And the Mountains Echoed – Khaled Hosseini

Book hangover! Duh, dan penyakit saya kalau sudah begini bakal malas review pada akhirnya :p Buku ketiga Khaled Hosseini sudah ada di rak saya beberapa bulan setelah terbit, tapi selalu saja hati ini belum siap diluluhlantakkan oleh beliau. (((luluh lantak))) Sampai akhirnya minggu lalu saya kehabisan bacaan, semua buku yang saya baca kok ga pas, padahal butuh bacaan untuk teman baca selama di pesawat dan tanpa ragu saya membawa Mountains Echoed, Khaled Hosseini tidak pernah salah kan yes?

*bok panjang bener pembukaannya*

Jadi begitulah, hari Sabtu kemarin hari yang tepat untuk menghabiskan buku yang naga-naganya bakal bikin mata sembab dan benar saja saya tidur dengan mata bengkak, megap-megap susah napas gegara hidung buntu. Saya tidak akan bercerita banyak soal beberapa kisah yang saling terkait di Mountains Echoed, dengan alur flash back, beberapa bab dengan point of view yang berbeda, settingan mulai dari Paris, desa kecil Afganistan, sampai Yunani, terlalu luas dan sepertinya lebih enak dibaca sendiri.

Pari - Abdullah

Pari – Abdullah

Mountains Echoed sudah memikat sedari awal saat ibu dua bersaudara Abdullah dan Pari menceritakan dongeng sebelum tidur kepada mereka berdua. Dongengnya saja sudah bisa jadi satu cerita pendek yang tak terlupakan. Inti kisah Mountains Echoed adalah perpisahan Abdullah dan Pari karena Pari dijual oleh pamannya sendiri kepada pasangan Wahdati, keluarga kaya di Kabul. Selang waktu dan benua, kita akan diajak berkelana sambil tertatih karena irisan maut Khaled Hosseini. Tidak ada yang hitam putih di Mountains Echoed, tidak seperti Thousand Splendid Suns yang agak sinetro-ish dalam hal yang baik, yang tertindas dan si jahat, karakter di Mountains Echoed lebih abu-abu, lebih kompleks, lebih manusiawi sehingga tak mudah kita menghakimi betapa jahatnya si Paman yang memisahkan Adbullah – Pari, kita bisa membenci sekaligus mencintai karakter-karakter yang ada di Mountains Echoed. Sehingga mau tak mau saya mengiyakan beberapa pendapat yang menyatakan novel ketiga Khaled Hosseini adalah novel yang paling ambisius, paling kompleks.

Satu yang saya sadari adalah betapa ‘gifted’nya Khaled Hosseini , ia mampu mengiris-iris begitu dalam hati pembaca sedemikian pelannya sehingga pada saat anda menutup buku baru tersadar hati sudah ambrol pecah berkeping-keping #halah. Maaf sedikit lebay tapi memang itu yang saya rasakan, karena sudah pengalaman nangis bombay di depan umum saat antri di dokter saat membaca Thousand Splendid Suns, kali ini membacanya lebih penuh persiapan, saat membalikkan halaman demi halaman kapan nih si tokoh mulai mengalami kejadian yang bikin nangis, seperti apa ya, ah seperti menonton Jaws. Kita selalu tahu ada hiu yang mengintai, tinggal menunggu kapan aja munculnya xD

“When you have lived as long as I have,” one character says, “you find that cruelty and benevolence are but shades of the same color.”

5 bintang!*antengmenunggubukuKhaledHosseiniberikutnya* buat yang belum baca, yuk baca buruan dan share dengan saya di sini.🙂 Cheers!

10 thoughts on “And the Mountains Echoed – Khaled Hosseini

  1. Faraziyya says:

    Khaled Khosseini elalu berhasil mengambil sesuatu yang personal dari diri kita saat baca karya-karyanya. Kalo dari novel ini, yang aku bisa relate banget itu Pari junior.

  2. erdeaka says:

    haha, iya bener mbak, emang bikin mengiris-iris… dan karakter2nya sangat manusiawi jadi kita ga bisa menyalahkan mereka kadang-kadang *heuheuheu*

      • Yanet Fawzia says:

        Hai mbak Mia.. Sy salah satu silent reader blognya mbak.. hehehe.. Oh iya, aku pernah baca dua bukunya Hosseini (The Kite Runner sama A Thousand Splendid Sun), sama-sama mengiris hati.. heheh.. Penasaran nih apa selanjutnya bukunya Khaled Hosseini yang bakalan terbit.🙂

      • miamembaca says:

        What an honour🙂

        Wah iya saya juga menunggu moga-moga bakal ada release lagi dalam waktu dekat. Saya sayangnya ga baca Kite Runner, keburu nonton jadi udah ga seru baca, mgkn kapan-kapan deh kalau lagi mood hehe.

        Btw saya bakal baca The Pearl That Broke Its Shell. Kayanya bagus juga, i’ll let you know ya Yanet😉

  3. Elia Bintang says:

    Saya belum pernah baca satu pun buku Khaled Hosseini, tapi buku yang ini kedengerannya menarik. Saya gak suka buku yang karakter-karakternya hitam atau putih–gak manusiawi aja, kayak film-film Amerika hehe–tapi kalo emang abu-abu dan punya berbagai sisi, okelah….😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s