fantasy · love love love · young adult

Shiver, meet our new Jacob Black

Beku (The Wolves of Mercy Falls #1)

Gramedia

432 halaman

Oktober 2010

 

 

Shiver

 

I like it!
Buku pertama karangan Maggie Stiefvater yang saya baca, jadi pengen baca Lament juga jadinya, hehe.

Mau tak mau saya berkiblat ke Twilight untuk buku yang satu ini.

– Covernya mirip, gadis pirang yang terkesan kesepian. Bedanya shiver ditemani dengan serigala yang lucuuu *pengenpelukpelukserigala*

– Kisahnya juga berkisah antara 2 mahluk yang tidak bisa bersatu sampai cinta yang mengalahkan segalanya. Tsaah.

– Sepertinya tokoh perempuannya mirip juga, Grace, seorang gadis penyendiri yang suka membaca buku dan memiliki hubungan yang dingin dengan keluarganya.

Lalu apa kelebihan dari Shiver? IMO ya, semuanya pas. Dengan sudut pandang yang berubah-ubah antara Grace dan Sam, sang manusia serigala kita dapat merasakan dalamnya cinta mereka tanpa perlu kalimat yang panjang-panjang untuk melukiskan-aku-tidak-bisa-hidup-tanpanya.

Romantis namun tidak lebay. Terlebih lagi Sam ini pinter ngarang lagu dan main gitar #meleleh. Namun apabila pembaca berharap akan adanya action jedar jeder ataupun gedebag gedebug sepertinya akan kecewa karena klimaksnya berjalan cukup lambat hanya ada ketegangan di 3-4 bab terakhir saja.

Gramediaaa, jangan lama-lama ya buku keduanyaa 🙂

Advertisements
ebook · fantasy

The Summoning

The Summoning (Darkests Power #1)

Sepertinya sejak era Harpot dan Twilight, seri fantasi meningkat drastis, plus semuanya berseri pula. Ada yang sukses menyusul, ada pula yang tersendat-sendat. Balik ke Summoning ini, imho sih dark fantasy ala TW, walau dgn sentuhan supranatural kali ini.

Summoning berkisah tentang Chloe, gadis yang bisa melihat hantu, ala Haley Joel Osment di 6th sense, hanya saja si Chloe ini bisa dibilang tidak mengakui kemampuannya itu, should i say a gift or a curse :p
Sampai umur 15 tahun, di sekolahnya kembali lagi Chloe melihat hantu, ditambah dengan aksi heboh berterik sepanjang koridor dan sedikit aksi heboh melawan guru, Chloe terpaksa dipindahkan ke sekolah khusus anak dengan kelainan mental.
Nah ternyata keadaan tambah parah, Chloe bertemu dengan poltergeist, Rae yang bisa bermain-main dengan api, Derek yang ternyata seorang *^&%^&$^& dan Chloe sendiri ternyata seorang necromancer.

Kira-kira seperti itulah inti dari kisah ini, cukup menarik sehingga saya memutuskan untuk membaca,terlebih lagi saya suka covernya. Saya pikir ada hubungannya dengan kalung merah yang segede gambfeng di cover, ternyata cuma hiasan doang, hihi. Karakter Chloe di sini kurang tercermin seperti covernya yang terlihat anggun. Kalau di buku malah karakternya kurang kuat, jadi secara personal sampai selesai baca ebooknya saya tidak mengenal Chloe ini seperti apa orangnya.

Mirip-mirip dengan Wicked Lovely, saya tidak merasakan ikatan emosi yang cukup dengan dengan para tokoh. Malah ada beberapa kali saya berniat berhenti membaca, alurnya datar sehingga lumayan membosankan. Cuma tertarik untuk mengenal si Derek Souza lebih dalam lagi, karena penasaran ini laki kenapa sih? Yah mestinya lumayan bisa ketebak si, dgn badannya yang sering panas, dll.

Buku 2 dan 3 covernya juga keren, tapi bacanya kapan-kapan aja deh :p

kids just wanna have some fun

Wilma, lil version of Nancy Drew

Wilma Tenderfoot dan Kasus jantung Beku

Matahati

301 halaman

Agustus 2010

Suka! Covernya bagus! Ceritanya unik. Bukan sekedar cerita anak biasa, si Wilma yang pengen banget jadi detektif akhirnya bisa juga memecahkan kasus ada apa dengan jantung yang beku. Haghag. Menarik dan mudah-mudahan bakal dilanjutin buku berikutnya, penasaran akan asal usulnya Wilma.

Kenapa 4 bintang?
– covernya unik
– ada ilustrasi di dalamnya dan penggambarannya pas banget.
– tokohnya bodor dan rame
– Wilma ini loveable, pantang menyerah jadi pas bacanya ikutan semangat, go Wilma go!

classic · kids just wanna have some fun

Ekstrak kebahagiaan, Pollyanna

Pollyanna – Eleanor H. Porter

Orange Books

312 halaman

Oktober 2010

 

 

Pollyanna

 

Inilah sebabnya kenapa saya suka membaca cerita klasik. Kisahnya indah, ga neko-neko, mungkin ada sedikit masalah, klimaks yang secukupnya (ga bikin hati dag dig dug)dan ending pas.

Hati hangat dengan senyum simpul di bibir saya setelah membaca halaman terakhir Pollyanna membuat saya memberikan bintang 5 untuk buku ini.

Kisahnya sih standar, gabungan antara Anne of Green Gables dan A Little Princess, berkisah tentang anak perempuan yatim piatu yang diasuh oleh kerabatnya yang kersa hati, judes dan pada akhirnya luluh dengan semangat dan keceriaan yang dibawa oleh sang anak.

Pollyanna, namanya.
Tidak cantik-cantik banget, apalagi ia merasa bintik-bintik di wajahnya cukup banyak. (mirip Anne yang merasa minder dengan rambut merahnya)

Pollyana yang dalam waktu singkat berhasil merubah desa tempat ia tinggal menjadi desa yang ceria.

Permainan kebahagiaan, yang merupakan inti dari kisah Pollyanna ternyata adalah permainan yang wajib kita mainkan sampai saat ini. “Dan biasanya selalu ada yang menyenangkan dalam segala hal, bila kau berkeras untuk menemukannya” – Pollyannna hal.66

Ada satu adegan yang membuat saya tersenyum geli, nah di suatu ketika tukang kebun Pollyanna mengalami encok jadi jalannya agak bungkuk, “nah mana ada kebahagiaan kalau situasinya begini” pikirnya.

Pollyanna menjawab “Wah, kalau bungkuk gitu, kan jadi tidak terlalu susah untuk menyiangi rumput??”

Hihihihi, okeh good point, girl!

Sekarang hal terberatnya, pengejawantahannya. Baca sih gampang, tapi bagaimana kita selalu memandang hal positif tentang segala hal seperti Pollyanna itu yang berat. Wong panas dikit ngeluh, banjir becek protes.

Terima kasih gadis kecil, kau mengingatkan saya untuk senantiasa bersyukur. Hal yang mudah tapi entah kenapa terkadang kita lupa melakukannya.