2014 · kids just wanna have some fun

Don’t Call Me Ishmael – Michael Gerard Bauer

Buku pertama yang saya baca tahun ini, judul dan 2 badge award yang tertera di cover menjadi alasannya. Mirip-mirip dengan Diary of A Wimpy Kid, Don’t Call Me Ishmael menceritakan suka duka sekolah seorang anak korban bully gara-gara namanya, Ishmael Leseur.

Don't Calll Me Ishmael
Don’t Calll Me Ishmael

There’s no easy way to put this, so I’ll say it straight out. It’s time I faced up to the truth. I’m fourteen years old and I have Ishmael Leseur’s Syndrome. There is no cure. And there is no instant cure to not fitting in.

But that won’t stop Ishmael and his intrepid band of misfits from taking on bullies, bugs, babes, the Beatles, debating, and the great white whale in the toughest, the weirdest, the most embarrassingly awful and the best year of their lives.

Jadi si tokoh utama kita di sini menjadi korban bully dari Barry Bagsley karena namanya yang aneh. Padahal nama Ishmael diambil dari buku Moby Dick dan menariknya setiap memulai bab baru penulis menyertakan quote dari Moby Dick. Seperempat buku di sini kita akan melihat perjuangan Ishmael, kekikukannya di sekolah, kenakalan Barry dan teman-temannya. So far so good, sampai datanglah anak baru bernama James Scobie yang tampilan fisiknya ajaib, kecil klimis dan tentu saja menjadi sasaran bully baru bagi Barry.

Namun yang terjadi malah sebaliknya, James sama sekali tidak takut dengan Barry, sehingga dibuatlah satu kejadian yang menhebohkan satu sekolah namun James tetap tenang saja. Alasannya ia tidak punya rasa takut. Arek kecil keminthil gini, tidak punya rasa takut, jangankan Barry saya yang baca aja terbengong-bengong dengan tingkah lakunya.

Buku ini nyaris mendapat bintang 4 jika saja dieksekusi dengan baik di akhir. Goalnya memang bagaimana James, Ishmael dan teman-temannya ikut dalam kompetisi debat. Hampir mirip dengan Wonder dan juga Will Grayson Will Grayson endingnya, hanya saja penulis membuat James Scobie yang seharusnya menjadi tokoh tambahan malah menjadi tokoh favorit saya dan nasib akhirnya tidak jelas sangat saya sayangkan. Mungkin untuk mencegah spoiler saya tidak menegaskan apa yang kurang di akhir kisah, hanya saja membaca Don’t Call Me Ishamel ini layaknya senikmat makan seporsi nasi padang lengkap dengan rendang paru, tapi diakhiri dengan minum es teh sisa kemarin malam. Kenikmatannya tidak tuntas.

Still not enough?
Still not enough?

Don’t Call Me Ishmael masuk nominasi dalam shorlisted dalam  Children’s Book Council od Autralia kategori Book of the Year 2007. Bagi yang masih penasaran dengan Ishmael ternyata kisahnya masih berlanjut dan ada panduan bagi guru juga lho kalau mau murid-muridnya membaca buku ini di sini.

Advertisements
2013 · adventure · fantasy · kids just wanna have some fun · Middle Grade · not mine

[Review] Graveyard – Neil Gaiman

It takes a graveyard to raise a child.

Oh well, kalimat pertama yang menarik,yaaa selain Neil Gaimannya sendiri sih. Sepertinya siapa yang tidak kenal dengan Neil, karyanya mulai dari Coraline, American Gods bahkan Stardust semuanya mendapat rating tinggi dari penggemar fantasi. Saya sudah membaca Coraline dan Good Omen, namun Graveyard adalah buku Neil berbahasa Inggris pertama yang saya baca, awalnya rada was-was juga, bagaimana kalau saya tidak bisa menikmatinya? Bagaimana kalau bahasanya susah? But there’s always the first time for everything dan perjumpaan pertama saya dengan novel Neil Gaiman berbuah manis, 5 bintang untuk kisah dark fantasy yang bertema unik sekaligus seram plus ajaib. Bayangkan, ini adalah kisah seorang anak yang orang tuanya mati dibunuh sehingga akhirnya ia diasuh oleh keluarga hantu di kuburan. Ga kebayang kan? Memang saya bukan pengarang novel, tapi seandainya saya penulis, tidak pernah terbesit bakal memakai kuburan sebagai setting sebuah buku. *udahurusgigiajasana*

Spooky Cover, eh?
Spooky Cover, eh?

Okehlah, tanpa bertele-tele mari kita gali satu-satu apa yang menyebabkan Graveyard menjadi pemenang Newberry Medal 2009 dan menjadi jalan pembuka bagi saya untuk mengoleksi karya beliau yang lain.

–          Ilustrasi

Dasarnya Graveyard adalah buku untuk middle grade, tidak salah jika buku ini dilengkapi dengan ilustrasi yang menawan, walau hanya coretan kuas hitam putih saja namun cukup kuat mewakilkan isi bab demi bab. Tak jarang saat membacanya, saya iseng membolak-balik halaman yang telah lewat demi memandang ulang gambarnya saja 🙂

Salah satu ilustrasi Dave McKean
Salah satu ilustrasi Dave McKean

–          Freedom of the graveyard.

Si anak yang dipanggil Bod, singkatan dari Nobody Owens dianugerahkan beberapa kekuatan yang tidak dimiliki orang hidup seperti muncul ke mimpi seseorang, mampu menghilang bahkan bisa melihat di kegelapan. Ia memiliki pengasuh bernama Silas yang mengajarinya banyak hal. Kesannya misterius tapi saya sangat menyukai karater Silas yang kebapakan dan bertanggung jawab penuh akan Bod. Ada satu percakapan Silas dan Bod yang saya suka saat Silas mengingatkan pembunuh keluarganya masih berkeliaran :

Bod said, “The person who hurt my family. The one who wants to kill me. You are certain that he’s still out there?”

“Yes. He’s still out there.”

“Then, said Bod, and said that the unsayable, “I want to go to school.”

Silas was imperturbable, but now his mouth open and his brow furrowed, and he said only,

“What?”

“I’ve learned a lot in the graveyard. I can Fade and I can Haunt. I can open a ghoul-gate and I know the constellations. But there’sa world out  there, with the sea in it, and the islands, and shipwrecks and pigs. And the teachers here have taught me lots of things, but i need more. If I’m going to survive there, one day.”

“Out of the question. Here we can keep you safe, out there? Outside, anything could happen.”

“Yes, “ agreed Bod. “That’s the potential thing you were talking about. Someone killed my mother and my father and my sister.”

“Yes. Someone did.”

“A man?”

“A man.”

“Which means you’re asking the wrong question.”

Silas raised an eyebrow. “How so?”

“Well, if I go outside in the world, the question isn’t who will keep me safe from him?”

“No?”

“No. It’s who will keep him safe from me?”

:’)

–          Teman-teman Bod.

Semua karakter pendukung Graveyard memiliki tempat dan kisah sendiri di buku ini tanpa terkesan keluar dari jalur, mulai dari Scarlett teman pertama Bod yang akhirnya menjadi pembuka jalan Bod sekolah dengan orang-orang hidup lainnya. Selain itu masih banyak karakter lain seperti Miss Lupescu, Scarlett dan juga Liza Hempstock.

–          The Man Jack

Karakter misterius pembunuh keluarga Bod. Siapakah ia sebenarnya? Siapa sebenarnya keluarga Bod sehingga harus dibantai habis? Jack masih berkeliaran mencari si anak hilang terlebih lagi sejak Bod masuk sekolah, ia mulai dikenali dan Jack tidak diam, ia tidak mau dipecundangi untuk kedua kalinya dan Jack, tentu saja berniat membereskan misinya yang tertunda.

–          The ending.

Penuh dengan kalimat quotable.

“Do you know what you’re going to do now?”

“See the world, get into trouble. Get out of trouble again. Visit jungles and volcanoes and deserts and islands. And people. I want to meet an awful lot of people.”

Saya juga menyukai kalimat ini :

Fear is contagious. You can catch it. Sometimes all it takes is for someone to say that they’re scared for the fear to become real.

Dan yang terakhir :

Face your life,
It’s pain,
It’s pleasure,
Leave no path untaken.

Have a great journey, Bod!

I’m sure you’ll have a great journey ahead. :’)

Saya menutup halaman terakhir dengan tersenyum puas, seakan melihat perjalanan mulus seorang teman lama, ya, Bod menjadi salah satu karakter favorit saya tahun ini. Saya seakan menjadi saksi belasan tahun hidupnya sedari ia diasuh keluarga Owen di kuburan. Neil tak hanya menulis cerita ia menciptakan karakter yang abadi, bahkan bisa jadi Graveyard menjadi buku klasik wajib baca di tahun-tahun ke depan nantinya. Neil juga membuat cerita anak yang tidak klise, tidak dijejalkan pesan moral berlebih bagi pembaca muda namun ia menawarkan teman dan perjalanan yang menyenangkan bagi semua pembacanya dan tentu saja mengingatkan kembali untuk menikmati hidupmu selagi muda, cobalah banyak hal, leave no the path untaken.

Sudah jelas kenapa buku ini mendapat bintang 5 kan? 🙂

Bagi yang masih penasaran coba cek di sini, Neil Gaiman menjawab pertanyaan-pertanyaan pembaca saat tur bukunya dan ada video saat Neil membaca Graveyard. Enjoy!

2013 · adventure · fantasy · Gramedia · kids just wanna have some fun · Middle Grade

[Review] The Ring of Solomon – Jonathan Stroud

Bartimeus, bisa dibilang adalah salah satu karakter terbaik yang pernah diciptakan, jin favorit rata-rata penggemar fantasi, penyebab saya dipandang heran oleh teman-teman gara-gara ngakak sendirian saat membaca buku The Ring of Solomon.

Karakternya sendiri dibilang nyenengin banget ya nggak, malah cenderung pain in the ass, judes, sarkastik, narsisnya bukan kepalang, tapi ya itu Barti. Sifatnya yang blak-blakan, apa adanya dan cenderung merendahkan manusia malah membuat kita pembaca jatuh hati kepadanya. Saya iri dengan Nathanael, yang bisa mengalami petualangan bersama Barti yang kisah terakhirnyanya saya baca hampir 3 tahun lalu.

Betapa girangnya saya dan saya pastikan begitu juga semua penggemar Barti saat Gramedia menerjemahkan buku lanjutan The Ring of Solomon. Tidak ada Nathan, Kitty dan grup penyihir modern. Jonathan Stoud membawa kita berkelana ke Israel 950 S.M. Saat di mana Israel dipimpin oleh raja Solomon yang memiliki cincin sakti, sehingga banyak kerajaan takluk di tangan Solomon. Bukan raja hebat kalau tidak memiliki banyak penyihir, salah satu penyihirnya yang lumayan culas Khaba menjadi master Barti kali ini. Dan bukan Barti kalau tidak membuat ulah.

The Ring of Solomon
The Ring of Solomon

Mulai dari balas-balasan hinaan dengan Faquarl, menciptakan lagu bernuansa cabul untuk Raja Solomon dan yang fatal berubah wujud menjadi kuda nil pakai rok!! *aduh kok kebayang aki*

Intensitas cerita yang awalnya agak membosankan mulai meningkat kala kerajaan Sheba yang mengutus salah satu pendetanya yang bernama Asmira untuk mencuri cincin Solomon. Berhasilkah Asmira? Asmira tentu saja harus berhadapan dengan Barti. Penasaran? Mariii dibacaa sendiri 🙂

(+) :

tengil banget kan?
tengil banget kan?

– Bartimeus, sudah jelas. Nuff said. Bahkan saat menulis review ini saya bisa membayangkan wajah tengilnya. Kangeen 🙂 Tapi beneran loh, jarang kan kita membaca buku dan kangen dengan tokoh utamanya. Harry Potter juga tuh, bikin kangen. Kangen dengan penasaran beda ya? Saya menanti serial kadang karena penasaran endingnya walau belum tentu kangen dengan si tokoh utama. Beda dengan Barti, sepertinya saya tumbuh dan menghabiskan waktu dengannya, walau dipikir-pikir serem juga yang dikangenin kok jin XD.

– Bartimeus. Lebih spesifik lagi : catatan kakinya.

– Kejutan dan twist di akhir kisah.

(-) :

– Entah karakter Barti yang terlalu menonjol sehingga karakter lainnya tenggelam atau memang tokoh yang dibuat Jonathan Stroud kurang menarik atau sayanya mulai berganti selera.

Asmira sangat-sangat membosankan, padahal saya pikir penulis sudah berusaha keras menciptakan fearless female *kok kaya Cosmopolitan* yang gahar sekaligus pemberani. Tapi setiap di bagian Asmira saya bosaaaan, mungkin itu sebabnya waktu yang saya pakai untuk menamatkan The Ring of Solomon cukup lambat.

– Typo. Tumben-tumbenan lolos sebegini banyak.

– Mustinya total bintang 3,5 tapi saya turunkan jadi 3 karena 4 rasanya tidak pas. 3 bintang untuk my favorit djin. Bartimeus!

2012 · adventure · BBI · classic · fantasy · Gramedia · kids just wanna have some fun · listopia

[Review] The Hobbit – J. R. R. Tolkien

Yay! Akhirnya bisa ikutan lagi proyek baca bareng BBI yang mengambil tema 1001 Books You Have to Read Before You Die. Woh, seru pisan temanya. Buku yang saya pilih adalah The Hobbit dengan alasan : penganut aliran harus baca bukunya dulu sebelum nonton film adaptasi, belum pernah membaca pengarang yang sangat saya segani ini dan yang terakhir mengurangi timbunan karena buku The Hobbit sudah saya beli sekitar 4 tahun yang lalu :p

The Hobbit
The Hobbit

Sinopsis singkat dari Goodreads :

Gara-gara Gandalf, Bilbo jadi terlibat petualangan menegangkan. Tiga belas Kurcaci mendatangi rumahnya dengan mendadak, karena mengira ia seorang Pencuri berpengalaman, seperti kata Gandalf. Terpaksa ia bergabung dalam petualangan mereka : mengadakan perjalanan panjang dan berbahaya untuk mencari Smaug, naga jahat yang telah merampas harta kaum Kurcaci di masa lampau. Dalam perjalanan, rombongannya dihadang pasukan goblin. Saat melarikan diri dari kejaran mereka, Bilbo tersesat ke gua Gollum dan menemukan Cincin yang bisa membuatnya tidak kelihatan. Cincin ini sangat membantunya ketika menghadapi Smaug, juga dalam perang besar yang berkobar kemudian, antara kelompok Peri, Manusia, dan Kurcaci melawan pasukan goblin dan Warg.

Sepertinya semua sudah tidak asing lagi dengan penyihir tua bijaksana Gandalf, hobbit Frodo yang imut, si ganteng Aragorn, Legolas salah seorang personil boyband dari fellowship of the ring dan the one and only ‘my preciouusss’ Gollum. Bilbo yang hanya muncul di awal kisah LOTR memegang peranan kunci di buku prequelnya yaitu The Hobbit.

Berawal dari saat Tolkien memeriksa ujian dan menemukan halaman kosong. Dasarnya orang jenius kali ya, seketika itu beliau mendapat inspirasi dan menulis, “In a hole on the ground there lived a hobbit.” Kelanjutan dari The Hobbit selesai ditulis tahun 1932 dan meminjamkan manuskrip tersebut ke beberapa orang yang salah satu di antaranya adalah sahabat karib Tolkien, yang sama-sama orang hebat dan pengarang, tak lain tak bukan C. S. Lewis. Dan tak lama kemudian, tanggal 21 September 1937 terbitlah edisi perdana The Hobbit yang covernya juga dibuat oleh Tolkien himself.

1st ed
1st ed

Balik ke Bilbo Baggins. Berawal dari pertemuannya dengan Gandalf, ia harus keluar dari rumahnya yang hangat, memulai petualangan menegangkan bersama ketigabelas kurcaci. Perjalanan mereka mencari harta karun tidak mudah, Bilbo dan kawan-kawan harus melewati laba-laba raksasa, troll, goblin, bangsa peri, wargs, gollum dan terakhir Smaug si naga jahat.

The beginning
The beginning

Saya tidak akan bercerita panjang lebar mengenai seluk beluk rintangan demi rintangan yang Bilbo hadapi tapi saya ingin mengajak pembaca blog di sini mendalami lebih jauh kenapa sih The Hobbit masuk dalam list 1001 books you have to read before you die. Ini dari sudut pandang saya lho ya, kritikus tidak jelas*takut kalau ada yang protes* berdasar pengalaman pribadi saat membaca dan hasil browsing-browsing beberapa situs :

1. Seperti yang sudah pernah saya tulis di postingan sebelumnya (Character Thursday) Bilbo adalah sosok penolong yang from zero to hero. Pembaca memiliki kedekatan dengan tipe protagonis macam begini dibanding yang memang sudah kebal metekel terhadap bahaya ala superhero komik. Bilbo, sebagaimana kita adalah seorang hobbit biasa. Ia gemar membaca, duduk-duduk minum teh di sofanya yang empuk, giliran harus melakukan perjalanan panjang ia tak lepas dari yang namanya bersungut-sungut dan merindukan rumahnya yang hangat. Apalagi kelakukan kurcaci terkadang menyebalkan, kalau orang Surabaya bilang, “yo tambah wes kangen karo umah dhewek!”. Bilbo bisa saja menjelma di dalam diri kita dan di saat kepepet ia malah bisa menjadi penolong teman-temannya. Ringan tangan, cerdik dan setia kawan, itu kunci yang dibutuhkan dalam perjalanan menempuh maut dan Bilbo memiliki semuanya.

The journey
The journey

2. Tolkien merepresentasikan Smaug dan Gollum sebagai akar dari evil, ketamakan. Dikutip dari cliffnotes.com : Smaug and Gollum represent the perverted use of property. They are monsters because isolation and selfishness such as theirs is evil. They do not recognize community; there are no other creatures like them. Smaug makes his home in the Lonely Mountain, and Gollum is so self-centered he does not even know the word for “you.” They are vehemently opposed to sharing; indeed, they would rather kill than share what they possess, whether it be Gollum’s ring of invisibility or Smaug’s treasure trove. Smaug makes no use at all of the treasure trove; he only sits on top of it and sleeps. Ironically, Smaug is killed himself as he wages war in defense of his treasure. (Gollum, too, dies in The Lord of the Rings trilogy as he finally reclaims his prized possession, the ring of invisibility.)

Elves vs Gollum
Elves vs Gollum

3. Buku yang disebut  The Most Important 20th-Century Novel (for Older Readers)” in the Children’s Books of the Century poll in Books for Keeps, disebut C. S. Lewis sebagai “this book a number of good things, never before united, have come together: a fund of humour, an understanding of children, and a happy fusion of the scholar’s with the poet’s grasp of mythology… The professor has the air of inventing nothing. He has studied trolls and dragons at first hand and describes them with that fidelity that is worth oceans of glib “originality.”

4. Satu lagi yang membuat saya semakin kagum dengan J. R. R. Tolkien adalah kemampuannya meramu prosa yang tertuang dalam balasan teka-teki antara Bilbo dan Gollum. Ah sayang saya tidak membaca versi Inggrisnya, walau begitu yang terjemahan juga menarik untuk disimak.

Apa yang punya kaki tapi tidak kelihatan, lebih tinggi dari pepohonan. Menembus awan sangatlah tinggi, tapi tidak pernah tumbuh sama sekali?

Gunung!

Tiga puluh kuda putih di atas bukit merah, mula-mula mereka memamah, lalu kemudian mengunyah, kemudian berdiri diam tak berubah.

Gigi!

Keereeen yaaa!

5. Bicara tentang gollum, mau tak mau saya teringat akan cincin “The One Ring”, cincin keramat yang diciptakan Sauron, tentu semua masih ingat tulisan yang ada di cincin itu.

The One Ring
The One Ring

Ash nazg durbatulûk, ash nazg gimbatul,
Ash nazg thrakatulûk agh burzum-ishi krimpatul.

One ring to rule them all, one ring to find them,
One ring to bring them all and in the darkness bind them.

Memang ini tidak terlalu banyak berhubungan dengan Bilbo sih tapi sebagai pembaca awam dan mengetahui bahwa tulisan dan bahasa Tengwar yang dibuat oleh Tolkien yang contohnya bisa dilihat di cincin The One Ring membuat saya merinding. Saya membaca sebuah masterpiece dunia. Buku yang tidak main-main dan adalah kehormatan tersendiri saya bisa membaca buku beliau. Ingin mengetahui huruf Tengwar secara lengkap? Bisa dibuka di sini.

J. R. R.Tolkien
J. R. R.Tolkien

John Ronald Reuel Tolkien lahir di Afrika Selatan tahun 1892, beliau adalah profesor yang mengajar di Leeds dan Oxford. Sejak usia muda beliau tertarik mendalami bahasa terutama Greek, Anglo Saxon, and later at Oxford, Finnish. Sejak meledaknya The Hobbit dan Lord f The Rings, beliau menyepi di Poole, istrinya meninggal tahun 1971 disusul oleh Tolkien 2 tahun kemudian.

Detail buku :

The Hobbit – J. R. R. Tolkien

348 halaman

Gramedia, Januari 2002

*menggos-menggos*

Kayanya sekian dulu curhatan saya mengenai The Hobbit, saatnya blogwalking, navaer!

*sok ngomong Sindarin, and it means,”Goodbye” 🙂

2012 · drama · ebook · kids just wanna have some fun · young adult

Bobby Phillips, the Invisible Boy.

Apa yang ada di pikiran kalian saat bangun-bangun dan diri kita menghilang? Literally, meng.hi.lang. Deng dong.

Seperti itulah yang dialami Bobby Phillips, anak laki-laki berusia 15 tahun yang secara tiba-tiba menjadi tidak terlihat. Apa yang akan ia lakukan? Ayahnya yang seorang peneliti ikutan dibuat bingung tujuh kelililing. *duh bahasanya* Sudah lama loh saya tidak dengar kata pusing tujuh keliling.

Ibunya apalagi. Panik!

Bobby sih awalnya tenang-tenang saja, ia tidak sekolah dengan alasan sakit. Walau begitu ia sempat mampir ke sekolahnya dengan tidak mengenakan baju sama sekali. Akhirnya malah ia memiliki teman baru, Alicia. Bobby bisa bergaul leluasa dengan Alicia karena Alicia sejak usianya yang ke sepuluh (kalau ga salah, lupa-lupa ingat) kehilangan penglihatannya. Bertemanlah mereka.

Things Not Seen
Things Not Seen

Keadaan menjadi rumit kala sekolah mulai mempertanyakan Bobby yang sakit flu kok lama bener ga sembuh-sembuh. Komisi anak sampai datang ke rumah Bobby, dipikirnya malah ortu Bobby yang ga bener nih menghilangkan anaknya sendiri. Bobby punya waktu singkat untuk membuktikan orang tuanya tidak bersalah. Bersama Alicia mereka berdua berusaha memecahkan kasus Bobby, the unseen boy.

Seru!

Mustinya ebook ini sudah ada di saya sejak 2 tahun lalu, gara-gara lupa bawa buku dan lagi pengen baca yang ringan-ringan akhirnya baca buku ini deh, 3-4 hari kelar.

+ :

– masih kena imbas baca buku terakhir Imajinary Friend yang tokohnya sama-sama lovable, jadi gampang saja rasanya berteman dengan si Bobby ini.

– gaya penceritaan Andrew Clements mudah diikuti, apalagi saya penasaran dengan penyebab hilangnya Bobby jadi bab per bab dilalui dengan penuh semangat.

– :

– Endingnya agak dibuat-buat. *pletak diri sendiri* Hyaelahya udah jelas dari awal agak ga masuk akal anak bisa ngilang 😀

Memorable Quote :

“But fear doesn’t need doors and windows. It works from the inside.”

3 bintang untuk Bobby dan Alicia. Bacaan tipe Young Adult banget.

Sekilas mengenai Andrew Clement, ia adalah mantan guru yang sekarang khusus menulis buku-buku anak. Rata-rata mengisahkan kehidupan anak-anak sekolah. Penasaran? Klik saja di andrewclements.com

Happy browsing 🙂

*review singkat ketimbang kelupaan ceritanya, bakal diapdet kalau sempat* Ciao! Siap-siap praktek dulu yak.

2012 · drama · inspiring · kids just wanna have some fun · must read · young adult

Memoirs of an Imaginary Friend – Matthew Green

Memoirs of an Imaginary Friend
Memoirs of an Imaginary Friend

Kali ini saya tidak mencantumkan sinopsis dari Goodreads seperti biasanya, melainkan saya langsung mengetik ulang chapter 1 yang hanya berisi beberapa kalimat.

Here is what I know:

My name is Budo

I have been alive for five years.

Five years is a very long time for someone like me to be alive.

Max gave me my name.

Max is the only human person who can see me.

Max’s parents call me imaginary friend.

I love Max’s teacher, Mrs Gosk.

I do not like Max’s other teacher, Mrs Patterson.

I am not imaginary.

Woohoo! Keren yaaa! Bab awal yang memikat dan langsung menimbulkan efek lengket di tangan, ga lepas kalau ga kelar! Err, walau butuh waktu dua hari untuk menyelesaikannya, yah gimana ya, sibuk siih. *sambil kikir kuku* *plaaak* Yuk ah, balik ke Budo. Jadi Budo ini adalah seorang imaginary friend cukup beruntung. Kenapa saya bilang beruntung? Teman khayalan anak-anak lain belum tentu ‘sesempurna’ Budo, namanya juga anak-anak kan yak? Ada yang cuma item bulet gitu aja tanpa wajah, kaki dan tangan. Ada juga yang tidak punya telinga, mana hidupnya hanya seminggu pulak. Budo bisa hidup selama lima tahun karena Max percaya akan keberadaannya dan notabene untuk ukuran teman khayalan Budo ini lumayan sepuh.

‘Tuhannya’ Budo si Max Delaney adalah bocah spesial berusia 8 tahun, walau sampai akhir kisah tidak disebutkan ‘kelebihan’ Max tapi dari ciri-ciri dan tingkah lakunya saya menduga Max memiliki beberapa ciri-ciri dari Asperger’s Syndrome.

Pertanyaan warna permen apa yangakan dibeli terasa sangat menyulitkan bagi Max.

Is red better than yellow?

Is green better than blue?

Which one is colder?

What does red taste like?

Do different colors taste different?

Max diam. Bingung. Freezes. Freezes like a popsicle. Dan Budo akan memudahkan Max sambil berbisik di telinga Max.

“Pick blue”

Dan Max akan memilih biru.

Sesimpel itu.

Memoirs of an Imaginary Friend
Cover favorit

Walau tak terlihat Budo bisa dibilang satu-satunya teman Max, karena Max susah bergaul dengan teman lainnya. Jangankan teman dan guru, orang tuanya kerap bertengkar perihal Max. Hendak dibawa ke dokterkah? Normalkah ia?

Dan ketika Max menghadapi bullying dari kakak kelasnya yang setaraf preman Budo ada si samping Max untuk membantunya. Tapi bagaimana jika kondisi berubah seperti yang ada di pertengahan buku. Max dalam bahaya. Satu-satunya yang tahu kondisi Max adalah Budo sedangkan Budo hanya bisa dilihat dan didengar oleh Max. Berhasilkah Budo menyelamatkan Max?

Ihiiy, ga seru dong ya kalau saya ceritakan. Silahkan baca sendiri kisah Max dan sahabat sejatinya. Sungguh sayang dilewatkan. Sedih, lucu dan memorable. Selain font tulisannya yang ramah di mata, kisah yang diceritakan melalui Budo sebagai narator memikat saya sedari awal. Cocok dibaca mulai tingkat middle grade sampai uzur grade macam saya. 🙂

Memoirs of an Imaginary Friend
Mirip Extremely Loud ga sih?

+ : Penceritaannya menarik sejak awal, kisahnya mudah diikuti, Budo dan Max sangat loveable begitu juga dengan karakter pendukungnya.

– : Tokoh antagonisnya kurang jahat dan minus terbesarnya ini cerita kan ceritanya jaman sekarang, kenapa orang tua dan guru Max tidak segera membawa Max ke orang yang tepat? Semestinya kebiasaan Max yang di luar batas bisa terdeteksi sejak awal. *bawell ah Mi* *kalo ga ya ga jadi cerita ini kan*

Sekilas mengenai Asperger yang saya kutip dari wikipedia :

Sindrom Asperger / Asperger syndrome / Asperger’s syndrome /Asperger’s disorder adalah salah satu gejala autisme di mana para penderitanya memiliki kesulitan dalam berkomunikasi dengan lingkungannya, sehingga kurang begitu diterima. Sindrom ini ditemukan oleh Hans Asperger pada tahun 1944.

Dengan beberapa ciri sebagai berikut :

Gangguan keterampilan sosial. Anak-anak dengan Asperger’s syndrome pada umumnya kesulitan berinteraksi dengan orang lain dan seringkali kaku dalam situasi sosial. Pada umumnya mereka sulit berteman.

Perilahu eksentrik atau kebiasaan yang berulang-ulang. Anak-anak dengan kondisi ini kemungkinan melakukan gerakan yang berulang-ulang, seperti meremas-remas atau memutar jari tangan.

Kesulitan komunikasi. Orang-orang dengan Asperger’s syndrome kemungkinan tidak melakukan kontak mata saat berbicara dengan seseorang. Mereka mungkin bermasalah menggunakan ekspresi dan gerak tubuh serta kesulitan memahami bahasa tubuh. Selain itu, mereka cenderung bermasalah memahami bahasa dalam konteks.

Keterbatasan ketertarikan. Anak dengan Asperger’s syndrome kemungkinan memiliki ketertarikan yang intens bahkan terobsesi terhadap beberapa bidang, seperti jadwal olahraga, cuaca atau peta.

Masalah koordinasi. Gerakan anak dengan Asperger’s syndrome kelihatan ceroboh dan kaku.

Ciri-ciri yang hampir semua tampak pada Max Delaney. Dan tak hanya Matthew Green yang mengangkat topik Asperger dalam novelnya. Masih ada beberapa yang cukup terkenal seperti : The Curious Incident of the Dog in the Night-time karangan  Mark Haddon, House Rules karangan Jodi Picoult.

Penggemar film pasti ingat dengan akting Dustin Hoffman sebagai Babbit di film Rain Man dan film favorit saya Max and Mary. Max di film animasi stop motion yang memenangkan banyak penghargaan juga mengidap Asperger. Bagi yang belum tonton film ini wajib tonton! Beneran, percaya deh apa yang dikatakan Mia. 🙂 Terakhir nih, para penggemar serial drama keluarga pasti familiar dengan tantrumnya si Max kan? Nooh, sama nama, sama-sama Asperger. Terus terang Max inilah yang mengingatkan saya dengan Max di buku. Aduh bingung ga sih. Ya sudah deh ga pake ba bi bu lagi, buku ini wajib dibaca, apalagi pengarangnya ternyata ramah pisaaan. Tweet saya dibalas looh! *terharu* Jadi ada kemungkinan saya bakal mereview buku ini lagi dengan bahasa Inggris saya yang acak adul.

Sekilas mengenai pengarang : Matthew Green, MoaIF adalah buku ketiganya, buku sebelumnya adalah Something Missing dan Unexpectedly, Milo. Sebelumnya beliau rajin menulis essay, poetry dan jurnal. Biodata lengkapnya bisa dilihat sendiri di goodreads ataupun mampir ke situs pribadinya. Bisa dibilang biodata Matthew Green di Goodreads adalah biodata terpanjang dan paling ‘terbuka’. Kelihatan banget kalau orangnya ramah dan tidak sombong, pasti rajin menabung #eh. Duh gini deh kelamaan ga buat review dan sekarang di Bali sudah hampir lewat tengah malam, saya bobo cantik dulu ya teman-teman. Selamat berburu buku Memoirs of an Imaginary Friend. Mau pinjam punya saya juga boleh, tapi  antri ya 😀

Ciao!

 

M.

08.05.2012.

23.48.

Kamar atas.

2012 · Gramedia · kids just wanna have some fun

Kisah si kecil berambut merah, Hetty Feather

Hetty Feather
Hetty Feather

Hetty Feather adalah buku Jacqueline Wilson terbaru yang dirilis Gramedia, berkisah tentang seorang anak kecil yang lahir tahun 1876. Ia terlahir dengan sejumput rambut merah yang hidup terlantar di panti asuhan, bahkan panggilannya hanya si 25629. Untungnya hanya sekejap ia di sana, Hetty akhirnya diasuh oleh Peg di rumah kecil yang nyaman.

Masa-masa diasuh Mama Peg adalah masa yang menyenangkan bagi Hetty, Jem abangnya yang sangat perhatian. Gideon, saudaranya sesama di panti asuhan. Saul, Martha, Rosie, Nat dan Eliza juga meramaikan fase hidup Hetty. Hetty yang sedari kecil adalah anak yang keras kepala dan tidak kenal takut, kebandelan dan keras hatinya jelas terlihat saat Hetty ngotot ingin menonton sirkus keliling The Great Tanglefield. Secara sembunyi-sembunyi akhirnya Hetty dan Jem berhasil mengelabui Gideon dan pergi berdua menonton sirkus. Hetty malah berjumpa dengan Madame Adeline, bintang sirkus yang secara kebetulan memiliki warna rambut yang sama dengan Hetty. Pertemuan singkat namun membekas di hati Hetty sampai-sampai ia bertekad akan terus mencari sirkus Tanglefield.

Hidup Hetty kembali memasuki masa suram saat ia dan Gideon sudah waktunya untuk dikembalikan ke Foundling Hospital. Matron-matron yang kejam, makanan yang tidak enak, pakaian seragam yang tidak nyaman. Sungguh malang nasib Hetty, tapi dasar ia adalah anak yang tahan banting, Hetty tetap bertahan. Ia berhasil mengibuli suster dan berkunjung ke asrama pria untuk bertemu dengan Saul dan Gideon. Hetty juga mendapat teman baru, Ida juru masak yang sering kali memberikan tambahan makanan enak untuknya. Hetty masih tetap berjuang untuk mencari ibu kandungnya, apakah Madame Adeline benar-benar ibunya? Atau ada rahasia lain yang membayangi hidup Hetty?

Karakter :

Hetty
Hetty

Sebagai bacaan anak usia 9 – 11, Hetty Feather adalah tokoh utama yang loveable, walau ia keras kepala dan tidak bisa mendengar kata ‘tidak’, ia adalah anak yang setia dan rela berkorban. Mudah untuk pembaca untuk luluh melihat perjuangan Hetty, jadi walau buku ini cukup tebal (463 halaman) sama sekali tidak terasa. Adegan di mana Hetty berusaha keras mengumpulkan permen-permen untuk diberikan kepada Saul dan Gideon sangat menyentuh hati.

Selain cover yang ‘ngejreng’, saya suka banget ilustrasi sederhana yang ada di tiap bab. Baguus!

Saya pasti akan membaca buku karangan Jacqueline Wilson yang lain, menurut Ally dan Ana, sesama blogger penggemar JW sering kali beliau mengangkat kasus bertema berat dengan tokohnya yang rata-rata anak remaja putri. Jacqueline Wilson lahir tahun 1945 dan sudah terjual di UK lebih dari 25 juta! Situs pribadinya bagus, lengkap dan seakan-akan saya menjadi anak kecil lagi, very children friendly.

Berhubung membaca versi terjemahan, saya ingin mengomentari sedikit soal terjemahannya. Ada dua kata baru yang saya tahu 😀

“terbedol” hal 8.

“bergeliang-geliung” – hal 32.

Lumayan menambah perbendaharaan kata 🙂 Masalah typo tidak ada sih sepertinya dan satu lagi yang bagus. Pembatas bukunya unyuu!

+ : font tulisan besar, bersahabat untuk mata saya :p

Mau tak mau saya juga ikut teracuni dengan semangat Hetty, girl power! *apa sih*

Selalu senang membaca perjuangan jatuh bangun seseorang 🙂

– : Klimaks dan penasaran yang dibangun sejak awal malah endingnya dibuat sedikit terburu-buru.

Detail buku :

Judul : Hetty Feather

Pengarang : Jacqueline Wilson

Gramedia, Cetakan I Maret 2012, 463 halaman.