring kobra.

Twiga berleher jerapah dan Yasri bermata manusia tapi berparuh burung kakaktua.

Seperti yang tertera di halaman 53 :

Brimstone adalah monster. Jika Brimstone, Issa,Twiga dan yasri berkeliaran di luar toko, itulah sebutan para manusia untuk mereka : monster. Setan, barangkali, atau iblis. Mereka menyebut dirinya sebagai chimaera.

Serem juga yak dipikir-pikir, tapi bagi Karou merekalah teman sekaligus orang tuanya. Siapa dan bagaimana ia bisa dibesarkan di sana Karou tidak tahu. Ia hanya bertugas sebagai pengumpul gigi oleh sosok ‘father figure’nya yaitu Brimstone.

Dulu, ia pernah menjadi gadis polos yang memainkan bulu di lantai sarang iblis. Sekarang ia tak polos lagi, tapi tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk mengatasinya. Inilah hidupnya, sihir, rasa malu, rahasia, gigi-gigi dan kehampaan yang dalam dan menyiksa dalam tubuhnya. hal – 60

Dengan portal di belasan kota Karou mengumpulkan gigi bahkan melukis jika ia sempat. Saat Karou ‘ngidam’ mangga, Brimstone tak pikir panjang dan membukakan portal ke India, dengan syarat ia juga dibawakan beberapa. *huwik, iblis juga bisa makan mangga! :D*

Dan…

Di bagian lain Praha, fenomena cap tangan hitam yangmenempel jelas di pintu ada di mana-mana. Kayu bahkan logam melesak terbakar.

Nairobi. Delhi. Kairo. St. Petersburg.

Menurut anak kecil yang menjadi saksi di New York hal itu dilakukan oleh pria yang meletakkan tangannya di sana, kemudia pintu menyala dan berasap. Dia tidak memiliki sayap, namun bayangannya berasap. Matanya seperti api, percikan api berjatuhan saat ia terbang. Seperti malaikat.

Anak kecil itu tidak salah. Malaikat.

Tersebutlah serdadu seraphim bernama Akiva. Malaikat rupawan yang di punggungnya tampak sepasang pedang bersarung yang disilangkan, tangannya memiliki bekas luka dan tato bertinta hitam yang menghias hingga puncak jemari. Rambutnya dipotong sangat pendek, dengan rambut yang melancip di dahi, kulitnya perunggu keemasan, tulang pipi, alis dan hidung mancung.

Ahey! Ladies, kita menemukan idola baru niiih. *tendang Edward Cullen dan Adam Wilde*

Okeh, sebelum saya semakin meracau tak jelas sepertinya pembaca sudah menebak ke mana larinya cerita ini seperti tagline bukunya :

Once upon a time,

an angel and a devil fell in love.

It did not end well.

Kelanjutan kisah Karou dan Akiva yang ditakdirkan saling membunuh bisa dibaca sendiri yak! Dan bagi yang sudah membaca mari menunggu kelanjutan buku keduanya yang berjudul  Days of Blood and Starlight yang bisa dibaca excerpnya di sini.

Days of Blood and Starlight

Days of Blood and Starlight

Beberapa penghargaan Daughter of Smoke and Bone :

  • AMAZON TOP TEN BOOKS OF 2011
  • AMAZON #1 TEEN BOOK OF 2011
  • YALSA TOP TEN BEST FICTION FOR YOUNG ADULTS, 2012
  • WINNER, AUDIE AWARD FOR BEST FANTASY AUDIOBOOK, 2012
  • NEW YORK TIMES NOTABLE CHILDREN’S BOOK OF 2011
  • PUBLISHER”S WEEKLY BEST BOOKS OF 2011
  • SCHOOL LIBRARY JOURNAL BEST BOOKS OF 2011
  • KIRKUS REVIEWS BEST TEEN BOOKS OF 2011
  • LOS ANGELES PUBLIC LIBRARY, BEST OF 2011
  • CHICAGO PUBLIC LIBRARY, BEST OF THE BEST 2012
  • BARNES & NOBLE REVIEW, BEST YA FICTION OF 2011
  • LOCUS (MAGAZINE OF SCIENCE FICTION & FANTASY) REC READING LIST 2011
  • YALSA 2012 READER’S CHOICE BOOKLIST
  • A JUNIOR LIBRARY GUILD SELECTION, 2011
  • ABC BEST CHILDREN’S BOOK CATALOG, 2011
  • FINALIST, ANDRE NORTON AWARD
  • FINALIST, CHILDREN’S CHOICE BOOK AWARDS TEEN BOOK OF THE YEAR
  • WINNER, OREGON SPIRIT BOOK AWARD

Banyak! Walau begitu menurut saya ada sedikit uneg-uneg saya soal buku ini : Klimaksnya kurang tegang apa karena masih banyak permasalah yang dimunculkan penulis di buku selanjutnya? We’ll see. Kemudian ujug-ujug mereka jatuh cinta padahal belum kenal-kenal amat, hyaeyalah namanya juga ini romance Mi! Hanya saja perkenalannya kurang dalam kalau menurut saya, lain dari itu sih masih bisa diterima, jadi tunggu apa lagi? Baca bukunya dan nikmati keindahan Praha dan jadilah saksi cinta Akiva dan Karou. Jih, berasa kaya tukang obat ga sik saya?

Beberapa quote favorit saya yang saya kutip langsung dari Goodreads *males ngetik ulang* 😀

“Hope can be a powerful force. Maybe there’s no actual magic in it, but when you know what you hope for most and hold it like a light within you, you can make things happen, almost like magic.”

Dan kalimat Brimstone saat menasehati Karou awalnya sih bijaksana, terakhirnya dooong bikin ngakak.

“I don’t know many rules to live by,’ he’d said. ‘But here’s one. It’s simple. Don’t put anything unnecessary into yourself. No poisons or chemicals, no fumes or smoke or alcohol, no sharp objects, no inessential needles–drug or tattoo–and…no inessential penises either.’

‘Inessential penises?’ Karou had repeated, delighted with the phrase in spite of her grief. ‘Is there any such thing as an essential one?’

‘When an essential one comes along, you’ll know,’ he’d replied.”

Cheers!

Oia, coba buka blog resmi Daughter of Smoke and Bone deh! Keren! Dan juga blog resmi Laini Taylor, ada trailer resmi dari Amerika dan Inggris dari berbagai sudut pandang (Akiva, Karou, Brimstone, Issa dan Zuzana) selain itu kita bisa melihat cover Daughter of Smoke and Bone dalam berbagai versi.

Book trailer versi USA :

Book trailer versi UK

Detail buku :

Judul : Dari Asap dan Tulang

Penerjemah : Primadonna Angela (saya suka terjemahan beliau, bahkan baru menemukan kata baru ‘birai’) :p

488 halaman, cetakan pertama,  September 2012, Gramedia Pustaka Utama.

Character Thursday #7

Woohoo! Halo Kamis, halo Jakartans! Sudah selesai memilih Gubernurkaaah?? *blogger kepo*

Character Thursday

Character Thursday

Saya ga ngerti banyak soal politik, jadi mari kita kembali ke meme blog yang dihosting oleh Mbak Fanda 🙂 Hari ini kita membahas tokoh unik berambut biru cerah bernama Karou.

Karou menghabiskan hari normalnya sebagai Art student (sori pakai bahasa Inggris, habisnya kalau saya ubah menjadi siswi sekolah kesenian rasanya tidak pas :D). Err, hari normal? Yak, kalian tidak salah baca kok, karena kalau hari tidak normal Karou bertugas sebagai pengumpul gigi hewan dan manusia. Nah loh, tambah bingung kan? Saya juga bingung nih dalam bercerita agar tidak menyebar spoiler di mana-mana, hehe. Karou yang yatim piatu diasuh dan dibesarkan oleh chimaera (demon) bernama Brimstone.

Kaoru

Karou

Karou pintar melukis, bahkan teman-teman sekelasnya selalu menantikan lukisan terbaru Karou yaitu Brimstone, Issa perempuan bertubuh ular dari pinggang ke bawah yang memiliki tudung dan taring kobra, Twiga yang berleher jerapah  dan Yasri bermata manusia dan berparuh burung kakaktua. Yang teman-temannya tidak ketahui adalah tokoh di buku sketsa Karou benar adanya.

Tak hanya memiliki kehidupan di dua dunia yang sangat berbeda, Karou juga fasih berbicara dalam banyak bahasa dan di tangannya tergambar tato mata satu yang misterius. Untuk apakah mata itu dan siapakah Karou sebenarnya silahkan dibaca lebih lanjut di buku fantasy young adult terbaru terbitan Gramedia, Daughter of Smoke and Bone.

Daughter of Smoke and Bone

Daughter of Smoke and Bone

Seru! Tunggu review lengkapnya dalam waktu dekat yaaa! Dan siapakah character Thursdaymu kali ini?