2012 · fantasy · karya anak negeri

[Review] Tabir Nalar – Rynaldo C. Hadi

Jadi begini ceritanya, saya bertemu dengan Rynaldo C. Hadi karena kebetulan doi tinggal di Bali juga dan souvenir dari Mbak Truly dititipkan dia untuk diberikan kepada saya. Ho’oh, mbulet memang. Akhirnya kami ngopi sore sambil ngobrol-ngobrol dan di sanalah saya baru tahu kalau Aldo ini pengarang seri Vandaria Saga yang berjudul Tabir Nalar.

Me : Wooh, kamu yang nulis buku ini? *sambil bolak balik Tabir Nalar*

Aldo : Iya, gara-gara menang cerita favorit jadinya diterbitkan. Ini bukunya buat kamu aja.

Me : Aaaak, terima kasihh, tapi ini covernya rada-rada ya 😀

Aldo : Err, iya banyak yang bilang sih 😐

Beberapa hari kemudian saya mulai membaca Tabir Nalar, walau dengan sedikit perasaan was was. Kenapa was was?

1. Saya bosan dengan fantasi.

2. Sedikit trauma dengan fantasi lokal Indonesia.

3. Bok, ini penulis  sudah saling follow di Twitter, kalau ntar ga suka kan repot juga 😀

Okelah lanjut, saya membaca Tabir Nalar tanpa berharap apa-apa walau sedikit penasaran juga karena rating di Goodreads lumayan tinggi di atas 3,7 kalau tidak salah.

Tabir Nalar
Tabir Nalar

Sekilas sinopsis Tabir Nalar – Vandaria Saga :

Setelah tiga ribu tahun lamanya berkuasa, akhirnya dominasi bangsa frameless terhadap manusia diruntuhkan oleh Raja Tunggal. Kini kedudukan bangsa frameless dan manusia setara. Namun tidak semua pihak senang akan kesetaraan itu. Sebuah organisasi rahasia muncul dan mengoyak kedamaian antara frameless dan manusia dengan serangkaian pembunuh.

Cervale Irvana, sang pembaca pikiran, berusaha menguak misteri di balik pembunuhan itu. Ia membuka rahasia organisasi misterius itu dan menemukan kenyataan yang sulit ia percayai.

Berkisah tentang seorang frameless ganteng sekaligus angkuh bernama Cervale Irvana yang menghadapi misteri pembunuhan rekan-rekannya sesama kaum frameless. Ditambah dengan kode-kode misterius ala Digital Fortress, Cervale dibantu dengan gadis manis bernama Rilsia berusaha memecahkan dan menghentikan pembunuhan kaum frameless yang terus berjatuhan. Namun petunjuk demi petunjuk malah membuat Cervale terperangah dan yang harus ia lakukan adalah mengikuti kata hatinya. Berhasilkah ia? Lanjut baca sendiri dan mari berpetualang di Vandaria bersama Cervale!

3,5 bintang untuk Tabir Nalar, kecemasan saya tidak terbukti, bahkan untuk ukuran ‘newbie’ yang tidak pernah membaca seri Vandaria, saya sangat menikmati sepak terjang Cervale.

Ilustrasi dan tulisan yang ‘ramah’ untuk mata menunjang kenikmatan saya membaca Tabir Nalar dan mengenal Cervale, Rilsia, Barad dan lainnya, walau penggambaran tokoh perempuannya rada-rada bahenol tapi tetap okelah. :p

Cervale, Rilsia
Cervale, Rilsia

Tapi menurut saya yang memegang peranan penting adalah karakterisasi tokoh dan alur yang diciptakan pas oleh penulis. Awalnya saya sempat tidak percaya kalau Tabir Nalar adalah buku pertama Rynaldo, memang ada beberapa bagian yang sedikit kaku dan masih perlu polesan tapi pengenalan Vandaria dideskripsikan dengan pas. Saya juga suka penokohan Cervale dan tokoh penting lainnya macam Barad, Alevor bahkan Kanselir Shah Azhad.

Baru kali ini saya membaca fantasi lokal dengan nuansa misteri ala Dan Brown di buku Demons and Angels. Pembunuhan demi pembunuhan, gulungan darah berisi kode untuk target selanjutnya membuat saya penasaran dan ikut menebak-nebak siapa gerangan si pembunuh. Pertarungan seru dan twist ending di akhir kisah lumayan bikin greget dan membuat novel Tabir Nalar sayang untuk dilewatkan.

Good job, Rynaldo. Keep on writing yak, ditunggu novel keduanya. I want to know more about Cervale!

 

Cheers.

 

chicklit · not mine

Cocktails for Three – Madeleine Wickham

Tiga wanita cerdas dan sukses, bekerja di dunia majalah yang sibuk. Mereka bertemu untuk berbagi koktail dan gosip sebulan sekali.

Roxanne: glamor, percaya diri, memiliki kekasih gelap—dan berharap pria itu akan meninggalkan sang istri dan menikah dengannya.

Maggie: ambisius dan mumpuni dalam pekerjaan, hingga ia menemukan satu hal yang tak dapat diatasinya: menjadi ibu.

Candice: polos, baik hati, jujur—hingga suatu ketika hantu masa lalunya muncul dan mengacau-balaukan hidupnya.

Pertemuan tak disangka-sangka di bar koktail menggulirkan serangkaian peristiwa yang kemudian mengguncang kehidupan mereka dan mengancam akan menghancurkan persahabatan mereka yang unik.

Klub Koktail
Klub Koktail

Covernya cantik yaa 🙂

Klub Koktail adalah buku karangan alter ego dari Sophie Kinsella pertama yang saya baca. Walau Sophie Kinsella dan Madeleine Wickham adalah orang yang sama tapi gaya penceritaannya sangat berbeda. Sama-sama bergenre chicklit tapi Cocktails for Three terasa lebih gelap dan satir.

Cocktails for three berkisah tentang kehidupan 3 wanita yang sudah tidak muda lagi dengan masalahnya sendiri-sendiri walau benang merahnya sama. Rahasia.  Maggie yang bergulat dengan kekhawatirannya sebagai ibu, Roxanne yang disibukkan oleh hubungan gelap dengan suami orang dan Candice, tokoh yang paling ingin saya pentung kepalanya polos namun hampir kehilangan pekerjaan akibat teman SMAnya muncul dan mulai merongrong kehidupannya.

Secara sekilas memang tema persahabatan selalu menarik untuk diselami, sayangnya gaya penulisan Madeleine kurang greget dan berjiwa. Saya tidak merasakan kedekatan 3 wanita kosmopolitan sepanjang membaca Cocktail for Three. Karakternya mentah dan seakan berdiri sendiri.  Tidak tercermin hubungan pertemanan wanita yang hangat dan semarak. Untungnya konflik yang muncul lumayan ‘semarak’ dan membuat saya penasaran bagaimanakah kisah ini akan berakhir. Temanyapun cukup berat : isu motherhood, hubungan gelap dan kekacauan masa lalu yang muncul kembali.

Saya terkecoh dengan nama Sophie Kinsella yang kerap kali memunculkan tokoh wanita sedikit ‘bodor’ namun menarik. Kali ini tokohnya sih memang ada yang rada kacau tapi kurang menghibur namun untuk bacaan di kala senggang boleh juga buku Cocktails for Three ini dijadikan pilihan. Seusai membaca saya jadi kangen jaman kuliah dulu di mana bisa cerita ngalor ngidul dengan sahabat sambil menyesap kopi. Kebiasaan yang sudah langka karena kesibukan pekerjaan dan teman-teman yang sudah berpencar mulai dari di Bogor sampai Papua.

Oia, satu yang mengganggu entah apa yang ada di pikiran pengarang saat menuliskan kalimat pembukaan di saat Candice hendak bercinta dengan pasangannya. Saat Ed merengkuhnya dengan penuh tekad, berdiri dan membawanya ke dalam rumah, menaiki anak tangga, tungkai Candice segemetar anak sapi yang baru lahir. Heu… Kok ga ada romantis-romantisnya ya? Malah kebayang anak sapi 😀

Terima kasih mbak Ferina untuk pinjamannya 🙂

Detail buku : Coctail for Three / Klub Koktail

Pengarang : Madeleine Wickham

Gramedia, Cetakan I Juni 2011, 440 halaman.

adventure · buntelan · fantasy

Emerald Atlas, The Books of Beginning #1

Sinopsis : Kate, Michael, dan Emma sudah berulang kali berpindah dari satu panti asuhan ke panti asuhan lain, dan yang berikutnya selalu lebih buruk dari pada sebelumnya. Tapi Kate tidak pernah melupakan janjinya pada sang ibu, untuk selalu menjaga adik-adiknya. 

Kate tidak pernah bisa mengingat jelas kenangan tentang kedua orangtuanya, tapi dia tahu pasti, ibunya berjanji keluarga mereka akan berkumpul lagi suatu hari nanti. Michael selalu percaya pada hal-hal mistis yang membuatnya mendapat masalah dan dijadikan bulan-bulanan di panti asuhan. Emma bertempramen sangat buruk dan mudah sekali meledak. 

Namun ketiga bersaudara ini tetap bertahan bersama-sama, sampai akhirnya nasib membawa mereka ke dalam petualangan seru, menyingkap garis takdir mereka yang luar biasa. 

Segera saja mereka terhanyut dalam perjalanan ajaib ke sudut-sudut dunia yang penuh rahasia dan berbahaya… Perjalanan yang mempertemukan Kate, Michael, dan Emma dengan sahabat-sahabat dan musuh-musuh. Dan menurut sebuah ramalan kuno petualangan mereka akan mengubah sejarah… Dan nasib banyak orang… 

Akankah mereka menemukan rahasia identitas keluarga mereka dan berkumpul kembali dengan orangtua mereka?

Emerald Atlas
Emerald Atlas

Review :

Apa yang terbayang saat membaca sinopsis di atas?  Narnia? Lemony Snickett’s? Atau malah Golden Compass? Kalau saya perpaduan dari ketiganya, anak ‘yatim piatu’ terjebak dalam dunia lain dan mengemban misi menyelamatkan dunia. Dunia Kate, Michael dan Emma berubah dalam sekejap saat malam natal, ayah ibunya menghilang dan mereka terbangun dalam sebuah panti asuhan. Dari panti asuhan satu ke yang lain, nasib mereka bertiga tidak jelas plus ayah ibu tidak jelas keberadaannya bahkan nama keluarga mereka juga misterius “P”saja.

Kate masih beruntung, ia masih bisa mengingat orang tuanya dan pesan ibunya yang mengatakan bahwa mereka pasti kembali. Michael, laki-laki kurus berkacamata dan sangat mengidolakan kurcaci. Emma, si bungsu paling jago berkelahi.

Suatu ketika Kate, Michael dan Emma berpindah ke panti asuhan Cambridge Falls yang misterius. Suatu tempat yang terlupakan dan banyak kejanggalan aneh yang mereka rasakan. Siapakah laki-laki yang mengadopsi mereka? Terlebih lagi sejak mereka menemukan sebuah buku hijau yang akan memutarbalikkan nasib mereka. Kurcaci, time travel, penyihir, adalah sebagian dari hal menarik yang ditemukan di buku Emerald Atlas.

Anak yatim piatu sering kali menjadi tokoh utama buku fantasi, sebut saja Harry Potter dan tiga bersaudara Pevensie di seri Narnia. Kate ini tipe anak pertama banget, Michael sedikit tidaknya mirip dengan karakter John Stephens sendiri. Sama-sama berkaca mata dan mengidolakan kurcaci. Karakter yang lovable, plot yang tidak bertele-tele adalah kekuatan buku pertama dari trilogi Emerald Atlas. Pengarang yang juga adalah penulis serial Gilmore Girls dan The OC. mampu membuat saya berhasil menghabiskan Emerald Atlas dalam waktu dua hari.

Buku ini cocok dibaca untuk semua umur walau golongan Middle Grade adalah sasaran utama. Fantasi yang tidak terlalu kelam, saya tidak merasakan aura gelap vampire dan werewolves, memang sih ada penyihir sakti tapi apa pula serunya membaca buku kalau tidak ada tokoh antagonis? 🙂

Sayangnya di bagian akhir, time travel yang cukup sering disebut sempat membuat saya bingung. Doh, tadi katanya middle grade tapi sudah umur segini masih ga ngerti 😀 Satu lagi, coba saja ada gambar peta yang melukiskan Cambridge Falls dan dunia yang ada di dalamnya bakal lebih menarik!

Gramedia
Versi Gramedia

Tidak seru mereview buku kalau tidak menyebut soal cover bukan? Saya suka cover aslinya, cover Gramedia kurang ‘segar’ warna hijaunya terlalu kinclong dan siluet 3 anak yang ada di gambar kurang mewakili karakter Emma. Emma disebutkan sebagai anak yang berani bahkan sering kali berkelahi jika Michael diejek, tinggi badan mereka hampir mirip. Sedangkan di cover Emma terlihat sangat mungil malah lebih mirip dengan anak balita. Terjemahan mbak Poppy enak dan minim typo. 3 bintang!

Detail buku : Emerald Atlas : Buku-buku Permulaan – John Stephens, cetakan I -Juli 2011. Alih bahasa : Poppy Damayanti Chusfani. Desain cover : eMTe.

Jangan lupa mampir ke website resmi Emerald Atlas, selain bisa mendownload activity guide, ada trailer buku dan gambar beberapa tokoh penting di buku selain Kate, Michael dan Emma.

buntelan · fantasy · love love love · young adult

Fallen for Daniel

Sinopsis dari Goodreads :

Luce Price merasa pernah sangat mengenal Daniel Grigori.

Cowok misterius dan dingin itu menarik perhatian Luce begitu mereka bertemu pada hari pertama di sekolah berasrama Sword & Cross. Di tempat yang melarang ponsel, dihuni anak-anak bandel, dan penuh kamera pengawas, rasanya cuma cowok itu yang menyenangkan.

Tetapi, Daniel tidak mau berurusan dengan Luce—ia terang-terangan menunjukkan keengganannya. Sementara Luce tertarik padanya bagai ngengat terhadap api. Ia merasa harus tahu apa yang begitu ingin dirahasiakan Daniel… meskipun dengan taruhan nyawa.

Fallen
Fallen

Review :

Luce, gadis muda yang sejak kecil merasa dihantui oleh bayangan-bayangan hitam. Sudah tak terhitung banyaknya menenggak obat penenang dan berganti dokter namun bayangan itu tak pernah hilang. Sampai suatu ketika kejadian tragis menimpa Trevor, teman dekat Luce. Trevor meninggal terbakar dengan Luce sebagai saksi tunggal, namun di sisi lain ia sendiri tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

Orang tua Luce menyerah dan menyekolahkan Luce di Sword and Cross boarding school. Jreng jreng jreng, Luce bertemu dengan Daniel. Pria keren berwajah angkuh berambut pirang. Luce merasa seakan sudah mengenal Daniel dan tertarik untuk mengenal Daniel lebih jauh. Apa daya yang ada malah Daniel bersikap begitu angkuh, masa pertemuan pertama sudah mengacungkan jari tengah? Ngek. Agar cerita semakin seru muncul jugalah tokoh pria kharismatik dan sangat bersahabat di tengah lingkungan sekolah Luce yang aneh, Cameron.

Pertengahan sampai akhir buku mengisahkan Luce yang kebingungan menghadapi jerat cinta Cameron dan kebebalannya untuk selalu mengekor Daniel. Misteri mulai terkuak di akhir buku, siapa sebenarnya Daniel dan kenapa Luce merasa sudah begitu mengenalnya.

Huft. Sulit nih buat review Fallen, saya berusaha menyukainya. Rating Amazon dan Goodreads yang tinggi plus Gramedia sepertinya menaruh banyak harapan dengan buku ini terbukti dengan tetap memakai cover aslinya. Memang cover aslinya keren sih 🙂

Saya kurang merasakan ikatan emosi dengan tokoh utama buku ini. Luce yang seakan-akan merasa dunia bergoncang bila ia jauh dari Daniel, terus terang saya tidak habis pikir.Bentar ganti Cam, bentar lagi ganti Daniel. Ring a bell? Yes, mirip Isabella Swan di antara Jacob dan Edward. Saya bukan TW hater malahan di buku pertama saya jatuh cinta dengan Edward. Balik ke Fallen, Luce membuat saya berpikir ulang tentang Bella yang klemar klemer. Sikap Daniel yang kasarnya tidak masuk akal kenapa tetap membuat Luce malah semakin jatuh hati dengannya? Luce pas deh untuk potret remaja ababil jaman sekarang :p

Sedikit sentuhan romance berbalut fantasy, twisted ending, cinta segitiga sepertinya menjadi formula ampuh untuk membuat sebuah novel menjadi best seller. Entah saya yang selera bacanya menurun atau sudah terlalu uzur untuk membaca novel Young Adult, 2 bintang saya sematkan untuk Fallen. Oia perjalanan cinta Luce – Daniel- Cam bakal berlanjut di buku selanjutnya Torment, Passion dan Rapture buku keempat yang bakal terbit tahun depan.

Curhat sedikit padahal saya suka segala hal yang berhubungan dengan mermaid dan fallen angel tapi sampai saat ini belum pernah klik jika membaca buku yang berkisah tentang mereka. Fallen angel lain bisa kita jumpai di Hush Hush yang juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa via penerbit Ufuk. Mizan juga ikut menerbitkan kisah The Fallen karangan Thomas E. Sniegoski. Ada juga Awakened yang saya kurang jelas penerbitnya siapa.

Detail buku : Fallen – Lauren Kate. Gramedia, 440 halaman, cetakan I Juli 2011, alih bahasa Fanny Yuanita, editor Dini Pandia.

 

 

graphic novel · inspiring · kids just wanna have some fun · young adult

Senyum manis Raina, a dental drama.

Cover simpel, gambar kawat gigi yang kinclong serta nominasi Eisner Award membuat saya tanpa ragu membeli Graphic Novel terbaru terbitan Gramedia. Saya tidak salah pilih, Senyum langsung saya lalap habis dalam semalam.

Senyum
Senyum

Senyum mengisahkan seluk beluk kehidupan seorang gadis remaja yang sedang getol-getolnya mencari jati diri. Menjadi pelajar normal yang banyak teman adalah impian Raina, apa daya sepertinya masalah selalu menghampiri. Keluarga, teman yang suka meledek, mulai taksir-taksiran dan lirik- lirik kakak kelas sampai masalah besar yang menghantui hidupnya hingga beberapa tahun ke depan. Gigi!

Siapa sangka gigi bisa menjadi problem hidup Raina? Berawal dari tersandung, dua gigi depan Raina ‘mblesak’ ke rahang, sehingga kunjungan dokter gigi menjadi rutinitas dalam hidupnya. Mulai dari orthodontist, endodontist sampai periodontist. Kalimat Raina,  “Aku bahkan tidak tahu ada ‘dontis’ sebanyak ini” saat ia harus membersihkan karang giginya ke periodontist (hal 164) membuat saya tertawa. Jadi ingat saat saya  masih menjadi mahasiswi Fakultas Kedokteran Gigi, saya juga tak menyangka ada begitu banyak spesialisasi dokter gigi.

Belum cukup memakai behel, Raina juga diharuskan memakai head gear selama beberapa waktu (halaman 55). Aduh terus terang itu alat memang tidak ‘happening’, bagi yang pernah menonton video klip Last Fiday Night, nah ada adegan di mana Katy Perry menggunakan head gear.

Katy Perry's head gear
Katy Perry's head gear

Senyum menjadi graphic novel favorit saya, ilustrasi Telgemeier yang simpel dan elegan, kisah Raina yang berdasar pengalaman hidupnya sendiri menjadikan buku ini sayang untuk dilewatkan. Raina mengajarkan kita arti persahabatan yang sesungguhnya dan panggilan jiwa yang terkadang saat remaja kita lupa.  “Semakin fokus pada hal-hal yang kuminati, semakin banyak hal yang kusukai pada diriku. Dan itu mempengaruhi cara orang lain memandangku.” halaman 207. Raina yang rendah diri karena kawat gigi akhirnya berhenti mengasihani diri sendiri dan memusatkan perhatian pada hal-hal yang digemarinya (hal 206). Penampilan luar tak lagi memengaruhi perasaan dalam hatinya dan sekarang Raina bisa tersenyum lepas tanpa beban.

Senyum Raina :)
Senyum Raina 🙂

5  bintang!

Saya sebagai eks pemakai behel merasakan keribetan Raina. Bukan bedak dan sisir barang wajib yang ada di tas, melainkan sikat gigi, benang floss, kait floss, tusuk gigi, cermin kecil dan kadang seplastik karet benang kecil seperti yang ada di halaman 184. Ribet banget deh!

Karet elastik Raina
Karet elastik Raina

Kejadian lucu lain saat Raina harus dicetak giginya oleh Orthodontist (dokter gigi spesialis untuk merapikan gigi) – halaman 40. Cetakan harus dibiarkan sampai mengeras di dalam mulut. Wajah Raina yang menahan nafas menahan muntah juga membuat saya tertawa terbahak-bahak, karena dulu saya juga merasakan hal yang sama saat dicetak. Bagi yang penasaran bagaimana bentuk sendok cetak dan bahan cetak gigi, di bawah saya sertakan gambarnya.

Proses mencetak gigi
Proses mencetak gigi

Saat gigi Raina hendak dibor oleh Endodontis (dokter gigi spesialis perawatan saluran akar atau yang biasa disebut ahli konservasi gigi), sebelumnya ia diharuskan menghirup N2O atau yang biasa disebut gas gelak. Setelah beberapa menit, Raina menjadi tidak cemas dan agak ‘fly’ melayang-layang sehingga proses perawatan saluran akar berjalan lancar karena ketegangan Raina berkurang. Gas gelak hampir dipakai oleh semua dokter gigi luar untuk melancarkan proses perawatan, namun sayang di Indonesia sangat jarang karena ijinnya susah dan perlu pengawasan dari pihak yang terkait. Bagi yang ingin mengetahui lebih banyak mengenai gas gelak bisa meluncur ke http://www.dentalfearcentral.org. Di sana kita juga bisa mendapatkan informasi bagaimana mengatasi kecemasan saat mengunjungi dokter gigi. Webnya bagus dan informatif.

Satu lagi spesialis yang disebutkan di buku Senyum adalah periodontist, dokter gigi yang ahli di bidang jaringan penyangga gigi. Kalau hendak membersihkan karang gigi, nah periodontist ini ahlinya. Proses scalling atau pembersihan karang gigi sering kali menjadi momok juga karena pengambilan karang gigi terkadang mengeluarkan darah, sampai Raina stress sendiri saat melihat mulutnya (halaman 166). Proses pembersihan karang gigi agar lebih jelas saya cantumkan di bawah ini, gambar didapat dari google image.

Pembersihan karang gigi
Pembersihan karang gigi

Siapa sangka kisah pengalamannya di usia 6 tahun jatuh di parkiran yang berlanjut dengan kunjungan ke dokter gigi bertahun-tahun menjadi ide untuk penulisan buku Smile. Bahkan buku novel grafis terbaru terbitan Gramedia ini menjadi nominasi EisnerAward tahun 2011, penghargaan bergengsi di dunia novel grafis. Yah mirip-mirip Oscarnya dunia perfilman, 2010 Editor’s Choice New York Times Book Review, 2011 YALSA Top 10 Great Graphic Novel for Teens pick dan finalis Choice Book Award.

Bersama dengan suaminya, Dave Roman yang juga seorang kartunis mereka mengeluarkan komik ala manga berjudul X-Men : Misfits. Ayo Gramedia, terbitkan juga dong :p

Proyek royokan Raina dan Dave
Proyek royokan Raina dan Dave

Detail buku : Senyum – Raina Telgemeier. Penerjemah : Indah S. Pratidina, cetakan I, Juni 2011.


karya anak negeri

Kicau Kacau – Indra Herlambang

Buku yang lumayan menghebohkan di twitter bahkan sudah cetak ulang keenam kalinya kalau tidak salah. Warna covernya kinclong, kuning ngejreng!

Kicau Kacau
Kicau Kacau

Indra Herlambang yang saya kenal di tv adalah seorang laki-laki yang nyinyir pas banget dengan Cut Tary, saya paling demen nonton insert kalau mereka berdua yang jadi presenternya. Ternyata kepribadiannya tak jauh beda dengan tulisannya yang dikumpulkan menjadi buku Kicau Kacau. Blak-blakan, kadang terkesan bodor namun pintar juga merangkai kata. Bahkan selesai membaca Kicau Kacau saya merasa ‘dekat’ dengan Indra, bisa jadi karena tulisannya yang apa adanya, sosok Indra Herlambang terlihat sebagai manusia biasa yang sama seperti saya bukannya artis yang tak terjamah.

Kicau kacau terbagi menjadi 4 bagian berdasar tema, tentang gaya hidup, hubungan antar manusia, gemerlap ibukota dan terakhir mengenai keluarga. Saya paling suka bab pertama dan bab terakhir. Saya mengerti kenapa gaya hidup dijadikan bab pembuka karena tulisan Indra yang renyah dengan cepat membuat kita menyukai buku ini bahkan terkadang senyum-senyum sendiri saat membaca celotehannya yang cerdas. Bab berikutnya agak membosankan, dan bab terakhir tentu saja menjadi favorit saya. Ayah, ibu, keluarga jelas memiliki ikatan batin yang kuat dengan sang penulis sendiri sehingga saya sebagai pembaca turut merasakan hangatnya keluarga Indra Herlambang yang ternyata sangat ‘njawani’.

Tiap cerita diawali dengan potongan tweet Indra Herlambang, beberapa di antaranya yang menjadi favorit saya :

Age plus memories equals nonstop nostalgic rambling. 

Anger breeds more anger. Hate breeds more hate. It’s time to use contraception and stop the breeding. 

So in the spirit of today’s celebration: PMS is biology, not politics. Deal, women? *uhuk* tertohok :p

Dan yang terakhir : Aren’t we all trapped in our little ‘prisons’? Jobs, relationships, daily routines. If we can’t break free, it’s time to decorate them.

Nice job, mas Indra. Teruslah berkarya, saya menanti buku anda selanjtnya.

PS : Kicau Kacau membuat saya kangen curhat di blog pribadi yang sudah tak tersentuh berbulan-bulan 🙂

BBI · classic · love love love

Too Much Love Will Kill You, Heathcliff!

Woohoo, akhirnya tanggal yang ditunggu-tunggu tiba juga! 31 Mei 2011. Postingan serempak Blogger Buku Indonesia, proyek perdana kami adalah baca bareng Wuthering Heights. Dari sekian banyak pilihan buku yang masuk daftar polling, WH ternyata memiliki tempat tersendiri di hati para blogger, selain buku klasik yang pastinya sering disebut, WH menjadi lebih populer lagi sejak Bella Swan tokoh utama buku Twilight series juga menyukai buku ini. Plusnya lagi WH terbitan seri klasik Gramedia dengan lambang bunga mawar merah di kanan bawah sudah tentu jaminan mutu terjemahan bagus dan minim typo.

versi Gramedia
versi Gramedia

Wuthering Heights mengisahkan cinta yang tak sampai antara Heathcliff dan Catherine Earnshaw. Sayangnya status anak pungut dan tanpa gelar yang jelas menyurutkan niat Catherine untuk menikahinya, bahkan akhirnya Catherine menikah dengan Edgar Linton yang tak lain musuh bebuyutan Heathcliff sedari kecil. Putus asa, dengki, dendam mengakar dalam diri Heathcliff sehingga ia bertekad melarikan diri dan menyusun rencana besar dalam hidupnya. Suatu saat, ia akan kembali. Bukan sekedar untuk menunjukkan ia akan menjadi orang yang besar dan berhasil, Heathcliff datang untuk balas dendam dan menghancurkan hidup orang-orang yang sebelumnya telah menghancurkan hidupnya sendiri.

Kisah cinta Catherine – Heathcliff serta runutan cerita Wuthering Heights pastinya akan lebih jelas direview oleh teman-teman blogger yang lain, saya tidak bakat menulis sinopsis kisah panjang-panjang ;p namun ijinkan saya bercerita tentang kesan dan pesan saya selama membaca Wuthering Heights. Satu kata : capek! Terus terang saya lelah sekali membaca buku ini dan tergolong lambat dalam menyelesaikannya. Dari bab awal nuansa gelap dan kelam sangat terasa, terlebih lagi alur kisah yang flash back dan lumayan banyak tokoh yang diceritakan sejak awal sempat membuat saya bingung. Untungnya mulai sepertiga buku saya mulai bisa menghafal nama-nama tokoh plus lagi gambar family tree Earnshaw – Heathcliff lumayan membantu 🙂

Famiy Tree - WH
Famiy Tree - WH

Tokoh utama Heathcliff bukanlah pria dewasa gahar seperti yang ada di novel-novel romance ataupun pria pendiam menghanyutkan ala Edward Cullen. Heathcliff adalah tokoh pria kasar, dingin, bengis, gelap, cemberut senantiasa bahkan cenderung sakit mental (in my opinion).  Terus terang saya tidak habis pikir bagaimana ada orang bisa hidup dalam kebencian yang berakar dalam hatinya? Berkali-kali saat saya membaca buku ini, ingin sekali saya menendang Heathcliff dan berkata kepadanya, “hello mister! mbok ya senyum po’o sekali-sekali, masih banyak perempuan cantik yang mau dengan anda lho kalo anda berubah” . Meh.

Buku klasik yang terbit tahun 1847 adalah satu-satunya karangan Emily Bronte yang tak lain adalah saudara Charlotte Bronte penulis buku klasik Jane Eyre yang digadang-gadang sebagai cikal bakal novel Historical Romance. Wuthering Heights termasuk dalam list 1001 buku yang harus dibaca. Walaupun pikiran tokoh utamanya susah diselami, penokohan karakternya juara! Setiap tokoh yang ikut ambil bagian dalam cerita mendapat porsinya masing-masing dengan pas, hebatnya lagi karakternya seakan-akan berjiwa dan hidup, tak heran rating di amazon maupun goodreads cukup tinggi. Bahkan sampai selesai membaca WH, beberapa adegan masih terbayang-bayang di otak, hal yang jarang terjadi jika saya membaca novel.

Wuthering Heights berkali-kali diadaptasikan ke dalam film, list jelasnya bisa dibuka di imdb.com namun yang ingin saya tonton adalah adaptasi tahun 1992 yang dibintangi oleh Ralph Fiennes dan Juliet Binoche. Penasaran seperti apakah tokoh Heathcliff jika difilmkan :p

Wuthering Heights
Wuthering Heights

Cover Wuthering Heights rata-rata bernuansa abu gelap, terkadang ada gambar rumah, wanita termenung atau pria berdiri sendiri.

Penguin Classic version
Penguin Classic version
Klett version
Klett version
Ruben Toledo, Penguin Edition
Ruben Toledo, Penguin Edition

Bicara soal cover tak ada habisnya dan favorit saya adalah gambar paling bawah, karya seorang pelukis dan ilustrator terkenal Ruben Toledo. Seram tapi sarat dengan nilai artistik.

Ah, kembali ke Wuthering Heights, kalimat penutup untuk review saya copy dari blogcritics.org : In its own way, Wuthering Heights is a perfect read for a long weekend. It is a novel about what happens when the guy doesn’t get the girl and how the universe can be set right again. In between, there is melodrama, tragedy, madness and, possibly, ghosts. It’s a quick read, a fun one, and the kind of book that gives you a little bit of insight into the stew of popular culture. Plus, it’ll make you feel good about yourself, since you’re almost certainly wiser, more humble, and less shallow than any of Bronte’s classic characters.

Happy Tuesday, people! Selamat beraktivitas dan berikan peluk cium untuk saudara terkasih di sekeliling anda dan jangan biarkan cinta membunuhmu, yuk nyanyi bareng Queen 🙂

I’m just the pieces of the man I used to be
Too many bitter tears are raining down on me
I’m far away from home
And Ive been facing this alone
For much too long

I feel like no-one ever told the truth to me
About growing up and what a struggle it would be
In my tangled state of mind
I’ve been looking back to find
Where I went wrong

Too much love will kill you
If you can’t make up your mind
Torn between the lover
And the love you leave behind
You’re headed for disaster
Cos’ you never read the signs
Too much love will kill you
Every time

I’m just the shadow of the man I used to be
And it seems like there’s no way out of this for me
I used to bring you sunshine
Now all I ever do is bring you down
How would it be if you were standing in my shoes
Cant you see that it’s impossible to choose
No there’s no making sense of it
Every way I go I’m bound to lose

Too much love will kill you
Just as sure as none at all
It’ll drain the power that’s in you
Make you plead and scream and crawl
And the pain will make you crazy
You’re the victim of your crime
Too much love will kill you
Every time

Too much love will kill you
It’ll make your life a lie
Yes, too much love will kill you
And you wont understand why
You’d give your life, you’d sell your soul
But here it comes again
Too much love will kill you
In the end…
In the end.